
__________
Dering telpon mengusik tidur nyenyak Saraa. ia bergumam, siapa yang mengganggu pagi-pagi begini, saraa meraba-raba sekitar mencari ponselnya.
"haloo!"
"Saraa, aku menemukan perusahaan yang cocok untuk kamu!" ujar seseorang yang tak lain adalah Nadia.
Saraa buru-buru menegakkan badannya untuk mendengarkan lebih lanjut dari Nadia.
"Perusahaan baru sih, tapi sudah menjadi perusahaan terbaik tahun ini. Mereka membutuhkan pegawai marketing baru, kamu itukan lulusan managemen, pas sekali bukan??"
Saraa berpikir sejenak, apakah ia akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini atau akan mengajukan surat lamaran pekerjaan,
"saraa jangan terlalu lama berpikir, kesempatan tidak datang dua kali!" ucap Nadia menyakinkan Saraa.
"Besok aku akan mengajukan Surat lamarannya."
"Tidak bisa Saraa, hari ini adalah hari terakhir . kamu harus mengajukan hari ini juga!"
Saraa bingung, ia belum menyiapkan berkas untuk pengajuan surat lamaran itu.
"Aku belum menyiapkan berkas-berkasnya, waktunya mana cukup!"
"Bagusnya aku, temanmu ini sudah menyiapkan apa saja yang harus kamu bawa,"
"mana bisa? aku tidak pernah memberimu berkas-berkasku!"
"kau meragukanku? temanmu ini yang bekerja dipemerintahan?"
Saraa tertawa kecil lalu mengiyakan saja apa yang dikatakan Nadia.
"Aku akan mengirimkan langsung ke perusahaannya, siang ini kamu harus ke kantornya untuk interview. Akan aku berikan alamatnya,"
Saraa bingung, belum saja ia lolos tahap penyeleksian, sudah langsung interview.
"Bagaimana bisa langsung interview?lolos tahap penyeleksian saja belum?"
"Sudah.. sudah, ikuti perintahku!"
"Siap bos!"
Setelah selesai berbicara dengan Nadia, saraa buru-buru bersiap diri. memilih baju yang biasa dipakai untuk tahap interview.
"Apakah harus berlebihan begini?" tanya pada dirinya sendiri setelah ia memakai make up yang tebal.
Ia buru-buru menghapusnya, dan hanya memakai bedak dan lipstik tipis agar tidak terlihat pucat. meskipun riasan tipis seperti ini, saraa tampak cantik memukau.
"Mama, Saraa pergi dulu!" pamit Saraa berteriak.
"sebentar, pakaian rapi begitu mau kemana?" tanya Diana yang sedang mencuci piring didapur.
"Interview!"
"Hah, interview?!" tanya Diana kaget.
"hm ...."
"tiba-tiba? setan apa yang merasukimu?"
"mama!!" jengkel Saraa.
"kemarin papa tanya kamu, kamu jawab tidak mau kerja, sekarang tiba-tiba sudah interview saja. mama bingung loh ... "
"Saraa juga bingung ma, yang terpenting doakan anakmu ini!" ucap Saraa meminta restu.
Diana mengangguk "Pastinya!"
"Saraa pamit!" pamit Saraa setelah mengenakan sepatu high heelsnya.
"Hati-hati, sayang!"
~
"Ini kantornya?!" Ucap Saraa sambil berdecak kagum melihat kantor yang begitu luas dan tinggi.
"apa alamatnya salah?" Saraa mengecek lagi alamat yang diberikan Nadia. Tidak ada kesalahan sama sekali, ini benar-benar kantor yang ditawarkan Nadia.
"ini seperti anak perusahaan milik papa, besarnya hampir sama. Aku ingin tahu siapa direkturnya, pastinya sangat kaya dan dermawan!" kagumnya lagi.
"ada yang bisa saya bantu, nona?" ucap seorang satpam.
"saya mau interview pak." jawab Saraa ramah.
Satpam itu mengerutkan dahinya tanda bingung "setahu saya disini tidak sedang memerlukan kariawan baru."
Saraa bingung bukan main, benarkah alamatnya salah?
"ini benar perusahaan Lesaagiant compeny?"
