Ambiguous

Ambiguous
<Alasan dibalik awal>



__________


Asap rokok mulai memenuhi ruanganku, tidak terhitung lagi berapa batang yang sudahku hisap. Ini menjadi candu bagiku. Aku menatap diri dari pantulan kaca jendela, perubahan fisik pada diriku. Alkohol, wine, bir, rokok sudah menjadi makanan pendamping bagiku.


Setahun setelah dia meninggalkanku, hari semakin buruk. Meski perusahaan nampaknya menunjukan kenaikan yang signifikan, mengapa aku tidak menunjukan kenaikan dalam hatiku. Harum yang masih aku ingat, aura yang masih melekat ditubuhku, ingatan tentangnya, seperti belenggu yang bisa mengancamku kapan saja.


Mengapa Levian? Kau sangat takut untuk menariknya kembali? Mana janjimu untuk membawanya kembali? Sampai kapan kau membiarkannya? Hatimu sudah lama menunggunya, jangan sampai ia mati karena keraguanmu.


Lagi-lagi setan kecil membisikanku, setiap hari meyakinkanku untuk memulainya. Tetapi apa yang aku lakukan? Nothing. Niat sudah ku katakan, tetapi tindakan belum aku laksanakan.


Levian, kau hanyalah pria bodoh yang berpura-pura tuli terhadap hatimu!


Awal sudah dimulai, selanjutnya masih rentetan rencana.


~


'Tok tok tok'


Pintu ruanganku terketuk, membuat pikiranku teralihkan.


"Masuk!"


Aku melirik malas terhadapnya, sekretaris pribadiku. Bianca.


"Ada apa?" Tanyaku acuh. Aku mengalihkan mataku kembali ke leptop.


"Hari ini jadwal anda, pertemuan bersama direktur perusahaan XionAir. Silahkan bisa lihat detilenya terlebih dahulu." Ucap Bianca sembari meletakan buku Scadule diatas mejaku.


Aku membacanya sekilas, "Baiklah!" lalu beranjak dari kursiku, mengambil jas dan memakainya.


"Levian," Panggil Bianca berjalan mendekatiku.


"Mengenai kejadian tadi pagi, aku ingin meminta maaf." Ucap Bianca sambil meraih dasiku, tetapi cekalan tanganku lebih cepat darinya.


"Apa yang ingin kau lakukan?!" Bentakku lalu mendorong Bianca agar jauh dariku.


Bianca tampak menahan tangisnya, ia memegang pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkramanku.


"Mengapa kau jahat sekali padaku ..." Ujar Bianca mulai terisak. Aku menaikan alis sebelah kananku.


"Aku memang jahat kepada semua orang. Lebih-lebih padamu!"


"Jangan coba-coba untuk mendekatiku, apalagi dengan sikap dan penampilanmu ini. Tidak ada gunanya! Aku tidak akan tertarik padamu!"


Semburan kata-kata menohok dariku membuat Bianca benar-benar menangis. Aku hanya menatapnya dengan malas lalu meninggalkannya tanpa berkata apapun.


"Benar-benar wanita penggoda!" Gumamku.


~


yuin restaurant


"Semoga kerja sama ini akan menghasilkan keuntungan antara Lessagiant dan XionAir." ucapku setelah menandatangi kontrak kerja.


"Saya tidak menyesal bekerja sama dengan anda, direktur Levian."Balas pria yang duduk didepanku yang tak lain adalah Direktur XionAir. pak Ferdian.


Kami bangkit lalu berjabat tangan, "Terimakasih telah mempercayai perusahaan saya untuk bekerja sama dengan anda, pak Ferdian." Ucapku sambil membungkukan badan dengan sopan.


Pak Ferdian menepuk punggungku, "Pemuda sepertimu mempunyai potensi yang sangat bagus. Untuk mencapai keinginanmu hanya butuh waktu sedikit, saya sangat tersanjung bertemu denganmu."


"Saya tidak begitu, pak." Ucapku sambil tersenyum sopan.


"ngomong-ngomong apa kamu sudah memiliki pendamping hidup?" Tanya pak Ferdian.


"Saya masih lajang, pak." Jawabku.


"Masih lajang? Pacar juga, tidak?" Tanya pak Ferdian lagi.


Aku hanya menggeleng, "Masih mencari."


"Kebetulan sekali, saya mempunyai 1 anak perempuan. Dia masih lajang sepertimu, sekarang dia sedang studi s2 di London. Jika berkenan saya bisa kenalkan kepadamu, siapa tahu kalian cocok satu sama lain." papar pak Ferdian.


Aku pura-pura berpikir, sudah berapa ayah yang ingin menjodohkanku dengan anak perempuannya. Aku tidak menghitung, benar-benar tidak ada niat dalam diriku untuk mengubah hati ke wanita lain selain Saraa.


"Belum terpikirkan olehku untuk menikah dekat-dekat ini." Tolakku dengan halus, tetapi sepertinya orang tua tidak mengerti dengan penolakan halus ini.


"Tidak harus menikah, kalian mulai dari pertemanan terlebih dahulu. Jika dirasa cocok bisa dilanjutkan kejenjang yang lebih serius."


Benar-benar keras kepala bapak ini. Seharusnya tadi ku katakan saja sudah menikah, agar tidak panjang urusannya.


"Baiklah." Kataku untuk mengakhiri semua omong kosong ini.


Pak Ferdian tersenyum lalu mengakhiri pertemuan antara kami. Aku membungkukan badan hingga pak Ferdian keluar dari ruang pertemuan.


