
Kini Gean dan Alesha tengah duduk di atas hamparan rumput hijau di taman. Alesha terlihat tengah menjilati es krim strawberry nya, Gean hanya bisa memperhatikan wajah manis Alesha yang kini terlihat sedikit belepotan.
Gean tersenyum lalu membawa tangannya ke atas puncak rambut Alesha, mengusapnya perlahan. Alesha yang menyadari hal itu hanya menatap wajah Gean sekilas lalu melanjutkan acara memakan es nya tanpa menghiraukan usapan-usapan kecil di rambutnya.
"Enak?" tanya Gean, Alesha mengangguk kecil, lalu tersenyum manis kepada Gean, hingga Gean membelalak tak percaya ia telah mendapatkan senyuman manis Alesha.
"Mau apa lagi? Hmm, biar gue beliin. Asal lo bisa senyum manis kaya gitu terus." Ujar Gean, membuat Alesha terkekeh.
"Makasih loh, gue jadi nyusahin lo. Juga maaf tadi buat lo bulak-balik." Ucap Alesha berterima kasih sekaligus meminta maaf atas ke tingkah anehnya hari ini.
Gean kembali mendaratkan tangannya di atas puncak kepala Alesha. Mengusap kecil dengan penuh sayang.
"Gakpapa ko, mau sering-sering juga, asal akhirnya gue di kasih senyum manis kaya gini terus."
Alesha lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban Gean. Ia merasa sangat bahagia kini, serasa lubang di hidupnya sedikit demi sedikit tertutup dengan adanya kehadiran Gean.
Disaat mereka berdua tengah menikmati sejuknya angin yang berhembus di siang hari yang panas itu. Alesha tiba-tiba merasakan sesuatu yang tak mengenakan perutnya.
Alesha merasa sangat mual, mengapa akhir-akhir ini ia sering sekali merasa mual yang tiba-tiba seperti ini?.
Alesha mencoba menahan rasa mual nya, tapi semakin ia tahan, semakin rasanya dorongan dalam perutnya yang ingin segera memuntahkan seluruh isi makanan yang ada di perutnya.
"Huekk...huekk..." Mual Alesha, membuat Gean menatap Alesha kebingungan.
"Kenapa?" tanya Gean, Alesha dengan cepat membekap mulutnya.
Dirinya bangkit dan mencoba mencari tempat untuk segera mengeluarkan muntahannya.
Gean yang melihat hal itu, langsung ikut bangkit dan memegangi pundak Alesha, membawanya ke arah tong sampah terdekat.
Alesha pun memuntahkan apa yang sudah ia makan tadi. Rasanya begitu lelah ketika ia telah memuntahkan segalanya, tapi rasa mual itu masih terus ada.
"Lo gakpapa Sha? Kita ke Rumah Sakit sekarang! Oke!" Ajak Gean dengan suara cemasnya.
Namun, Alesha memegang lengan Gean, seperti enggan pergi ke Rumah Sakit. Dirinya menggeleng kecil membuat Gean menatap khawatir pada wajah pucat Alesha.
Pandangan Alesha semakin kabur, ia merasa pusing yang kian menguasai kepalanya. Sampai akhirnya, kesadarannya pun hilang. Alesha terjatuh ke dalam pelukan Gean.
Gean terkejut ketika Alesha yang limbung begitu saja ke dalam pelukannya. Gean mulai panik dan membawa tubuh Alesha ke dalam gendongannya.
"Sha! Bangun! ALESHA!" Panggil Gean dengan nada cemasnya.
Gean berlari membawa tubuh Alesha ke arah parkiran Taman. Untung saja Gean membawa mobil tadi Pagi, Gean pun dengan hati-hati membaringkan tubuh Alesha di belakang.
Sedangkan Gean dengan cepat masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya ke arah Apartemennya. Yah, kini yang dapat Gean pikirkan hanyalah Apartemennya.
30 menit kemudian
Alesha tengah terbaring di atas ranjang di dalam Apartemen Gean. Alesha belum sadar sampai kini, membuat Gean yang kian khawatir dengan keadaanya.
