
Episode 3
“tiak,ri.. bagiku hanya kamu yang ada dihatiku dan hanya kamu yang akan selalu kucintai sampai mati. Jangan tinggalkan aku ri, aku mohon, ajak aku pergi bersamamu.” Ucap alesha yang sembari memegang tangan Arizona seakan ia sangat memohon kepada lelaki yang dicintainya itu…….
.
.
.
Suasara rumah alesha malam itu terlihat begitu mendung dengan berbagai tangisan yang keluar dari mulut alesha yang seakan sangat memohon kepada Arizona agar ia tidak pergi meninggalkannya. Mata Arizona yang mulai memerah memendam tangisnya sekaligus emosi nya saat itu, dengan menggepal kedua tangan nya menahan emosi nya agar tidak terkeluar.
“maafkan aku alesh, aku tak mungkin sanggup memberimu makan sebagaimana yang ibumu katakana. Sekali lagi, selamat tinggal dan jaga dirimu baik-baik…” ucap Arizona dengan sangat lirih ke alesha dan menatap mata sendu dengan bercucuran air mata yang keluar dari mata alesha
Diluar rumah terdengar sebuah motor berhenti tepat didepan rumah, seorang lelaki separoh baya menggunakan baju kemeja batik celana dasar hitam dan memakai peci hitam, dia mungkin saja ayahnya alesha pikir Arizona, lelaki separoh baya itu masuk kedalam rumah yang melihat aneh kearah mereka.
“ada apa ini?” Tanya lelaki separoh baya itu, ia adalah ayah tiri dari alesha yang baru pulang, dilihatnya suasana rumahnya tampak agak tegang.
“Ibu, yahh….” Ratap alesha kepada ayah tirinya itu
“ada apa, Bu?” Tanya lelaki separoh baya itu melihat penuh Tanya ke ibunya alesha
“Ibu telah menghina Arizona, yah” ucap alesha lirih meratapi nasibnya
“maafkan istri saya, nak Arizona.” Ucap lelaki separoh baya itu ke Arizona yang sedari tadi
menundukkan kepalanya
“tak mengapa, om. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh istri om, saya yang Cuma anak seorang kuli panggul pasar, tak pantas berhubungan dengan putri om” ucap Arizona
“apa yang telah kamu lakukan, Bu? Kenapa kamu sampai hati bicara seperti itu?” tegur ayahnya alesha yang merasa kasihan terhadap apa yang telah dilakukan istrinya itu kepada Arizona
“permisi, Om, alesha. Selamat malam.” Ucap Arizona sembari langkah kakinya pergi meninggalkan rumah itu
“tunggu ri, aku ikut” ucap alesha memegangi tangan Arizona
“tidak alesha, sebaiknya kamu turuti saja kata ibumu…” ucap Arizona
Usai berkata begitu arizona pun bergegas melangkah meninggalkan rumah keluarga alesha.
“Arizona…!” teriak alesha, namun Arizona terus melangkah sambil membawa kepedihan dan luka di hati serta hinaan yang terasa sangat menyakitkan.
Malam itu setelah Arizona pergi, alesha dan ayahnya pun berusaha menegur dan menyadarkan ibunya.
Namu wanita separoh baya itu malah balas menghardik suami dan anaknya itu.
“Diam… ! kalian tau apa eh?! Semua yang kulakukan demi kebaikan kalian. Memangnya kalian bisa apa jika tanpa aku, eh?! Kamu mas. Tanpa bantuan ayahku kamu tak akan bisa bekerja di kabupaten seperti sekarang ini. Bahkan mungkin kamu akan menjadi pengangguran. Siapa memangnya yang memperjuangkanmu mas? Siapa? Kamu toh tau sendiri bukan?
Keluargaku tak merestui hubunganku denganmu. Karena aku terus membujuk mereka sehingga akhirnya akhirnya ayahku mau membantumu. Kini kamu akan
mengingkarinya, mas? Karena kini kamu telah bekerja dengan enak, lalu kamu akan
menyepelekan aku, eh? Dan kamu alesha? Kamu tahu apa dengan hidup ini? Kamu
pikir hanya dengan cinta kamu bisa hidup? Ibu tahu siapa keluarga anak itu, apa
jadinya nantim kalau kamu menjadi istri anak itu dan menjadi menantu seorang
kuli panggul pasar? Memalukan …. Sudah mulai sekarang lupakan anak itu. Kamu
cantik, kamu bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih sempurna dan dari keluarga
yang terhormat.” Ucap ibu alesha menegaskan apa yang ia lakukan itu adalah
benar.
