
Alesha menarik nafasnya, lalu menghembuskan nya dengan perlahan. Dirinya sedikit ragu akan apa yang kini tengah ia lakukan. Alesha tengah berada di depan rumahnya, namun ada rasa ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Ayah dan Ibunya juga sudah pulang dari rumah Neneknya, itulah yang membuat Alesha sedikit ragu dan takut untuk memasuki rumahnya.
Gean yang tengah berdiri di samping Alesha melihat Alesha yang begitu gelisah. Dirinya menghela nafas sejenak lalu meraih bahu Alesha untuk menghadapnya.
"Lo takut?" tanya Gean.
Alesha tak membalas, dirinya menundukkan kepala seakan tak mendengar pertanyaan yang Gean lontarkan.
"Sha! liat gue!" ucap Gean dengan sedikit penekanan. Alesha pun dengan pelan mengangkat wajahnya.
Mata indahnya bertemu mata tajam Gean. Gean melihat Alesha yang kini tengah menahan tangis. Terlihat air mata yang sudah membendung di pelupuk matanya.
Gean tak sanggup melihat itu semua, ia akhirnya menarik Alesha ke dalam pelukannya. Gean mengusap kecil kepala Alesha, membuat Alesha tak kuat menahan tangisannya.
"Gak papa Sha, gue disini, gak papa." Ucap Gean pelan.
Namun, semua itu membuat Alesha sedikit tenang walau tangisannya tak juga berhenti, tapi Gean tak berniat untuk membuat Alesha berhenti menangis, ia rasa lebih baik membuat Alesha mengeluarkan semua tangisannya kini dan semoga semua itu membuatnya lebih lega.
"Gak papa Sha, nangis aja sepuasnya. Gue ada disini ko, Lo gak usah takut, ada gue." Ucap Gean lagi membuat Alesha membalas pelukan Gean dan mengencangkan pelukannya seakan meminta Gean untuk tak meninggalkannya sendiri.
"Kalo Lo takut, Lo gak perlu bilang sekarang ke orang tua Lo. Gue yakin orang tua Lo bakalan ngerti ko, gue yakin mereka gak bakal ninggalin Lo sendirian, percaya sama gue." Gean terus menerus menenangkan Alesha, mencoba membuatnya tenang.
Alesha pun akhirnya melepaskan pelukannya. ia mengusap air matanya, tak lupa Gean yang mengusap rambut Alesha dan memberikan senyuman hangatnya pada Alesha.
Alesha pun membalas senyuman hangat Gean. Ia terkekeh kecil, walah masih dengan air mata di matanya.
"Makasih Ge, gue gak tau harus gimana kalo gak ada Lo." Ucap Alesha.
Gean tersenyum mendengar ucapan Alesha, ia kemudian mengacak kecil rambut Alesha.
"Emang gue bakalan kemana? gue gak akan kemana mana ko Sha, gue bakalan ada buat Lo, jadi Lo gak usah takut yah, Lo kan tuan Puteri gue, ya kali gue tinggalin, gue kan pangeran Lo." Balas Gean dengan kata kata yang sedikit menggoda Alesha.
Alesha pun terkekeh kecil, ia sangat beruntung bisa bertemu lelaki seperti Gean. Andai saja Gean datang lebih cepat mungkin keadaannya tak akan seperti ini, tapi Alesha tetap saja beruntung bisa bertemu Gean dalam keadaanya kini, setidaknya dirinya tetap mengenal Gean bagaimana pun caranya.
Itu adalah keberuntungannya, dalam sebuah kekecewaan yang amat sangat dalam.
"Ya udah, Lo pulang gih. Gue gak Nerima tamu hari ini." Ucap Alesha.
Gean yang mendengar hal itu berpura pura mencebikkan bibirnya.
"Yah, gue gak boleh masuk nih?" tanya Gean dengan nada kesal yang di buat buatnya.
Alesha tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
"Besok aja yah Ge, gue pengen istirahat." Balas Alesha dengan lembut.
Gean pun mengangguk kecil walau masih dengan wajah kesal yang dibuat buatnya.
"Ya udah, tuan Puteri gue istirahat yah, juga jangan kecapean. Kalo butuh apa apa telpon aja yah, gue siap 24 jam ko, oke ." Gean pun berpamitan pada Alesha.
