ALESHA

ALESHA
Episode 2



Episode 2


alesha yang badannya


dirasa melemah, mata nya kabur untuk melihat, dilihatnya terjadi pergulatan


hebat anatara lelaki itu dan orang-orang brengsek tadi lalu alesha tak sadarkan


diri…


.


.


Melihat alesha yang tak sadarkan diri, segera lelaki itu membawa alesha kesebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, rumah itu terlihat sudah reot bahkan bisa dibilang tidak


layak untuk dipakai dipanggil nya seseorang yang berada didalam rumah itu, lalu muncullah seorang perempuan muda wajahnya terlihat cantik umurnya kisaran 25 tahun mengenakan baju tidur daster


“kak buka pintu” teriak


Arizona lelaki yang menggendong Alesha, kakak perempuan nya yang tadi segera ke


pintu melihat aneh ke adik lelakinya dengan seribu Tanya


“siapa perempuan ini dek” Tanya sofia kakak dari Arizona


“tadi setelah ari ngisi acara dikafe baru buka itu, ketika pulang ari lihat dia diganggu oleh 4 lelaki kak, trus dia pingsan” cerita Arizona


“yaudah kamu ambil air dingin dulu kita kompres, kayaknya perempuan ini demam” perintah sofia


“iya kak” jawab Arizona dengan langkah kakinya pergi menuju dapur


Setelah Arizona mengambil sebuah baskom dengan air dingin dan handuk kecil, sofia mengkompres kepala alesha sesekali memijit mijit kepala alesha, sekarang sudah pukul 02 pagi, sofia menyuruh adiknya untuk tidur karena sedari tadi Arizona nememani alesha


yang sedang tertidur, Arizona menuruti perintah kakaknya lalu ia pun tertidur.


Keesokan harinya pukul


07.00 wib


“aku dimana” Tanya alesha ke dirinya sendiri sambil memandangi rumah yang tiang tiang kayu nya sudah mulai rapuh itu, cahaya matahari pagi menerpa wajahnya melalui celah celah dinding kayu rumah yang berlobang lobang


“Alhamdulillah kamu udah bangun, semalam kamu pingsan, dan adikku membawamu kesini” sapa sofia dengan lembutnya ke alesha yang sedari tadi sudah bangun


“makasih, aku harus pulang, ibuku pasti menungguku dirumah” ucap alesha


“baiklah, akan kusuruh adikku untuk mengantarmu pulang, arizonaaaa” jawab sofia dan sambil memanggil adiknya yang sedang berada diluar rumah, Arizona langung masuk kerumah, melihat kearah sofia, dan sofia melirik matanya ke alesha yang sudah bangun.


“oh kamu udah bangun ,sarapan dulu aja, kakakku sudah masak, setelah itu aku akan mengantarmu pulang” ucap Arizona ke alesha


“aku mau pulang sekarang bisa gak, karena ibuku pasti marah kalau aku berlama-lama seperti ini” ucap alesha sembari memohon


“baiklah” jawab Arizona sambil berjalan ke bawah rumahnya mengambil motor bututnya milik ayahnya, kebetulan ayahnya sedang pergi ke dusun. dihidupkan nya stater motor untuk memanaskan motor terlebih dahulu, disusul dengan alesha dan sofia dibelakangnya.


“makasih kak udah nerima alesha semalam” ucap alesha ke sofia


“kamu jangan sungkan, sering-sering lah main kesini” ucap sofia sambil terlihat senyum di bibir sofia dengan lembut, alesha pun naik ke atas motor Arizona, dan motor mereka melaju kerumah alesha, ditengah perjalanan yang terkena macetnya pagi, Arizona memberanikan diri untuk bertanya tentang kejadian semalam ke alesha ya mungkin alesha sudah bisa bercerita pikir nya


“kamu semalam sendiri,?” Tanya Arizona sambil mengintip wajah alesha melalui kaca spion nya


“gak, sama temenku” jawab alesha singkat


“kenapa semalam tidak ada temanmu? Apa ia meninggalkanmu?” Tanya Arizona lagi tapi terlihat muka menunduk dari wajah alesha, serasa ia menyesal telah bertanya seperti itu ke alesha , tanpa Arizona sadari alesha langsung menceritakan kejadian semalam ke Arizona seperti ia merasa sudah dekat dengan perempuan itu, alesha sadar bahwa Arizona memandanginya lewat kaca spion, lalu alesha pun memandangi Arizona lewat kaca spion nya, singkat cerita alesha memberikan senyum lega ketika sudah menceritakan semua ke Arizona. Setengah jam kemudian tiba-tiba alesha menyuruh Arizona untuk menghentikan motornya, mereka sedang berada di depan sebuah rumah lumayan besar, cat rumah warna kuning dengan genting yang terbuat dari tanah, terdapat pagar yang mengelilingi rumah itu, teras rumah ada banyak tanaman yang membuat rumah itu terkesan asri, sejuk dipandang. Alesha turun dari motor seraya


menyapa Arizona untuk turun pula menemui ibunya didalam, belum sempat mereka


berdua masuk kedalam tiba-tiba wanita separoh baya keluar dengan mata yang melotot, dia ibunya alesha.


