ALESHA

ALESHA
ALESHA : 27



Di siang itu, di sebuah kafe yang tak terlalu banyak pengunjung, di sisi pojok kafe tersebut, terlihat dua sejoli yang tengah berselisih, mereka adalah Alvin dan Naya.


"Aku gak akan biarin kamu pergi Vin!" Naya berdiri di hadapan Alvin sembari merentangkan kedua tangannya.


"Terus kamu mau aku gimana Nay? Aku gak bisa biarin Alesha tanggung semuanya sendirian!" Sahut Alvin sembari mengacak rambutnya.


"Emangnya kamu udah siap buat nikahin dia? Kamu siap keluar dari sekolah ini? Kamu siap tinggalin aku?" Naya bertanya dengan air mata yang bercucuran, seakan tak rela melepaskan kekasihnya itu.


Alvin hanya terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Sejujurnya, Alvin juga takut dan merasa belum siap jika harus meninggalkan masa sekolahnya ini, apalagi jika membayangkan nanti, apa bisa Alvin hidup berkeluarga di usianya yang masih belia? Pikirnya.


Intinya, Alvin belum siap untuk berpindah ke fase itu. Namun, ada rasa mengganjal di hatinya, Alvin sadar itu adalah kesalahannya, jika saja Alesha dulu mengikuti perkataanya untuk menggugurkan bayi itu, mungkin tidak akan menjadi serumit ini.


"Hah? Kenapa diem? Kamu udah siap?" Naya kembali bertanya.


"Aku, aku gak mau, aku gak mau Vin! Aku gak mau kamu sama Alesha," Isak Naya.


Alvin yang terdiam kini menundukkan kepalanya, ia memijat pelipisnya, seakan pusing memikirkan hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Gak bisa? kamu pura-pura gak tau aja, biarin Gean yang tanggung jawab, kamu liat kan, Alesha sekarang udah punya Gean, biarin mereka urus masalah itu, kita pura-pura gak tau aja Vin!" Ungkap Naya, ia memegang kedua pundak Alvin.


"Aku mohon, a-aku gak bisa kalo harus pisah sama kamu, aku gak bisa Vin!" Naya memohon, meminta Alvin agar tetap disisinya.


"Tapi Nay, gimana kalo Alesha bilang ke orang tuanya kalo aku yang hamilin dia?" Timpal Alvin.


Naya menggeleng, "gak, aku yakin Alesha gak mungkin bilang tentang itu ke orang tuanya, aku yakin," balas Naya, seakan yakin dengan jawabannya.


Padahal dalam hati Naya juga ketakutan, tetapi satu hal yang ia pikirkan sekarang adalah mempertahankan Alvin, Naya tidak mau jika harus kehilangan Alvin.


Susah payah ia merebut Alvin dari Alesha, maka dari itu Naya tidak rela jika harus melepaskan Alvin kembali kepada Alesha.


Naya mendekat, membawa kedua tangannya melingkar di pinggang Alvin.


"Jangan tinggalin aku Vin, aku gak mau pisah dari kamu, aku sayang sama kamu," pinta Naya.


Lama terdiam, akhirnya Alvin membalas pelukan itu, ia bawa satu tangannya mengusap lembut puncak kepala Naya.


"Aku juga sayang sama kamu Nay, maafin aku, udah mikir yang enggak-enggak," Alvin yang terbujuk rayuan Naya akhirnya menyerah.


Niat Alvin untuk datang menemui Alesha di malam itu, akhirnya gagal karena sebuah bujukan dan rayuan Naya.


Rumah Alesha


Gean langsung memarkirkan motornya tepat di depan halaman rumah Alesha. Detak jantung yang awalnya berdetak beriringan dan seirama, kini tiba-tiba melenceng, membuat irama bak musik rock.


Lelaki yang awalnya penuh dengan tekad, nekad untuk kabur dari rumah, nekad melawan tiga penjaga sekaligus, bahkan nekad datang ke rumah ini, tiba-tiba tekad itu seakan hilang entah kemana.


"Masuk jangan yah?" Gumamnya, ragu dengan langkah yang akan ia ambil selanjutnya.


