ALESHA

ALESHA
ALESHA : 24



RUMAH SAKIT


Alesha kini masih terbaring di ranjang rumah sakit, dengan di temani Gean juga Karin. Keadaan Alesha yang terbilang masih sedikit lemas membuatnya tidak di perbolehkan pulang lebih cepat.


Karena takut jika saja terjadi pendarahan lagi, maka dari itu, kini Alesha hanya bisa diam memikirkan bagaimana ia harus menghadapi kedua orang tuanya.


"Ge," panggil Alesha.


Gean menoleh, menatap tanya wajah Alesha. "Kenapa?" Balasnya.


"Lo udah hubungin orang tua gue?" Tanya Alesha, dengan raut wajah cemas.


Gean menggeleng, "gue belum hubungin mereka, tapi gue gak tau mereka udah tau atau belum, yang gue yakin pihak sekolah gak akan tinggal diem." Balas Gean lagi.


Gean pun merasa sedikit bersalah, kalo saja tadi dia tidak mengatakan bahwa Alesha hamil, pasti tidak akan serumit ini.


"Maafin gue yah sha, gara-gara gue, jadi semua orang tau." Ujar Gean, sembari menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Alesha dengan cepat menggeleng, ia membawa tangannya meraih wajah Gean.


"Bukan salah Lo ge, mau gimana pun, cepet atau lambat semuanya bakalan kebongkar, perut gue gak akan selamanya sekecil ini."


Alesha menatap wajah Gean dengan binar matanya, "gue sama sekali gak nyalahin lo, malah gue berterima kasih, berkat lo gue sama bayi yang ada di perut gue bisa selamat, makasih." Lanjut Alesha.


Akhirnya, Gean tersenyum. Merasa jauh lebih tenang setelah mendengar penuturan Alesha itu.


"Gue yang makasih, lo bisa bertahan sekuat itu, gue yakin tadi pasti sakit banget kan." Terlihat raut wajah iba Gean yang seakan merasakan rasa sakit yang Alesha rasakan tadi.


"Gue kuat ko, lo kan pernah bilang kalo gue itu harus kuat." Balas Alesha dengan senyuman lebarnya.


Di saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba tirai penutup ranjang Alesha terbuka dan menampakkan wajah cemas yang membuat Alesha terkejut dan merasa bersalah dalam waktu yang sama.


"Shasa!" Ucap wanita paruh baya itu, ia menatap wajah Puteri nya itu dengan raut wajah cemas.


Langsung saja ia melangkah dengan sedikit besar, menghampiri Alesha yang masih terduduk manis di atas ranjang rumah sakit.


"Ibu!"


Sebuah pelukan langsung saja Alesha dapatkan dari ibunya itu, membuat mata Alesha seketika terasa panas.


"Ibu, maafin Shasa," ucapnya dengan tangisan yang tak bisa lagi Alesha bendung.


Tak berbeda dengan ibunya yang kini menangis sesenggukan sembari memeluk Puteri semata wayangnya itu.


Sedang di ujung tirai, ayah Alesha berdiri mematung melihat istri dan putrinya itu.


"Alesha minta maaf Bu, maafin Shasa." Ucap Alesha terus menerus meminta maaf.


Gean dan Karin kini mulai melangkah mundur memberikan ruang kepada Ayah dan Ibu nya Alesha. Namun, Gean tiba-tiba mendapati sebuah sorot mata tajam yang ayah Alesha tujukan kepadanya.


Tentu saja hal itu membuat Gean meringis ketakutan. Ia kini hanya bisa mengulas kan sebuah senyuman kikuk, membalas tatapan ayah Alesha.


"KAMU YANG SUDAH BUAT ANAK SAYA SEPERTI INI!" Ujar Ayah Alesha sembari menunjuk ke arah putrinya itu, dengan tatapan tajam yang masih tertuju pada Gean.


Hal itu membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas, dan menatap ke arah pemilik suara. Alesha pun terkesiap, ia menatap Gean yang kini hanya bisa diam menundukkan kepalanya.


"Ayah, bukan! Bukan Gean!" Ucap Alesha, mencoba meluruskan kesalahpahaman ini.


Namun, Ayah Alesha seakan tuli dibuatnya. Ia tak mendengar ucapan putrinya itu. Ia melangkah maju mendekati Gean.


"Jangan pergi kemana-mana! Diam di sini sampai anak saya bisa pulang! Kita bicarakan semua ini di rumah!" Ucapnya kepada Gean dengan suara gemeretuk gigi yang semakin membuat Gean menelan salivanya dengan susah payah.


"Baik om," jawab Gean tak berani menolak tentunya.


Karin pun yang melihat hal itu tak bisa membantu apa-apa, dia hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya, sama takutnya dengan Gean.


Akhirnya setelah beberapa saat, dokter menyatakan bahwa Alesha sudah bisa di bawa pulang. Kedua orang tua Alesha pun langsung membawa Alesha pulang dan tak lupa Gean yang turut ikut pulang bersama mereka.


Sedangkan Karin, sudah meminta Andi untuk segera menjemputnya di rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan, suasana begitu hening. Ibu Alesha terus memegangi tangan anaknya itu. Walau Alesha tahu, sang Ibu tengah menahan amarahnya, begitu pula Ayahnya. Tapi, mereka tetap bungkam dan tak berucap sepatah kata pun kepada Alesha.