“siapa lelaki ini le, apakah ia pria kaya?” Tanya ibu alesha tanpa basa basi


“ibuuuu” ucap alesha sembari melotot balik ke ibunya


“perkenalkan saya Arizona tante, semalem gk sengaja ketemu alesha, ia di ganggu preman-preman sampai alesha pingsan dan saya bawa kerumah saya, dirumah saya alesha dijaga sama kakak saya tante” ucap Arizona ke ibunya alesha yang wajahnya penuh Tanya


“itu motor kamu?” Tanya ibu alesha seakan ingin menginterview Arizona


“iya tante” jawab Arizona sambil tersenyum melihat kearah motornya


“butut sekali ya, oh ya silahkan kamu pulang, alesha cepat masuk” ucap ibunya, sambil menyipitkan matanya kearah Arizona dan berlalu pergi masuk kedalam rumah, disusul dengan alesha dibelakangnya, alesha yang melihat tingkah ibunya sesegera mungkin minta maaf ke Arizona


“Arizona, maafkan perilaku ibuku, ia memang seperti itu ia orang yang baik kok, makasih ya sudah bantu aku” ucap alesha ke Arizona sebelum ia meninggalkan Arizona sendiri di


depan pagar rumahnya


“alesha.. boleh aku minta nomor mu?” ucap Arizona, sembari memberi handphone nya ke tangan alesha, alesha yang sedikit takut melihat tingkah ibunya, langsung saja ia memencet nomor handphone nya di handphone Arizona, lalu tersenyum kearah Arizona. Langkah kaki alesha menjauhi Arizona, sehingga Arizona hanya memandangi punggung alesha dari jauh. Dilihatnya alesha menutup pintu rumah, lalu Arizona pun menghidupkan motornya dan pergi dari rumah alesha.


Didalam rumah, ibunya telah duduk di kursi tamu rumahnya, seakan ingin mengintrogasi alesha, dilihat nya wajah ibunya yang penuh Tanda Tanya, alesha buru-buru ingin masuk kedalam kamarnya, tetapi terlebih dahulu panggilan ibunya terngiang ditelinganya yang


membuatnya terkejut.


“aleshaaaaa, duduk sini” teriak ibunya, pikiran alesha mulai kacau, ia tau apa yang ingin ibunya katakana dan tanyakan


“iya bu” jawab alesha


“ibu tidak menyukai lelaki itu, ia miskin, motor nya aja butut seperti itu” ucap ibunya dengan nada menegaskan bahwa ia tidak menyetujui, padahal alesha hanya berteman sama Arizona, dekat juga belum pikirnya


“ibu.. alesha baru kenal Arizona, dan kami hanya sebatas teman bu” jawab alesha seakan ia membalas tuduhan ibunya dan alesha meninggalkan ibunya diruang tamu sendirian , ia langsung masuk kedalam kamarnya merebahkan badan nya dan mengingat kembali apa yang ia alami semalam, bahkan ia sempat berpikir kembali, kenapa ibunya tidak menanyakan hal apa yang ia alami semalam malah ibunya bilang tidak setuju Arizona. Alesha kembali mengingat wajah Arizona di langit langit kamarnya, di perhatikan nya kembali ingatan tentang wajah Arizona, wajah yang ganteng, kulit putih, tinggi, sifat yang lemah lembut, alesha kembali mengingat seperti nya ia pernah melihat senyum alesha sebelumnya tapi dimana ia berusaha mengingat.


