
"Siapa?" Alesha bertanya dengan kedua alisnya yang bertautan.
Belum sempat Gean membalas pertanyaan dari Alesha, tanpa Gean sadari kini Celine sudah berdiri tepat di sampingnya.
Ia juga tak segan-segan membawa tangannya langsung melingkar di lengan Gean. Sontak Gean langsung menghempaskan tangan Celine karena terkejut.
Alesha hanya bisa diam menatap Gean yang kini terlihat begitu tegang, sorot matanya seolah menutupi suatu hal darinya.
"Siapa dia Ge?" Tanya Celine yang kini sadar akan kehadiran Alesha.
Gean semakin menegang di buatnya, bingung dengan jawaban apa yang harus ia berikan. Sebenarnya, Gean bisa saja memberitahukan bahwa Alesha adalah calon istrinya.
Namun, ada sedikit keraguan di hati Gean. Apa boleh, apa sebaiknya berkata seperti itu?.
Atau, lebih baik tak memberitahunya saja?. Batin Gean, kebingungan.
"Gue-" tiba-tiba Alesha berucap hendak memberitahukan siapa dirinya.
Ia seperti terpancing amarahnya dan ingin membuat wanita di hadapannya itu tahu bahwa Alesha adalah calon istri Gean.
Namun, belum selesai Alesha mengucapkan kata demi kata yang mau keluar dari mulutnya.
"Sepupu gue!" Tukas Gean dengan cepat.
Alesha dengan cepat menoleh, menatap Gean dengan raut wajah kecewa. Walau Alesha tahu bahwa keputusannya tadi memang sangat bodoh dan ceroboh.
Namun, mendengar Gean yang menutupi statusnya di hadapan wanita cantik itu membuat Alesha merasa sedih.
"Oh, sepupu kamu." Sahut Celine sembari mengembangkan senyumannya bisa bernafas lega.
Berbeda dengan Gean yang kini ikut menoleh dan menatap Alesha yang memalingkan wajahnya. Rasa bersalah pun menyeruak di dalam hatinya, merasa sudah pasti menyakiti hati Alesha.
Tapi, Gean masih belum bisa memastikan hatinya. Masih ada sedikit rasa untuk Celine, membuatnya menjadi sangat bodoh.
"I-iya," balas Gean dengan sedikit tergagap.
"Aku kira pacar kamu," ucap Celine, sedikit menggoda Gean dengan senyumannya.
Alesha yang sudah sangat kesal dan kecewa dengan sikap Gean, langsung saja melangkahkan kakinya melenggang pergi meninggalkan Gean yang kini terlihat terkejut.
"Alesha!" Panggil Gean, mencoba membuat bumilnya itu berhenti.
Namun, Alesha terus melangkahkan kakinya, enggan mendengar semua teriakkan Gean yang mencoba membuatnya untuk berhenti.
Tetes demi tetes air mata ikut membasahi pipinya. Tak terasa bahwa ucapan Gean tadi begitu melukai hati Alesha.
"Jahat, kemaren bilang bakalan jagain gue, jadi suami yang baik buat gue, tapi sekarang, sekalinya di tanya sama cewek cantik aja, gue di bilang sepupunya!" Kesal Alesha.
Ia terus membawa kakinya melangkah entah kemana, yang pasti Alesha ingin menjauh dari Gean yang sangat menyebalkan itu.
"Alesha! Tunggu, Sha," panggil Gean.
Gean mengekori Alesha di belakang, meninggalkan Celine dengan wajah murka, kesal karena Gean yang meninggalkannya begitu saja.
"Katanya sepupu, tapi perhatian banget! Siapa sih cewek itu? Awas aja, gue bakalan cari tahu siapa dia sebenarnya! Kesel!" Celine hanya bisa menatap punggung Gean yang terlihat semakin menjauh dengan sorot mata membara.
"Sha, tunggu dong. Sha, jangan gitu ah, Alesha!" Ucap Gean terus mencoba menghentikan Alesha.
Sampai akhirnya, Gean berlari sedikit kencang, membawa tangannya menarik lengan Alesha. Membuat Alesha kini terpaksa membalikkan tubuhnya ke arah Gean dengan air mata yang masih bercucuran.
Gean membelakak, terkejut melihat Alesha yang tengah menangis. Ia tak berpikiran bahwa Alesha akan menangis seperti ini.
Langsung saja ia tarik lengan Alesha dan membawa tubuhnya ke dalam dekapan hangatnya.
"Maafin gue, maafin gue," ucap Gean, mencoba menenangkan Alesha.
Alesha menangis di dalam pelukan Gean, enggan menolak, ia terdiam dalam pelukan hangat itu. Terisak merasa sedih dengan ucapan Gean tadi.
