Ambiguous

Ambiguous
<Camer yang tertunda.>



__________


Mereka bertiga--- Saraa, Levian dan Aringga sudah duduk manis mengitari meja makan, menunggu hidangan siap untuk disajikan oleh pelayan rumah. Meskipun Diana yang memasak, tetapi urusan saji menyaji dilakukan oleh pelayan yang sudah bertahun-tahun mengabdi dikediam Aringga.


Saraa yang masih kesal sesekali mendesis pelan melihat Levian yang tengah berbincang santai bersama papa dan mamanya, ia seperti pembantu yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah majikan.


"Sebenarnya, anak kalian ini aku atau dia?!" Batin Saraa kesal.


"Bagaimana kabar perusahaanmu, Levian? maafkan om tidak pernah mengunjungi perusahaanmu."


"Tidak apa om, perusahaan Levian saat ini masih dalam keadaan yang terkendali. Semenjak produk baru yang dirilis bulan lalu, dapat diterima oleh masyarakat dan perusahaan semakin menunjukkan citranya dipasar nasional." Terang Levian. Setelah itu ia bangkit lalu membungkukkan badan didepan Aringga.


"Levian minta maaf kepada om, karena keegoisan Levian dan perusahaan, om harus rugi jutaan dolar karena secara tiba-tiba meminta om mengundurkan jadwal peluncuran produk baru yang harusnya perusahaan Levian yang mengundurnya. Sekali lagi, Levian minta maaf!" sesal Levian.


"Mulutnya manis sekali! memangnya semua ancaman sebulan yang lalu ia tidak ingat?! sekarang didepan orangtuaku, ia menjadi seseorang yang penuh penyesalan! hey ingat! semua berkatku tahu!" gumam Saraa, ia benar-benar muak melihat Levian yang merasa dirinya ikut terdzolimi.


"Levian, bangunlah! om tidak merasa merugi karenamu, om bangga denganmu karena bisa merintis perusahaan dari nol hingga sekarang menjadi salah satu perusahaan terkenal. Awalnya om tidak percaya, tetapi saat melihat papamu, om langsung menyadari bahwa kamu benar-benar anaknya bapak Syarif yang om kenal."


Aringga melirik Saraa yang sendari tadi hanya mendumel sendirian mendengar pembicaraan mereka, "tidak seperti anak om yang sama sekali tidak menurut dengan orangtua."


Saraa melotot, "mengapa tiba-tiba membicarakan Saraa? sebenarnya anak papa itu Saraa atau Levian?!"


"Mungkin jika waktu bisa diputar kembali, papa akan meminta kepada tuhan untuk memberikan anak laki-laki saja daripada perempuan pembangkang sepertimu!" beber Aringga bermaksud membuat candaan, tetapi Saraa terlanjur baper dengan ucapan Aringga.


"Kalau begitu, mengapa papa tidak membuangku saja lalu mengadopsi Levian agar menjadi anak papa satu-satunya masuk dalam kriteria yang papa mau!" geram Saraa sembari melirik Levian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Mengapa tidak terpikirkan olehku sejak dulu?" ucap Aringga membuat Saraa jengkel.


"Papa!!" Raung Saraa.


Diana yang baru selesai dengan urusan dapur bingung dengan apa yang terjadi diruang makan setelah ia tinggalkan, Suaminya dan Levian sedang tertawa keras sedangkan terlihat jengkel dan tak senang.


"Apa yang kalian lakukan hingga membuat anak perempuanku bertekuk muka seperti itu?" tanya Diana sembari duduk dikursi Saraa.


"Mama!!" jerit Saraa sembari menggelayut dilengan Diana dengan manja, bermaksud meminta pertolongan.


"Papa sudah berniat ingin membuangku dan menjadikan Levian sebagai anak kalian!"


"Kau setuju bukan?" tanya Aringga sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kalau Levian, mama tidak bisa menolaknya." jawab Diana ikut bersekongkol dengan Aringga.


"Mama!!"


Mereka bertiga tertawa geli melihat Saraa yang terlihat semakin jengkel dengan candaan yang dibuat oleh pertama kali oleh Aringga.


"Aku tidak nafsu makan!" ucap Saraa lalu segera bangkit dari tempatnya tetapi dicegah oleh tangan Levian.


