Ambiguous

Ambiguous
<Takdir tidak sejalan dengan hati>



__________


1 TAHUN KEMUDIAN.


"Saraa, kapan kamu akan mulai kerja kembali?" Tanya Aringga, papa Saraa yang sedang menyantap makannya.


"Hm ... Aku belum memikirkannya." jawab Saraa dengan malas.


"Lebih dari setengah tahun kamu tidak bekerja, papa suruh kamu bekerja diperusahaan papa tidak mau, kerja ditempat lain mengundurkan diri. jangan-jangan kamu ingin menikah saja?"


Saraa hampir tersedak mendengar ucapan terakhir papanya.


"Papa!"


"Hubungan kamu dengan Levian sudah lama berakhir, tidak ingin mencari yang lain? sepertinya Levian sudah punya pengganti kamu ..." Aringga tertawa kecil.


"Kenapa harus orang itu terus sih!" ucap Saraa jengkel.


"Papa, jangan begitu. anak kita ini sedang masa sulit, kita harus mendukungnya agar bisa cepat-cepat punya pengganti Levian,"


Diana yang sendari tadi di dapur menyiapkan makan siang ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.


"Kasian saraa, selalu memandang rumah pak syarif setiap hari." Ledek mamanya yang membuat saraa semakin jengkel.


"Mama!"


Saraa kesal lalu pergi dari ruang makan dan mengambil jaketnya.


"Mau kemana?" tanya Diana.


"Cari Tuyul!"


Saraa berjalan melewati rumah demi rumah. ia tidak mengerti mengapa orangtuanya selalu membicarakan Levian yang sudah menjadi masa lalunya. Ya, meskipun mereka adalah teman semasa dulu. tapi sekarang, bagaikan ada ribuan mil jarak antara mereka.


Satu tahun yang lalu saat ia putus dengan Levian, orangtuanya hanya tertawa mendengar bahwa mereka sudah tidak bersama lagi. jarak di antara mereka sudah di batasi oleh kata SELESAI, selesai untuk menjadi kekasih dan teman.


Saraa berjalan dengan kesal sambil sesekali menendang batu yang ada di jalanan, "Apakah aku harus pindah saja?" pikirnya.


"Apa yang salah dengan batu-batu itu?" Suara itu mengusik kegundahan hati Saraa, Ia melirik sumber suara yang membuat lebih banyak beban hidup. Di sebelah pria itu ada seorang wanita dengan perawakan yang tinggi dan terlihat cantik untuk dipandang.


"Oh tuhan mengapa aku harus bertemu dia saat ini? seharusnya aku pilih jalan lain saja tadi!" gumamnya dalam hati.


Saraa memutarkan badannya 180 derajat untuk kembali mencari jalan yang lain. Baru beberapa langkah dirinya untuk kabur, Suara itu terdengar lagi dan membuat kaki Saraa berhenti otomatis.


"Kenapa putar balik? bukannya kamu ingin bertemu denganku?" Ucap pede Levian sambil menyilangkan tangan di dadanya.


Lagi-lagi Saraa menghela nafas dengan kasar, pede sekali orang itu. Saraa kembali memutar badannya dengan sangat malas.


"Kamu mengenalku?" Tanya saraa lebih-lebih malas.


Levian berjalan mendekati Saraa.


Saraa sedikit gusar, ia mulai menebak apa yang akan Levian lakukan saat sudah sampai di depannya. beberapa langkah kemudian Levian sudah berada didepannya, lalu berjongkok sembari membetulkan tali sepatu Saraa yang copot.


"Teman semasa kecil dan kekasih hingga tahun lalu." kata Levian dengan lembut.


Saraa diam tak bergerak, perlakukan manis seperti ini dulu Levian sering melakukannya. Dari merangkul dirinya hingga menggendongnya menuruni bukit saat kemah dihutan pun pernah ia lakukan.


dari kejauhan dua bola mata memandang dengan kesal adegan romantis didepannya, dia tidak bisa melarangnya ataupun mendekati mereka, Levian tidak memberi akses kepada dia untuk mengganggu kehidupan utamanya.


"Awas saja kau Saraa, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu!" Gumam keras di dalam hatinya.


Jauh amarah di sebelah sana, Saraa dan Levian masih melakukan scene romantis mereka.


"Sudah selesai," kata Levian setelah selesai merapikan tali sepatu milik Saraa.