Alesha hanya bisa
menangis, sementara ayahnya Cuma diam. Hatinya terpukul mendengar istrinya
mengungkit masa lalunya. Seperti Arizona, dia pun memang dari keluarga tak mampu.
Dan karena bantuan istrinya, seingga akhirnya dia bisa bekerja di kantor
kabupaten.
“ibu kejam !!” kecam
alesha
“terserah apa
penilaianmu yang pasti sebagai seorang ibu aku tidak ingin masa depan putriku
suram.” Ucap ibunya tepat di depan mata alesha
Diana semakin mengguguk
tangisnya. Kemudian dia pun berlari masuk ke dalam kamar, gadis itu langsung
membantingkan tubuhnya di atas kasur dan menumpahkan tangisnya pada bantal.
Keesokan harinya,
sepulang dari rumah bibinya, alesha tidak langsung pulang kerumahnya. Tetapi dia
pergi ke pasar km 5, bermaksud mencari rumah Arizona. Begitu sampai di km5,
alesha pun bertanya pada tukang becak.
“permisi, pak. Apa bapak
tahu rumah pak maskot?” sapa alesha kepada bapak bapak yang sudah tua tengah
duduk didalam becaknya
“pak maskot yang kuli
panggul pasar?” jawab lelaki tua itu
“iya pak” ucap alesha
meyakinkan
“Oh, itu lihat ada
gardu, nah masuk saja gang itu, pas mentok, itulah rumah pak maskot, rumah nya
rumah panggung terbuat dari kayu.” Ucap lelaki tua itu sembari tangan nya seolah
olah menunjuk mengarahkan jalan ke alesha
“Terimakasih, pak” ucap
alesha dan melangkahkan kakinya kearah yang ditunjukkan lelaki tua itu
Alesha pun meneruskan
langkahnya, menyusuri jalan taruna. Dan ketika sampai didepan gardu ronda,
alesha pun memandang ke gang. Tampak olehnya sebuah rumah sederhana rumah
panggung yang terbuat dari kayu dalam hati alesha ia pernah kesini kerumah ini,
oh ya alesha mengingat malam itu Arizona membawa alesha untuk tinggal semalam
dirumah ini ketika ia pingsan di ganggu oleh 4 preman malam itu. Tentunya itu
rumah pak maskot, ayahnya Arizona pikir alesha. Lalu dia pun melangkah
menyusuri gang itu menuju kea rah rumah yang menghadap ke selatan.
“permisi…
assalamualaikum….. !” seru alesha memberi salam
“wa’alaikumsalam,” dari
dalam terdengar suara seorang wanita membalas. Dan tak lama kemudian, dari
dalam muncul seorang wanita cantik berumur sekitar 25 tahun. Ah iya.. alesha
mengingat lagi sepertinya ia pernah bertemu wanita ini tapi entahla dimana ia
pun seakan lupa.
“permisi, apa benar ini
rumah pak maskot?” ucap alesha ke wanita itu yang sedari tadi wanita itu
tersenyum kepadanya
“Benar.. kamu alesha
kan?” ucap wanita itu mengagetkan alesha
“iya, saya alesha. Mbak”
jawab alesha
“Oh.. dik alesha yang
rumahnya di kertapati, kan?” ucap wanita itu
“benar mbak. Darimana mbak
tahu” Tanya alesha
“kamu lupa, kamu yang
malam itu semalam tinggal dirumah ini, aku kakaknya Arizona, sofia. wah, ayo
masuk” ucap wanita itu kembali sekaligus memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah
kakak dari Arizona. Dan alesha pun mengingat kembali malam itu.
“terimakasih, mbak. Arizona
nya ada?” ucap alesha
“itulah yang sedang
kami pikirkan. Entah mengapa, semalam sepulang dari rumah dik alesha, Arizona tiba-tiba
memutuskan untuk pergi ke Jakarta.” Ucap wanita itu
“Arizona pergi ke Jakarta?”
ucap alesha meyakinkan dirinya sendiri.
“iya, ada apa
sebenarnya” jawab wanita itu
Dengan menangis, alesha
pun menceritakan kejadian semalam dirumahnya, membuat mbak sofia kakaknya Arizona
termenung dengan wajah murung setelah mendengar penuturan gadis itu.