Gean pun merasa aneh, sebenarnya ada apa dengan Alesha?. Mengapa ia sering sekali merasa mual seperti itu, sampai-sampai kini membuat tubuhnya jatuh tak berdaya.
Apa ada sesuatu yang Alesha sembunyikan?.
"Huh..." Gumam Alesha yang mulai sadar, Gean dengan cepat menghampiri Alesha.
"Masih pusing?" tanya Gean, Alesha terlihat masih mengejap-ngejapkan matanya. Mencoba beradaptasi dengan cahaya yang ada.
"Hmm? Masih pusing?" tanya Gean lagi, dan Alesha hanya membalas dengan sebuah anggukan kecil.
Alesha mencoba bangkit dari tidurnya, Gean yang melihat itu mencoba membantu Alesha untuk duduk di ranjangnya.
"Kalo masih pusing mending tiduran aja, gak usah maksain bangun." Ujar Gean, kini dirinya masih menatap Alesha dengan cemas.
Alesha yang melihat raut wajah Gean kini tersenyum kecil.
"Gue gakpapa Gean, cuman pusing dikit doang." Balas Alesha.
Alesha mencoba melirik ke arah kanan dan kiri, baru sadar dirinya tengah berada di kamar seseorang, yang ia yakini adalah kamar seorang pria.
Alesha menatap Gean seperti bertanya dirinya ada dimana, dan Gean yang seperti mengerti arti tatapan Alesha pun segera menampilkan senyuman manisnya.
"Lo di Apartemen gue, tadi gue gak tau lagi harus bawa lo kemana. Makannya gue bawa kesini aja." Jawaban Gean yang menjawab semua pertanyaan Alesha. Alesha pun mengangguk paham.
"Makasih..." ucap Alesha kecil.
Gean menatap Alesha yang kini menatapnya, Gean menaikkan sebelah alisnya, meminta Alesha mengulang apa yang barusan ia katakan.
Gean terkekeh melihat Alesha yang kini kesal. Wajah manis nya yang seakan membuat Gean semakin menaruh perasaan kepada wanita di depannya ini.
Gean seakan terus jatuh dan jatuh lagi kepadanya, entah apa yang telah Alesha berikan kepada Gean, hingga membuat Gean semakin jatuh hati kepada Alesha.
Tiba-tiba Alesha kembali merasakan mual di perutnya. Ia dengan cepat bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu yang dirinya yakin adalah kamar mandi.
Benar saja, Alesha masuk ke dalam kamar mandi itu diikuti Gean yang terkejut akan gerakan Alesha yang tiba-tiba.
Alesha pun terus memuntahkan kembali isi perutnya yang sudah kosong, hanya tinggal sisa cairan-cairan bening yang terlihat keluar dari mulutnya.
Gean memegangi rambut Alesha agar tak terkena muntahannya. Raut wajahnya begitu cemas melihat Alesha yang kini terlihat kesakitan.
Alesha membawa wajahnya menatap kaca yang ada di wastafel. Ia mengusap lemas mulutnya, dirinya merasa sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa kini. Lemas sudah yang ia rasakan.
Alesha bertanya-tanya mengapa dirinya menjadi seperti ini?.
Gean mengerutkan keningnya, lalu ia membawa kedua tangannya untuk memeluk badan alesha, membawanya ke arah ranjang. Gean pun kembali membaringkan Alesha yang kini terlihat sangat lemas.
"Sha," panggil Gean, Alesha pun menoleh.
"Maaf, gue emang gak sopan nanya kaya gini ke lo, tapi apa lo pernah tidur sama cowok?" tanya Gean dengan raut wajah seriusnya, terlihat kepalan ditangannya.
Alesha seperti tak bisa menjawab, dirinya terkejut dengan pertanyaan yang Gean berikan, tapi dirinya juga tak tahu harus menjawab apa.
Alesha mengepalkan tangannya dengan sisa kekuatannya. Ia menatap kosong ke arah jendela di kamar Gean dengan mata yang sudah berair, menahan untuk menetes.
Gean yang melihat itu tahu apa jawaban yang belum Alesha berikan, Gean bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar kamar dan membanting pintu kamar dengan kencang, membuat Alesha terkejut.