"iya betul sekali"
"benar kok, tapi kenapa tidak membutuhkan kariawan baru? !apa nadia memberi nama kantor yang salah?"
"Mbak Saraa ya?" tanya seseorang dari sisi kanan Saraa.
Saraa mengangguk. "Benar, saya Saraa"
wanita itu tersenyum, di dadanya terdapat name tag bertuliskan Arina Dwi.
"Mba Saraa bisa ikut saya, silahkan!"
Saraa mengikuti apa yang dikatakan Arina, ia masih bingung dengan situasinya.
"maaf mbak ..."
"saya Arina Dwi, saya HRD diperusahaan ini." jelas Arina pada Saraa
Saraa hanya mangut-mangut tanda mengerti penjelasan dari Arina.
"tapi mbak Arina, kok mbak tahu nama saya?" tanya Saraa bingung.
"Ah ... kebetulan saya kenal dengan Nadia yang mengirimkan berkas-berkasmu!"
"Kok bisa kenal mba?"
"sesekali bertemu dibeberapa acara,"
Saraa tidak berkomentar lagi, hanya mengikuti langkah Arina dari belakang.
"Mbak Saraa bisa duduk disini, kita bisa mulai interviewnya."
"sebelum itu saya mau bertanya, apa saya interview sendirian?" tanya Saraa bingung melihat sekitar ruangan yang tampak sepi.
"mbak Saraa kesiangan, mereka telah melakukan interview beberapa waktu lalu."
"Tidak apa, lagian mereka semua tidak lolos." Ujar Arina sedikit ketus.
"Eh ..." Saraa sedikit berkecil hati, bagaimana jika dia tidak lolos juga.
"Kita mulai ya."
Selama beberapa menit, Saraa diberi pertanyaan seperti interview pada umumnya, tentang tujuan ia ingin bergabung dengan perusahaan, pengalaman kerjanya dan lain-lainnya. ditengah interview berlangsung Handphone Arina bergetar.
"Hallo"
" ... "
Arina menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan dari balik ponselnya.
"Baik pak!" Arina menutup telponnya lalu mengambil map berisikan kertas dibawah mejanya.
"sepertinya kamu akan berkerja keras mulai hari ini, ini kontrak kerjanya. Silahkan dilihat lalu jika setuju boleh ditanda tangani!"
"Saya diterima mbak?" tanya Saraa tak percaya.
"Iya ..."
Saraa masih tak percaya, ia hanya menatap map yang berisikan kontrak kerja itu dengan pikiran kosong.
"Kamu kenapa Saraa??" Tanya Arina setelah melihat tatapan kosong Saraa.
"Tidak apa ..." buru-buru Saraa menandatangani kontaknya.
"Tidak dibaca dulu?" tanya Arina.
"Tidak usah, saya percaya mbak Arina."
Setelah menandatangani kontak, Arina memberi arahan kepada Saraa tentang apa saja yang harus dilakukan saat sudah bekerja diperusahaan ini, Saraa fokus mendengarkan dengan seksama dan sesekali menulis apa point terpentingnya.
"Saraa, kamu bisa mulai kerja besok, jangan lupa dengan apa yang tadi aku jelaskan ya!"
ucap Arina setelah selesai memberi arahan.
"Baik mbak, Saya pamit pulang dulu."
"Hati-hati!"
Setelah selesai interview Saraa mengunjungi kafe favoritenya, hampir setiap minggu ia kemari untuk menikmati segelas kopi cappucino kesukaannya. Bisa dibilang cafe ini adalah saksi bisu berakhirnya hubungan antara Saraa dan Levian.
Saraa duduk dikursi dekat jendela, seorang pelayan mendekatinya,
"Mbak Saraa, hari ini pesan seperti biasa?" tanya ramah pelayan tetap yang sudah lama mengenal Saraa.
"Iya seperti biasa, tapi hari ini jangan pakai gula ya."
"Baik mbak Saraa." pelayan itu tersenyum lalu pergi untuk menyiapkan pesanan Saraa.
Saraa memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang didepan cafe, ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang sedang berbincang asik dengan lawan bicaranya, ada yang sedang membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Tunggu! sepertinya Saraa mengenal tuan itu. Mengapa harus pria busuk lagi?!
