Ambiguous

Ambiguous
<Pertemuan pertama dengan Fiona.>



__________


Setelah selesai mengirim pesan kepada Adrian, Saraa meletakkan kembali ponselnya diatas nakas lalu membaringkan tubuhnya seraya memeluk bantal guling kesayangannya.


'tok..tok..tok!'


suara ketukan menyeruak didalam kamar Saraa membuat pikirannya teralihkan. ia segera bangkit menuju pintu, tetapi saat dibuka tidak menampakkan satupun objek didepannya. Saraa menengok kanan dan kiri, tetapi benar tidak ada siapapun disekitarnya.


Saraa mendesis, "Ish! siapa yang yang senang bercanda malam-malam begini?!" ujar Saraa lalu membanting pintunya dengan keras.


Saraa berjalan kembali menuju ranjangnya, "apa yang mereka katakan? lelucon? tidak sama sekali! aku tidak mengerti dengan mereka yang suka berbuat lelucon seperti itu, tidak lu— "


"Akhhhh!!" Teriak Saraa setelah melihat pria tinggi sedang berdiri didepan pintu kaca balkonnya sambil melambaikan tangannya dan senyum aneh diwajahnya.


"Kau! sedang apa disitu?!" Seru Saraa tak berani mendekati pintu kaca menuju balkon.


"Bagaimana kamu bisa sampai disitu?!"


'tok..tok..tok!'


"Biarkan aku masuk!"


"Tidak! aku tidak akan membiarkanmu masuk!" tolak Saraa sembari menyilangkan tangannya.


"Jika aku membiarkan dia masuk, sesuatu pasti akan terjadi padaku!" batin Saraa.


"Kalau begitu, aku akan memecahkan kaca ini!" ancam Levian sambil mengangkat kursi bermaksud memecahkan pintu kaca agar bisa masuk kedalam kamar Saraa.


"Kau gila, huh?!" Saraa berlari untuk membuka pintu sebelum Levian berbuat tindakan selanjutnya.


"Memangnya ini rumahmu, huh?! bisa seenaknya merusak apapun?!" ucap Saraa kesal dengan ulah Levian yang tidak tahu diri.


"Jika aku tidak mengancammu seperti ini, kau tidak akan mau menurutiku." Jawab Levian dengan senyum kemenangan yang tergambar jelas diwajahnya.


"Humph! Turunkan kursinya!" Suruh Saraa.


Levian meletakkan kembali kursi ke tempatnya semula, " sudah, kan?" ucapnya lalu tanpa pamit melenggang masuk ke dalam kamar Saraa.


"Ya! siapa yang mengijinkanmu masuk?!" protes Saraa.


Levian memperhatikan sekeliling ruangan yang begitu luas dengan dipenuhi pernak pernik berbentuk bintang dan robot yang terpajang rapi diatas rak putih dekat jendela, kamar yang sangat pas dengan kepribadian Saraa yang tangguh dan berperasaan.


"Bukankah koleksi robotmu itu, salah satunya yang kau ambil dariku dulu?" Tanya Levian.


"Ti— tidak ada! aku membeli semuanya, dengan uangku!" jawab Saraa gugup, sebenarnya memang salah satu dari koleksinya adalah barang yang ia rebut dulu saat Levian mendapatkan robot edisi terbatas.


"Benarkah? seingatku, kau penah mengambilnya dariku ..." Levian mencoba mengingatnya, tetapi gagal.


"Omong kosong!"


Levian berganti melihat koleksi buku Saraa yang berada disebelahnya, banyak sekali terdapat ensiklopedia dan novel-novel terkenal tersusun dan terurut dengan rapi, dari tanggal perilisannya hingga genre masing-masing.


"Bagaimana kau bisa sampai sini?!" tanya Saraa.


"Aku loncat dari balkon kamar sebelah." Jawab Lbalko enteng.


"Apa?! kau loncat?!" tanya Saraa tak percaya, jarak antara balkon kamarnya dan kamar sebelahnya terpaut beberapa meter, bagaimana Levian bisa meloncatinya.


"Kau pikir dari mana lagi." kata Levian lalu mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya.


"Bagaimana bisa?"


"Manusia bisa melakukan sesuatu yang mustahil bila dibarengi dengan niat dan kesungguhan. Apapun kendalanya, jika niat sudah didalam hati, pasti akan lancar kedepannya." Tutur Levian dengan nada lembut dan ringan, membuat orang akan tergugah hatinya saat mendengarnya.


"Kata-katanya bijak sekali." gumam Saraa kagum dengan pemikiran Levian.


"Tidak biasanya kau berbicara sebijak itu." Lontar Saraa.


"Semuanya terpapar disini." ujar Levian sambil menunjukkan tulisan yang sudah digaris bawahi.


"Ternyata karena buku!" batin Saraa kecewa. Baru saja Saraa ingin memuji Levian sedikit, tetapi niatnya terurungkan.


"Buku ini sangat bagus, aku akan meminjamnya." ucap Levian mendapat pelototan dari yang punya buku.


