Ambiguous

Ambiguous
<Aku jujur pada kalian.>



__________


Saraa pov.


Dengan perlahan ku buka mataku setelah samar-samar cahaya menyudutkan wajahku. Aku memejamkan mataku beberapa kali, menepatkan kesadaranku. Kepalaku terasa berat saat ku paksakan untuk mendudukan tubuhku diatas kasur. Aku melihat sekeliling ruangan itu, tampak familiar bagiku.


Aku memegang kepalaku yang terasa berat sambil samar-samar ingatan tadi malam muncul dipikiranku. Apa yang terjadi semalam? Mengapa aku bisa tidur disini? Bagaimana yang lain?


"Ini kamar yang ditempatinya. Mengapa aku bisa disini?"


Bingung. Jelas sangat bingung bagiku, aku sama sekali tidak ingat kejadian semalam setelah kepergianku ke toilet.


"Dimana dia?"


Aku turun dari kasur lalu melangkahkan kaki dengan hati-hati. Efek dari b*r itu masih ku rasakan hingga sekarang membuat pengelihatanku seperti orang yang terkena silindris, pengelihatanku menjadi kabur dan berbayang.


Aku harus menyipitkan mataku agar tanganku bisa menggapai gagang pintu yang berada didepanku. Aku harus meraba pengelihatan agar tidak menabrak sesuatu didepanku.


Samar-samar ku dengar suara bising dari arah dapur, ku langkahkan kaki menuju sana.


"Kepalaku berat sekali!"


"Kemarin malam apa yang terjadi? aku tidak ingat?


"Saraa dan pak direktur, apa mereka sedang menjalin hubungan?"


Ku hentikan langkahku tepat didepan pintu ruang makan, menguping pembicaraan antara mereka. Sepertinya topik pembicaraan itu tentang diriku.


"Sepertinya. Kalian lihat saat pak direktur keluar dari kamar yang ditempati Saraa? Jika bukan suatu hubungan spesial, mereka tidak akan sedekat itu."


"Aku mengira pak direktur kesini karena Saraa. Mustahil pak direktur kesini karena kita, bukan!"


Aku menghela nafas. Apa sangat mencolok? Apa akhirnya mereka semua tahu tentang diriku dan pria licik itu? Aku harus berbohong lagi atau mulai saat ini mengakui semua? Aku harus bagaimana?


Aku masuk ke ruang makan dengan senyum manis diwajahku. Baiklah, lebih baik aku memberi tahu mereka agar semua ini tidak jadi gosip dan membuatku tidak nyaman bersama mereka.


"Ekhmmm ..."


Aku berdehem, seketika semua orang melirik ke arahku. Mereka terdiam saat aku mulai duduk di tengah-tengah mereka.


"Kenapa kalian menatap ke arahku? Apa ada yang salah denganku?" Tanyaku sambil menyunggingkan senyum khasku.


Mereka terlihat tertawa canggung denganku, Mungkin pikiran mereka sama, apa diriku mendengar semua pembicaraan mereka?


"Ka, kau mau teh? Aku akan buatkan untukmu." Tawar Diana.


"Tidak, aku tidak ingin." Tolakku halus.


Mereka semua mengarahkan pandangannya ke arah lain, seperti tidak berani menatapku. Baiklah.


Aku menghembuskan nafas panjang terlebih dahulu sebelum berbicara yang sebenarnya kepada mereka, sepertinya aku akan tahu apa tanggapan mereka tentang ini.


"Aku dan pak direktur kalian adalah mantan kekasih." Ucapku dengan netral, tidak berseru ataupun berbisik.


"Apa?!" Seru semuanya kecuali Vanya yang terlihat tersenyum ke arahku.


"Kau sedang mabuk, Saraa?"


"Mengapa kalian kaget begitu?" Tanyaku.


"Bagaimana tidak kaget, itu sesuatu yang tidak bisa dipercaya begitu saja!" Seru Yuri menatapku tak percaya.


