ALESHA

ALESHA
ALESHA : 30



Hari ke hari mulai berganti, sehari menjadi dua hari, berlanjut menuju seminggu, sampai pada detik ini, Gean masih ragu, bimbang rasanya.


Bisa di bilang GALAU, GELISAH, MERANA, itulah yang Gean rasakan kini. Dirinya seakan kebingungan, bimbang dengan perasaannya sendiri.


Seseorang di masa lalunya kembali datang, seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya, seseorang yang pernah ia cintai, seseorang yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Namun, Gean bingung, nyatanya hati Gean kini sudah terobati oleh sosok yang baru, sosok yang kembali mewarnai harinya, sosok yang sudah ia janjikan sebuah masa depan yang indah.


Tetapi, dengan hadirnya seseorang di masa lalu itu, membuat hatinya begitu bimbang, rasa yang dulu sudah terkubur, perlahan kembali datang.


Ia bingung, bingung dengan hatinya, dengan rasanya. Jadi, siapakah yang harus Gean pilih?.


Gean mengacak rambutnya frustasi, merasa kesal dengan dirinya sendiri, "Kenapa sih! Kenapa lo harus dateng lagi?" Seru Gean.


"Arghhhh!" Teriaknya.


Tenang saja, mau seberapa keras Gean berteriak pun, tak akan ada orang yang mengganggunya.


Sudah seminggu , setelah hari itu, Gean selalu bolos, ia terus berdiam diri di apartemennya. Gean menolak siapa saja yang hendak berkunjung, bahkan Andi, Naufal juga Reyhan tak menjadi pengecualian.


Gean butuh waktu, juga ruang, hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Gean ingat akan janjinya kepada Alesha, tapi dengan hadirnya Celine yang tiba-tiba, seketika membuat semuanya kacau.


Bimbang, merasa hilang arah. Wajar saja, Gean masih sangat muda, ia juga masih seperti remaja lainnya. Tapi, mau bagaimana pun, pada akhirnya, Gean tetap harus memilih.


Siapa, di antara kedua wanita itu, yang akan menjadi pemilik hatinya.


Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang, memejamkan matanya, beberapa kali ia hembuskan nafas dengan sangat berat.


"Gue gak bisa kaya gini terus!" Ucapnya.


Gean bangkit, dengan cepat ia mengganti pakaiannya, meraih jaket juga kunci motornya. Ia langsung melangkahkan kakinya keluar, setelah seminggu ini mengurung diri.


Ia lajukan motornya, menebas jalanan sepi di siang itu. Sampai pada tempat tujuannya, ia memarkirkan motornya, lalu turun dan berjalan masuk ke dalam sekolah.


Suasana begitu sepi, bukan karena tidak ada orang, tetapi karena sudah masuk jam pelajaran. Jadi, tidak ada siswa yang berkeliaran di luar kelas.


Dengan cuek, Gean masuk ke dalam kelasnya. Seorang Guru yang sedang mengajar pun sedikit terkejut dengan hadirnya Gean yang langsung masuk dan duduk di bangkunya.


Tapi, karena Guru itu tahu siapa Gean, juga tak mau cari masalah, ia mengabaikan hal itu dan melanjutkan aktivitas mengajarnya.


Semua siswa di kelas itu pun sama kagetnya melihat Gean yang sangat cuek bebek masuk ke dalam kelas, begitu pula ketiga sahabatnya, tapi itu sudah biasa bagi mereka.


"Kemana aja Lo?" Tanya Andi saat Gean baru saja duduk di sampingnya.


Gean mengangkat kedua bahunya seakan acuh.


"Ck," decak Andi, seakan tahu sifat sahabatnya itu.


"Emang enak bet yah, kalo sekolah punya bokap sendiri mah, bebas." Tambah Andi, yang di balas kekehan oleh Naufal juga Reyhan yang duduk di belakang.


Tak lama, bel istirahat pun berbunyi, para siswa langsung berhamburan keluar, berbeda dengan Gean yang kini di sembur oleh banyaknya pertanyaan dari mulut ketiga sahabatnya.


"Anjir, kemana aja Lo, udah seminggu ngilang, tiba-tiba balik lagi." Naufal berucap sembari mendudukkan pantatnya di atas meja Gean.


Gean menoleh, tersenyum menyeringai membalas ucapan sahabatnya itu.


"Emangnya Lo kemana sih Ge, Baru juga masuk udah ngilang lagi, demen banget lu ngilang perasaan," tambah Andi, yang kemudian mendapat anggukan dari Reyhan, setuju dengan ucapannya.


Gean masih diam, ia hanya terkekeh mendengar celotehan sahabatnya itu.


"Terus Ge, hubungan Lo sama Alesha gimana?" celetuk Reyhan tiba-tiba.


Gean terdiam untuk beberapa saat, kemudian ia menoleh, "gue sama Alesha baik-baik aja, emangnya kenapa?" Balasnya, dengan sorot mata yang tidak tajam tapi dapat mengintimidasi.


"O-oh, ya syukur deh," Reyhan memalingkan wajahnya, ia sadar sudah salah menanyakan hal tersebut.


Reyhan pun mendapat senggolan dari Andi, mereka tahu jika Gean kini sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saja, maka dari itu, sebaiknya mereka menahan diri untuk tidak membuat seorang singa terbangun dari tidurnya.


"Mau ke kantin kaga? Laper nih!" Timpal Naufal, mengalihkan pembicaraan yang di setujui kedua sahabatnya itu.


"Ayo, gue juga laper nih, yu Ge!" Seru Andi.


Merek berempat pun berjalan keluar kelas menuju kantin, tapi, ketika baru saja keluar dari kelas, mereka mendengar sebuah pekikan seorang wanita yang memanggil Gean dengan keras.