"Siapa yang membolehkanmu meminjam buku-bukuku? aku tidak akan meminjamkannya!"


"Kalau begitu, kembalikan robot milikku yang kau ambil 15 tahun lalu!"


Saraa lagi-lagi mendesis, "bawa saja buku itu!aku sudah tidak membutuhkannya!" kata Saraa mengalah, lebih baik bukunya yang dipinjam dari pada koleksi pribadinya harus hilang dari genggaman untuk selamanya.


"Aku hanya meminjamnya, akan aku kembalikan lagi setelah aku selesai membacanya." ujar Levian lalu bejalan kembali menuju meja rias karena suatu benda yang mencuri perhatiannya.


"Kau mau kemana lagi?!" tanya Saraa lelah mengikuti Levian.


"Kau masih menyimpan foto ini?" tanya balik Levian sembari mengangkat bingkai berwarna putih berisikan foto masa kecil Saraa dan Levian saat sedang piknik ditaman bunga bersama.


"I— itu hanya foto, aku menyimpan banyak foto. Bukan bersamamu saja, teman yang lain aku juga menyimpannya, jangan geer dulu!" ujar Saraa malu karena masih menyimpan foto-foto lama mereka.


"Ini ..." Levian mengambil kotak kecil disebelah foto mereka yang terlihat sangat familiar dimatanya.


"Kau dapat kotak ini dari mana? bagaimana bisa ada padamu?" tanya Levian seperti pak polisi sedang mengintrogasi tersangka.


"Apa maksudmu? itu ... aku menemukannya dijalanan, tidak ada yang mengaku lantas aku bawa pulang saja." Jawab Saraa seadanya.


"Bagaimana bisa kembali kepada sang calon pemiliknya? apa ini sebuah kebetulan? kenapa Saraa yang menemukannya? apa tuhan sudah memberiku petunjuk?" ucapnya dalam hati yang terharu dengan kebetulan ini.


kotak yang dulu ia buang sekarang sudah kembali pada pemilik aslinya, itu tidak mengecewakan dan membuatnya begitu sangat bahagia.


"Cincin ini sangat indah, aku sangat tidak menyukai orang yang membuang ini secara sembarangan!" Ucap Levian sambil menyembunyikan senyum dibibirnya.


"Bagaimana kau tahu bahwa cincin ini dibuang? bisa saja ini jatuh atau sesuatu terjadi?" Tanya Saraa sedikit curiga.


"Ehmm ... jika ini tidak dibuang, mengapa tidak ada satupun orang yang mencarinya? ini barang yang sangat mahal, hanya orang bodoh yang membuangnya dengan sengaja!" ujar Levian tanpa disadari mengaku dirinya bodoh.


"Benar katamu, sangat bodoh!" Saraa pun setuju dengan kebodohan Levian.


Levian meletakkan kembali kotak itu, "Seandainya kau yang diberikan cicin itu, apa kau akan menerimanya?"


"Tentu saja, siapa yang tidak mau?" jawab Saraa.


"Meskipun yang memberi itu aku?" tanya Levian memastikan.


"Tentu saja. jika darimu, aku akan langsung menjualnya lalu membeli sesuatu yang lebih indah, pilihanmu selalu tidak bagus."


Levian tersenyum kecut tetapi senang mendengar bahwa Saraa akan menerima pemberiannya, mengapa dulu tidak ia berikan saja cincin itu, mungkin lain ceritanya.


"Aku akan memberimu, nanti saat aku melamarmu."


"Kau ingin menjadikanku istri kedua?" tanya Saraa jengkel.


"Bisa dibilang, begitu." ucap Levian sambil terkekeh geli.


"tidak mau!" tolak Saraa.


"Aku akan memaksamu."


"Humph! keluarlah dari kamarku!" usir Saraa sembari mendorong badan Levian.


"Aku ingin tidur denganmu."


"Ish! pergilah!!"


□□□□□


"Saraa, kau ingin ke kantin bareng kami?" tawar Yuri, bersiap pergi ke kantin bersama Vanya dan Diana.


"Hm okey. Sebentar aku harus menyelesaikan ini dulu." ucap Saraa lalu secepat kiat menyelesaikan tugasnya.


"Ayo!"


'tok..tok..tok'


"Mbak Saraa, ada seseorang yang ingin bertemu anda dibawah." ucap seorang resepsionis yang baru saja sampai diruangannya.


"Siapa?" tanya Saraa.


"Seseorang pria tampan bernama Adrian." ucap resesionis itu dengan muka kemerahan.


"Adrian? baikah aku akan menemuinya." ucap Saraa.


"Maaf aku tidak bisa ke kantin bersama kalian ..." lirih Saraa sembari menatap kearah mereka bertiga.


"Adrian, siapa pria itu? apa pacar barumu?" tanya Vanya menggoda Saraa.


"apa yang kalian pikirkan? dia hanya teman, sebatas teman." jelas Saraa tidak ingin memperpanjang.


"Nanti kau harus menceritakannya kepada kami, okey?"


