
Episode 6
“aleshaaa….” Teriak ibunya tepat di telinga alesha membuat alesha tersentak
“Ya…?” jawab alesha
“buruan makan. Jangan buat ibu kesal!” ucap ibunya yang marah
Dengan terlebih dulu menghela napas panjang, mau tidak mau akhirnya alesha pun menurut keluar dari kamarnya untuk makan dari pada ibunya akan terus berkotek seperti ayam betina yang mau bertelor.
.
.
“byee…” seru sella melambaikan tangan ke alesha dan alesha pun membalas melambaikan tangan pula. Hari ini tubuh alesha terasa penat bekerja seharian di tempat kerjanya, rasanya ia ingin segera sampai kerumah namun ia harus melewati 4 rumah lagi tapi seperti terasa jauh perjalananya. Tibalah alesha di depan rumahnya, dibukanya pagar besi mengelilingi rumahnya itu, diketuknya pintu rumah
Tok tok tok….
Tak ada sahut an dari dalam, lalu ia melihat dari jendela, rumahnya sepi sepertinya ibunya tidak ada dirumah. “huhhh” dengus alesha sebal karena tubuhnya yang sedari penat ingin segera merebahkan tubuhnya teernyata rumahnya terkunci dan tidak ada orang.
Lalu dirogohnya tas nya untuk mengambil handphone nya eh ternyata ada kunci rumah di dalam tasnya. Alehsa pun kegirangan, lalu ia segera membuka pintu rumahnya. Rumahnya terlihat sepi, ibunya dan ayahnya tidak ada dirumah, alesha langsung masuk kamar, lalu ia mengambil gitar dari bawah kasurnya, gitar pemberian dari Arizona sewaktu dulu mereka masih berpacaran dan sering bertemu, alesha bisa main gitar karena di ajari oleh Arizona.
Dengan mata tertutup alesha mulai menarik senar gitarnya lalu ia memetikkan perlahan mencari nada yang pas, suara nya mulai bergumam bernyanyi dengan mata masih terpejam dan keluar benih air mata disetiap sudut matanya
***
waktu terus berlalu
tanpa ku sadari yang ada hanya aku dan kenangan
masih teringat jelas
senyum terakhir yang kau beri untukku
tak pernah ku mencoba
dan tak ingin ku mengisi hatiku
dengan cinta yang lain
kan ku biarkan ruang hampa di dalam hidupku
bila aku harus mencintai dan berbagi hati
itu hanya denganmu
namun bila aku harus tanpamu
akan tetap ku arungi hidup tanpa bercinta
hanya dirimu yang pernah
tenangkanku dalam pelukmu saat ku menangis
bila aku harus mencintai dan berbagi hati
itu hanya denganmu
namun bila ku harus tanpamu
akan tetap ku arungi hidup tanpa bercinta
bila aku aku harus mencintai dan berbagi hati
itu hanya denganmu
namun bila aku harus tanpamu
akan tetap ku arungi hidup tanpa bercinta
tak pernah ku mencoba
dan tak ingin ku mengisi hatiku
***
Krekkk krekkk……
Mendengar suara kunci yang membuka pintu, alesha langsung mengembalikkan gitarnya ke bawah kasurnya dan ia menyeka matanya dan menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. Diintip nya dari kamar, terlihat ayah dan ibunya telah pulang dan tanpa bertanya alesha langsung menutup kembali kamarnya dan membaringkan tubuhnya, tanpa sadar ia pun tertidur.
.
Keesokkan harinya
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa sudah setahun lamanya arizonapergi ke Jakarta dan sejak itu sampai kini tak juga ada kaabr beritanya. Semua itu membuat alesha kian bertambah sedih. Dia pun kembali menjadi gadis pemurung dan senantiasa suka menyendiri. Bahkan teman karibnya, sella. Juga tidak mampu untuk membuatnya tersenyum.
Selama ini, alesha bukan Cuma diam. Tetapi dia terus berusaha mencari tahu kabar mengenai Arizona dengan datang berkunjung ke keluarga Arizona di Km5. Sebagaimana sore ini, sepulang kerja alesha tidak langsung kerumah, tetapi dia justru naik angkutan
menuju ke Km5, dimana keluarga Arizona tinggal.
“assalamualaikum…..!” seru alesha memberi salam begitu tiba di depan rumah keluarga Arizona di km5.
“wa’alaikumsalam,” sambut mbak sofia, “Eh… dik alesha…” ucap mbak sofia ke alesha sembari tersenyum
“Ya, mbak…” alesha menyalami mbak sofia
“baru pulang dari bekerja ya rupanya?” ucap mbak sofia
“Ya, mbak” jawab alesha
“ayo.. silahkan masuk,” ajak mbak sofia
Alesha menurut masuk membuntuti mbak sofia
“bagaimana kabarmu dik alesha?” Tanya mbak sofia
“syukurlah, silahkan duduk…” ucap mbak sofia
Alesha menurut duduk.
“sebentar ya, mbak buatkan minuman dulu.” Ucap mbak sofia
“tidak usah repot-repot mbak.” Ucap alesha
“ah… tidak…. Sebentar.” Mbak sofia pun berlalu meninggalkan alesha di ruang tamu. Namun tak lama kemudian, mbak sofia telah kembali dengan membawa sebotol minuman dan sepiring makanan kecil yang diletakkanya di atas meja di depan alesha duduk. “silahkan” ucap mbak sofia
“makasih, mbak” ucap alesha
“oh ya, ada perlu?” Tanya mbak sofia
“hanya mau Tanya mengenai Arizona, mbak.” Ucap alesha
Mbak sofia tidak langsung menjawab. Dihelanya napas panjang dengan wajah murung. Hal itu membuat alesha jadi ikut murung.
