Ambiguous

Ambiguous
<Permainan botol>



__________


Author pov.


Malam terakhir masa liburan mereka habiskan untuk melakukan pesta barbeque dihalaman vila, semua telah dipersiapkan dari sore hari. Setelah kemarin mereka mendaki gunung, sekarang waktunya untuk menikmati puncak dari liburan mereka.


Para wanita keluar dari vila menuju halaman, mereka mengenakan baju hangat karena ketika malam hari udara disekitar vila akan dingin hingga menusuk tulang.


"Ini akan sangat menyenangkan!" Seru Vanya sambil menggelayutkan tangannya dilengan Saraa.


"selama aku bekerja diperusahaan itu, belum pernah mendapat liburan seperti ini!" Lanjutnya.


Mereka duduk dikursi yang telah disiapkan, meja sudah dipenuhi dengan cemilan, kaleng soda dan b*r. Memang semua itu harus ada dalam pesta barbeque seperti ini.


"Memangnya selama bekerja diperusahaan, kalian belum pernah mendapat liburan seperti ini?" Tanya Saraa.


Mereka menggeleng serentak, "Aku dan Diana sudah bekerja diperusahaan saat perusahaan itu belum sebesar ini. Kami ditekan untuk memajukan perusahan tanpa adanya hari libur."


"Benar-benar saat pertama kali kami masuk kerja, pekerjaan sudah menunggu untuk diselesaikan. Tidak ada waktu untuk bersantai ataupun bermain gim diponsel saat berada dikantor. Kami harus bekerja keras untuk mendapatkan bonus dari pak direktur." Keluh kesah yang disampaikan Yuri membuat Saraa mengerutkan dahinya.


"Apa sangat sulit? Lalu, mengapa kalian masih mau bekerja disana?" Tanya Saraa.


"Terkadang Mencari pekerjaan itu sangat sulit, angka diterimanya terlalu kecil." Ucap Yuri sembari memakan cemilan yang ada didepannya.


"Apa lagi seperti aku, lulusan universitas terpencil, tidak ada yang ingin menerimaku karena latar belakang keluarga dan pendidikan yang ku jalani. Ibuku seorang single parent karena ayah pergi meninggalkan kami saat aku berumur 8 tahun."


"Aku tidak terlalu pintar seperti yang lain, beberapa perusahaan menolakku. Hingga perusahaan baru itu mendatangiku dan memberiku pekerjaan hingga sekarang aku masih bisa menafkahi adik-adikku." Cerita Diana sembari menahan gundah dihatinya.


"Aku juga. Setelah lulus dari universitas, aku bekerja sebagai pelayan direstoran kecil di dekat rumahku. Meski aku adalah lulusan fakultas ekonomi, tetapi beberapa kali lamaranku ditolak hingga sedikit membuatku putus asa. Lalu, seperti sesuatu keajaiban muncul dihidupku, panggilan tes wawancara dari perusahaan ini membuatku sedikit lega. Awalnya aku ingin mengundurkan diri dari tes itu, karena perusahaan itu masih baru dan sangat kecil. Aku takut jika perusahaan itu akan mengalami kebangkrutan diawal karirnya."


"Tetapi, sekarang aku sangat bersyukur dengan keputusanku untuk melakukannya. Prasangka yang buruk, ternyata hanya pemikiran dari otak dangkalku saja."


Cerita yang dialami Diana dan Yuri membuat Saraa semakin sadar diri. Dia tidak pernah merasakan susahnya hidup ataupun yang dialami orang-orang kecil diluaran sana. Anak dari presdir perusahaan terkenal hanya tahu tentang barang-barang branded atau mobil keluaran baru, ia tidak mengerti apa itu mencari uang atau makan.


Mata Saraa berkaca-kaca menahan tangis setelah membayangkan betapa susahnya menjadi orang kecil, Ia bersyukur dilahirkan oleh orangtua yang utuh dan bergelimangan haran tanpa kekurangan satupun.


"Kenapa menjadi cerita sedih? Bukankah malam ini kita akan bersenang-senang?!" Protes Vanya yang sendari tadi hanya mendengarkan cerita nyata yang dialami teman-temannya.


"Benar kata Vanya, malam ini kita harus bersenang-senang hingga puas!" Ucap Yuri sambil membuka kaleng soda, lalu memberikan satu-persatu kepada teman-temannya.


"Untuk tim marketing, bersulang!" Seru Vanya memandu teman-temannya.