Sedang Gean kini tengah berpikir keras di jok belakang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, walau niatnya sudah bulat untuk selalu menemani Alesha, dan akan bertanggung jawab. Namun, Gean tak berpikir bahwa hal itu bisa se-menakutkan ini.


"Gue harus bisa, gue gak akan tinggalin Alesha dan lepasin Alesha ke cowok brengsek itu!" Batin Gean, tak rela jika akhirnya Alesha harus jatuh ke tangan Alvin.


Ia pun seakan menguatkan dirinya sendiri, mengangguk-angguk sendiri. "Gue bisa! Gue bisa! Lo bisa Ge! Lo preman di sekolah masa kaya beginian Lo gak bisa Ge!" Ucapnya.


Walaupun harusnya Alvin yang bertanggung jawab, namun rasa cinta Gean kepada Alesha terlalu besar, sehingga membuat dirinya siap menanggung segala resiko yang sama sekali tak ia lakukan.


Tapi, ini semua adalah pilihannya. Gean berpikir, jika kini ia melepaskan Alesha, sulit untuk ke depannya Gean melupakan Alesha. Walau bisa di bilang egois, tetapi Gean tetap akan melakukannya. Karena ia tahu, Alesha tidak akan bahagia jika harus kembali bersanding dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti Alvin.


Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama itu, akhirnya mobil itu sampai di kediaman rumah pak Aryanto, rumah Alesha.


Satu persatu turun dari mobil, pak Aryanto Ayah Alesha langsung saja masuk ke dalam rumah, di ikuti Ibu Alesha yang memegangi Alesha untuk berjalan memasuki rumah.


Sebelum memasuki rumah, Gean membaca basmalah terlebih dahulu, semoga saja ia bisa melewatinya, melewati ayah Alesha yang terlihat begitu mengerikan.


"Lo pasti bisa Ge!" Ujarnya lagi, menguatkan dirinya kembali.


Pak Aryanto langsung saja menyuruh Gean untuk duduk di hadapannya, sorot mata tajam itu sama sekali tak menghilang, malah semakin terlihat tajam dan mematikan.


"Telepon orang tuamu! Suruh mereka datang kesini!" Ucap Ayah Alesha kepada Gean.


Namun, Gean yang di suruh oleh ayahnya Alesha itu kini terdiam, dirinya bukanlah seorang murid yang dengan mudah mengubungi orang tuanya itu.


Gean saja kini tinggal sendirian di apartemennya, bahkan selama hidup di kota ini, Gean tak pernah menghubungi orang tuanya itu. Untuk biaya hidup, Gean selalu menerima transferan uang setiap bulan. Namun, hanya itu saja, tak ada komunikasi dengan ayah atau ibu nya.


Akhirnya Gean mendongak, menatap wajah pak Aryanto. "Maaf pak, saya tidak bisa menghubungi orang tua saya, tapi saya bisa menghubungi salah satu keluarga saya." Balasnya dengan nada yang serius.


Namun, pak Aryanto tak menerima alasan Gean itu. Jawaban yang di berikan Gean malah semakin membuat pak Aryanto di lahap amarahnya.


"Berikan hp mu!" Serunya, meminta Gean untuk memberikan hpnya.


Alesha yang melihat hal itu, mencoba meluruskan semuanya, namun sang ibu seakan menyuruh Alesha untuk tetap diam.


"Bu, bukan Gean Bu! Alesha sumpah, bukan Gean yang buat Alesha seperti ini." Ucap Alesha kepada ibunya.


Ibu Alesha menggeleng pelan, "ibu gak tau harus gimana sha, gimana bisa ibu percaya sama kamu, hati ibu sakit, selama ini kamu menyembunyikan hal yang sangat membuat ibu dan ayahmu hancur!" Balas ibunya, dengan air mata yang terus mengalir di kedua mata ibunya itu.


Alesha pun kini hanya bisa diam, walau nyatanya apa yang Alesha katakan benar adanya. Namun, kesalahan Alesha yang fatal telah membuat kepercayaan kedua orang tuannya perlahan menghilang.


"Alesha tau Bu, Alesha salah, tapi Bu, bukan Gean, Bu, bukan Gean orangnya." Ucap Alesha lagi, masih mencoba meluruskan segalanya.


Ibu Alesha kini hanya bisa diam, mengalihkan pandangannya dari sang anak, ia seakan menutup telinganya. Enggan mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alesha.


Rasa sakit seakan di bohongi oleh putri satu-satunya itu. Putri yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, kini membuatnya serasa hancur seketika.


Mendengar pihak sekolah yang siang tadi menelepon suaminya, menyatakan bahwa anaknya telah melakukan sebuah kesalahan fatal yang membuat pihak sekolah begitu malu dengan perbuatannya.


Membuat ayah dan ibu Alesha juga menahan rasa malu, seakan tak percaya dengan apa yang pihak sekolah ucapkan, pihak sekolah menyuruh kedua orang tua Alesha untuk segera menyusul Alesha ke rumah sakit yang mereka beritahukan.


Dengan rasa cemas dan amarah yang membuncah, keduanya saling menguatkan, hingga sampai di sana, ia melihat putrinya yang terbaring lemas.


Hancur sudah, ayah dan ibu Alesha seakan tak percaya apa yang telah terjadi.