
Gean berjalan, melewati sebuah gerbang di tempat yang mana ia telah di usir sebelumnya. Namun, kini ia kembali melangkahkan kakinya dengan berani, tanpa rasa takut.
"Ih, gila! Gue gak salah liat kan! Itu bukannya si Gean itu yah!" Seru salah satu siswi yang baru saja Gean lewati.
Gean tertawa, menertawakan keterkejutan siswi itu, tanpa menghentikan langkahnya, ia terus berjalan, menuju tempat dimana ke empat sahabatnya itu sudah duduk manis menunggunya.
"Gilak! Pasti kaya tuh orang, mana bisa udah buat masalah segitu gede masih bisa masuk sekolah!"
"Bener banget! Untung ganteng, jadi gak terlalu masalah deh buat gue mah!" Seru siswa lainnya, tentunya bukan hanya mereka, banyak lagi siswa siswi yang mulai menyebarkan gosip tentang Gean yang kembali datang ke sekolah.
Namun, hal itu tak menggoyahkan Gean, ia tersenyum menyeringai. "Emang suka banget yah urusin hidup orang, terserah lu pada, gak ngaruh sama hidup gua." Gumam Gean sembari terkekeh.
Sampai tepat pada saat Gean menatap ke depannya, ia melihat seseorang yang sangat ia kenali. Lelaki yang tanpa malu menampakkan wajahnya di hadapan Gean.
Sebuah seringai tercetak jelas di bibirnya, mata yang memicing memastikan ia tak salah lihat. "Haha, berani juga Lo," ucap Gean di hadapan Alvin.
Naya langsung saja menarik lengan Alvin, mencoba menghindar dari perdebatan yang akan segera terjadi.
Namun, tarikan itu tak berpengaruh pada Alvin, ia langsung melepaskan tangan Naya tanpa mengalihkan tatapannya dari Gean.
"Maksud Lo apa?" Tanya Alvin pura-pura bodoh.
Gean terbahak, pertanyaan yang sangat menggelikan. "Maksud gue apa?" Olok Gean bertanya balik.
Tatapan Alvin masih sama, menatap jelas ke pada wajah Gean yang kini menertawakannya, entah bodoh atau apa, tapi Alvin memang merasa dirinya itu tidak bersalah.
Tawa itu perlahan berhenti, tatapan yang awalnya mengolok kini berubah nyalang, menusuk mata lawan bicaranya.
Sebuah seringai kembali tercetak jelas, ia melangkah maju, membuat Alvin kini melangkah mundur terintimidasi.
"Dasar anj*ng! Bisanya kawin doang, bagian tanggung jawab, lo kabur!" Cerca Gean, mengejek Alvin.
Alvin melotot, wajahnya memerah, tangannya mengepal, seakan tak terima dengan ucapan Gean.
"Apa? Mau marah? Hahaha, Lo gak sadar, Lo tuh kaya anj*Ng!" Tambah Gean, kembali mengoloknya.
Gean membawa tangannya, menyapu pundak Alvin, tentu Alvin langsung menghempas tangan Gean.
"Tapi, makasih loh, berkat lo, gue punya calon istri secantik Alesha, untung aja yah, Lo tuh bego, jadi cewe sebaik Alesha bisa gue dapetin." Ujar Gean.
Gean tersenyum lebar, ia mendekatkan wajahnya ke samping telinga Alvin, dan berbisik, "jadi, maksud gue, jangan Lo berani-berani cari masalah, mending mulai sekarang Lo pura-pura gak tau aja, karena berlian yang Lo buang, sekarang,"
Gean menghentikan ucapannya sesaat, lalu,
"M.I.L.I.K. G.U.E!" lanjut Gean dengan penekanan di setiap katanya.
Gean kembali ke tempatnya, menyeringai ke arah Alvin yang kini semakin geram, tetapi Gean semakin puas melihatnya. Membuat Alvin marah memang tujuannya, Gean mau Alvin menyesal seumur hidupnya, karena sudah melepaskan sebuah berlian yang sangat berharga di hidupnya itu.
"Minggir, gue mau cabut!" Seru Gean, ia berjalan menabrak tubuh Alvin yang masih kaku terdiam tak bergeming di tempatnya.
Naya yang sedari tadi hanya bisa diam, kini mulai gusar melihat Alvin yang menahan amarahnya.
"Vin," panggil Naya, tetapi kekasihnya itu malah berteriak keras dan langsung melenggang pergi meninggalkannya.
"Arghhhhhhh!" Teriak Alvin.
"Alvin!" Naya pun berteriak memanggil Alvin, tak terima jika dirinya sudah ditinggalkan.
