ALESHA

ALESHA
ALESHA : 10



Lagi dan lagi, kini Alesha kembali hancur. Dirinya seakan tak bisa merasakan kebahagiaan yang menerus, selalu akhirnya ia terjatuh. Alesha tak dapat berbuat apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur, dirinya sudah hancur.


Alesha masih terduduk lemas di bawah wastafel sembari terus menerus meneteskan air matanya yang hampir habis.


Sedang kini Gean masih berdiri diam sembari terus mengepalkan lengannya, tak menghiraukan rasa sakit pada luka yang telah ia berikan pada jemarinya itu.


Gean merasa kebahagiaannya baru saja terenggut, wanita yang beberapa hari ini telah menemaninya, mengisi hari-harinya. Kini harus ia relakan pada lelaki yang bisa-bisanya membuat Alesha terluka.


"Sialan!" umpat Gean dengan gemeretuk di giginya.


Alesha mengacak kasar rambutnya, ia tak bisa lagi, dirinya merasa semua sudah tak bisa lagi.


"Arghhhhhh!" teriak Alesha, Gean menatap ke arah bawah. Melihat Alesha yang kini terlihat lebih parah dibandingkan dirinya.


Matanya yang sembab tercetak jelas di wajah pucatnya, juga tak lupa air matanya yang masih menetes, padahal ia sudah sangat lama menangis.


Gean tak bisa, walau ada sedikit rasa kesal dan marah dalam hatinya, Gean tak bisa. Ia tak bisa melihat Alesha yang kini terlihat begitu hancur, itu lebih membuat Gean merasa sakit.


Gean dengan cepat berjalan mendekat ke arah Alesha, ia langsung merengkuh tubuh mungil Alesha, membawanya ke dalam pelukan hangat yang sedikit demi sedikit membuat Alesha sedikit tenang.


"Ge, gu.. gue harus gimana? gue harus gimana Ge?" tanya Alesha dengan tangisnya.


Tangisannya kembali pecah ketika Gean membawanya ke dalam sebuah pelukan, Alesha sakit, ia merasa hancur.


"Gue harus gimana Ge, gue salah Ge, gue salah..." ucap nya terus, terdengar suara pilu yang benar-benar putus asa.


Gean semakin membawa Alesha ke dalam pelukannya, ia beberapa kali menciumi puncak kepala Alesha. Tak lupa tetesan-tetesan air mata yang juga tak bisa lagi Gean bendung.


"Gue disini Sha, gue disini..." ujar Gean menenangkan, Gean mencoba kuat.


Gean tak tahu mengapa dirinya seakan tak rela melihat Alesha yang kini menangis di hadapannya. Alesha yang selalu bersikap angkuh padanya, selalu acuh layaknya wanita yang kuat. Kini tengah duduk lemas di lantai kamar mandinya sembari menangisi hal yang sudah tak bisa ia rubah.


Gean marah, ia sangat marah. Namun, pada siapa Gean harus melepaskan amarahnya ini?.


Alesha? Tidak, Gean yakin Alesha tidak mungkin melakukan hal bejat seperti itu dengan mudah, lalu siapa lelaki yang dengan berani menyentuh wanitanya itu!


"Alvin Ge," ucap Alesha kecil, seperti tahu apa yang Gean pikirkan.


Gean yang mendengar ucapan Alesha kini melepaskan pelukannya, ia memegangi kedua pundak Alesha, menatap wajah pucat itu.


"Siapa?" tanya Gean,


"A, Alvin Ge..." jawab Alesha, mengulangi yang baru saja ia katakan.


Gean mengepal kuat, dirinya ingat lelaki bernama Alvin itu, adalah lelaki yang ia temui di UKS, juga lelaki yang menghadangnya di jalan menuju UKS dulu, lelaki yang selalu mengejar Alesha.


Lelaki sialan itu!


Gean mengepal kuat, ia berniat untuk bangkit. Namun sebuah tangan terlebih dahulu memegang kaos hitam yang dipakai Gean.


Alesha, dirinya memegang kuat kaos Gean, dengan sisa-sisa tenaganya.


"Jangan pergi," Alesha berusaha mencegah Gean untuk pergi.


Bukan ia takut Gean melakukan hal aneh, tapi memang dirinya butuh Gean saat ini. Alesha, membutuhkan Gean.


Gean menatap kekasihnya itu. Yah, tentu saja Alesha masih kekasihnya kini. Gean menatap Alesha, dirinya tak sanggup melihat Alesha yang terlihat begitu menyedihkan. Tidak, ia tidak boleh!


Gean kembali menyamakan tinggi badannya dengan Alesha, ia berjongkok di hadapannya. Gean membawa tangannya menyentuh wajah Alesha yang kini terasa basah.


Mata Alesha bertemu mata Gean, keduanya saling bertatapan. Gean mencoba tersenyum, ia menahan air matanya yang kian lama kian terbendung di ujung kelopak matanya.


"Sha, jangan nangis. Tuan puteri gue gak boleh kaya gini! Gue gak suka." Ujar Gean, Alesha kembali meneteskan air matanya.


"Stop, jangan nangis lagi." Timpal Gean, tapi Alesha menggeleng kecil, ia tak bisa.


Akhirnya Gean mengangguk lalu membawa jemarinya mengusap air mata yang masih terjatuh di pipi Alesha.


"Oke, gue bolehin Tuan puteri gue nangis hari ini, tapi inget! Cuman hari ini. Gak ada lagi nangis-nangis di hari lain, oke!" Ucap Gean, seperti membuat kesepakatan dengan Alesha. Alesha sama sekali tak bergeming, ia masih terus menangis.


Gean menghela nafas, menatap ke bawah lantai lalu kembali menatap Alesha.


