ALESHA

ALESHA
ALESHA : 29



Gean terus membawa wanita itu ke belakang kelas, di bawah pohon yang rindang, dengan suasana hening jauh dari kerumunan.


Akhirnya genggaman tangan itu ia lepaskan, Celine, wanita yang kini berdiri di depan Gean melukiskan sebuah senyuman manis.


"Hai, kaget yah," ucapnya, menyapa lelaki yang sudah lama tak ia temui itu.


Cantik, satu kata yang bisa menggambarkan paras wanita itu, di tambah senyuman manis yang kini tercetak jelas di bibirnya.


"Kenapa Lo ada di sini?" Gean bertanya dengan hati yang panas.


Celine, wanita itu merubah raut wajahnya menjadi sedih, mendengar pertanyaan Gean yang seakan tak suka dengan kehadirannya.


Celine menundukkan wajahnya, bibirnya ia tekuk ke bawah, "kamu masih marah?" Ucapnya bertanya dengan nada yang terkesan sedih.


Ia langsung saja membawa tubuhnya mendekat, memeluk erat lengan Gean. Kini ia bergelayutan manja, membujuk Gean agar memaafkan kesalahannya.


"Maafin aku, aku bisa jelasin semuanya," jelasnya membujuk Gean agar memaafkannya.


Namun, luka yang menyayat hati Gean bukanlah luka kecil, melainkan sebuah luka besar yang menganga. Luka yang perlahan membaik, berjalan seiringnya waktu di temani kehadiran sosok yang baru, kini kembali terbuka, menyebabkan perih yang mendalam di hatinya.


"Mending Lo pergi, jauh-jauh dari gue!" Seru Gean dengan sorot matanya yang tajam, ia juga menghempaskan tangan Celine dari lengannya.


Tentu Celine terkejut, dengan sikap kasar Gean kepadanya. Dulu, Gean bukanlah lelaki seperti ini, ia selalu bersikap lembut, membentak saja tidak pernah, tapi sekarang, seolah hanya wajahnya saja yang mirip.


Namun, dia seakan bukanlah Gean yang dulu ia kenal.


"Ge-gean, ma-maafin aku," ucapnya lagi, ia kembali mendekat, membawa tangannya mencengkeram seragam Gean.


"A-ku emang salah, tapi, aku sayang sama kamu Ge, maafin aku, aku salah, aku salah udah pergi tanpa kabar, tapi kamu harus tau, selama ini aku gak pernah sekalipun gak mikirin kamu Ge!" Lanjutnya.


Mencoba menjelaskan keadaanya saat itu, berharap jika saja Gean akan luluh dan menerima permintaan maafnya itu.


Tidak hanya di situ, Celine kini semakin menempelkan tubuhnya, ia mendongak, menatap Gean dengan matanya yang sudah berlinang air mata.


Mungkin, luka itu sangatlah besar, tapi mungkin, rasa yang dulu pernah ada juga begitu besar, Gean kini tak sanggup melihatnya.


Walau ia tahu kini ada hati wanita lain yang harus ia jaga, namun wanita yang kini di hadapannya juga memiliki masa lalu yang sulit untuk ia lupakan.


Gean membawa tangannya, ia segera menghapus air mata itu. Kemudian membawa Celine ke dalam dekapannya. Wanita yang dulu sangat ia cintai, wanita yang tiba-tiba pergi menghilang entah kemana, membuatnya hancur dan terluka, kini tiba-tiba kembali, membawa semua kenangan yang mulai ia lupakan.


"Ma-maafib aku Ge," isak Celine, menangis di dalam pelukan hangat Gean.


Gean terdiam, walau ia sadar tengah memeluk wanita yang selama ini ia tunggu, dirinya seakan hampa, ada rasa senang, tetapi ada rasa janggal, seakan tak seperti dulu.


Rumah Alesha


Alesha tengah berbaring di atas ranjangnya, baru saja kemarin ia bertemu Gean. Namun, rasanya hati ini begitu rindu, rindu akan sosoknya, suaranya, candanya, juga pelukan hangatnya.


Ia menatap ke langit-langit, memikirkan sedang apa gerangan calon suaminya itu. Ia kembali mengingat, ketika kemarin Gean membawanya ke dalam sebuah dekapan yang hangat.


Alesha tersenyum, bak orang sedang jatuh cinta. Benar, nyatanya ia tengah jatuh cinta kepada Gean, untuk yang sekian kalinya. Jatuh cinta dan jatuh cinta lagi, ia bersyukur bisa bertemu lelaki seperti Gean.