"Tidak percaya, bukan urusanku. Aku tidak ingin diriku menjadi bahan ghibah kalian!"


Aku memegangi kepalaku yang masih sedikit berat, "Tidak, aku sudah putus dengannya satu tahun lalu. Kami tidak berhubungan lagi sejak saati itu." Jelasku.


"Lalu? mengapa kamu bisa bekerja disini?" Tanya Jean, ia memasang wajah penasaran.


"Eumm ... terjadi kesalahan. Bagitulah." Jawabku lalu memakan roti lapis didepanku.


Mereka tidak berkomentar lagi dengan alasanku, mereka mengerti apa yang dimaksud dengan terjadi kesalahan.


Aku menghembuskan nafas lega, tidak ada kesalahpahaman lagi antara aku dan mereka semua.


"Tapi aku minta tolong pada kalian. Jangan memberitahu tentang ini kepada pegawai ataupun siapapun, aku tidak ingin menjadi bahan gosip di perusahaan." Mohonku pada mereka semua.


Mereka semua tersenyum kepadaku, "Kami tidak mungkin menjual informasi tentangmu, Saraa. Kita inikan teman, teman tidak pernah mengkhianati bukan?" Ucap Vanya mewakili semua.


Aku tersenyum bahagia, mempunyai teman-teman yang tidak banyak bicara dan dapat dipercaya adalah salah satu keajaiban bagiku.


"Saraa, aku sedikit patah hati ..." Lontar Darwin membuatku tertawa kecil.


"Apa yang membuatmu patah hati?"


"Kamu dan pak direktur pasangan yang serasi, mengapa kalian berpisah?" Tanya Darwin membuatku menaikan satu alis.


"Tidak! kami tidak cocok sama sekali!" Tampikku menolak semua omongan tentang diriku dan pria licik itu.


"Bagaimana jika kalian balikan lagi?"


"Ogah!" Tolakku sambil memberi tanda silang dengan tanganku. Minat saja tidak apa lagi balikan dengan pria picik itu!


"Sayang sekali." Ujar Darwin sedikit tertunduk dihadapanku. Aku tidak memperdulikannya, terserah mereka berpikir seperti apa, aku tidak akan bersama Levian lagi. Titik!


"Ngomong-ngomong dimana pria itu? Mengapa dari tadi aku tidak melihatnya?" Tanyaku sambil celingukan.


"Pak direktur? Dia sudah kembali ke kota sejak malam tadi. Dia memberi pesan untuk kita agar besok tidak telat masuk kerja." Jawab Diana.


Aku hanya ber-oh ria sembari melahap kembali roti lapis ditanganku.


"Kepalamu masih sakit, tidak?" Tanya Jean kepadaku.


Aku menggeleng, "Tidak terlalu, hanya masih sedikit berat saja."


"Syukurlah ... semalam kamu minum banyak sekali."


"Eum .. siapa yang membawaku ke kamar yang ditempati pak direktur?" Tanyaku sambil mengingat kejadian semalam tapi hasilnya nihil.


"Siapa lagi kalau bukan pak direktur." Jawab Yuri dengan santai.


"Oh... apa?!" Teriakku membuat semuanya tampak terkejut.


"Aku tidak percaya!" Sanggahku. Mustahil tubuhku diam saja saat berada didekatnya, pasti aku akan menolaknya. Pasti!


"Aku tidak berbohong Saraa. Setelah pak direktur menyuruh kita untuk menunggu sampai tengah malam diluar, dia keluar dari vila lalu pamit saat itu juga." Jelas yuri.


"Aku tidak mau percaya!"


"Faktanya itu Saraa ..."


"Sudah ah ... Aku mandi dulu, lalu bersiap untuk pulang ke rumah." Ucapku lalu beranjak pergi.


"Aku ikut Saraa!!"


________________________________________________