"Baiklah. Aku akan menceritakannya kepada kalian, semuanya!" janji Saraa kepada mereka.


Mereka mengacungkan jari jempolnya serentak "Semangat! semoga berhasil.. " ucap Vanya menyemangati Saraa.


"Aku hanya menemuinya, tidak pergi kepertandingan!" ujar Saraa sembari terkekeh kecil melihat kekompakan mereka.


Mereka berjalan kedua arah, Saraa menuju lift sedangkan teman-temannya menuju arah kantin. Sembari menunggu lift sampai, Saraa membenah diri dengan lipstik dan bedak tipisnya.


ting!


pintu lift terbuka lebar bersama penampakkan wanita yang ia tahu tapi tidak mengenalnya sudah berdiri didalam, Fiona.


mata mereka bertemu sebelum pada waktu yang bersamaan mereka memalingkan wajahnya ke arah yang berlainan.


"Mengapa harus bertemu dengan wanita ini?!! apa aku harus masuk?" gumam Saraa tak yakin.


"Tidak naik?" tanya Fiona kepada Saraa.


"Tidak apa, ini hanya sebuah kebetulan. Dia juga tidak tahu apa-apa tentangku, tenang saja." Batin Saraa.


Saraa mengangguk lalu melenggang masuk kedalam lift. Mereka berdiri berjauhan, canggung dan bingung menerpa keduannya.


"Ekhmm. Apa kau pegawai disini?" tanya Fiona secara tiba-tiba membuat Saraa terkejut.


"Jika aku bukan pegawai, mengapa aku bisa disini, bodoh!" umpat Saraa dalam hati.


"Iya." Jawab Saraa singkat.


"Apa atasanmu sangat baik?" tanya Fiona lagi.


"Sangatttt baik." Jawab Saraa gemas.


"Umurmu berapa?" tanya Fiona membuat Saraa melotot kearahnya.


"Mengapa kau menanyaiku seperti itu?" tanya Saraa balik, sedikit terganggu dengan pertanyaan Fiona yang mendadak.


"Kau terlihat lebih muda dariku dan aku suka" Fiona memberi jeda pada kata terakhirnya, "wajahmu."


"Hah?"


"Maksudku ... wajahmu sangat cantik dan imut, aku senang melihat wajahmu." jelas Fiona sekalian memuji Saraa.


"Mengapa wanita ini tidak jelas?!" batin Saraa.


"Terimakasih." balas Saraa, ia tidak tahu harus membalas pujian Fiona dengan apa.


"Wajahmu juga cantik."


Fiona tersenyum kecil, "terimakasih ..."


"Apa aku salah menilai dirinya? sepertinya dia gadis yang baik dan bersahabat.. " gumam saraa lagi.


Lift mereka berhenti tepat dilantai satu, buru-buru Saraa berjalan keluar bermaksud menghilangkan kecanggungan diantara mereka.


"Namamu? aku ingin tahu namamu ..." tanya Fiona setelah mereka keluar dari lift.


"Aku Fiona, salam kenal." ucap Fiona sembari mengulurkan tangannya.


Saraa tersenyum simpul lalu menerima jabat tangannya, "Namaku Saraa."


□□□□□


"Adrian!" sapa Saraa kepada Adrian yang sudah menunggu Saraa begitu lama dikursi tunggu.


"Apa kau lama menungguku?" tanya Saraa tidak enak kepada Levian.


Karena bertemu dengan fiona di lift tadi, ia tidak bisa cepat menemui Adrian, Fiona mencecar dengan banyak pertanyaan dan berujung dirinya meminta nomor telpon Saraa. Meskipun sedikit ragu, tetapi akhirnya Saraa memberikannya dengan percuma. Biarlah, lagian Fiona tidak tahu jika dirinya adalah mantan Levian.


"Cukup bagiku untuk menunggu bidadari turun." beber Adrian dengan senyum manis diwajahnya.


"Kau sedang merayuku?" cibir Saraa sembari terkekeh kecil.


"Aku tidak pernah merayumu, ini adalah sebuah fakta!"


"Terserah dirimu saja ... ada apa kau kemari? mengapa tidak memberitahuku dulu?" tanya Saraa bingung dengan kedatangan Adrian yang mendadak.


"Aku ingin memberi kejutan kepadamu. Aku ingin mengajakmu makan siang diluar, kau berkenan, bukan?" ajak Adrian.


"Kau sudah kesini dan menungguku, aku tidak bisa menolaknya." jawab Saraa menerima ajakan Adrian.


Senyum lebar terpangpang diwajah Adrian, "Mari. Aku akan mengajakmu ke restoran terenak didaerah sini!"


"Benarkah? aku tersanjung kalau begitu ..."


"Ayo!"


****


Visual Adrian cullen.



 


**Terimakasih kepada para readers sudah membaca karya pertamaku ini, jika ada typo atau kesalahan pada tulisan, harap dimaklumi karena tidak ada sesuatu yang sempurna didunia ini. Hehehe:D


terimakasih semuanya♡♡**