Lelaki yang tiba-tiba datang dan mewarnai harinya yang gelap. "Gean. Aksa. Pratama." Ucap Alesha, menyebut nama lelaki yang terus terngiang-ngiang di pikirannya itu.


"Ah, gue kangen!" Pekiknya tak sadar, dengan cepat ia menutup mulutnya itu, takut jika sang ibu dan ayah mendengarnya.


"Lagian kenapa sih Ge, kenapa Lo tuh sweet banget! Gue kan jadi susah buat gak mikirin Lo!" Alesha senyum-senyum sendiri, benar-benar sudah hilang akal, hanya karena Gean, ia seakan melayang terbang tinggi di buatnya.


Tanpa Alesha tahu, lelaki yang kini tengah ia pikirkan, lelaki yang ia rindukan, lelaki yang membuatnya jatuh cinta untuk ke berapa kalinya, tengah memberikan sebuah dekapan kepada wanita lain.


Dekapan yang Alesha rindukan, kini tengah di rebut oleh wanita lain, wanita yang mungkin akan merebut lelaki yang ia cintai itu.


Tapi, Alesha tidak tahu, bahkan sekarang ia terus memikirkan Gean, berharap Gean akan segera kembali untuk menemuinya, tak sedikitpun Alesha berpikiran yang tidak-tidak kepadanya.


Apa akhirnya Gean akan melukai perasaan Alesha? Apa Alesha akan kembali hancur karena seorang lelaki?


Author harap tidak.


Setelah hari ini, Alesha terus menunggu sosok lelaki yang akan menjadi calon suaminya itu, tapi satu hari, dua hari, 1 Minggu, Gean kembali menghilang.


Alesha berpikir, mungkin Gean tengah sibuk di sekolah, atau mungkin ada keperluan lain, lagipula Alesha berpikir mungkin dirinya yang terlalu berlebihan, mengharapkan Gean untuk sering berkunjung menemuinya.


Maka dari itu, Alesha terus berpikir positif, tanpa berprasangka buruk apapun kepadanya. Alesha yakin, Gean berbeda dengan lelaki manapun, Alesha yakin, Gean pasti akan menepati janjinya.


Janji menjadi suami, juga ayah yang baik untuk calon bayinya nanti dan Alesha, percaya itu.


"Nak," panggil Ibu Alesha yang kini berjalan masuk ke dalam kamar.


Ia tersenyum, merangkul Alesha ke dalam dekapannya.


"Lagi mikirin apa?" Tanya sang ibu, Alesha menggeleng.


"Gak ada Bu," balasnya.


Ibu Alesha kembali tersenyum, mengusap lembut kepala putrinya itu. "Ya sudah, kita jalan-jalan di taman yuk, kamu harus banyak jalan, biar Bayu di perut kamu ini sehat," ajak ibu Alesha, yang kemudian di setujui Alesha.


"Ayo Bu!" Serunya dengan semangat.


Alesha tersenyum, setelah kejadian di hari itu, Alesha meminta maaf, kedua orang tuanya pun akhirnya memaafkan dirinya.


Mereka pikir tak ada gunanya jika harus terus mempersalahkan apa yang sudah terjadi. Toh, semua itu telah terjadi. Semenjak hari itu, kedua orang tua Alesha mulai mempersiapkan segala kebutuhan Alesha, bukan sebagai Alesha yang biasa, namun Alesha yang tengah mengandung.


Dari mulai susu ibu hamil, makanan sehat dan bergizi asupan ibu hamil, bahkan kedua orang tuanya pun menyampingkan rasa malu, mereka membawa Alesha ke bidan untuk memeriksakan kandungannya itu.


Dan, Alesha sangat bersyukur, memiliki kedua orang tua yang sangat baik dan peduli kepadanya. Alesha ingat, sang ayah pernah berkata,


"Marah? Tentu ayah marah, tapi ayah gak akan marahin kamu, toh semua sudah terjadi, mau kamu hamil atau ngga, kamu itu tetap anak ayah," ujar sang ayah di hari itu.


Tentu, Alesha menangis setelah mendengarnya, ia merutukki dirinya yang sudah berbuat kesalahan besar sehingga membuat kedua orang tuanya sedih.


Tapi, kedua orang tuanya kini selalu membantu Alesha, agar menyiapkan diri menjadi seorang ibu yang baik. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi, masa lalu di miliki setiap orang, jadikanlah sebuah motivasi menjadi lebih baik.


Jangan terlalu menghakimi diri sendiri, menyesal boleh, tapi jangan terlalu bersedih, jadikanlah kesalahanmu menjadi tumpuan bagimu untuk menjadi lebih baik di masa depan.


Masa lalu ada, untuk masa depan yang menunggu.


...Ad.Yul...