Aku duduk bersandar pada kursi, menghembuskan nafas legaku. Hal semacam ini sudah sering terjadi padaku, entah sampai kapan lagi akan terjadi. Sebelum kepastian dari diriku untuk mempersunting wanita pilihku, pasti tidak akan selesai.


Aku berjalan keluar ruangan pertemuan, langit nampak menghitam dari dalam.


"Berapa lama aku mengobrol dengan pak Ferdian tadi." Gumamku.


Aku terdiam, dihadapanku terlihat objek yang membuat hasratku terbangun. Mataku memandangnya dengan sayu, benar-benar ciptaan tuhan yang sempurna.


Saraa Andrea.


"Sedang apa dia disini?" Gumamku.


Kulihat ia sedang berbincang dengan sahabat karibnya, Nadia. Aku duduk dikursi yang tak jauh darinya, menghadap membelakangi mereka. Menguping pembicaraan antara mereka, siapa tahu bisa menguntungkanku.


"Pekerjaan, aku butuh pekerjaan!"


"bukannya setahun yang lalu kamu tidak ingin bekerja selama beberapa tahun ini?"


Aku terkekeh mendengar rengekan Saraa kepada Nadia. Sejak kapan dia bisa merengek seperti itu.


"Kenapa? Ada yang mencelamu?"


'Siapa yang mencelamu? Aku keberatan dengan itu!'


"Tidak, aku tidak ingin membuat beban lagi terhadap mama dan papa ..."


'Apa karena ucapanku tadi pagi? Kamu masih memikirkannya? kamu masih peduli padaku, kah?'


"Bukankah dulu kamu tidak apa menjadi beban orangtua mu?"


"Ck! itu sudah tahun lalu, sekarang aku sudah bertekad!"


"Kerja diperusahaan ayahmu memangnya tidak bisa? Toh pada akhirnya perusahan itu jadi milikmu."


"Aku ingin menjadi pegawai biasa dulu ditempat lain, agar bisa merasakan jadi mereka saat aku sudah miliki perusahaan itu!"


'Pegawai? mengapa harus jadi pegawai kalau kau bisa menjadi direktur!'


"Wow ... Saraa kamu tampak berubah jauh lebih baik!"


"Nadia, jangan membuatku malu!"


"Aku tidak menyangka, kamu berpikir begitu Saraa. Dulu kamu enggan memikirkan oranglain selain orang-orang terdekatmu."


"Dulu dan sekarang itu beda Nadia, jangan mencampur masa lalu dan masa depan!"


"Aku bingung, setelah putus dari Levian kamu semakin bijak untuk berpikir!"


'Aku? Mengapa setelah putus denganku?! Dia lebih baik saat denganku tahu!'


"Nadia, please!"


"Maaf, seharusnya aku tidak membicarakan orang itu,"


'Tidak apa, lanjutkan saja. Aku suka kalian membicarakanku.'


"Aku akan membantumu mencarikan pekerjaan, aku akan mencarikan lewat badan penelusuran dikantorku!"


"Memang teman yang bekerja di pemerintahan ini sangat baik padaku!"


"Hentikan Saraaaaa!!"


'Pekerjaan? Saraa membutuhkan pekerjaan! Aku harus membuatnya bekerja diperusahaanku, agar lebih mudah bagiku untuk melancarkan rencanaku. Harus!'


1 jam kemudian.


Aku memainkan gim diponselku, menunggu akhir dari perbincangan mereka. Apakah perbincangan antar wanita bisa selama ini? Aku sangat syok.


"Saraa, Aku harus pulang. Sepertinya ada masalah terjadi dirumahku!"


"Apa yang terjadi?"


"Aku tak paham, ibu memberiku pesan, menyuruhku untuk pulang."


"Baiklah. Apa kamu mau aku antarkan pulang?"


"Tidak, tidak usah. Aku akan naik bus."


"Baiklah. Kabari aku jika terjadi sesuatu!"


"Okey"


'Akhirnya mereka selesai juga, lelah sekali menunggu mereka!' Gumamku.


Mereka berpisah didepan restoran. Saat Saraa sudah pergi dari restoran, aku mendekat ke arah Nadia yang sedang menunggu bus lewat.


"Nadia!" Sapaku, ia terlihat terkejut melihatku.


"Le— levian! sedang apa kau disini?" Tanya Nadia tampak bingung.


"Aku ingin berbicara sebentar denganmu. Apa kamu bisa?"


Nadia melirik jam yang ada dilengannya, "Tidak bisa, Levian. Aku harus cepat-cepat pulang."


"Kita bisa berbicara dijalan."


Nadia tampak berpikir lalu mengiyakan ajakanku.


"Naiklah ke mobilku!"


Didalam perjalanan, aku tidak bisa berbicara dengan Nadia. Ia selalu mendapat telpon dari ibunya, aku tidak bisa mengganggu telponnya.


"Apa?! Baiklah. Aku akan segera kesana!" Jawab Nadia dengan orang dibalik telponnya.


"Ada apa, Nad?" Tanyaku.


"Levian, aku minta tolong padamu. Bisa antarkan aku ke rumah sakit kota?"


"Apa yang terjadi?" Tanyaku.


"Ayahku masuk UGD, aku harus segera kesana!"


Nadia mulai terisak, air matanya tidak bisa ia bendung lagi. Aku menatapnya sesebent, cepat-cepat ku tancapkan pedal agar sampai disana lebih cepat.


________________________________________________