"GEAN!" Pekiknya.


Serentak Andi, Naufal juga Reyhan menoleh, begitu pula Gean. Mereka melihat Celine yang kini berlari ke arah mereka dengan senyuman lebar.


"Gean!" Panggilnya lagi ketika sampai di depan Gean.


Gean hanya diam menatap Celine yang kini terlihat begitu bahagia melihatnya. "Kamu kemana aja sih! Ko ngilang gitu aja?" Omel Celine.


"Gak kemana-mana," balas Gean singkat.


"Gak kemana-mana tapi seminggu ini kamu ilang gitu aja, apalagi aku gak tau kamu tinggal di mana!" Gerutu Celine,


"Terus waktu aku tanya Andi, Naufal sama Reyhan di mana rumah kamu, mereka gak mau kasih tau aku! Kesel kan!" Lanjutnya, kini Celine membawa tangannya bertengger di depan dada.


Gean yang mendengar itu, kini berbalik menatap para sahabatnya, Andi, Naufal dan Reyhan langsung saja memalingkan wajahnya seakan tak mau di salahkan.


Gean kembali menatap Celine dengan santai, "oh," balas Gean.


Andi, Naufal juga Reyhan kini menutup mulut mereka, menahan tawa yang tak tertahan. Bagaimana tidak kegelian, melihat Celine yang sudah panjang lebar mengomel dan hanya di balas dengan satu kata "oh", sungguh malang memang nasib Celine.


Celine tentu kesal, ia menghentakkan kakinya, bingung dengan sifat Gean yang tiba-tiba berubah dingin, padahal di hari pertama mereka bertemu kembali, Celine masih ingat Gean memeluknya dengan hangat.


Tapi, kenapa sekarang setelah lama menghilang Gean seakan bersifat cuek dan dingin kepadanya.


"Kamu kenapa sih?" Celine bertanya, walau kesal ia mencoba memahaminya.


Mungkin Gean masih kesal atas perbuatannya dahulu, pikir Celine.


"Aku kan udah minta maaf, ko kamu sekarang cuek gitu sih sama aku, kenapa?"


"Gakpapa, gue emang gini," balas Gean, dengan nada yang sangat dingin.


Celine terdiam, merasa tak tahu harus membalas apalagi.


"Udah?" Tanya Gean, Celine mendongak, menatap Gean dengan bingung.


"Kalo udah gue mau ke kantin," lanjut Gean.


Ia pun membalikkan badannya, melangkah pergi di ikuti ketiga sahabatnya itu, meninggalkan Celine yang kini merasa kesal dan marah.


"Ish! Kesel! Kesel! Kesel! Awas aja Ge, gue yakin, gue pasti bisa bikin Lo jatuh cinta lagi sama gue!" Gumamnya.


Gean bersama ketiga sahabatnya pun sampai di kantin, mereka langsung memesan banyak makanan untuk mengisi perut kosong mereka.


Dari jauh, Karin berlari kecil, terlihat ia membawa sebuah amplop kecil berwarna peach di tangannya.


Sampailah Karin di meja Gean, ia tersenyum lebar, "Darimana aja lu Ge?" Tanya Karin, kemudian sebuah toyoran hinggap di kepala Gean.


Andi, Naufal juga Reyhan melongo, melihat Gean yang mendapatkan sebuah toyoran mantap dari Karin.


Gean menatap Karin, tentu dengan sorot mata tajam.


"Apa Lo, natap gue kaya begitu, jangan marah dulu, gue lakuin ini karena di suruh sama calon bini lu." Jelas Karin, merasa tak bersalah.


"Nih!" Karin menyerahkan amplop itu ke arah Gean.


Gean mengerutkan keningnya, bingung.


"Itu surat dari Alesha, kemaren gue pergi ke rumah Alesha, dan dia nitipin itu ke gue, di tambah sama toyoran tadi, itu titipan dari Alesha." Ujar Karin.


Sontak Gean langsung mengambil amplop itu, ia juga langsung membuka isi amplop itu, melihat secarik kertas yang berisi tulisan-tulisan yang ia yakini tulisan Alesha.


"Lo tuh kemana aja sih, Alesha khawatir sama Lo, gue juga, apalagi setelah Dateng Celine, Lo ngilang gitu aja," ucap Karin.


Gean menoleh, "lo bilang soal Celine ke Alesha?" Tanyanya, karin langsung menggeleng, "ya engga lah, ya kali gue kasih tau soal Celine ke dia." Balas Karin membuat Gean bernafas lega.


Gean kembali fokus kepada secarik kertas itu, ia membaca perlahan apa yang tertulis di situ.


Buat, CURUT


Lo baik-baik aja kan Ge?


Gue harap Lo baik-baik aja, gue gak bisa hubungin Lo karena hp gue masih di sita, gue lagi bete aja, makannya gue bikin surat kaya begini.


Sama, gue cuman mau bilang kalo gue baik-baik aja, Lo gak usah khawatir.


Bye CURUT :)


Singkat, surat yang sangat singkat, namun membuat Gean kini tersenyum kecil membacanya.


"Cie, yang dapet surat dari calon istri," goda Naufal, melihat Gean yang kini tersenyum-senyum Sendiri.


Gean mendongak, menatap Naufal dengan kerutan di keningnya, "apaan sih Lo, iri aja." Serunya, di tanggapi kekehan sahabatnya.


Gean yang sedari tadi bersikap dingin, cuek bak singa yang siap menerkam, kini luluh hanya karena sebuah surat pendek yang di kirim oleh Alesha.


Maka, dari hari itu, semua sahabat Gean tahu, jika kini pemilik hati seorang Gean Aksa Pratama, adalah,


ALESHA