Alesha tak henti hentinya di buat terkekeh oleh Gean, ia pun hanya membalas Gean dengan anggukan kecil.
Gean pun yang sudah menaiki motornya melambai ke arah Alesha. Alesha membalas lambaian tangan Gean dengan senyuman lebar.
"DADAH TUAN PUTERI ALESHA... JANGAN KECAPEAN YAH, DAHHHH..." teriak Gean ketika motornya melaju meninggalkan Alesha.
Alesha kembali terkekeh mendengar teriakan Gean. Dirinya benar benar dibuat menggeleng dengan tingkah Gean yang diluar nalarnya.
Alesha pun menghela nafasnya dengan berat, seakan kehilangan sesuatu ketika Gean mulai menjauh dari penglihatannya.
'Segitu berarti nya Lo buat gue Ge, sampe Lo pergi pulang aja gue ngerasa ada yang ilang.' batin Alesha.
Kepergian Gean yang hanya meninggalkannya untuk pulang ke rumahnya membuat hatinya menjadi kosong, apalagi jika dirinya benar benar meninggalkan Gean, apa dirinya akan baik baik saja.
Alesha dengan cepat mengenyahkan permikiran nya. Ia melangkah memasuki pekarangan rumahnya, sebelum membuka pintu Alesha kembali menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Assalamu'alaikum Bu, Ayah." Ucap Alesha memberi salam ketika masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam Nak, udah pulang?" balas Ibu Alesha yang tengah memasak di dapur.
"Waalaikumsalam Anak Ayah, udah pulang Nak, dianter siapa?" jawab Ayahnya.
Alesha tersenyum manis walau dengan rasa gelisah. Walaupun Ibu dan Ayahnya belum mengetahui tentang keadaan dirinya kini tapi Alesha seakan takut dan merasa ada sesuatu yang tak bisa ia sembunyikan. Bagaimanapun dirinya kini membutuhkan orang tuanya dalam keadaanya kini yang sangat kacau.
"Iya Bu, Yah. Alesha tadi di anter Gean." Balas Alesha sembari berjalan masuk ke arah Ibu dan Ayah nya untuk mencium tangan mereka.
"Terus Nak Gean nya kemana? Ko gak di suruh mampir dulu?" tanya Ibu Alesha.
Alesha pun menggeleng kecil dengan senyuman manisnya.
"Ngga Bu, Gean katanya lagi ada urusan. Makannya gak mampir dulu." Balas Alesha.
"Oh iya, kemaren Ayah telpon Nak Gean, bilang kalo Ayah sama Ibu mau ke rumah Nenek soalnya hp kamu gak bisa Ayah hubungin." Ucap Ayahnya, Alesha yang tengah berdiri di hadapan Ayahnya mulai membatu.
Namun, ketika Alesha kebingungan mau menjawab apa, Ayahnya kembali berbicara.
"Terus Nak Gean bilang, hp kamu abis baterai, terus kamu lagi di rumahnya Naya, makannya sekalian aja Ayah suruh Nak Gean buat nyuruh kamu nginep dulu di rumahnya Naya." Lanjut Ayah Alesha.
Alesha yang mendengar hal itu pun seakan mengerti mengapa Ayah dan Ibu nya kemarin membiarkannya tidur di rumah Gean.
Ternyata Gean berbohong bahwa dirinya tengah menginap di rumah Naya, pantas saja Ayah dan Ibu nya begitu tenang. Alesha pun hanya tersenyum manis kepada Ayahnya, lalu ia pun dengan cepat naik ke lantai dua untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
"Pantes aja Ayah bolehin aku nginep di rumah Gean, padahal taunya nginep di rumah Naya. Tapi, ko Gean bisa tau tentang Naya?" gumam Alesha ketika masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa pikir panjang Alesha pun dengan segera mengambil handuknya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membilas badannya.
Tak selang berapa menit, Alesha pun keluar dari kamar mandi dengan handuknya. Ia dengan cepat berganti baju dengan kaos polos berwarna putih dan celana panjang longgar bermotifkan bunga.