“ya, memang beginilah
keadaan kami dik alesha” ucap mbak sofia dengan wajah murungnya
“saya mencintai Arizona
dengan tulus, mbak. Saya tak peduli siapa orang tua dan keluarga Arizona. Ibu saya
memang kejam dan tak berperikemanusiaan, mbak” ucap alesha sembari menangisi
yang sudah terjadi
“eh, tidak boleh
berkata begitu, bagaimana juga dik alesha harus menghargai dan menghormati ibu
dik alesha. Kalau memang dik alesha dan Arizona ditakdirkan berjodoh, tak akan
ada yang mampu menghalangi. Oh ya sebentar. Sebelum pergi Arizona meninggalkan
surat, dia meminta agar aku menyerahkannya kepadamu jika kamu kemari, sebentar
ya” ucap sofia yang terlihat sedih melihat semua ini dan alesha pun mengangguk.
Mbak sofia pun masuk ke
dalam kamarnya. Tidak lama kemudian mbak sofia telah kembali keluar dengan
membawa amplop berisi surat yang ditinggalkan oleh adiknya untuk diberikan
kepada alesha.
“ini…..” mbak sofia
menyerahkan surat itu pada alesha yang dengan perasaan tak menentu alesha menerima surat itu.
“mbak….” Panggil alesha
lirik ke mbak sofia
“ya?” jawab mbak sofia
ngomong apa-apa lagi?” ucap alesha
“dia Cuma mengatakan
bahwa dia baru akan pulang jika sudah sukses. Dia ingin menunjukkan pada ibunya
dik alesha, kalau dia pun bisa memberi nafkah dan juga kasih sayang serta
perlindungan pada dik alesha, Arizona juga mengatakan kalau dia sangat
mencintai dik alesha. Dia berharap kiranya dik alesha akan sabar menunggu…..”
ucap mbak sofia meyakinkan alesha bahwa adiknya Arizona mencintainya
“terimakasih, mbak. Saya
mohon pamit” ucap alesha yang hendak pulang
“kok buru-buru?” jawab
mbak sofia
“iya, mbak. Permisi,
assalamualaikum…” ucap alesha dan sembari berdiri untuk pergi segera
“wa’alaikumsalam…..”
ucap mbak sofia mematung didepan pintu rumah nya dengan diikuti pandangan haru
dari mbak sofia, dan alesha pun pergi meninggalkan rumah keluarga pak maskot.
3 bulan kemudian
Desember 2015
Semenjak Arizona pergi,
alesha yang semula senantiasa cerah ceria penuh canda ria itu berubah jadi
pendiam, bahkan bisa dikatakan pemurung. Tak ada lagi keceriaan, apalagi gelak
tawa dan canda ria sebagaimana biasanya. Wajahnya senantiasa dibalut kesenduan,
seakan tak ada gairah lagi untuk menjalani kehidupannya. Semangat dan gairah
hidupmya telah pergi bersama dengan kepergian Arizona. Alesha pun jadi sering
melamun, sehingga dia sering mendapat teguran dari tetangga-tetangga nya yang
sering melihat alesha melamun didepan teras rumahnya.
“alesha….” Ucap sella
tetangga sebelah rumah alesha
“ya” jawab alesha
terkejut
“kamu kenapa sih? Aku perhatikan
hari belakangan ini kamu suka melamun sampai-sampai kamu kena tegur ibu-ibu kampong
sini loh” Tanya sella, seolah ingin tau apa yang terjadi pada temannya itu
“Oh ya, beberapa bulan
belakangan ini, aku juga tidak lagi melihat Arizona, kemana dia?” Tanya sella
“itulah, sella…” ucap
alesha seakan enggan untuk berbagi cerita
“maksudnya” ucap sella
dengan rasa penasarannya
“Arizona pergi”ucap
alesha
“kemana” Tanya sella
“ke Jakarta….” Ucap alesha
dengan wajah sendu dan mata sayu nya menundukkan kepalanya
“Oh, itu toh yang
membuatmu murung?” gumam sella
Alesha pun mengangguk
“begitu aja, kenapa
terlaku kamu pikirkan? Nanti toh dia akan kembali, kan?” ucap sella seakan
biasa-biasa saja
Alesha menggeleng
dengan wajah kembali dibalut kemurungan, sehingga membuat sella jadi
mengerutkan keningnya.