“dik, alesha, kami sendiri bingung, karena sampai sekarang kami tidak pernah menerima kabar darinya,” tutur mbak sofia, dengan wajah murung.
“kalau saja kami tahu dimana dia tinggal maka kami sudah menyurati atau mendatanginya untuk meberitahu dia, kalau dik alesha merindukannya.” Ucap mbak sofia
“apa yang harus alesha lakukan, mbak?” ucap alesha lirih dengan menundukkan kepalanya
“bersabarlah. Kami akan terus berusaha mencari tahu keberadaannya. Kalau kami sudah tahu dimana dia tinggal, maka kami akan segera memberitahu dik alesha, dan bila perlu kami akan ke Jakarta menemuinya….” Ucap mbak sofia
“semua ini gara-gara ibu, mbak.” Ucap alesha sedih
“jangan salahkan ibumu, dik alesha. Wajar kalau sebagai seorang ibu, ibunya dik alesha menghendaki putrinya hidup baik dan enak….” Ucap mbak sofia menguatkan alesha
“tapi ibu telah melukai perasaan Arizona, mbak.” Ucap alesha
“lupakanlah….. yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang penting bagi kita adalah mencari tahu keberadaan Arizona. Dik alesha harus percaya, kalau Arizona sangat mencintai dik alesha. Hanya saja entah kenapa dia kok tidak memberi kabar ya?” ucap mbak sofia
“adakah saudara mbak di Jakarta?” Tanya alesha
“banyak.” Jawab mbak sofia
“apa tidak mungkin Arizona tinggal di salah seorang saudara mbak?” ucap alesha
“semua sudah mbak hubungi, dik alesha. Tapi Arizona tidak ada disana.” Ucap mbak sofia yang serasa sudah pasrah akan apa yang terjadi pada Arizona adiknya itu.
“lalu, dimana dia?” ucap alesha
“entahlah…. Kami juga sudah minta tolong pada saudara yang ada di Jakarta untuk ikut mencari tahu keberadaan Arizona, dik. Namun sampai kini belum ada seorang pun saudara kami yang menemukannya…” ucap mbak sofia sembari menyeka kedua matanya karena air mata nya mulai turun
“Ohhhh” ucap alesha yang seolah tidak ingin membahasnya lagi karena melihat wajah mbak sofia yang sudah terlihat sedih
“pecayalah, kalau sudah ada kabar mengenai Arizona, pasti kami akan secepatnya memberitahu dik alesha.” Ucap mbak sofia
“ya.. mbak” ucap alesha
“dik, alesha….” Seru mbak sofia
“kalau boleh mbak sarankan, jika memang dik alesha merasa percuma saja menunggu Arizona mending dik alesha lupakan dia dan carilah yang lain.” Ucap mbak sofia seolah olah menyuruh alesha untuk melupakan Arizona, sontak ujung mata alesha mulai berair
“tidak, mbak… alesha tidak akan bisa melupakan Arizona, alesha akan berusaha untuk sabar menunggu.” Ucap alesha dengan pipi yang telah dibasahi air matanya
Mbak sofia kembali menghela napas panjang.
“ya…. Kalau itu sudah menjadi keputusan dik alesha, mbak tidak bisa ngomong apa-apa lagi, mbak hanya kasihan pada dik alesha….” Ucap mbak sofia
“saya mengerti, mbakk” ucap alesha
“syukurlah….” Desah mbak sofia.
“nah, sekarang lebih baik dik alesha pulang, agar ibu dik alesha tidak kebingungan…” ucap mbak sofia mengingatkan alesha bahwa ini sudah hampir magrib bila terlalu lama, ibu alesha pastilah marah kepadanya.
“baik, mbak sofia. Kalau begitu alesha pamit dulu ya…” ucap alesha sembari berdiri dari duduk nya
“Ya…” ucap mbak sofia mengantar alesha sampai ke depan pintu rumahnya
Setiba di depan pintu, alesha menyalami mbal sofia.
“alesha pulang dulu, mbak” ucap alesha
“Ya..” ucap mbak sofia sembari tersenyum
“assalamu’alaikum” ucap alesha menyunggingkan senyum manisnya ke mbak sofia
“wa’alaikumsalam….” Balas mbak sofia
Dengan diikuti pandangan mata mbak sofia yang turut haru serta iba melihat ketulusan cinta gadis itu pada adiknya. Alesha melangkah meninggalkan rumah keluarga Arizona. Hatinya terus bertanya, kenapa Arizona tidak juga memberi kabar? Ada apa
sebenarnya dengan Arizona?
……
Alesha berjalan dari rumah Arizona sampai di ujung jalan alesha menyetopkan mobil angkot lalu menaikinya. Lalu ia pun kembali mengenang tentang Arizona.
“Arizona… kenapa kau tidak juga memberi kabar?” bisik alesha ke dirinya sendiri
Tidakkah engkah tahu, betapa aku sangat merindukanm? Betapa aku tidak bergairah lagi untuk hidup karena terus memikirkan dan merindukanmu? Kalau benar engkau cinta dan sayang padaku, kenapa engkau tak juga memberitahu kabar?
Kembali air mata alesha mengalir keluar membasahi pipinya. Ya setiap kali dia ingat pada Arizona, maka alesha pun akan menangis. Hatinya tak tahu harus bagaimana dan mesti berbuat apa. Hatinya semakin bertambah sedih dan merana, namun dia tidak tahu harus bagaimana dan mesti berbuat apa. Karena dia tidak tahu dimana Arizona berada. Andai saja dia tahu ingin rasanya alesha pergi ke Jakarta menemui Arizona dan menumpahkan segenap rasa rindu dendam yang ada padanya.
*bersambung*
.
.
>>>next 😊