"Maafin gue, jangan nangis yah, maaf..." Gean terus menenangkan Alesha.
"Jahat, Lo jahat, bilang aja Lo suka kan sama cewek tadi! Iya kan!" Cerca Alesha.
Gean terdiam, menatap lesu ke arah Alesha. Ia menghela nafasnya sejenak, merutukki kebodohannya.
"Dasar bego, gue rela nyakitin Alesha demi cewek kaya Celine! Bego emang lu Ge!" Batin Gean merutukki dirinya sendiri.
Akhirnya Gean segera membawa tangannya menggenggam tangan Alesha. Ia tatap kedua mata yang masih mengeluarkan air mata itu.
Satu tangan ia bawa untuk mengusap lembut tetesan air mata itu. Gean menggeleng pelan, "maafin gue yah, gue gak ada maksud lukain perasaan Lo." Ucap Gean lembut.
"Gue emang bego, bisa-bisanya gue nyakitin perasaan Lo, maafin gue yah." Lanjut Gean, sembari terus menatap Alesha dengan rasa bersalahnya.
"Lo, su-suka kan, sa-sama cewek tadi!" Balas Alesha sembari sesenggukan.
Gean menghela nafasnya sesaat.
"Gue sukanya sama Lo, gak ada yang lain. Maafin gue, udah buat Lo sedih." Sahut Gean.
Alesha pun merasa luluh dan sedikit tenang dengan balasan Gean. Langsung saja ia bawa tubuhnya kembali ke dalam pelukan Gean.
Melanjutkan tangisannya yang masih belum mau berhenti.
"Udah dong nangisnya, jelek nanti." Gean terus memeluk Alesha sembari mengecup lembut puncak kepalanya.
Tak sadar jika sedari tadi seseorang tengah mengamati mereka dari jauh. Celine, ia mengepalkan tangannya, kesal dengan apa yang ia lihat.
"Sepupu apanya? Liat aja, gue bakalan cari tau siapa cewek itu, dan rebut balik Lo dari dia!" Ucap Celine. kemudian berbalik dan melenggang pergi.
"Ya udah, sekarang mau kemana? Mmm, gimana kalo makan, dari tadi kan udah keliling-keliling, cape nih. Mending sekarang kita makan yok," ajak Gean.
Ia membawa Alesha berdiri di sampingnya dengan terus merangkulnya.
Gean hanya bisa tersenyum gemas kini melihat Alesha yang masih beruraian air mata sembari sesenggukan lalu mengangguk menyetujui ajakannya.
"Nah gitu dong, udah jangan nangis lagi. Nanti gue beliin es krim, mau?" Tanya Gean.
Alesha kembali mengangguk bak anak kecil yang sedang di bujuk oleh orang tuanya setelah menangis meminta mainan.
"Dasar CIMIL," gumam Gean.
Alesha yang samar-samar mendengar ucapan Gean itu menoleh, menatap Gean dengan alis yang berkerut.
"Apa?" Tanyanya.
Gean mengangkat sebelah alisnya, "apa?" Gean balik bertanya.
"Itu, Lo tadi bilang gue apa?" Jelas Alesha masih sedikit sesenggukan.
"Oh, CIMIL?" Sahut Gean.
"Apaan?" Alesha aneh mendengar sebutan yang Gean tuturkan itu. Merasa baru pertama kali mendengarnya.
"Iya, CIMIL, Lo tuh CIMIL, Bocil-Bumil, iya kan." Balas Gean, menjelaskan panggilan sayang yang telah ia berikan kepada Alesha.
Tentu setelah mendengarnya Alesha terlihat menekuk wajahnya tak setuju. "Ih apaan, gue gak mau di panggil kaya gitu!" Seru Alesha.
Gean hanya tertawa melihat Alesha yang enggan untuk di panggil CIMIL olehnya. Membuat Gean memiliki satu cara lain untuk menggoda calon istrinya itu.
"CIMIL," seri Gean dengan senyuman yang menyeringai, bersiap menggoda Alesha.
"Gean! Gak mau! Gak mau di panggil CIMIL!" Pekik Alesha kesal, yang kini semakin membuat Gean tertawa lepas.
"CIMIL, CIMIL, CIMIL..." Ucapnya terus.
Kesenangan melihat Alesha yang kini terlihat kesal kembali. Gean terus saja tertawa, menertawakan Alesha yang kini terus mengerutkan keningnya itu sembari mencebikkan bibirnya.
Karena kesal, Alesha pun akhirnya melepaskan diri dari rangkulan Gean, ia berjalan mendahului Gean sembari menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Hahaha... Maaf dong CIMIL, jangan ngambek-ngambek," goda Gean terus di sepanjang jalan menuju tempat makan.