ALESHA

ALESHA
ALESHA : 16



Hari Minggu, merupakan hari dimana para pelajar bisa rehat sejenak dari penatnya hari hari biasa. Alesha kini tengah berbaring di atas ranjangnya, ia baru saja selesai menyantap sarapan paginya bersama Ibu juga Ayahnya.


Setelah selesai sarapan Alesha pun memilih untuk kembali ke kamarnya dan berbaring di atas ranjangnya yang empuk ini. Entah mengapa tapi hari ini Alesha merasa sangat malas untuk beraktifitas.


Padahal Ibunya tadi pagi mengajak Alesha untuk pergi ke pusat perbelanjaan, tapi Alesha menolak dengan alasan tak enak badan. Akhirnya dirinya kini hanya berbaring manja, berguling ke sana ke sini hanya diam tanpa berniat untuk melakukan hal yang lain.


"Huh," desah Alesha.


"Kenapa males banget sih? Padahal gue tiduran di kasur, tapi tetep aja males!" ucapnya dengan nada sedikit kesal.


"Ya Allah, gue kenapa? Padahal ini tuh gue udah gak ngelakuin apa apa, tapi rasanya kek gue abis ngapain aja sampe ngerasa semales ini!" ucapnya lagi.


Memang lucu, sudah bermalas malasan tapi merasa semakin malas. Jadi apa yang harus Alesha lakukan, apa ini memang bawaan bayi Alesha.


Alesha pun mengingat kejadian kemarin, ketika Gean membawanya ke Rumah Sakit. Alesha sudah sangat lemas dan tak memikirkan banyak hal, tapi ketika sampai di Rumah Sakit, Alesha baru sadar dan memilih enggan untuk masuk.


Karena Alesha takut kehamilannya akan diketahui banyak orang, apa kata dokter nanti yang memeriksanya. Ketika tahu Alesha yang hamil di usia belianya ini.


Alesha pun menolak Gean yang berusaha membujuknya untuk masuk ke dalam Rumah Sakit. Namun, akhirnya Gean pun berhasil membujuk Alesha, ketika Alesha tahu Dokter yang akan memeriksa Alesha adalah Kakak Gean sendiri.


Gean berjanji bahwa kehamilannya ini akan tetap menjadi rahasia, ia menjamin bahwa Kakaknya akan menutup mulut rapat rapat. Alesha yang tengah merasakan pusing di kepalanya pun akhirnya mengalah dan mengikuti Gean yang membawanya masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu.


Flashback


"Bang Ger," sapa Gean ketika melihat Abangnya itu.


"Wih, siapa nih tumben amat mampirin Abangnya." Sindir Gery yang melihat Gean berjalan menghampirinya.


"Bang, tolong Alesha Bang..." ucap Gean sembari membawa Alesha ke hadapan Gery.


Gery pun yang melihat keadaan Alesha tidak baik langsung menyuruh Gean membawanya ke atas ranjang pasien.


Gery pun langsung memeriksa Alesha yang sudah sangat lemas dan kehilangan kesadarannya. Alesha pingsan begitu saja ketika Gean baringkan di atas ranjang.


"Bang, Alesha kenapa?" tanya Gean dengan nada khawatirnya.


Gery yang tengah memeriksa Alesha pun menoleh sebentar lalu menyuruh Gean untuk menunggu di luar.


"Lo mending tunggu di luar, gue gak bisa fokus meriksa temen Lo kalo Lo terus kaya gini." Gery pun sedikit memaksa Gean untuk keluar dari ruangan pemeriksaan.


Gean sudah sangat panik ketika melihat Alesha kesakitan apalagi kini melihat Alesha yang hilang kesadaran, semakin membuat Gean panik dan khawatir akan keadaan kekasihnya itu.


"Bang gue mohon, selamatin Alesha Bang!" seru Gean dengan sedikit tangis.


Iya, Gean menangis dirinya sangat sangat ketakutan kini, takut jika terjadi suatu hal buruk kepada Alesha.


"Iya, gue tau Ge, Lo tunggu disini yah, gue pasti bakalan selamatin cewe Lo." Balas Gery.


Gery pun kembali masuk ke dalam ruang perawatan, meninggalkan Gean sendirian di ruangan Gery.


Gean mengepalkan kedua tangannya, dirinya melihat khawatir pada tirai yang menutupi Alesha. Gean berharap semoga Alesha baik baik saja.


Setelah beberapa menit, Gery pun keluar dari ruangan pemeriksaan, dirinya berjalan keluar ke arah Gean yang tengah duduk di depan meja kantornya.


"Bang gimana Bang?" tanya Gean ketika melihat Gery.


Gery pun yang terlihat begitu kesal, walau tak tahu mengapa langsung saja memukul wajah Gean.


Bukk,


Gean terjatuh, mendapatkan sebuah pukulan dari Gery. Gean yang tersungkur jatuh menoleh ke arah Gery dengan darah di ujung bibirnya.


"Bangun Lo!" ucap Gery, dirinya pun langsung meninggalkan Gean dan duduk di kursinya.


Gean yang melihat itu langsung mencoba bangun dan berjalan ke arah kursi.


"Bang, gimana Bang, Alesha gak papa kan?" Gean tak memikirkan rasa sakitnya, ia lebih memikirkan keadaan Alesha kini.


Gery yang melihat itu menatap tajam Gean. Dirinya benar benar sangat kesal, akan perbuatan Adik nya yang benar benar bejat.


"Lo hamilin dia!" ucap Gery dengan nada tajamnya.


Gean mendesah kecil, dirinya tahu sekarang mengapa Abangnya begitu marah sampai sampai memukulnya, Gean lupa tidak menjelaskan keadaan Alesha tadi.