"Lo tau, mungkin pepatah bilang, nasi udah jadi bubur! Orang pasti bilang, semua ancur kalo udah gitu, iya kan." Ujar Gean, Alesha masih terdiam.


"Buat gue nggak! Buat gue, lo masih bisa buat bubur lo lebih enak dibandingin nasi! Ini bukan akhir Sha, lo harus bangkit! Ini baru awal!" ujar Gean lagi, Alesha yang mendengar hal itu kembali menangis lebih kencang, ia tak tahu harus bagaimana lagi.


"Lo harus kuat Sha! Gue ada disini, gue bakalan jadi apapun yang lo butuhin biar bubur lo lebih menarik di bandingin nasi yang lain! Gue bakalan selalu disini Sha!"


Alesha membalas pelukan Gean, ia membawa kedua tangannya melingkar di tubuh Gean, seakan menyatakan kepada Gean untuk jangan pergi, jangan meninggalkannya.


Alesha benar-benar membutuhkan Gean, jika benar ini awalnya, ia harap Gean selalu bisa bersamanya walau mungkin ini semua adalah harapan yang tak bisa ia dapatkan.


Malam hari


Waktu semakin cepat berjalan, siang telah berubah menjadi gelapnya malam. Namun kini, terlihat Alesha yang masih terbaring di atas ranjang Gean.


Alesha meminta tolong kepada Gean untuk berbohong kepada orang tuanya, agar ia tidak pulang hari ini. Alesha tak mau membuat orang tuanya cemas karena melihat kedua mata sembabnya, apalagi Alesha belum siap untuk mengatakan semuanya.


Entah apa yang dikatakan Gean kepada orang tuanya, tapi kini dirinya masih bisa tetap diam di atas ranjang Gean yang terasa nyaman ini.


"Sha," panggil Gean, Alesha berbalik dan menoleh, ia menemukan Gean yang berada di ambang pintu.


"Ayah sama Ibu lo bolehin lo nginep disini." Ujar Gean, membuat Alesha sedikit lega.


Namun, dirinya sedikit bingung, bagaimana bisa Gean mendapat ijin dari sang Ayah. Alesha menatap Gean dengan tatapan tanya, bagaimana bisa?.


Gean yang mengerti maksud tatapan Alesha, menggendikkan bahunya.


"Gatau, gue gak bilang apa-apa. Ayah lo telpon gue, minta buat jagain lo malem ini, soalnya mereka mau pergi ke Rumah Nenek lo katanya." Jelas Gean,


"Jadi, yaudah gue iya in aja." Lanjut Gean.


Alesha mengangguk kecil, tapi tetap merasa aneh dengan sikap Ayahnya yang bisa begitu dekat dan mudah memberikan ijin kepada Gean, apalagi meminta tolong untuk menjaga dirinya ini.


Gean berjalan mendekati Alesha yang masih terbaring di ranjangnya. Alesha yang melihat itu mencoba bangkit.


"Lo tunggu sebentar yah," ujar Gean, Alesha mengernyit.


"Mau kemana?" tanya Alesha.


"Mau keluar bentar, lo tunggu disini. Gue gak akan lama ko." Balas Gean, Alesha pun akhirnya mengangguk.


Gean tersenyum tipis, lalu membawa tangannya mengusap lembut puncak kepala Alesha. Alesha yang mendapat perlakuan Gean terlihat kaget dengan itu. Namun, ia tak bisa berbohong, bahwa usapan yang Gean berikan memang, nyaman.


"Yaudah, gue berangkat yah. Lo diem, jangan kemana-mana." Ucap Gean sembari bangkit dari duduk nya dan melangkah meninggalkan kamar.


Alesha terlihat begitu sedih setelah hilangnya punggung Gean yang tertutup pintu kamar. Rasanya seperti Alesha tak mau jauh dari Gean. ia menginginkannya, menginginkan Gean untuk selalu menemaninya.


Egois memang, ketika dirinya yang sudah kotor ini menginginkan Gean yang lebih baik dari apapun.


Alesha kembali meneteskan air matanya, ia sungguh sangat merasa bahwa dirinya sudah tak mampu untuk meneruskan semuanya.


Bagaimana ia berbicara pada orang tuanya?


Bagaimana caranya berbicara pada Alvin?


Bagaimana caranya Alesha meneruskan hidupnya?


Bagaimana?


Mungkin jika tak ada Gean, Alesha akan segera menghentikan hidupnya, tapi Gean ada disini, Gean menjadi alasan baru untuk Alesha bertahan, dan kini


Alesha menatap ke arah perutnya yang masih rata itu, ia meneteskan air matanya, membawa satu tangannya untuk mengusap kecil perutnya.


Alesha terus menerus menatap perutnya, ia menatap ke atas langit-langit berusaha meredam tangisannya. Namun, ia tak bisa, pecah lah tangisannya yang kini memenuhi kamar Gean.


"Maafin Shasa Ayah, Ibu..." ucapnya dalam tangis.


"Alesha salah Bu, maafin Alesha..."


"Arghhhhhh!"


Sebenarnya Gean belum meninggalkan Apartemennya, ia masih terdiam di balik pintu kamar. Gean mendengar Alesha yang kini menangis sejadi-jadinya. Hatinya terluka, Gean marah, ia tak suka melihat Alesha yang lemah ini. Gean mengepal kuat, ia berjanji dalam hatinya, bahwa dirinya tak akan pernah meninggalkan Alesha, ia akan selalu disampingnya.


"Gue akan selalu nemenin lo Sha, lo harus kuat." Gumam nya,


Gean begitu mencintai Alesha, walau hanya beberapa hari, Gean benar-benar telah jatuh hati pada wanita itu.


ALESHA.