“Ohh.. Arizona kan yang nyanyi waktu di opening kafe malam itu” ucap alesha ke dirinya sendiri


Kring…kringgg


Alesha mengambil handphone nya dari dalam tas nya dilihat nya ada nomor tidak dikenal menelpon ke handphone nya, siapa ya mungkin Virginia pikirnya


“hallo” sapa alesha dengan orang diseberang sana yang sedang menelponnya


“kamu udah baikan?” ucap orang yang menelpon, ini suara Arizona pikir alesha, entah kenapa bunyi jantung alesha tak beraturan, pikiran nya senang padahal ia barusan mengingat wajah lelaki itu dan sekarang ia telah menelponnya, apa ia sudah sampai pikir alesha


“alesha, kok diam?” Tanya Arizona


“eh.. iya aku udah baikan ri, makasih sekali lagi ya ri” ucap alesha yang membuat lelaki seberang sana tersenyum


Singkat cerita setelah pertemuan waktu itu membuat alesha dan Arizona semakin dekat, bahkan mereka sering jalan keluar bareng, makan bareng, nonton bioskop dan kadang alesha menemani Arizona nyanyi dari panggung ke panggung yang hanya dibayar 100 ribu seharian bernyanyi di tempat itu. Itu tak membuat alesha ragu ke Arizona bahkan


ia berpikir Arizona pasti bisa jadi orang sukses dengan usahanya yang seperti ini.


mereka menjalani hubungan bahkan hebatnya mereka ibu alesha tidak mengetahui


itu semua, sampai suatu hari Arizona ingin ibunya mengetahui dan merestui


hubungan mereka karena Arizona ingin serius menjalani ini ke alesha, ia amat


sangat mencintai alesha


“le.. aku ingin ibumu mengetahui hubungan kita, aku ingin restu dari ibumu le?” ucap Arizona sampat membuat alesha tersedak bakso yang lagi di makannya, segera Arizona memberi minum ke alesha dan menepuk punggung wanitanya itu


“kamu yakin, apa kamu tau resiko apa yang akan kita terima bila ibu tidak mengizinkan kita ri?” ucap alesha menegaskan bahwa ia tidak menyetujui apa yang Arizona inginkan


“aku sangat mencintaimu le, aku harus jujur ke ibumu, aku ingin kita berhubungan atas restu dari ibumu le, apapun yang akan terjadi aku tetap mencintai mu le” jawab Arizona meyakinkan alesha, tanpa sadar pipi mulus alesha telah di basahi air matanya, alesha tau


perilaku buruk ibunya, ia takut apa yang akan terjadi pastilah hal buruk, tapi sekali lagi alesha enggan untuk menolak ini dari Arizona, maka ia menganggukkan kepala nya seakan akan ia setuju, dan Arizona pun tersenyum lebar ke alesha sembari berbisik “terimakasih sayang” ucap Arizona tepat ditelinga alesha.


September 2015


Hari demi hari alesha menemani aktivitas Arizona yang nyanyi dari panggung ke panggung. Adalah merupakan kebanggaan tersendiri bagi alesha bisa menjadi pacar Arizona yang seorang penyanyi multitalenta, meski masih pemula. Tak jemu-jemunya alesha senantiasa menceritakan ke teman-temannya mengenai Arizona, bahkan kalau Arizona ingin manggung di kafe kafe elit kalangan berkelas, namun sejak kejadian malam itu sahabatnya Virginia tidak lagi menghubunginya dan ia pun sengaja tidak mencari tau keberadaan sahabat nya itu karena ia masih ingat hal apa yang akan terjadi jika Arizona tidak datang malam itu, mungkin ia akan kehilangan keperawannya


akibat ulah sahabatnya itu atau mungkin ia akan me jadi gila.


Suatu malam dibulan September Arizona datang kerumah alesha yang secara tiba-tiba sengaja ingin membuat alesha terkejut tetapi alesha sedang keluar,


Tok tok tok


Arizona mengetuk pintu rumah yang sudah tidak asing lagi ia lihat, dilihatnya seorang wanita separoh baya membuka pintu dan dalam pikirnya itu ibu ya alesha yang pernah


mengintrogasi nya waktu pertama kali nganter alesha pulang. Lalu dipersilahkan


nya Arizona masuk dan menyuruh nya duduk sembari pergi ke dapur mengambil air


minum untuk Arizona seakan akan perilaku wanita ini welcome terhadap kedatangan


Arizona, tak lama wanita separoh baya itu keluar dan meletakkan air minum di atas meja sembari tersenyum ke Arizona


“silahkan di minum nak” ucap wanita separoh baya itu


“makasih bu,” jawab Arizona sembari mikir ibunya alesha sudah berubah kah, atau alesha sudah terlebih dahulu bercerita ke ibunya bahwa ia berpacaran denganku.


“kamu pacar alesha?” ucap wanita separoh baya itu, Arizona yang mendengarnya seakan ingin pergi dari tempat itu, apa yang akan wanita ini katakan kepada Arizona. Wanita separoh baya itu sengaja mengajak ngobrol Arizona dan ia pun berusaha mengorek


keterangan dari Arizona mengenai keluarga pemuda itu.