"Duh! Ko gue degdegan gini sih?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Yaelah, Lo Gean! GEAN AKSA PRATAMA! masa beginian aja takut!" Ucap Gean menyemangati dirinya sendiri, sembari memukul mukul dadanya.


"Mau apa kamu kesini?" Tanya seseorang yang tiba-tiba membuat jantung Gean seakan di sengat oleh halilintar.


"Astaghfirullah!" Jeritnya kaget.


"Kenapa kamu? Kamu pikir saya setan? Sampe muka kamu kaget seperti itu melihat saya?" Tukas Aryanto Ayah Alesha.


Gean dengan cepat menggeleng, "e-engga om, sa-saya cuman kaget aja," balas Gean sembari memamerkan cengirannya.


Aryanto menatap Gean dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, tentu hal itu membuat Gean merasa terintimidasi.


"Sa-saya mau ketemu Alesha om," ucap Gean cepat sembari memejamkan matanya, takut-takut mendapat makian dari calon mertuanya itu.


"Masuk,"


Satu kata itu mampu membuat Gean membuka matanya setengah memicing, merasa janggal dengan sikap camernya itu.


"Cuman gitu aja?" Batin Gean, matanya yang memicing, melihat Ayah Alesha yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.


"Benerkan tadi? Gue di suruh masuk?" Ulang Gean seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Iya, saya bilang masuk Gean!" Tukas Aryanto, membenarkan apa yang sudah ia dengar.


Gean kini menggaruk dahinya, merasa malu dan salah tingkah, "ah, i-iya om, makasih om," langsung saja ia berjalan mengikuti punggung calon mertuanya itu.


Di ruang tamu, Aryanto langsung duduk di sofa, sedangkan Gean kini berdiri tegak menunggu perintah yang terucap dari pria paruh baya itu.


"Duduk," suruhnya, Gean pun langsung menuruti perintahnya itu, bak tentara yang di berikan komando oleh komandannya.


"Makasih om," balas Gean, ia terus menundukkan kepalanya, tak berani untuk sekedar melihat sorot mata tajam itu.


"Jadi, kamu ke sini mau ketemu Alesha?" Gean mengangguk kecil beberapa kali, mengiyakan pertanyaan itu.


"Ada nyali juga kamu datang ke sini," sahut Aryanto memuji keberanian Gean, ia terus menatap Gean tak berniat melepaskan tatapannya itu.


Gean yang mendapatkan pujian hanya bisa terus menunduk, menatap ke arah kedua kakinya. Bangga? Tentu tidak, Gean yang mendengar pujian itu seketika sulit untuk menelan ludahnya.


"Gue harus ngapain sekarang?" Batin Gean, "bingung gue, salting bet dah idup gue, mending ketemu preman satu pasar deh daripada ketemu camer kaya begini mah," lanjutnya membatin.


"Alesha ada di atas," Aryanto berucap seakan memberikan Gean izin.


Tentu Gean langsung mengangkat kepalanya, mata yang membulat, terkejut dengan apa yang indera pendengarannya tangkap.


"A-apa om?" Tanya Gean, benar-benar merasa kebingungan.


Bukankah Minggu kemarin baru saja ia mendapati sumpah serapah, bahkan caci maki dari calon mertuanya ini. Maka dari itu, Gean sudah menyiapkan nyalinya jika saja hari ini kembali mengulang kejadian di waktu itu.


Tapi, kenapa seperti ini?


Gean kebingungan, "sa-saya boleh ketemu Alesha, om?" Gean bertanya memastikan.


Aryanto mengangguk, "iya, kamu bukannya mau ketemu putri saya, ya udah kalo gak mau, kamu boleh pulang lagi saja." Balasnya dengan cuek.


Sontak tangan Gean terangkat sembari melambai-lambai, "e-engga om, sa-saya mau ketemu anak om, he,hehe," Gean berucap dengan sedikit kaku.


"Ya sudah, sana, dia ada di atas di kamarnya," balasnya lagi, tapi sesaat Gean hendak berdiri, tatapan yang awal mulanya biasa saja, kini terlihat sedikit menyayat.