Alesha tak dapat menahannya lagi, satu demi satu air menetes jatuh dari matanya. Iya, dirinya memang salah. Alesha telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Namun, ini semua bukan keinginannya, bisa dibilang semua itu adalah sebuah kecelakaan.
Alesha menangis tanpa ada suara, ia malu. Malu akan Gean yang berada di luar sana, malu akan dirinya yang kotor ini. Apalagi jika memikirkan apa yang ia kira adalah suatu kebenaran.
10 menit kemudian
Gean meninggalkan kamar Alesha begitu saja tadi, dirinya memang sedikit kecewa dengan jawaban yang dia dapatkan dari Alesha, tapi jika harus meninggalkan wanita itu sendirian, mana mungkin Gean bisa melakukan itu.
Gean pergi ke Apotik, ia membeli barang yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Gean kembali dan langsung menuju ke arah kamarnya, dimana Alesha kini terlihat tengah terbaring lemas, Gean mendekat ke arah Alesha.
Alesha tertidur, dengan keadaan basah di sudut-sudut matanya. Ia menangis, Gean begitu sedih melihat kondisi Alesha kini, Gean yakin bahwa Alesha bukan wanita yang akan melakukan hal seperti itu dengan mudah. Ia yakin walau baru mengenal Alesha, Gean tahu itu.
Alesha terbangun, ia merasakan kehadiran Gean, melihat Gean yang kini berada di samping ranjangnya, Alesha mencoba bangkit.
"Maaf," ucap Alesha.
Gean tersenyum pilu,
"Buat apa? Lo gak perlu minta maaf ke gue," balas Gean, tapi itu membuat Alesha kembali meneteskan air matanya.
Gean membawa kedua tangannya ke arah wajah Alesha, memegang wajahnya untuk membawa wajah Alesha menatapnya kini.
"Gak usah nangis lagi, semuanya udah kejadian. Gak perlu lo tangisin apa yang udah lo lakuin, sekarang lo bangun, kita cari tau apa yang udah buat lo kaya gini." Ucap Gean sembari menyodorkan keresek putih ke arah Alesha, Alesha pun tahu apa yang Gean berikan kepadanya.
Alesha mengangguk kecil, lalu bangun. Ia berhenti sejenak, berdiri di hadapan pintu kamar mandi, badannya sedikit bergetar, dirinya menangis lagi.
Gean yang melihat itu mendekati Alesha, Gean memegang lengan Alesha,
"Gue takut Ge," ucap Alesha dengan suara gemetar.
Gean menarik tangan Alesha dan membawanya ke dalam pelukan hangat Gean.
"Gue ada disini Sha, gausah takut, okay." Gean berusaha menenangkan Alesha, walau kini Gean juga tengah meredam amarah nya.
Alesha pun masuk ke dalam kamar mandi, setelah beberapa menit ia tak kunjung keluar. Gean semakin cemas akan hal itu. Tak lama terdengar isak tangis dari dalam kamar mandi, Gean yang mendengar itu langsung membuka pintu kamar mandi dan melihat Alesha yang kini terduduk lemas di bawah wastafel.
Terlihat dipinggir Alesha, benda panjang yang kini menampakan dua garis merah. Gean yang melihat itu pun tak dapat menahan emosinya. Ia mengacak kasar rambutnya, matanya terlihat merah menahan air mata yang ingin keluar.
"Argh!" teriak Gean kesal. Gean menatap ke arah kaca yang ada di wastafel, ia mendaratkan tinjuan kerasnya ke arah kaca, tetesan darah terlihat menghiasi lantai putihnya.
Hancur sudah, Alesha hancur untuk kedua kalinya, dan mungkin takkan bisa untuk bangkit kembali.
Alesha tak dapat lagi memikirkan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Hanya bayangan-bayangan suram yang ia dapat, tangisannya terus memenuhi ruangan bernuansa biru itu. Bersamaan dengan Gean yang kini terdiam berdiri di depan wastafel dengan tangan yang mengepal kuat. membuat lukanya semakin mengeluarkan darah.
Entah apa yang akan terjadi kedepannya, Gean maupun Alesha, kini tengah berada di ambang pilihan yang sungguh membutakan mereka.