
Keesokan harinya, Alesha pun bersiap untuk pulang dahulu ke rumahnya dari rumah Gean, di pagi hari pun setelah melaksanakan sholat subuh, Alesha dan Gean dengan segera pergi ke rumah Alesha.
Di sana Alesha dengan cepat mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi ke sekolah, walau dengan keadaannya yang kini masih sedikit lemah, Alesha tak mau berlama lama luput dalam kesedihan itu.
Hidup nya harus tetap berjalan, apa pun itu. Untung saja kedua orang tuanya belum pulang dari rumah Neneknya, sehingga Alesha masih bisa tenang dan berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalahnya ini.
Setelah beberapa menit Alesha pun keluar dari kamarnya dan langsung turun ke bawah untuk mengajak Gean berangkat ke sekolah.
Gean yang melihat Alesha menuruni tangga mengerutkan keningnya kecil.
"Hati hati, matanya liat tuh ke tangga jangan liat kemana aja, awas jatuh." Ucap Gean dengan nada posesifnya, Alesha yang mendengar hal itu terdiam sejenak lalu tersenyum kecil walau ada sedikit rasa sedih, ternyata lelaki di depannya ini sebegitu perhatian dengan dirinya dan bayi yang ada di perutnya.
"Gue bukan anak kecil." Ketus Alesha, Gean pun bangkit dari duduknya dan menyusul Alesha yang masih berada di tangga.
Alesha terkejut dengan Gean yang kini berada di hadapannya. Gean langsung saja memberikan lengannya kepada Alesha, membuat Alesha menatap sekilas lengan Gean dan menatap wajah tampan Gean.
"Pegang gue." Ucap Gean singkat, menyuruh Alesha untuk memegang lengannya.
Alesha memutarkan bola matanya jengah lalu menepis lengan Gean, dan kembali berjalan menuruni anak tangga tanpa menghiraukan Gean yang kesal.
"Gue bukan anak kecil Ge!" ucap Alesha lagi, namun bukan Gean namanya jika tidak membuat Alesha menuruti perintahnya.
Gean langsung saja mengangkat tubuh Alesha yang tengah menuruni tangga dengan perlahan, Alesha yang mendapati tubuhnya serasa melayang diangkat oleh Gean langsung saja membelalakkan matanya dan dengan cepat melingkarkan tangannya di leher Gean.
Tak lupa tatapan tajam Alesha yang langsung ia berikan kepada Gean yang kini hanya menyunggingkan senyuman jahilnya.
"Gue gak mau Lo kenapa kenapa, jadi mendingan mulai sekarang Lo dengerin gue, oke tuan Puteri." Jelas Gean, membuat Alesha mendengus kecil.
Gean pun membawa Alesha keluar rumah masih dengan posisi menggendongnya, dan menurunkannya di depan motornya. Gean langsung saja membawa helm dan memakaikannya kepada Alesha dengan sangat telaten.
"Oke, tuan Puteri gue udah siap." Ucap Gean dengan senyuman manisnya sembari mencubit kecil pipi Alesha, membuat Alesha menatap tajam Gean.
"Ish, apaan sih Ge." Tepis Alesha pada tangan Gean yang masih asik mencubit nya.
Gean pun hanya nyengir puas melihat wajah kesal Alesha, lalu ia pun dengan cepat memakai helm nya dan menaiki motor besarnya itu.
Alesha pun naik dengan hati hati ke atas motor Gean, Gean kemudian membawa lengannya ke arah lengan Alesha dan langsung saja membuatnya sudah melingkar di tubuh kekar Gean. Alesha pun hanya diam dan mengikuti apa yang Gean lakukan.
"Pegangan yang erat yah, gue gak akan ngebut ko, pelan pelan aja." Ucap Gean sembari menyalakan mesin motornya.
Gean pun dengan benar saja, mengendarai motornya dengan sangat sangat pelan. Bahkan Alesha sampai tak bisa berkutik dengan apa yang dilakukan Gean.
'Ini anak kenapa sih!' batin Alesha yang jengah dengan tingkah Gean.
"Ge Lo yakin kita gak akan telat?" tanya Alesa dengan kerutan di keningnya.
"Udah tenang aja, bukan masalah telat atau ngga nya, yang penting Lo safety, okeh." Balas Gean, Alesha hanya bisa menggelengkan kepalanya, bahkan motor Gean ini bisa di dahului oleh para bebek yang sedang berjalan di pinggir jalan.
Keterlaluan memang, Alesha yang kesal pun hanya bisa mengepal erat jaket yang kini di pakai Gean, sembari menyenderkan wajahnya di punggung lebar Gean.
"Safety yah safety tapi gak gini gini amat GEAN AKSA PRATAMA!" kesal Alesha, Gean hanya tertawa kecil mendengar Alesha yang sudah sangat kesal dengan tingkah nya ini, tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi kebaikan Alesha dan bayinya.
Bagi Gean itu adalah hal terpenting yang menjadi prioritasnya kini, 'Keselamatan bagi Alesha dan Bayi nya'.
Akhirnya, walau butuh waktu lama mereka pun sampai di sekolah dengan gerbang yang sebentar lagi akan di tutup. Alesha pun dengan cepat turun dari motor dan membuka helm tanpa menunggu Gean.
Gean yang melihat Alesha melangkah pergi meninggalkannya duluan hanya dapat menggeleng kecil lalu dengan cepat menyusulnya.
