Ambiguous

Ambiguous
<Serigala yang haus>



__________


Bijaklah membaca! Ada beberapa adegan yang tidak baik dibaca oleh umur 18th kebawah. Mohon pengertiannya agar tidak menjerumuskan kalian wahai pembacaku. mohon maaf & Terimakasih🙏👍


__________________________________________________________


"Apa hari ini tidak cukup bagimu untuk bertemu pria lain!" Suara dingin itu, tiba-tiba muncul dari balik pintu toilet membuat Saraa terkejut setengah mati.


"Le— Levian! apa yang kau lakukan disini?!" tanya Saraa yang masih terkejut.


"Memberimu pelajaran kecil karena sudah membiarkanmu berkeliaran selama sepuluh hari ini!" Levian berjalan kearah Saraa dengan aura kemarahan disekitarnya.


"LEVIAN!" Teriak Saraa sangat tubuhnya didorong oleh Levian hingga mengenai bilik pintu toilet, kedua tangannya dicekal oleh Levian hingga tidak ada celah untuk Saraa kabur dari genggamannya.


Saraa memicingkan matanya tak berani menatap mata Levian yang sudah tersulut api kemarahan, entah mengapa dia melakukan ini padanya. Kesalahan apa yang ia perbuat, yang Saraa tahu hanya sangat ini Levian benar-benar kasar terhadapnya.


"Kau kenapa?! Tiba-tiba berbuat kasar seperti ini! Apa kau tahu ini sangat menyakitkan?!" Bentak Saraa.


Levian memajukan kepalanya hingga hanya beberapa inci saja jarak antara mereka, Levian benar-benar tidak bisa mengatur gerakan tubuhnya sekaligus pikirannya yang sudah dipenuhi oleh kecemburuan yang fatal.


"Kau wanitaku! Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku, tidak akan!" suara Levian tampak terdengar dingin bercampur parau.


Levian menyelusupkan wajahnya ke leher Saraa hingga deru nafasnya terasa menusuk kulit, sesekali Levian mencium dan menggigit kecil diarea sekitar Leher Saraa.


"Mm ... a— apa yang kau lakukan?" Saraa terasa sedikit terangsang dengan gerakan Levian yang benar-benar aktif menjelajahi bagian lehernya.


"Hentikan! ini tempat umum!" Saraa memberontak dengan setengah akalnya karena Levian telah mengambil alih setengahnya lagi, tetapi yang mengambilnya tidak peduli dan tetap lanjut karena emosinya yang tak terkendali. Pintu masuk toilet sudah dinetralisir oleh pengawalnya yang sigap dengan satu kali perintahnya.


satu butir air tak terasa jatuh dari pelupuk mata Saraa, ini tindakan paling jauh yang Levian lakukan kepadanya hingga saat ini.


"Mengapa kau melakukan ini ..." tanya Saraa dengan suara parau dan bergetar. Levian yang merasa bahwa Saraa sudah menangis akibat kelakuannya, berhenti lalu mengembalikan posisinya sejajar dengan Saraa.


"Aku tidak suka dengan pakaianmu saat ini, terlalu minim." jawab Levian tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kau brengsek!"


Levian menaikan satu sudut bibirnya, "Aku memang brengsek dan itu semua ... karenamu!"


Tanpa aba-aba Levian langsung mengangkat tubuh Saraa dan mendudukkannya disebelah wastafel, lalu sesegera mungkin melahap bibir Saraa dengan penuh


"Mmm ... mmm ..." Saraa memberontak sembari memukul-mukul dada Levian dengan keras, tetapi Levian sudah kehilangan akalnya, ia semakin memperdalam ciumannya dibibir mungil Saraa.


"Mmm ... mmm ... mmm!"


Air mata Saraa mengucur lebih cepat dari sebelumnya, pergerakan ini terlalu kasar untuknya. Levian yang tak hentinya memainkan lidahnya dirongga mulutnya membuatnya sesak nafas.


"Levian sudah melewati batas ..." batin Saraa menangis.


Levian yang sendari tadi menikmati permainannya tiba-tiba terdiam sesaat lalu melepas ciumannya setelah rasa nyeri yang timbul akibat gigitan yang dilakukan Saraa kepada lidahnya, terlihat darah segar disudut bibir Levian muncul setelahnya.


Tubuh Saraa bergetar dan nafasnya tersengal, pasokan oksigen keparu-parunya sudah menipis. Untungnya ia segera menggigit lidah Levian, jika tidak, entah apa yang terjadi.


"Kau menolaknya dengan menggigit lidahku." Ucap Levian lalu mengelap darah yang keluar dari mulutnya.


"Aku benci padamu!"


"Mengatakan itu hanya suatu alasan bagimu!"


Sekali lagi Levian melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh Saraa, ia membopong tubuh mungil Saraa dibahu lalu beranjak pergi dari toilet tanpa sedikitpun


"Sekarang apa lagi?! mengapa kau membopongku?! turunkan aku! LEVIAN!" Saraa memukul-mukul punggung Levian dengan keras berharap ia akan menurunkan dan melepaskannya kali ini.


"Mengapa banyak sekali pria yang memakai jas hitam diluar sini? apa mereka suruhan Levian?" gumam Saraa.


"Kita akan lewat pintu darurat, pastikan untuk mengosongkan jalannya dan siapkan mobil!" Ucap Levian kepada salah satu pengawalnya yang sendari tadi berada diluar toilet bersama beberapa pengawal lainnya.


"Baik tuan!"


"Jika Fiona sampai tahu kejadian ini, Saraa akan menjadi target incarannya. Aku tidak mau sampai Saraa terluka akibat tindakan yang akan dilakukan Fiona." Gumam Levian.


Para pengawal mulai berlari memblokade jalan yang akan dilalui Levian dari arah manapun, untungnya Fiona berada jauh dipojok ruangan dan sedang membelakangi jalan keluar, dengan begini mereka akan aman hingga keluar cafe.


"Kau akan membawaku kemana?! Aku sedang bersama seseorang dan kau juga! turunkan aku dan lepaskan aku!" Rengek Saraa.


"Aku tidak perduli!"


"Adrian!!" Teriak Saraa dengan kencang, tetapi ia tidak bisa melihat keberadaan Adrian karena tseseorangoleh pengawal-pengawal Levian yang menutupi pandangannya.


"Berteriaklah sesukamu, pria itu tidak akan bisa merebutmu dariku!"


"Pria gila!"


"Aku gila karenamu."


"Brengsek!"


"Itu juga karenamu."


~


"Awhhh! ... Sakit tahu!" Rengek Saraa setelah tubuhnya dihempas oleh Levian kedalam mobil miliknya bagian kursi belakang.


"Salahmu sendiri, memberontak!" ucap Levian lalu menutup pintu mobil, "Langsung ke apartemen!" Perintah Levian kepada supir pribadinya.


Saraa melotot kearah Levian, "Apa?! apartemen?! apartemen mana yang kau maksud? kau akan membawaku kesana? aku tidak mau!"


Levian menarik tubuh Saraa hingga sekarang Saraa sudah berada dipangkuannya.


"Jangan menolak! aku belum selesai memberimu pelajaran." bisik Levian sembari menjilat telinga Saraa.


"Kau ... kau pria mesum!!" pekik Saraa sembari memukul dada Levian.


"Cepatlah!"


"Baik tuan!"


________________________________________________