"Duduk dan makanlah dengan tenang. Mamamu sudah masak banyak makanan hari ini, setidaknya makan beberapa suap!" ucap Levian mencegah Saraa untuk pergi.


"Siapa kau, berani memerintahku?!" bentak Saraa kepada Levian.


"Saraa! apa karena candaan yang papamu buat, kamu bisa membentak orang sembarang? mama tidak pernah mengajarimu seperti itu. Duduk dan segera makan!" Suruh Diana sedikit meninggikan suaranya. Anak perempuannya sangat keras kepala dan tidak suka diatur.


Saraa memberi lirikkan sebal kepada Levian, "karenamu, aku dimarahi oleh mamaku sendiri!"


"Saraa.. Cepat duduk!"


"Iya Saraa duduk!" Saraa menurut, tetapi ia memilih berpindah kursi disebelah mamanya.


□□□□□


Setelah selesai makan Levian tidak langsung pulang, ia dipaksa untuk menemani Aringga bermain PS terlebih dahulu.


"Karena disini mayoritas wanita dan semenjak kamu tidak pernah ke rumah seperti dulu, om tidak punya teman untuk bermain PS lagi. Beruntungnya kamu mampir ke rumah hari ini, jadi mari bantu om menyelesaikan semua gim yang sudah om beli! dan seperti biasanya, sebelum semua selesai .... om tidak membolehkanmu untuk pulang!"


Ungkap sekaligus ancaman Aringga kepada Levian, usia tidak menghentikan dirinya untuk merasa muda lagi dan membeli segala gim untuk anak muda.


"Baik om! Levian akan berjuang sekuat tenaga agar semua level bisa dituntaskan dalam sekali main!" ucap Levian penuh tekad. Kapan lagi ia akan memegang joystick dan berduel dengan Aringga--- calon mertua yang tertunda baginya.


"Bagus ... om suka semangatmu, masih sama seperti dulu!" puji Aringga mendapat kekeh dari Levian.


"baiklah ... mari kita mulai!"


Mereka memulai dari permainan gim yang sangat sulit, seperti Bloodborne hingga permainan yang mudah seperti Metro Exodus. Mereka bermain tanpa ingat waktu hingga jam menunjukkan pukul 12.00 malam dan sepertinya belum ada niatan untuk berhenti.


"Sekarang ayo kita main PES, om ingin membicarakan sesuatu denganmu."


"Membicarakan apa om? Levian akan mendengarkan dan menjawab semua omongan om!" jawab Levian.


Permainan dimulai setelah mereka masing-masing memilih jagoannya, saat ini mereka dalam tim yang berbeda, Liverpool VS Barcelona.


Disela-sela permainan, Aringga mulai mencecar Levian dengan berbagai pertanyaan, "Om ... ingin bertanya tentang rencana pertunanganmu dengan anak dari direktur perusahaan XionAir ..."


Levian terdiam sesaat, batinnya belum siap menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Aringga. Sebenarnya ia bisa melihat kekecewaan dimata kedua orang tua Saraa, karena sudah percaya dengannya tetapi karena trik yang ia buat kurang sempurna, trik itu malah membuat Levian terjebak dalam hubungan palsu antara dirinya dan Fiona.


"Levian bingung, Fiona sangat egois dan kasar terhadap apapun yang sudah menjadi miliknya. Levian takur, jika ia sampai tahu Saraa dekat denganku, Fiona tidak akan melepaskannya." Jelas Levian merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan sekarang.


"Levian minta maaf, om ..." imbuh Levian meminta maaf.


Aringga sekarang mengerti dengan keadaan yang Levian hadapi, ia berpikir" awalnya om menyangka bahwa kamu sudah benar-benar melupakan Saraa, tetapi setelah mendengar penjelasanmu om bisa paham dengan keadaanmu saat ini."


"Terimakasih om. Levian janji akan menikah dengan Saraa, bukan dengan wanita lain manapun!"


"Janji, loh ... om akan menjodohkan Saraa dengan pria lain kalau kamu tidak menepati janji dan membuat kamu tidak bisa melihat Saraa lagi!" ancam Aringga.


"Levian Janji!" ucap Levian teguh, tidak ada wanita manapun yang bisa membuat hatinya tergugah selain wanita bernama asli Saraa Andrea.