Gean menggeleng kecil,


"Iya gue tau Bang, tapi gimana keadaannya sekarang?" tanya Gean lagi.


Gean pun akhirnya bisa menghela nafasnya lega, tak sadar jika Gery menatapnya tajam.


"Lo hamilin dia?" tanya Gery, Gean yang mendengar itu pun menatap wajah Abangnya itu.


"Gue gak hamilin dia," jawab Gean.


Gery yang mendengar hal itu pun mengerutkan keningnya.


"Dia pacar Lo?" tanya Gery lagi, Gean pun mengangguk.


Gery yang mendapati hal itu menghela nafasnya kasar.


"Lo bilang Lo pacarnya, tapi Lo gak hamilin dia gitu maksudnya!"


Gean kembali mengangguk, Gery pun mengacak rambutnya frustasi.


"Terus Lo mau gue percaya gitu! Dimana mana kalo Lo pacarnya, yah Lo yang hamilin! Gue gak ajarin Lo buat gak tanggung jawab yah!" ucap Gery dengan kesal, Gean pun menatap Gery yang masih tap percaya itu.


"Lah Bang gue emang kagak hamilin dia, tapi gue pacarnya Bang," balas Gean.


"Gini, pokonya ceritanya panjang Bang, intinya dia pacar gue, tapi gue gak hamilin dia, tapi gue bakalan tanggung jawab sama dia." Lanjut Gean yang semakin membuat Gery melongo.


"Gila Lo gak Ge, gak hamilin tapi Lo yang tanggung jawab, bodo amat deh, gue kagak ikut ikutan, kalo sama Nenek lampir tau, mati Lo Ge." Balas Gery.


Gean hanya bisa tersenyum kecil, memang dirinya sudah mengambil sebuah keputusan yang besar dan mungkin akan menyebabkan sebuah pertentangan dengan keluarganya.


Namun, ini semua adalah pilihannya, bagaimana pun Alesha adalah pilihannya, walau bayi yang Alesha kandung bukan bayinya, Gean berjanji akan selalu menjaga Alesha juga bayinya.


"Gue gak tau gimana pikiran Lo Ge, tapi gue yakin Lo udah mikirin semua ini, gimana pun ini pilihan Lo, gue percaya sama Lo, tapi gimana pun Lo harus bisa mikirin tentang Alesha sama Nenek lampir itu yang pasti kalo sampe tuh Nenek lampir tau, dia gak akan diem." Gery mencoba menasihati Gean, Gean pun tersenyum pada Gery, dirinya tahu bahwa Abangnya ini akan selalu mengerti akan keadaannya.


"Makasih yah Bang, gue bakalan pikirin itu nanti yang penting sekarang Alesha baik baik aja. Gue harap Lo gak akan bocorin dulu ini semua ke siapa siapa,"


Gery pun mengangguk kecil sembari menatap wajah adiknya itu. Gery percaya akan keputusan Gean, adiknya itu sudah tumbuh dewasa kini, mau bagaimana pun adiknya itu sudah bisa memilih jalannya sendiri.


Flashback off


Alesha pun bangkit dari tidurnya, ia menatap sendu ke arah perutnya itu. Matanya sedikit berair, ia membawa tangannya menuju perutnya, mengusap kecil.


"Hai, kita sama sama berjuang yah," gumam Alesha kecil.


Rasanya masih tak percaya jika kini di dalam perutnya hidup seorang malaikat kecil, Alesha bingung apa yang harus ia lakukan, kemudian ia pun teringat.


Bagaimana pun Alvin lah Ayahnya, hari ini dirinya harus mengatakan semuanya pada Alvin. Dirinya harus sadar, jika Alvin lah Ayah kandung dari bayinya, mau sampai kapan Alesha memendam rahasia besar ini.


Alesha pun mengambil ponselnya, ia mencari kontak Alvin dengan cepat Alesha pun mencoba menelepon Alvin, ada rasa sedikit ragu, namun ini memang hal yang sudah seharusnya Alesha lakukan.


"Halo, Sha," ucap Alvin di balik ponsel.


Alesha yang mendengar itu terdiam sejenak, lalu dirinya memberanikan diri untuk berbicara.


"Lo ada waktu?" tanya Alesha,


"A, ada ko Sha, kenapa?" balas Alvin.


"Gue tunggu di taman cafe biasa," balas Alesha lagi mencoba mengajak Alvin untuk bertemu.


"Sekarang?" tanya Alvin.


"Iya." Balas Alesha singkat dan langsung mematikan teleponnya.


Alesha pun langsung bersiap untuk pergi bertemu dengan Alvin, walau sedikit ragu, Alesha menetapkan hatinya untuk lebih kuat dan berani.


Alesha pun berpamitan kepada Ibu dan Ayahnya, dia segera pergi dengan menggunakan transportasi online. Berharap semua bisa berjalan dengan baik.


Apakah Alesha akan memberitahu Alvin kebenarannya?


Apakah Alvin akan menerima semua hal yang begitu mendadak itu?


Apa Alvin akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia perbuat?


Dan, apa ini akhir dari kisah Alesha bersama Gean, apa mereka akan berpisah ketika Alvin sudah mengetahui kebenarannya.


Apa Gean sanggup untuk merelakan Alesha kepada Alvin, juga sebaliknya apakah Alesha sanggup meninggalkan Gean yang sudah mau menjaga juga siap untuk bertanggung jawab menggantikan Alvin.


Apa mereka bisa melewati semua hal ini, bersama atau berpisah, semuanya akan terlewati dengan berjalannya waktu. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk mereka berdua.