Saraa bergegas meninggalkan cafe melalui pintu lain, tapi sepertinya Saraa kalah cepat dari Levian, Levian sudah menghadang pintu yang akan dilewati Saraa.
Saraa yang menundukan kepalanya tidak melihat jika Levian sudah tepat didepannya, alhasil tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Levian. Saraa kehilangan keseimbangannya lalu hampir terjatuh sebelum tangan Levian mengambil alih tubuh Saraa.
tidak ada suara dari mereka berdua, yang ada hanyalah tatapan mata antar mereka, adegan romantis ini membuat iri siapa saja yang melihatnya. Sadar akan kesalahan ini, buru-buru Saraa mendorong Levian jauh-jauh darinya.
"Lepasin! Jauh-jauh sana!" usir Saraa dengan jengkel.
"Bukannya seharusnya kata terimakasih?"
"untuk apa?!"ucap Saraa ketus."lagian aku tidak mengenalmu, minggir!!" Saraa buru-buru pergi dari tempat itu.
sebelum Saraa benar-benar melangkahkan kakinya, tangan Levian lebih dulu menariknya, lalu secepat kilat Saraa sudah berada dipelukan pria itu. Saraa yang terganggu dengan permainan Levian memberontak untuk melepas diri dari pelukan Levian, setelah lepas ia menampar pipi Levian dengan keras.
Levian kaget akan apa yang dilakukan Saraa, ia tidak menyangka Saraa akan melakukan itu kepadanya.
"Tamparan itu untuk kamu yang sudah lancang terhadapku!" ujar Saraa lalu bergegas meninggalkan Levian yang masih berdiri ditempat, tak percaya apa yang barusan ia dapatkan.
"Saraa, kamu mulai berani! lihat saja nanti!" gumam Levian dalam hati lalu berjalan kembali kedalam mobil miliknya.
~~~
Pagi hari Saraa sudah berangkat menuju kantor barunya, dengan setelan rapi dan riasan tipis memberi kesan indah pada dirinya.
"Semangat dan semoga hari ini tidak melelahkan!" ucap Saraa menyemangati diri.
Sebelum ia memasuk ke ruangan barunya ia terlebih dulu menemui Arina diruangannya.
"Mbak Arina?" Sapa Saraa dari pintu ruangan Arina.
"Oh ... Saraa, sini masuk!" Arina memperbolehkan Saraa untuk masuk.
"Oh iya, direktur ingin bertemu denganmu."
"Aku? kenapa? aku orang baru disini mbak." Tanya Saraa bingung.
"Justru kamu orang baru, mangkannya direktur ingin bertemu denganmu."
"memangnya begitu?"
"Iya"
Arina berdiri dari tempat duduknya lalu membawa Saraa menuju ruangan direktur yang berada dilantai tigabelas. Didepan ruangan direktur terlihat seorang wanita yang sedang berbincang dengan lawan bicaranya, terlihat familiar bagi Saraa tapi tidak tahu ia lihat dimana.
"Itu sekretaris direktur, namanya Bianca. sifatnya jutek, hati-hati dengannya!" ucap Arina memperingati Saraa.
dilihat dari wajahnya saja sudah ketebak bahwa dia orang yang tidak ramah dan suka mengatur.
Arina mengetuk pintu lalu dengan sopan memasuki ruangan disusul Saraa yang mengikutinya. terlihat direktur yang duduk membelakangi mereka berdua.
"Pak direktur, saya membawa nona Saraa kesini." kata Arina dengan sangat lembut dan sopan.
"Arina, kamu boleh pergi!"
Arina membungkuk hormat lalu meninggalkan Saraa sendirian dengan direkturnya.
"Nona Saraa, mendekat!" Suara direktur itu seperti familiar ditelinga Saraa.
Saraa mendekat, ia masih berprasangka baik agar apa yang dipikirannya itu tidak benar dan tidak akan terjadi.
Kursi itu berputar, prasangka baik itu tiba-tiba berubah menjadi kenyataan yang buruk dan pahit. Saraa menatapnya tidak percaya, bagaimana lagi-lagi Pria busuk ini!
Apakah dunia ini sempit? ataukah takdir itu mempersulit? mengapa pria ini selalu menampakan diri didepanku? oh tuhan bagaimana aku menyingkirkan pria ini?
Levian!
________________________________________________