Aringga tersenyum sambil menoleh kearah Levian, begitu juga Levian yang merasa senang dan tenang karena pengertian dari Aringga.


"Kalau kamu tidak fokus, om akan mencetak gol!"


"Levian tidak akan membiarkannya!" ucap Levian tidak mau kalah.


"Go Sadio! kamu harus mencetak gol!!" Seru Aringga menambah panasnya pertandingan virtual itu.


"Tidak om, Messi akan menghadang om!"


"Coba saja! cepat cepat!!"


"Siap-siap om, Levian akan merebut bolanya!"


"Tidak!!"


Disisi lain, Diana dan Saraa sedang duduk sembari meminum kopi hangat diruang baca yang mengarah lansung kearah Aringga dan Levian yang masih seru dengan gimnya, Diana yang kesal karena suaminya asik bermain dan Saraa yang jengkel karena Levian masih dalam edarannya.


"Papa kapan selesai bermainnya? Saraa sudah muak melihat Levian dirumah ini! ingin rasanya Saraa membanting PS papa dan membuangnya ke tempat sampah!" Jengkel Saraa.


"Mama juga ingin melakukan itu. Papamu itu tidak pengertian dengan mama, mama itukan tidak bisa tidur kalau papa belum tidur disamping mama. Sekarang sudah larut malam, tetapi papamu sama sekali tidak menunjukkan rasa ingin menyudahi bermainnya. Mama mengantuk!!" kesal plus rengek Diana yang merasa suaminya tidak pengertian dengannya.


"Mama mau tidur bersama Saraa?" tawar Saraa, tetapi Diana langsung menolaknya dengan cepat.


"Tidak! mama tidur denganmu? yang ada muka mama penuh dengan ilermu itu!"


"Ihh mama!!" gerutu Saraa semakin jengkel, sepertinya hari ini menjadi hari tersial untuknya.


"Kalau gitu, Saraa akan tidur duluan!" ucap Saraa lalu melangkah pergi menuju kamarnya.


Sesampainya dikamar, Saraa membanting pintu kamar dengan keras lalu menjatuhkan diri dikasur king size miliknya.


Ia menghela nafasnya dengan keras, "Sial sekali hari ini! dimulai oleh pria gila yang merusak moodku, Levian licik yang melakukan sesuatu diluar batas, lalu membawaku ke apartemennya dan sekarang ... papa dan mama ikut menambah kesialanku."


Saraa berpikir sejenak, ia melupakan sesuatu yang menjadi rencana awal hari ini yaitu Adrian! ia segera mencari ponselnya yang masih didalam tas miliknya.


"20 panggilan tak terjawab dan 8 pesan dari nomor Adrian?!" ucap Saraa tak percaya, ia melupakan Adrian yang sepertinya menunggunya kembali dari toilet , mungkin saat ia tak kunjung kembali, Adrian mencarinya.


Pesan:


Adrian (teman kencan)


'Saraa kau dimana?? Mengapa aku mencarimu ditoilet kau tidak ada?'


'Saraa?? aku bingung sekarang...'


'Kau dimana? jawab telponku! aku takut ada sesuatu yang terjadi padamu...'


'Saraa, kau pergi bersama Levian? Pacarnya mencarinya juga. Tolong angkat telponnya!'


'Saraa.'


'Sar, angkat telponnya!'


'Jika kamu mengabariku, aku tidak akan sekhawatir ini..'


'Saraaaaa'


Saraa menutup mulutnya tak percaya, "Aku sangat bodoh saat ini!"


"Bodoh bodoh bodoh!!" desis Saraa sembari mengetuk kepalanya seperti orang gila.


"Aku harus menghubunginya!"


Saraa mencoba menghubungi Adrian, tetapi tidak ada jawaban darinya. Benar, ini sudah larut malam, siapa juga yang akan mengangkat panggilan dini hari, jika ia bukan manusia.


"Aku akan mengirim pesan saja." ujar Saraa lalu mengirim pesan kepada Adrian berisi permohonan maaf dan sebab ia tidak bisa menemuinya lagi, meskipun Saraa sedikit membumbuinya dengan kebohongan bahwa dirinya pergi setelah mendapat panggilan darurat dari orangtuanya. itu suatu alasan yang harusnya bisa dimengerti oleh Adrian.


"Semoga Adrian bisa percaya dengan alasanku." Harap Saraa.


________________________________________________