Alesha kemudian menyisir rambutnya yang masih basah karena keramas. Ia pun duduk di atas kursi meja belajarnya dan membuka hpnya.
Tak sadar kini dirinya tengah membawa jarinya membuka aplikasi pesan dan langsung membuka pesan Gean.
Terlihat Gean mengiriminya beberapa Pesan dan panggilan tak terjawab yang ternyata dari Gean. Membuatnya Alesha tersenyum kecil.
CHAT (5) STATUS PANGGILAN (30)
Gean Curut
Tuan puteriku... (5)
Ayahku
Panggilan suara tak terjawab. (20)
Naya
Sha, kemaren Ayah Lo telpon gue, (1)
Terlihat beberapa pesan, dan panggilan suara yang tak terjawab dari Ayahnya kemarin. Alesha memang tak membuka hpnya sejak kemarin. Kemarin pun Alesha sengaja mematikan hpnya karena tak ingin di ganggu siapapun.
Ternyata Ayahnya menelepon dirinya sebanyak 20 kali. Untung saja Gean bisa berdalih dan membuat Ayahnya percaya.
Alesha juga melihat pesan dari Naya, walau ia enggan membalasnya, ia melihat bahwa Naya mengirimi nya pesan karena Ayahnya yang menelepon Naya kemarin.
Apa Naya membantunya berbohong kemarin, sehingga Ayah nya tak curiga sedikit pun. Alesha tak berpikir panjang, ia pu. membuka pesan dari Gean.
Gean Curut
Tuan puteriku 16.02
Panggilan suara tak terjawab 16.03
Lo kemana sih ko gak
Jangan bilang Lo nangis
lagi, gak kenyang apa tadi
nangis? 16.05
Panggilan suara tak terjawab 16.07
Panggilan suara tak terjawab 16.08
Ya Allah Sha, Lo gak papa
kan? gue ke rumah yah 16. 08
Panggilan suara tak terjawab 16.10
Panggilan suara tak terjawab 16.10
Panggilan suara tak terjawab 16.11
Sha dih, Lo beneran gak
papa kan? gue ke rumah
Lo sekarang! 16. 12
Panggilan suara tak terjawab 16.12
Panggilan suara tak terjawab 16.12
Panggilan suara tak terjawab 16.13
Panggilan suara tak terjawab 16.14
Alesha yang melihat pesan dari Gean dan beberapa panggilan tak terjawab dari Gean terkekeh geli.
Begitu perhatiannya Gean kepadanya dan begitu khawatirnya Gean kepada Alesha. Padahal Alesha tak menjawab pesan Gean karena dirinya yang tadi sedang mandi.
Alesha pun berniat untuk membalas pesan Gean, namun suara ketukan di pintu kamarnya, membuat Alesha mengurungkan niatnya dan membuka pintu kamarnya.
"Ibu," ucap Alesha ketika melihat Ibu yang yang berdiri di pintu kamarnya.
"Kenapa Bu?" tanya Alesha.
Ibunya tersenyum manis lalu memberikan aba aba dengan kepalanya, seperti menunjuk ke bawah.
"Di bawah ada Nak Gean." Ucap Ibunya, membuat Alesha mengerutkan keningnya.
"Apa? Ge, Gean?" ulang Alesha, Ibunya pun hanya membalas dengan anggukkan.
"Iya Nak Gean, ya udah cepet kamu turun." Ibu Alesha pun melangkah pergi meninggalkan Alesha yang mematung di tempatnya.
'Gean?' batin Alesha.
Bagaimana lelaki itu bisa secepat kilat datang ke rumahnya, padahal baru saja ia akan membalas pesannya. Sebegitu khawatir kah Gean kepada dirinya, sampai bertingkah seperti ini.
Alesha pun menutup pintu kamarnya dan turun ke lantai satu. Dirinya melihat Gean tengah duduk di sofa ruang tamu bersama Ayahnya.
"Sha, ini Nak Gean Dateng bawa cemilan buat kamu katanya." Ucap Ayah Alesha, Alesha hanya bisa tersenyum kikuk.
Berjalan menghampiri Gean dengan sorot mata tajam seperti bertanya,
'lo ngapain kesini?'
Gean pun yang mengerti tatapan Alesha hanya dapat memperlihatkan deretan giginya. Dirinya menyodorkan sekantong tas yang entah berisi apa.