“nak Arizona dari mana?” ucap wanita separoh baya itu


“kayuagung tante.” Jawab Arizona


“kayuagung” ucap wanita separoh baya itu menegaskan


“iya tante” jawab Arizona


“dimana nak Arizona tinggal?” Tanya wanita separoh baya itu kembali


“di Km 5 tante, dekat pasar km 5” jawab Arizona


“kenal dengan pak pito?” Tanya wanita itu lagi


“iya tante, beliau tetangga saya.” Jawab Arizona


“disebelah mana rumahmu?” Tanya wanita itu


“di depannya agak masuk tante.” Jawab Arizona


“pak maskot?” Tanya wanita separoh baya itu


“itu ayah saya, tante.” Jawab Arizona


“Oh jadi kamu anaknya pak maskot yang kuli panggul di pasar km5 itu ya?” ucap wanita separoh baya itu menegaskan pembicaraan nya


“iya tante” jawab Arizona sambil menundukkan wajahnya


Wanita separoh baya itu tersenyum sinis sambil mengangguk anggukkan kepalanya dengan mata lekat menatap wajah Arizona.


“maaf ya, nak Arizona. Tentunya nak Arizona tahu siapa alesha,kan?” ucap wanita separoh baya itu


“iya tante” jawab Arizona secepat kilat


“dan tentunya nak Arizona tahu keadaan kami, bukan?” ucap wanita itu


“iya tante” ucap Arizona


“terus terang saja, saya tidak setuju kalau anak saya berhubungan dengan anak seorang kuli panggul pasar. Dimana kehormatan dan harga diri kami sebagai keluarga terhormat akan kami taruh, jika anak kami berhubungan dengan anak seorang kuli panggung pasar,


nah sebaiknya mulai sekarang buang dan hapus mimpimu untuk bisa mendapatkan


putriku karena status kita tidak sama” ucap wanita separoh baya itu menegaskan apa yang ia biacarakn.


Bagai tersengat halilintar saja Arizona mendengar kata-kata ibunya alesha. Darahnya menggelegar bagai terbakar. Matanya membuka lebar dengan gigi saling beradu mengeluarkan suara gemerutuk. Jika saja dia tak ingat kalau wanita separoh baya itu adalah ibunya alesha, mungkin sudah dia tampar mulutnya yang telah berani menghina dan memandang rendah ayahnya.


“ibu…..!!!” dari luar terdengar suara alesha membentak. “apa-apaan sih?! Kenapa ibu tega bicara seperti itu pada Arizona bu? Apa hak ibu melarang alesha berhubungan dengan Arizona. alesha tak peduli Arizona anak siapa, alesha mencintainya bu…” ucap alesha sembari meneteskan air mata melirik mata sayu dari lelaki yang dicintainya itu


tertunduk lemas. Alesha tanpa takut lagi melawan ibunya sekarang tidak seperti dulu yang harus selalu menuruti perintah ibunya, karena ia berpikir bahwa Arizona lelaki baik yang memang pantas mendapatkannya.


“tidak! Ibu tak setuju dan tak akan pernah ibu ijinkan kamu berhubungan dengan anak seorang kuli panggung pasar! Kamu anak keluarga terhormat. Mau dikemanakan kehormatan dan harga diri kita kalau sampai orang tahu kamu berhubungan dengan anak kuli panggul pasar?!” ucap ibu alesha menatap lekat wajah alesha dan Arizona seakan ingin dikeluarkan kan matanya hanya untuk melotot ke kedua pasangan itu.


“Ibu……..!!! Hentikannnn !!!” teriak alesha


“terimakasih tante, anda telah menyadarkan diri saya tante, alesha, maafkan saya, mungkin apa yang dikatakan oleh ibumu benar, tak pantas aku yang Cuma anak seorang kuli panggul pasar bermimpi dan berharap bisa mendapatkan dirimu yang dari keluarga terhormat.” Kata Arizona dengan nafas tersengal menahan emosi


“ri…” ucap alesha lirih tanpa ia sadari air matanya terus mengalir dengan derasnya


“maafkan aku, alesha, selamat tinggal dan semoga kamu bisa mendapatkan lelaki yang terhormat serta kaya seperti yang ibumu ingingkan.” Ucap Arizona masih menahan tangisnya


“tiak,ri.. bagiku hanya kamu yang ada dihatiku dan hanya kamu yang akan selalu kucintai sampai mati. Jangan tinggalkan aku ri, aku mohon, ajak aku pergi bersamamu.” Ucap alesha yang sembari memegang tangan Arizona seakan ia sangat memohon kepada lelaki yang


dicintainya itu…….


*bersambung*


>>>next 😊