Mau tak mau Gean pun berlari kecil mengejar Alesha yang tak mau menunggunya. Alesha pun terus saja berjalan tak menghiraukan panggilan panggilan yang di lontarkan Gean.
Sampai akhirnya Alesha yang tengah berjalan harus menghentikan langkahnya ketika melihat seorang pria yang tengah menghadangnya.
Lelaki brengsek, Alesha mengepalkan tangannya, ia bersiap untuk maju dan memukul Alvin, namun Gean dengan cepat memegang pundak Alesha dan membawanya masuk ke dalam pelukan hangat seorang Gean.
Alesha tak dapat lagi menahannya, satu demi satu tetes air mata jatuh. Rasa kesal, benci juga sesal karena pernah jatuh kepada lelaki sialan itu, akibatnya kini Alesha harus menanggung sebuah hal yang tak pernah Alesha bayangkan. Sebuah hal yang mungkin dapat menghancurkan hidupnya.
Gean memeluk erat Alesha, dirinya mengusap pelan puncak kepalanya, namun tatapan tajam tersirat di kedua mata Gean, yang tertuju kepada lelaki sialan yang kini ada di hadapannya.
Alvin mengepal kuat kedua lengannya, melihat Alesha yang kini berada dalam pelukan Gean. Ia merasa tak rela jika Alesha harus berada dalam genggaman lelaki lain, dia mau Alesha hanyalah untuknya saja.
"Lepasin Alesha!" geram Alvin.
Gean yang mendengar penuturan Alvin tak sanggup menahan tawa sinis nya. Gean semakin mengeratkan pelukannya, membawa Alesha kepada kehangatan yang melindunginya dari tatapan tatapan siswa siswi lain.
"Lepasin Alesha! Lo gak denger!" Teriak Alvin lagi, namun Gean sama sekali tak menggubrisnya.
Gean pun melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak Alesha, menatap wajah Alesha yang masih sembab akibat menangis.
"Lo mau gue pukul dia?" tanya Gean dengan nada yang sangat serius, Alesha yang mendengar hal itu menatap wajah Gean yang kini terlihat merah akibat menahan amarah.
Alesha tahu Gean juga marah karena Alvin yang sudah berani membuatnya seperti ini, rasanya ingin mengiyakan pertanyaan Gean, namun Alesha tak mau membuat Gean semakin masuk dalam permasalahannya.
Alesha pun menggeleng kecil, lalu menarik lengan Gean dan berjalan melewati Alvin yang masih terdiam di tempatnya.
Gean tak ada habisnya meloloskan tatapan tajam ke arah Alvin, begitu pula sebaliknya. Saat Alesha melewati Alvin, Alvin dengan cepat meraih lengan Alesha namun dengan cepat Gean pun menepis tangan itu dan mendorong tubuh Alvin sampai menabrak tembok.
Alesha yang melihat itu pun terkejut, ia dengan cepat memeluk tubuh Gean dan membawanya menjauh dari sana.
"JANGAN BERANI BERANI LO PEGANG CEWE GUE! DASAR BRENGSEK LO! SIALAN!" teriak Gean ketika Alesha berhasil menarik mundur Gean.
Alesha pun membawa tubuh Gean untuk duduk di bangku yang tersedia di depan kelasnya. Ia menatap wajah Gean dengan sendu.
"Makasih," ucap Alesha, dengan senyuman kecil. Gean yang melihat itu langsung saja memeluk tubuh mungil Alesha.
"Gue gak akan tinggalin Lo Sha, gue ada buat Lo, mulai sekarang Lo gak usah pikirin cowok brengsek itu lagi, gue yang bakalan jagain Lo, okay." Ucap Gean, Alesha tersenyum kecil di dalam pelukan Gean, dirinya merasa nyaman.
Namun, seberapa jauh Alesha harus membawa Gean dalam permasalahannya ini, bahkan membuat Gean harus menanggung sebuah kesalahan yang bukan Gean lakukan. Alesha tidak mau, permasalahannya harus ia selesaikan walau mungkin pahit, ia akan mencobanya.
Alesha menggeleng kecil, membuat Gean melepaskan pelukannya itu.
"Makasih, tapi ini bukan salah Lo Ge, gimana pun gue harus kasih tau dia." Ucap Alesha, membuat Gean mengepal kuat lengannya.
"Gak bisa kalo gue aja yang tanggung jawab?" tanya Gean dengan mata tajamnya, namun Alesha tetap pada pendiriannya, ia menggeleng mantap.
"Ini bukan salah Lo dan udah seharusnya dia tau apa yang udah dia perbuat ke gue." Balas Alesha, Gean semakin kesal ia memukul keras bangku yang tengah ia duduki, membuat Alesha sedikit terkejut, juga siswa siswi yang berada tak jauh dari sana
"Tapi dia bukan cowok baik Sha!" Kesal Gean.
"Tapi ini anaknya," balas Alesha dengan suara kecilnya, tapi Gean masih bisa mendengarnya.
Gean pun yang terlanjur kesal langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Alesha yang kini menunduk lemah, lagi dan lagi tetesan air mata jatuh. Alesha dengan cepat mengusapnya, ia pun langsung masuk ke kelas dan mencoba menjernihkan pikirannya, ini sudah pilihan terbaiknya, bagaimanapun Alvin harus tau tentang anak yang Alesha kandung.