"Apaan?" tanya Alesha sembari menerima tas yang Gean berikan.
Gean pun berdiri dan mengajak Alesha untuk mengobrol di tempat lain. Alesha yang mengerti ajakan Gean pun mengajak Gean ke halaman belakang rumahnya.
"Yah, Alesha ngobrol di belakang yah." Ucap Alesha.
"Oh, iya boleh ko." Balas Ayah Alesha sembari tersenyum.
"Ibu lagi masak sebentar lagi beres, Nak Gean ikut makan malem disini yah." Ucap Ibu Alesha di dapur.
Gean pun tersenyum ria ketika mendengar ajakan Ibu Alesha berlainan dengan Alesha yang menatap tajam Gean.
"Iya Tante, makasih." Jawab Gean.
Dengan cepat Gean pun Alesha tarik ke taman belakang.
"Ish, Lo ngapain sih kesini?" tanya Alesha ketika sampai di taman belakang rumahnya.
"Lah salah sendiri gak bales chat gue!" balas Gean dengan kesal.
"Gue abis mandi Ge, ya kali gue mandi bawa hp!" Alesha pun menjelaskan mengapa dirinya tak membalas pesan Gean.
Gean yang mendengar balasan Alesha seperti malu akan dirinya yang terlalu khawatir dengan Alesha.
"Ya maaf, gue kan kaga tau Sha. Lagian Lo gak bilang sih, coba kalo bilang dulu, gue kan gak akan mikir yang aneh aneh." Balas Gean.
Alesha pun hanya bisa memutarkan matanya jengah. Bagaimana mungkin Alesha harus melaporkan apa yang akan dia lakukan kepada Gean setiap saat, dasar Gean.
"Tapi, bukan itu aja. Gue kesini buat ngasih Lo itu." Ucap Gean lagi sembari menunjuk kantong yang Alesha pegang.
Alesha menoleh ke arah kantong yang ia pegang, ia pun membuka kantong itu melihat isinya.
Alesha yang sudah melihat isi dari kantong itu langsung saja di buat terkejut dan terharu. Ia menatap Gean yang tengah menatapnya dengan deretan gigi.
"Dasar Lo yah," ucap Alesha.
Alesha mengeluarkan botol berisi susu yang sudah Gean buat untuk Alesha, dirinya seperti biasa membuat susu ibu hamil dan memasukkannya ke dalam botol Tupperware agar tak terlihat seperti susu ibu hamil.
Alesha begitu terharu dengan sikap Gean, yang begitu perhatian kepadanya dan juga bayi yang ia kandung.
Rasa kesalnya pun hilang begitu saja dengan rasa haru. Alesha pun mengambil botol itu dan memberikan kembali kantong yang dibawa Gean.
"Makasih," ucap Alesha dengan kecil dengan wajah malu sembari menatap ke arah lain.
Gean yang mendengar hal itu mencoba mendekatkan wajahnya ke arah Alesha.
"Apa? gue gak denger?" goda Gean.
Alesha yang melihat itu memukul kecil kepala Gean dengan botol yang ia pegang.
"Aww!" Gean mengusap kepalanya yang terkena pukulan kecil Alesha.
Tapi, bukannya merasa bersalah, Alesha malah menjulurkan lidahnya ketika Gean menatap tajam Alesha.
Lalu Alesha berlari kecil ke arah bangku yang tersedia di taman. Gean pun hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah bumil nya.
"Dasar, Lo gak baik buat jantung gue Sha, tiap gue liat Lo jantung gue serasa gak bisa gue kontrol." Gumam Gean.
Sore itu mereka habiskan dengan bercanda ria di halaman belakang rumah Alesha. Gean terus tak henti hentinya menggoda Alesha, menemani Alesha meminum susunya dan mendengarkan cerita Alesha.
Gean tak tahu mengapa dirinya mau melakukan hal gila ini, alasannya hanya satu, yaitu Alesha. Dirinya sudah jatuh hati pada Alesha dan apapun pasti akan ia lakukan walaupun di luar nalar dan gila.
Gean akan selalu ada untuk Alesha nya, apapun itu.
@@@
Ad.Yul