"Bersulang!" Ucap serentak mereka.


Saat para wanita sudah membuka kaleng soda, para lelaki masih berada diarea ruang tengah, menunggu Levian yang masih didalam kamar.


"Bagaimana? apa pak direktur masih belum keluar dari kamar?" Tanya Jean kepada Darwin yang sendari tadi bolak balik untuk mengecek kamar Levian-- apa dia sudah keluar atau belum.


"Pak direktur masih belum keluar, dari siang dia hanya berada di dalam kamar."


Jean menyilangkan kedua tangannya, "Siapa yang berani mengetuk pintu kamar pak direktur?" Gumamnya dalam hati.


"Ketua, bagaimana jika kita panggil Saraa untuk menemui pak direkur. Sepertinya pak direktur sedikit dekat dengan Saraa dibandingkan kita?" Usul Zain mendapat anggukan dari Jean.


"Panggil Saraa kemari!" suruh Jean. Darwin bergegas memanggil Saraa yang sudah berada di halaman Vila.


"Saraa! Ketua tim Jean memanggilmu." Ujar Darwin sembari berlari menuju kearah mereka.


"Memangnya ada apa sampai memanggil Saraa?" Tanya Diana penasaran.


Darwin mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menjelaskan, "Pak direktur belum keluar kamar dari siang tadi, jadi ketua tim ingin Saraa menengok keadaan pak direktur."


Saraa memejamkan matanya sebentar, mengatur nafasnya karena amarahnya tiba-tiba muncul akibat ucapan Darwin.


"Mengapa harus aku?!" Tanya Saraa sambil mengepalkan tangannya dibawah meja.


Mengingat kejadian tadi siang membuat Saraa tidak ingin melihat wajah licik Levian untuk sementara waktu.


"Karena kalian sepertinya sedikit dekat."


Vanya melirik Saraa lalu menyenggol lengannya, "Sar ..."


"Ogah!" Tolak Saraa mentah-mentah. Kenapa harus selalu dia jika menyangkut direktur licik itu!


"Begini, apa salahnya mengetuk pintu kamar itu. Didalamnya hanya terdapat satu manusia saja, apa yang ditakuti?" Ucap Saraa.


"He is special human, Saraa. Tidak bisa disamakan dengan kita!"


Mendengar kata spesial membuat Saraa mual. Ia berjalan dengan langkah kesal, lebih baik beberapa ketukan pintu dari pada rengekan terus menerus didepannya.


"Saraa." Sapa Jean tetapi tidak digubris oleh Saraa, ia hanya berjalan melewati mereka hingga depan pintu kamar Levian. Saraa menarik nafas kesal, benar-benar membuatnya selalu naik darah.


'Tok..tok..tok!'


"Pak direktur Levian!" Panggil Saraa dari balik pintu. Hening, tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Saraa geram, ia mengetuk lebih keras pada pintu itu.


'Tok..tok..tok!'


"Pak Direktuuuur ..."


"Ada apa?"


Saraa mengedipkan matanya beberapa kali, menatap Levian yang sudah ada dihadapannya. Muka bantal masih melekat pada wajahnya dengan baju yang tadi masih ia gunakan hingga sekarang.


"Kami akan— "


"Nanti saya kesana!" Ucap Levian dengan dingin lalu menutup pintu dengan keras membuat jantung Saras ingin copot rasanya.


"heuh ... kepribadian gandanya muncul lagi!" Lontar Saraa dengan pelan.


"Bagaimana?" Tanya Jean kepada Saraa sesaat setelah ia turun dari lantai dua.


"Nanti." Jawab Saraa sembari lewat didepan Jean tanpa berhenti.


"Mengapa sikap Saraa mirip sekali dengan pak direktur?"


"Mana aku tahu!"


~


Diana yang sudah siap dengan guntingnya memotong-motong daging menjadi bagian kecil agar lebih gampang untuk menikmatinya.


"Mari kita bersulang terlebih dahulu!" Ucap Jean dengan sekaleng B*r ditangannya, sembari menyulangkannya keatas.


"Bersulang!"


"Bersulang!!"


"Apa saat seperti ini kalian akan mabuk-mabukan?!" Suara dingin nan kejam terdengar dari arah belakang membuat semuanya terkejut dan terdiam.


"Kenapa kalian diam?"


Jean menelan salivanya, "Pak, pak direktur silahkan duduk!" Ucap Jean mempersilahkan Levian untuk duduk.


"Mana b*r untukku?!"