"Ingat! Jangan sampai kamu berbuat hal yang macam-macam! Kalo sampai kamu macam-macam," ucapnya terhenti.


"Glek," Gean menelan ludahnya.


Melihat calon mertuanya yang kini membawa tangannya ke arah leher, memberikannya isyarat yang tentunya Gean tahu apa maksud dari gerakan tangannya itu.


"Ya sudah sana!"


Gean akhirnya berjalan naik ke lantai dua, mencari keberadaan wanita yang selama seminggu ini dia rindukan. Sampai pada sebuah pintu, yang memiliki gantungan kayu bertuliskan nama wanita ia cari.


Tok, tok, tok,


Sebuah ketukan membuat si pemilik kamar menoleh, ia yang sedang terbaring lesu tanpa gairah mulai bangkit dan berjalan mendekat ke arah pintu.


"Iya Bu," ucap si pemilik kamar, berpikir bahwa Ibu nya lah yang sudah mengetuk pintu kamarnya itu.


Di saat ia membuka pintu, bukan wajah sang ibu yang ia lihat, mata yang seketika membeliak, terkejut dengan sosok yang ia lihat.


"Surprise," Gean berucap dengan senyuman lebar, kedua tangannya ia rentangkan, memberi isyarat agar Alesha memeluknya.


Dan benar saja, seketika Alesha menelusukkan wajahnya di dada bidang Gean, kedua tangannya melingkar erat di pinggangnya, Isak tangis juga terdengar.


Gean tersenyum, kehangatan dari pelukan yang selama ini ia rindukan, tentu Gean langsung saja membalas pelukan itu. Ia mengusap lembut puncak kepala Alesha, membuat wanita berbadan dua itu nyaman berada dalam dekapannya.


"Hiks, Lo, kemana aja, hiks!" Sembur Alesha.


"Hiks, hiks, kenapa Lo gak kabarin gue! Kenapa baru sekarang Lo kesini!" Alesha melepaskan pelukannya, beralih membawa tangannya memukul-mukul dada bidang Gean.


"Aw, aw," sahut Gean sembari terkekeh.


"Kok ketawa sih! Hiks! Gue kan serius!" Omel Alesha, merasa kesal dengan balasan Gean.


Sembari terkekeh, Gean membawa kepalan mungil tangan Alesha untuk berhenti. Ia tersenyum, mengusap lembut wajah cantik wanitanya itu.


"Maaf, maafin gue yah, baru dateng sekarang," tuturnya, nada lembut yang begitu halus masuk ke dalam indera pendengaran Alesha.


Gean kembali membawa Alesha ke dalam dekapannya, ia mengusap lembut punggung mungil wanitanya itu.


"Lo jahat! Hiks," ucap Alesha.


"Maafin gue dong, jangan nangis terus, nanti ingus Lo kena baju gue." Goda Gean, Alesha tentu sedikit jengkel mendengarnya.


"Apaan sih! Lagi serius juga! Tuh kan, Lo mah jahat! Nyebelin!" Omelnya.


Alesha langsung saja melepaskan diri dari dekapan hangat itu, ia berjalan ke arah ranjang, mendaratkan bokongnya di atas ranjang.


"Yah, ngambek, ya maap, baru juga ketemu, udah marahan lagi, maaf dong," Gean berjalan mendekat, melihat Alesha yang kini mencebikkan bibirnya kesal.


Gean pun ikut menjatuhkan bokongnya di samping Alesha, membawa tangannya merangkul wanita yang tengah kesal itu.


"Maaf dong, jangan kesel-kesel," Gean berucap dengan suara yang mendayu-dayu.


"Ya lagian Lo, udah serius malah kaya gitu!" Kesalnya, Gean yang melihat Alesha kesal kini sedikit tersenyum kecil. Mungkin, bagi Gean kekesalan Alesha adalah hiburan kecil baginya.


"Ya maaf sayang,"


Semburat merah kini menghiasi pipi tembam Alesha, kekehan Gean kembali terdengar. "Cie, yang baperan, baru di sebut sayang aja langsung kaya tomat begitu!" Gean tak ada kapoknya menggoda Alesha.


