ALESHA

ALESHA
ALESHA : 25



Deru mobil terdengar, berhenti tepat di depan rumah Alesha. Semuanya menoleh, mengalihkan semua perhatian mereka tertuju kepada dua orang yang baru saja turun dari mobil.


"Gean!" Teriak lelaki paruh baya yang masih terlihat bugar itu.


"Pah," jelas kedua bibir Gean itu mengucapkan satu kata yang telah menjelaskan siapa sosok pria paruh baya itu.


"Jadi anda orang tuanya Gean!" Seru Pak Aryanto dengan nada yang tidak bersahabat tentunya.


"Benar, saya orang tuanya Gean." Pak Robi, Papah Gean membenarkan hal itu.


Sebuah senyuman sinis tersungging di bibir Pak Aryanto, ia memberikan aba-aba mempersilahkan Pak Robi untuk duduk.


"Bagus kalo begitu, saya harus membicarakan sesuatu yang sangat penting tentang anak Bapak." Jelas Pak Aryanto, tentu saja kita tahu hal apa yang akan mereka bicarakan.


Singkat waktu, Pak Aryanto telah membeberkan semua kejadian yang sangat membuatnya terpukul, merasa malu dan kecewa akan perbuatan Alesha juga Gean.


Kesalahpahaman ini belum juga tertuntaskan, Gean masih menjadi tersangka utama dalam permasalahan ini, sekuat apapun Alesha mencoba meluruskan semuanya, hasilnya tetap sama.


Ayahnya sudah lagi tak mau mendengar semua kata yang keluar dari mulutnya. Sedih, itu yang Alesha rasakan, namun kini, ia lebih kebingungan bagaimana cara melepaskan Gean dari kesalahpahaman ini.


"Ayah, Gean bukan!"


"DIAM!" Bentak sang ayah.


Sontak Alesha langsung terdiam, tetes demi tetes tak lagi bisa membuat Ayah nya itu iba.


"Ayah gak mau denger apa-apa lagi Alesha! Ayah sudah sangat kecewa dengan kamu! Sekarang kamu diam, biar Ayah yang bereskan semuanya!" Ujar Pak Aryanto.


Gean yang melihat itu semakin menciut untuk mengucapkan sepatah kata, lebih baik diam pikirnya.


Toh, jika harus menikah dan bertanggung jawab, Gean sudah siap, ia rela dan akan bersungguh-sungguh menjaga Alesha.


Walau nyatanya Gean tak harus menanggung semua ini, tapi entahlah, Gean malah tidak terlalu memikirkannya.


"Saya siap," ucap Gean.


Alesha membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang Gean ucapkan.


"Bagus! Kalaupun kamu belum siap, saya tetap akan meminta pertanggung jawabanmu kepada putri saya!" Cecar Pak Aryanto.


"Sekali lagi, saya minta maaf atas perbuatan anak saya yang sudah sangat kelewat batas, tapi, apakah tidak ada jalan keluar lain?" Tanya Pak Robi merasa kurang yakin dengan keputusan Pak Aryanto.


"Jalan keluar lain?" Pak Aryanto mengerutkan keningnya.


"Iya Pak, Gean masih sangat muda, putri Bapak juga, bagaimana bisa mereka yang masih muda, harus mengemban tugas yang sangat berat," jelas pak Robi.


"Rumah tangga itu bukan hal yang mudah Pak, bagaimana bisa Gean dan Alesha menikah di usia muda ini, coba kita cari jalan keluar lain pak, saya sepertinya kurang setuju jika harus menikahkan mereka." Lanjutnya.


Deru nafas yang kini membara, jantung yang berdetak semakin kencang, juga mata yang kian membesar dengan sorot tajam yang terpancar darinya.


Brakkkkkk!


Pak Aryanto seakan tak bisa lagi menahan amarahnya yang kian membuncah, tangannya mengepal kuat, wajahnya yang sudah merah padam terlihat jelas di bawah cahaya lampu.


"Bapak bilang tak setuju akan menikahkan putra bapak dengan putri saya!"


"Lalu, jalan keluar apa yang Bapak cari! Anak saya tak butuh harta atau apapun! Apa Bapak tidak sadar apa yang sudah anak Bapak lakukan kepada putri saya!"


"Saya sedang mempertahankan harga diri anak saya! Cara lain? Hah!"


Dari duduk hingga berdiri, saking marah dan kesalnya Pak Aryanto, "mereka memang masih muda! Tapi apa yang sudah mereka lakukan tetap harus mereka pertanggung jawabkan! Sekarang, Bapak memilih untuk mencari jalan lain! Jalan apa itu pak! Bapak mau saya menyuruh anak saya mengugurkan janinnya!"


"Walaupun janin yang ada di perut anak saya itu bukanlah hal yang saya inginkan! Tapi dia tetaplah darah daging anak saya pak! Dia tetaplah makhluk yang tak bersalah! Walau saya sudah kalang kabut dengan perilaku putri saya! Pikiran saya masih jernih!"


