
"Akhhh!" Teriak Alesha ketika sebuah bola terlempar keras ke perutnya.
Ia jatuh terhuyung, membuatnya kini terduduk lemas sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Sha! Kenapa? Apa yang sakit?" Tanya Karin dengan raut wajah khawatir.
_Sesaat sebelumnya_
Setelah istirahat tadi, bel pun berbunyi menandakan kelas akan segera di mulai, dan kebetulan pada hari ini kelas Alesha berjadwal olahraga.
Alesha pun bergegas mengganti baju dan berkumpul di lapangan bersama yang lain, begitu pula Karin.
Kebetulan hari ini, jam pelajaran olahraga kelas Alesha di satukan dengan salah satu kelas di mana ada Naya.
Hari ini, mereka akan bermain bola volley. Awalnya Alesha berniat untuk menonton saja, karena ia tahu hal itu sedikit berbahaya baginya yang tengah mengandung.
Namun, seakan sengaja, Naya menantang kelas Alesha, dirinya juga menyuruh Alesha untuk ikut turun ke lapangan.
"Udah sha, kalo lagi gak enak badan gak usah di paksain. Gue bisa gantiin Lo." Ujar Karin, mencoba menahan Alesha.
Namun, Alesha yang merasa di tantang, juga di remehkan oleh mantan sahabatnya itu tidak bisa diam saja. Ia menyetujui tantangannya itu, Alesha akhirnya turun ke lapangan.
Awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai pada saat Naya memukul bola dengan sedikit keras pas ke arah Alesha. Membuat bola itu menghantam tubuh Alesha.
Alesha mengasuh kesakitan, ia terhuyung jatuh ke lapangan. Karin yang melihat hal itu langsung berlari ke arah Alesha.
"Sha! Sha! Lo gakpapa kan! Apa yang sakit!" Tanya Karin dengan raut wajah khawatir.
Alesha meremas perutnya, ia merasakan sakit yang teramat di bagian perut. Karin yang melihat itu mulai meraba perut Alesha.
"Ini? Ini yang sakit?" Tanyanya, Alesha mengangguk, dengan air mata yang bercucuran.
Kini para siswa dan siswi mengerubungi Alesha yang tengah kesakitan. Begitu juga Naya, ia hanya menatap Alesha jauh, melihat mantan sahabatnya itu kesakitan, Naya hanya terdiam menatap kosong ke arah Alesha.
"Ge-gean," ucap Alesha dengan tergagap.
Karin yang mendengar ucapan lirih Alesha mencoba mendekatkan wajahnya ke arah Alesha. "Apa sha?" Tanyanya lagi.
Tiba-tiba, dari jauh Gean yang berada di kelas, mendengar keributan di luar kelasnya, ia menoleh sedikit ke arah jendela, dengan sedikit jelas Gean melihat Alesha yang kini terduduk lemas di lapangan.
Matanya membelakak, ia langsung bangun dan berlari keluar kelas, tanpa menghiraukan guru yang tengah mengajar. Andi, Naufal dan Reyhan yang melihat Gean berlari pun Ikut mengikuti ketuanya itu.
Gean langsung saja masuk ke dalam kerumunan itu, ia kini dengan jelas melihat Alesha yang tengah terbaring di pangkuan Karin.
"Gean! Gue Alesha, gu-gue gatau dia kenapa, ta-tapj tadi dia kena bola." Jelas Karin, menjelaskan sedikit kejadian yang menimpa Alesha.
Dengan cepat Gean membawa tubuh Alesha ke dalam pengakuannya. Di saat itu, semua orang melihat bercak merah yang kini tercetak jelas di lapangan. Gean kembali terkejut, ia tahu jelas apa itu.
"Darah!" Teriak Karin.
"Alesha berdarah Ge! Cepet bawa dia ke rumah sakit!" Ucap Karin, yang semakinkhawatur dengan keadaan teman barunya itu.
Gean mengangguk, ia berjalan dengan cepat membawa Alesha ke parkiran. Namun, tiba-tiba Gean terpaksa berhenti ketika seorang guru memberhentikan dirinya.
"Mau kemana kamu Gean!" Ujar guru itu.
Gean menghembuskan nafasnya kasar, "Awas pak! Saya harus bawa Alesha ke rumah sakit!" Jelas Gean.
"Turunkan Alesha biar bapak yang bawa dia ke UKS." Balasnya.
Gean yang melihat Alesha terus mengasuh kesakitan, semakin di buat kesal oleh gurunya itu. "ALESHA HARUS DI BAWA KE RUMAH SAKIT PAK!" Balas Gean kini dengan nada yang lebih tinggi.