"hm ... kapan kamu akan berkerja lagi? kamu ingin menjadi pengangguran hingga tua nanti? aku tidak masalah, tapi aku kasihan kepada orangtuamu." tanya Levian sambil mengadahkan kepalanya keatas.


"apa urusanmu mempertanyakan itu dan mengomentari masalahku?!" jawab Saraa angkuh. ia berjalan meninggalkan Levian yang masih berjongkok.


Levian tersenyum pahit, lalu berdiri sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana miliknya. Berjalan memasuki rumah dan meninggalkan bianca yang sendari tadi hanya berdiri diam ditempat.


sebelum itu,


"Levian ..." suara yang sok di lembutkan itu mengganggu jalan Levian.


"Aku sudah bilang, pulanglah sendiri!" kata Levian lalu masuk ke dalam rumahnya.


Bianca menghentakan kakinya dengan kasar, baru setengah jam ia sampai disini. sudah terusirkan saja dengan cara seperti ini.


~


Saraa berjalan dengan langkah cepat, ia tidak mengerti mengapa pria itu selalu membuat gundah hatinya.


"Levian gila! tidak tahu diri! sok paling sempurna! ... " Umpatan demi umpatan ia keluarkan dari dalam hatinya, enak saja mengganggu dirinya.


Saraa menghentikan langkahnya, ia berpikir dengan perkataan levian tentang mempunyai pekerjaan. ia membulatkan tekadnya untuk mencari pekerjaan dan pengganti Levian dihatinya.


Saraa mengepalkan tangannya "Besok aku harus mencari pekerjaan!" Saraa menganggukan kepalanya tanda menekadkan diri.


"hm ... Sebelum itu ayo kita cari jajan dulu!" ucap Saraa yang langsung berlari menuju pedagang-pedagang yang berjualan menjajakan jajanan dipinggir jalan kompleknya.


~~


Malamnya ia membuat janji makan malam dengan sahabat tersayangnya Nadia, mereka memilih restoran dipinggir kota untuk tempat mengobrol dengan santai bersamanya.


"Saraa, kamu kenapa?" tanya Nadia setelah melihat wajah kusut Saraa.


Saraa mengela nafas dengan gusar,


"Pekerjaan, aku butuh pekerjaan!" rengek Saraa kepada Nadia.


"bukannya setahun yang lalu kamu tidak ingin bekerja selama beberapa tahun ini?" tanya Nadia mempertanyakan pernyataan Saraa setahun lalu.


"Aku tarik pernyataan itu!"


"Kenapa? Ada yang mencelamu?"


"Tidak, aku tidak ingin membuat beban lagi terhadap mama dan papa" kata Saraa sambil mengadahkan kepalanya diatas meja.


Nadia menyipitkan matanya,


"Ck! Itu sudah satu tahun lalu, sekarang aku sudah bertekad!"


"Kerja diperusahaan ayahmu memangnya tidak bisa? Toh, pada akhirnya perusahan itu jadi milikmu."


"Aku ingin menjadi pegawai biasa dulu ditempat lain, agar bisa merasakan jadi mereka saat aku sudah miliki perusahaan itu!"


Nadia bertepuk tangan dengan pernyataan Saraa.


"Wow ... Saraa, kamu tampak berubah jauh lebih baik"


"Nadia, jangan membuatku malu!" Saraa menghentikan kegilaan Nadia.


"Aku tidak menyangka, kamu berpikir begitu Saraa. Dulu kamu enggan memikirkan oranglain selain orang-orang terdekatmu."


"Dulu dan sekarang itu beda Nadia, jangan mencampur masa lalu dan masa depan!"


Nadia lagi lagi berdecak kagum, Saraa yang dulu acuh dengan sekitarnya mulai bijak dalam perkataannya.


"Aku bingung, setelah putus dari Levian kamu semakin bijak untuk berpikir!"


Saraa hampir tersedak dengan minumannya.


"Nadia, please!"


"Maaf, seharusnya aku tidak membicarakan orang itu,"


Saraa menganggukan kepalanya.


"Aku akan membantumu mencarikan pekerjaan, aku akan mencarikan lewat badan penelusuran dikantorku!"


"Memang teman yang bekerja di pemerintahan ini sangat baik padaku!" Saraa menunjukan puppy eyenya yang membuat Nadia jijik kepadanya.


"Hentikan Saraaaaa!!"