Di sisi lain, kini Gean tertawa, melihat drama antara Alvin juga Naya. Ia pun tetap melangkahkan kakinya menuju tujuan utamanya, di sana, Gean melihat Naufal, Andi, Reyhan juga Karin sudah duduk manis di sebuah meja kantin.
"Hey, bro!"
"Yo, kemana aja lu! Kangen bet gua!"
"Wih, wih, tokoh utama novel kita Dateng nih!" Seru ketiga sahabatnya itu, berbeda dengan Karin yang kini hanya tersenyum ke arah Gean.
"Gilak! Gue kangen banget!" Seru Naufal, yang di balas tawa oleh yang lainnya.
"Dih, gak banget gue di kangenin Lo, pantes aja selama seminggu gue mimpi buruk terus, ternyata elo penyebabnya!" Sahut Gean sembari bergidik, menyebabkan tawa yang kembali terdengar dari sahabatnya itu.
"Gimana Alesha Ge? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Karin, dengan raut wajah khawatirnya.
Gean menoleh, "tenang aja, dia baik-baik aja ko, tapi kasian sih, dia gak boleh keluar rumah," balas Gean.
Karin mengangguk, "syukur deh kalo baik-baik aja, tapi kasian juga yah, ya udah, kapan-kapan gue mampir deh kesana, biar dia gak kesepian banget," ujar Karin.
"Emang bener Lo hamilin Alesha?" Timpal Andi bertanya, Naufal dan Reyhan ikut penasaran akan jawaban Gean.
"Kepo banget lu!" Balas Gean, yang membuat kecewa ketiga sahabatnya itu.
"Yaelah, jawab aja kali, bener apa kaga, kan kita mesti tau!" Sahut Reyhan.
"Bener tuh!" Andi membenarkan.
"Yah, anggep aja iya," balas Gean dengan cuek, jawaban Gean yang kembali tak memuaskan hasrat penasaran ketiga sahabatnya itu.
"Udah-udah gak akan bener di terusin juga, mati penasaran, mati penasaran deh kita!" Ujar Naufal menyerah, di sahuti kekecewaan Andi dan Reyhan.
Karena hari ini sekolah tengah mengadakan sebuah rapat dadakan, di mana semua guru tengah berkompromi atas kembali Gean ke sekolahan, di karenakan sekolah itu yang tiba-tiba di beli oleh keluarga Pratama.
Membuat semua guru ribut di buatnya, maka dari itu di adakan lah rapat, membuat jadwal mengajar di kosongkan.
Dan, di sinilah geng Gean yang tengah asik mengobrol di kantin sekolah di jamkos mereka.
"Jadi Lo beneran hamilin dia?" Pekik Reyhan, terkejut dengan apa yang ia dengar.
Gean yang kini cuek, masih sibuk dengan semangkuk baksonya. Ia tak menanggapi keterkejutan para sahabatnya itu.
"Kata gue juga anggap aja gitu, pokoknya, berapa bulan lagi berarti yah, em, abis Alesha lahiran aja, gue bakalan nikah sama dia." Jelas Gean tanpa beban, berbeda dengan Andi, Naufal, Reyhan dan Karin yang kini membelalakkan matanya.
"Serius Lo Ge!" Tanya Karin tak percaya.
Gean mengangguk, dengan tangannya yang masih sibuk menyuapkan bakso ke dalam mulutnya itu.
"Anjir! Lo serius, bentar lagi Lo nikah!" Ucap Andi sedikit keras.
"Siapa yang nikah?" Tiba-tiba suara wanita menimpali ucapan Andi itu, serentak semua menoleh ke arah suara itu.
Gean yang sedari tadi cuek, kini menjatuhkan sendok di tangannya. Matanya membulat, tak percaya dengan apa yang ia lihat kini.
"Ce-celine," ucap Karin dengan terbata, ia sama terkejutnya dengan Gean.
Bahkan kini, semua orang yang duduk di meja itu menatap wanita itu dengan mata lebar, tak percaya dengan yang mereka lihat.
"Hai, lama gak ketemu," sahutnya dengan sebuah senyuman lebar.
Namun, sebuah kerutan mulai muncul di keningnya, terlihat bingung, "tadi, kalian bilang ada yang mau nikah? Siapa?" Tanyanya, penasaran dengan siapa yang Andi maksud.
Gean sontak bangun, "gak ada!" Ucapnya, lalu ia langsung menarik lengan wanita itu, membawanya berjalan menjauh dari ke empat sahabatnya yang kini saling menukar tatap.
Siapakah wanita itu? Wanita yang Karin panggil dengan nama Celine, siapakah dia di masa lalu Gean.
Sampai Gean begitu terkejut dan bersikap seperti itu di hadapannya. Apa kemunculan wanita itu membuat Gean bimbang akan keputusannya terhadap Alesha?
Yuk, tunggu kelanjutannya :D
...Ad.Yul...