"I- ini pak direktur." Darwin menyerahkan satu kaleng b*r kepada Levian.


Levian menghabiskan minuman itu dalam satu tegukan hingga tak bersisa, "Satu lagi!"


"Heh? Ba, baiklah." Darwin memberikan satu kaleng lagi. Levian meneguknya seperti awal, tak tersisa.


Diana menyenggol lengan Saraa, "Dua kaleng sekaligus, apa pak direktur tidak akan mabuk?" Bisiknya.


"Mau lima kaleng pun dia tidak akan mabuk." Ucap Saraa.


Saraa tahu betul jika Levian kebal dengan minuman semacam itu, ia tidak akan benar-benar mabuk hanya dengan minuman level rendah seperti itu.


"Apa yang akan kita lakukan? Apa kalian berencana akan membuat pesta barbeque tanpa ada permainan?" Tanya Levian sambil melipat tangannya.


Semua tampak diam, masih dalam pikiran masing-masing. Angkat bicara dua hal yang didapat, terima atau tolak dari Levian.


"Eum ... Bagaimana jika kita bermain truth or dare?" Usul Yuri.


"Ah ... benar, sepertinya akan seru!" Ujar Zain setuju dengan usulan Yuri.


"Baiklah. Mari kita lakukan dengan lebih ekstrim!"


Semuanya melirik kearah Levian, "Tidak menjawab harus meminum ini satu tegukan."


"Ta, tapi pak direktur, Apa baik-baik saja? Para wanita akan mabuk terlebih dahulu."


"Tidak! Ikuti saranku!"


"Egois!" Batin Saraa.


"Cepat, pindahkan semuanya yang ada diatas meja!"


~


"Cepat putar botolnya!"


"Ba, baik pak direktur."


Botol mulai berputar dengan cepat, perlahan-lahan mulai terlihat siapa yang akan menerima tantangan pertama kali.


"Pa, pak direktur." Semua bertepuk tangan setelah pucuk botol itu mengarah tepat ke arah Levian.


"Dare," Ucap Levian memilih pilihan tentang kejujuran.


Semuanya tampak berpikir, apa yang harus diketahui oleh pegawainya tentang direktur.


"Apa pak direktur punya kekasih?" Pertanyaan itu membuat semua menganga, seorang pembawa bencana dan tak tahu apa itu takut dan malu. Darwin.


"Darwin.." Semuanya tampak gusar, itu buka sebuah pertanyaan yang harus ditanyakan pada atasanya. Darwin hanya menampakan tampang polosnya, apa salahnya memberi jawaban gampang seperti itu.


"Hm ..." Levian mulai memberi jawaban, semua mengalih pandangannya ke arahnya.


"Belum." Jawaban Levian membuat Saraa lega. ia sangka akan mengatakan 'iya' dan menunjuk dirinya. Levian itukan sangat berani, keberaniannya itu membuat Saraa gusar.


"Untuk saat ini." Terus Levian memberi jeda.


"Saya akan mengumumkan pertunangan saya secepatnya."


"Pertunangan?" Batin Saraa.


"Berarti pak direktur sudah mempunyai calon?" Tanya Jean.


"Sudah, tinggal menunggu persetujuannya."


"Apa Levian benar sudah memiliki calon tunangan?" Batinnya.


Saraa menepuk jidatnya sendiri. sedang apa pikirannya lesu begitu, seharusnya ia senang jika Levian memiliki calon. Dia tidak akan membuatnya tertarik kembali.


"Benar. siapa yang tidak mau dengan direktur Levian, Semua wanita akan langsung mengatakan 'ya' tanpa berpikir!"


Levian melirik Saraa yang terdiam sembari mendungkukan kepalanya. Ada apa? apa Saraa merasa sedikit sakit dihatimu setelah aku mengatakan itu? Aku ingin tahu.


"Lanjutkan!"


Permainan sudah berjalan lebih dari setengah jam, Rata-rata memilih kejujuran karena lebih mudah, hanya menjawab atau tidak.


Levian sedikit geram karena Saraa belum mendapat tantangan, tujuan ia mengikuti permainan ini untuk memberikan pertanyaan menohok untuknya.


"Biar aku yang putar." Levian merebut botol dari tangan Darwin lalu memutarnya dengan cepat.


"Tolong berhenti ke arah Saraa!!" Batin Levian, ia menelan ludahnya menunggu botolnya berhenti.


"Terimakasih botol!"


________________________________________________


Author: Mian😵