"Ish Gean!" Pekik Alesha kesal.


"Shhtt, iya, iya maaf, nanti kalo ayah kamu denger dia kira aku apa-apain kamu lagi, maaf-maaf," tukas Gean, takut-takut jika terjadi kesalahpahaman antara dirinya dengan calon mertuanya itu.


"Iya makannya serius!" Timpalnya.


"Iya, iya," balas Gean.


Kini Alesha yang awalnya menatap jauh ke luar jendela, beralih menatap dua sorot mata indah yang ia rindukan itu.


"Maafin gue," ucap Alesha tiba-tiba.


Gean tentunya kebingungan, "kenapa? Kenapa minta maaf? Kan gue yang salah," balas Gean.


Alesha menundukkan kepalanya, "gue harus seret Lo ke masalah gue sampe kaya gini," sahutnya lagi, merasa bersalah.


Gean menggeleng, "gak, bukan salah Lo, gue yang buat keputusan ini, denger, gue sama sekali gak pernah salahin Lo, gue sendiri yang ambil keputusan ini, tanpa terpaksa," jelas Gean, tak mau membuat Alesha merasa bersalah.


"Tapi," Gean langsung membawa jarinya menutup bibir lembut Alesha.


"Shhtt, gak ada tapi, gue gak akan tarik ucapan gue, gue bakalan lindungin Lo, gue gak akan tinggalin Lo," tukas Gean.


Mata Alesha kembali berkaca-kaca, menahan air mata yang sudah terbendung di ujung matanya.


"Gue gak mau nyusahin Lo ge, maafin gue," ucap Alesha, kembali dengan tangisannya.


"Terus, kalo sekarang Lo mau gue jujur ke orang tua Lo, terus Lo mau minta laki-laki brengsek itu buat nikahin Lo?" Tanya Gean.


Alesha terdiam,


"Lo mau, laki-laki yang udah buang Lo kemarin, yang udah nyuruh Lo gugurin anak Lo itu, buat jadi suami Lo?" Cecar Gean, Alesha masih terdiam.


"Iya?" Tanyanya, Alesha akhirnya menggeleng.


"Ya terus, Alesha, liat gue," Gean membawa wajah Alesha menatapnya.


"Gue sayang sama Lo, gue janji, bakalan jadi suami yang baik buat Lo, gue juga bakalan jadi ayah yang baik buat bayi ini," Gean menunjuk perut Alesha yang sudah terlihat membuncit.


Tangisan Alesha pecah, merasa terharu dengan apa yang Gean ucapkan.


"Engga, jangan nangis, stop."


"Lo emang gak mau punya suami ganteng kaya gue? Jangan nangis, harusnya Lo seneng bisa punya suami yang ganteng kaya gue, Lo gak harus sedih Sha," lanjutnya, Alesha saja yang tengah menangis kini mengulas kan sedikit senyumannya.


Gean juga tersenyum, "Lo gak perlu khawatir, Lo liat kemaren bapak gue kesini naik mobil apa? Tenang, bapak gue tajir," ujar Gean membanggakan dirinya.


Tentu saja, Gean mendapatkan sebuah toyoran di dahinya. "Aw!" Gean mengusap dahinya.


"Lo ngomong kemana aja sih!" Seru Alesha kesal, namun di barengi sebuah kekehan.


"Ya emang, gue salah apa, makannya Lo gak perlu sedih, dapet suami seganteng gue, hidup Lo terjamin, ngapain Lo sedih, bawa happy aja kali," sahutnya percaya diri.


Alesha pun tertawa, melihat ke-PD an Gean yang sangat tinggi itu. Akhirnya setelah seminggu lebih, dirinya tak bisa tertawa lepas seperti ini, di hari ini, pria yang tiba-tiba hadir di hidupnya ini, lelaki nekad yang berani mengambil keputusan gila, lelaki yang bisa membuatnya tertawa seperti ini.


Alesha semakin jatuh cinta lagi kepada laki-laki ini, laki-laki yang bernama,


GEAN. AKSA. PRATAMA.


...AD.YUL...