Lama mereka berbincang disana, membicarakan masa lalu dan masa kini mereka. Jauh dari pengelihatan mereka, satu pasang mata selalu memperhatikan gerak-gerik mereka, menunggu kelarnya bincang antara teman lama ini.


Ia tersenyum lalu meninggalkan restoran setelah Saraa dan nadia juga meninggalkan restoran.


----------Flashback


6 TAHUN YANG LALU


"Anak-anak, saat kalian sudah mencapai puncak bukit, kalian harus mengambil bendera biru lalu membawanya lagi kesini dan memasukannya kedalam kotak!"


Para murid berbaris dengan rapi pada regu masing-masing.


"Regu sudah dibagi. ingat anak-anak, lebih cepat lebih baik. Saat kamu sampai disini lebih cepat, maka makanan yang kalian dapatkan akan lebih banyak. Mengerti anak-anak?!" Seru pembina memakai toa.


"Mengerti pak!" Seru murid melebihi suara yang dikeluarkan dari toa milik pembina.


"Hati-hati dijalan, ikuti rute yang ada. Jangan berpencar dan siapkan peralatan!"


Regu masing-masing mulai menaiki bukit dengan tergesa-gesa, tidak untuk regu Levian, Saraa, Nadia dan dua lainnya.


Mereka berjalan dengan santai, mereka tidak memikirkan makanan yang akan mereka makan. Saraa dan nadia sudah membawa makanan instan dan snack sebagai bekal dari rumah.


Yang perlu mereka capai adalah pemandangan di atas bukit yang menunjukan sisi lain dari kota. Rasanya itu membuat penat dipikiran mereka hilang dalam sekejab.


"Saat diatas nanti, aku mau kita foto-foto dulu dan menikmati pemandangan kota!" antusias Nadia sambil menggandeng tangan Saraa.


Saraa yang baru kenal tadi pagi dengan nadia agak risih melihat sikap berlebihan darinya.


Mengapa dia selalu menempel kepadaku?!


Saraa menatap Levian yang sendari tadi berjalan disebelahnya, Levian tersenyum menandakan bahwa tidak apa-apa mempunyai teman baru.


Dari dulu hingga sekarang, Saraa hanya mempunyai sedikit teman. Ia tidak membutuhkan teman lain karena ia tidak mau adanya pengkhianatan lagi yang akan terjadi.


Hampir 30 menit mereka menaiki bukit, tiba mereka ditempat yang menghamparkan pemandangan yang sangat indah. kerlap kerlip lampu malam menghiasi kota, garis pantai yang terlihat cantik menambah keindahan dibawah sana. Mereka semua takjub dengan pemandangan yang disuguhkan oleh bumi ini.


Sekitar 15 menit mereka menikmati pemandangan, setelah itu mereka mengambil bendera dan mulai turun kembali ke perkemahan.


"Kalian lanjut duluan, aku ada urusan dengan Saraa!" kata Levian membuat Saraa bingung.


Nadia dan yang lainnya memutuskan turun lebih dulu, meninggalkan Levian dan Saraa.


"Ada apa?" Tanya Saraa bingung.


"Tutup mata kamu!" ujar Levian yang membuat Saraa semakin bingung.


"Kamu mau ngapain?!" Sara melindungi diri dengan mundur beberapa langkah dari Levian.


Levian tertawa kecil "Aku tidak akan melakukan apa yang kamu pikirkan, Aku janji. Tutup matamu dulu."


Saraa memutuskan untuk menutup matanya sambil melindungi tubuhnya dengan tangannya.


"Cepatlah!"


Levian maju untuk mendekatinya, Saraa merasakan deru nafas Levian ditengkuknya yang membuat Saraa makin Deg degan.


"Selesai!"


Saraa perlahan-lahan membuka mata dan melihat kalung dengan liontin merah sudah melingkar dilehernya.


"Ini apa?" Saraa tersipu dengan perlakukan manis Levian.


"Itu menandakan bahwa Saraa milik Levian selamanya!"


Pernyataan Levian membuat Saraa tertawa malu.


"Vian!" Saraa tersenyum manis terhadap Levian.


"Ayo.. nanti dimarahi guru!" Levian menggandeng tangan Saraa dengan erat.


Saraa mengangguk tanpa menghentikan senyum bahagianya, masa-masa ini adalah masa yang bisa ia kenang untuk masa depannya nanti.


________________________________________________