Mata yang kian memerah, amarah yang menggebu bercampur aduk dengan rasa sakit dan kecewa, tangis yang tak di undang pun datang, kata per kata yang terucap kini berhias air mata yang menetes, menyiratkan rasa sakit yang begitu dalam.


Pak Aryanto kembali mendudukkan bokongnya, kedua tangannya menangkup wajahnya yang sudah basah, tangis yang sedari tadi ia tahan, kini terlepas begitu saja.


Alesha semakin merasa sedih, merutukki dirinya sendiri yang sudah membuat sang ayah begitu hancur.


"Berzina saja sudah sangat berat dosa yang ia tanggung, apalagi harus mengugurkan janin yang bernyawa itu, harus seberat apa dosa yang putri saya tanggung,"


"Ya Allah, ampunilah hamba mu ini ya Allah, ampunilah hamba yang tidak mampu mendidik anak hamba," pilu sang ayah, merasa bersalah atas segala hal sudah terjadi.


"Saya siap Pak, saya siap bertanggung jawab, apapun konsekuensinya, saya akan bertanggung jawab." Gean berucap bak air yang mengalir.


Tak ada keraguan yang terdengar dari ucapannya, sontak Pak Robi yang duduk di sebelah Gean kini menoleh, menatap anaknya itu dengan sebuah gelengan kecil.


"Gean bakalan tanggung jawab Pah, Gean bukan laki-laki pengecut kaya Papah!" Serunya, seakan akan menyindir lelaki paruh baya itu.


Anita, wanita yang sedari tadi duduk di samping Robi, wanita yang kini berstatus sebagai ibu dari anak-anaknya, membelalakkan mata seakan terkejut dengan perkataan Gean.


"Gean, kamu harus pikirkan gimana masa depan kamu nak, kamu gak bisa ambil keputusan seperti ini dengan mudah seperti itu!" Ucap Anita setelah sekian lama bungkam.


Gean terlihat menyunggingkan senyumannya, tatapan nanar ia arahkan ke arah ibunya itu, lebih tepatnya ibu sambung.


"Tenang aja, Gean udah yakin ko Tan, Tante gak usah sok peduli, karena Gean gak akan biarin Alesha berakhir kaya wanita yang udah Papah sia-siain!" Jelas Gean, membuat Anita diam tak bergeming.


Akhirnya, Gean pun setuju untuk menikahi Alesha, walau kenyataannya Gean tak perlu untuk melakukan hal itu, namun nyatanya Gean memang sudah jatuh hati pada Alesha, ia sudah tak peduli dengan apa yang terjadi pada Alesha, yang Gean mau sekarang hanyalah Alesha.


"Bagus, saya akan menikahkan kamu dengan putri saya setelah anak ini lahir, jangan berani-berani kamu kabur, atau saya akan cari kamu dan menyeret kamu kesini!" Ujar Pak Aryanto.


Gean mengangguk, ia sudah sangat siap dan tak ada niatannya untuk pergi dari semua ini.


Namun, berbeda dengan Robi, Papah Gean itu seakan bingung dan bimbang, terlihat raut wajah kesal dan kecewa dengan keputusan akhir ini.


"Baik, kalo memang ini keputusan akhirnya, tapi, sebelum Gean akhirnya menikah dengan putrimu, Gean akan melanjutkan sekolahnya, juga setelah menikah, Gean akan melanjutkan kuliahnya." Jelas Robi.


"Memangnya anakmu itu bisa melanjutkan sekolahnya setelah apa yang ia lakukan kepada putriku!"


"Tenang, urusan itu biar saya atur, yang penting anda setujui hal ini lalu saya juga akan setuju dengan keputusan anda."


Pak Aryanto pun akhirnya menyetujui kesepakatan itu dengan Pak Robi, toh menurutnya itu bukanlah hal yang merugikan, jika Gean tetap bisa bersekolah bukankan untung, jadi nantinya Gean bisa mencari pekerjaan dengan mudah dan itu akan menguntungkan Alesha.


Setelah hari itu, Gean kembali ke rumah keluarga besarnya, caci maki pun keluar dari mulut Papahnya. Sebab apa yang Gean lakukan sudah menodai nama besar keluarganya, apalagi Gean adalah salah satu calon penerus dari keluarga Pratama.


Namun, semua sudah terlanjur terjadi, apa yang sudah terjadi tak bisa kembali diputar.


Gean kini hanya bisa diam menerima segala sumpah serapah yang keluar dari mulut Papahnya itu, juga mulai hari ini, ia harus menjaga rahasia akan fakta yang sebenarnya.


Jika sampai fakta ini terungkap, pernikahan Gean dan Alesha pun akhirnya bisa gagal dan Gean, tak menginginkan hal itu terjadi.