Pak guru yang tak terima mendapat bentakan dari Gean semakin enggan melepaskan Gean. "TURUNKAN ALESHA! DIA HANYA PERLU KE UKS! UNTUK APA JAUH-JAUH KE RUMAH SAKIT!" Ujar pak Adam Guru olahraga.
"AN**NG! MINGGIR BOTAK!" Teriak Gean memaki guru olahraganya itu, sembari mengoloknya yang tak memiliki rambut.
"ALESHA ITU HAMIL! KALO SAMPE TERJADI APA APA SAMA JANIN NYA! GUE GAK AKAN LEPASIN LO!" Seru Adam, sorot mata elang juga mata merah, membuat orang-orang di sana bergidik ngeri.
Hampir semua yang ada di sana terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Gean. Tak terkecuali Karin, Andi, Naufal juga Reyhan. Mereka sama terkejutnya dengan dengan apa yang telah mereka dengar.
Mereka saling melempar tatap, masih bingung dengan apa yang di ucapkan Gean. Naufal yang di tatap oleh Karin kini hanya mengangkat bahunya tak tahu apa-apa.
Gean yang memang sudah di ambang kesabaran, menatap guru olahraganya itu dengan sorot mata tajam. Tak ada yang bisa menghentikannya, tak satu pun membuat Gean takut.
Andi, Naufal dan Reyhan yang sudah paham sifat Gean langsung berjalan maju membantu Gean agar bisa segera pergi melewati guru olahraga nya itu yang masih diam seperti patung. Sepertinya pak Adam masih terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
Mereka mendorong mundur pak Adam, menjauhkannya dari Gean, membuat Gean bisa berjalan melewati gerbang menuju parkiran.
Di sana Gean langsung saja memasukkan Alesha ke dalam mobil, Karin yang sedari tadi mengikuti di belakang Gean kini ikut duduk di kursi belakang sembari menopang Alesha.
Gean dengan cepat masuk ke kursi kemudi, ia langsung saja menjalankan mobilnya itu dengan kecepatan penuh. Membuat Karin sedikit ketakutan, melihat Gean yang sangat gelisah di karenakan keadaan Alesha.
"Sha, bertahan sha, gue bakalan bawa Lo ke rumah sakit, sabar yah." Ucap Gean sembari terus fokus menyetir.
Sepanjang perjalanan, Gean terlihat sangat gelisah, sesekali ia memukul setirnya itu karena frustasi dengan mobil di depannya. Gean terus memijit klaksonnya ketika ada mobil yang menghalangi jalannya.
"Sha, sha, sabar yah, tunggu, Lo bakalan baik-baik aja, sabar yah." Ucap Gean terus menerus, seakan menenangkan Alesha.
Karin yang melihat hal itu semakin yakin, Gean sangatlah mencintai Alesha, dulu Karin juga pernah melihat Gean seperti ini, namun ia hancur karenanya.
Kini, Gean kembali menemukan seseorang yang kembali berarti di hatinya, dan dia adalah Alesha.
Maka dari itu, Karin tahu bahwa Gean pasti akan mempertaruhkan segalanya untuk Alesha, bahkan nyawa sekalipun. Karena dia adalah Gean, yang akan melindungi Alesha.
Setelah beberapa saat, akhirnya mobil Gean terparkir di rumah sakit. Ia langsung saja keluar dan memangku Alesha kembali. Ia masuk dengan wajah pucat, melihat Alesha yang sudah sangat lemas.
"Suster! Dokter! Tolong!" Teriaknya.
Akhirnya, Alesha langsung di pindahkan ke sebuah ranjang rumah sakit, ia juga langsung di bawa ke dalam ruang tindakan, membuat Gean hanya bisa mengantarnya sampai pintu saja.
Gean menghempaskan tubuhnya jatuh ke lantai rumah sakit. Ia memijit kepalanya frustasi, seakan takut kehilangan Alesha.
"Ge, gue yakin Alesha bakalan baik-baik aja." Karin mencoba menenangkan Gean.
Ia membawa tubuh Gean, agar duduk di kursi, dan baru kali ini Karin melihat Gean yang meneteskan air matanya.
"Setakut itukah Gean?" Batin Karin.
Gean menangis, bak bukan Gean yang selalu ceria di hadapan Alesha. Juga bukan Gean yang selalu terlihat dingin dan mematikan yang Karin ketahui.
Disini, Karin melihat Gean yang menangis ketakutan. Dirinya ketakutan hanya karena seorang perempuan yang baru beberapa waktu ia temui.
Dan itu, adalah Alesha.