“kalian putus?” ucap
sella
“entahlah…..” jawab
alesha acuh tak acuh
“Lho.. ada apa sebenarnya?
Kalau kamu dan Arizona tidak putus, lalu kenapa kamu murung hanya karena Arizona
pergi ke Jakarta, toh mungkin saja Arizona ingin mendalami bakatnya dalam
bernyayi.” Ucap sella
“karena dia pergi
dengan membawa luka, sella.” Ucap alesha
“maksudmu…..?” Tanya sella
bingung apa yang terjadi sebenarnya
“Arizona pergi ke Jakarta
setelah mendapat hinaan dari ibuku.” Tutur
alesha memberi tahu dan sella pun tercengang
“A… apa yang terjadi?” Tanya
sella kemudian alesha menghela napas panjang dengan wajah masih dibalut
kemurungan. Kemudian dengan air mata mengalir, alesha pun menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi.
“malam itu, Arizona kembali
datang kerumah . ibu yang memang dari pertama tidak suka pada Arizona berusaha
mengorek keterangan dari Arizona, akan siapa dia dan keluarganya seperti apa. Dan
Arizona yang memang tidak mau berbohong memberitahu ibu siapa dirinya dan siapa
orang tuanya. Begitu tahu kalau Arizona bukan anak orang kaya. Ibu pun dengan
sinis dan angkuh menghina Arizona mengatakan kalau Arizona tidak pantas
menjalin hubungan denganku dan lain sebagainy. Sehingga membuat Arizona tersinggung.
Malam itu juga Arizona pamit pulang, dan setelah itu Arizona pun pergi ke Jakarta.
Dia pergi dengan membawa hati yang terluka dan terhina, sella…” ucap alesha
menjelaskan apa yang terjadi antara dia dan Arizona malam itu
Sella manggut-manggut
dengan wajah kini turut dibalut kemurungan setelah tahu apa yang sebenarnya
terjadi.
“aku takut sella. Aku takut
Arizona tidak lagi mau menemukanku karena dia sakit hati pada ibuku,” keluh
alesha sembari menangis sambil memeluk sella yang menerimanya dengan penuh
kasih. Sebagai sesame wanita, juga sebagai seorang teman sebelah rumah, teman
sejak kecil. Sella cukup tahu bagaimana perasaan temannya itu. Dia merasa
kasihan pada temannya. Sella juga tak habis pikir, kenapa di jaman yang sudah
maju dan modern seperti sekarang ini, masih ada orang tua kolot seperi ibunya
alesha? Yang memandang segalanya berdasarkan jabatan, kedudukan, harta dan
uang? Padahal cara pandang seperti itu, akan sangat membahayakan putrinya
sendiri. Kalau ibunya alesha tak bisa mengubah sikapnya maka sella yakin suatu
saat nanti putrinya akan menjadi korban kematrealistisan ibunya alesha.
“tabahkan hatimu,
alesha. Mungkin ini ujian cinta yang harus kamu jalani. Aku yakin. Kalau Arizona
benar-benra tulus mencintaimu, dia pasti akan kembali kepadamu..” ucap sella
meyakinkan alesha agar alesha jangan lagi bersedih hati atas apa yang telah
terjadi.
“apa itu mungkin,
sella?” Tanya alesha
“kenapa, tidak” ucap
sella lagi lagi ia menenangkan alesha yang sedari tadi murung
“tapi ibuku telah
menghina dan menyakiti perasaannya, sella..” ucap aleshaa
“aku yaki, Arizona bukanlah
orang picik,alesha dan sepertinya sebagaimana penilaiku Arizona bukanlah orang
pendendam. Mungkin dia pergi ke Jakarta, sekedar untuk menenangkan perasaannya,
sekaligus juga berusaha untuk meraih impian dan cita-citanya..” ucap sella
“maksudmu….” Ucap alesha
dengan mata yang memandang sella penuh Tanya
“mungkin Arizona berpikir,
kalau dia berada di Palembang, dia tidak akan bisa melupakan hinaan yang
dilontarkan oleh ibumu, sehingga dia tak akan bisa merasa tenang, sebaliknya
jika dia di Jakarta setidaknya dia akan bisa melupakan hinaan yang dilontarkan
oleh ibumu dengan cara memcu semangat untuk berkarya dan terus berkarya untuk
menghasilkan karya-karya yang baik. Sehingga dia akan bisa menjadi orang yang
sukses, agar kelak dia bisa menunjukkan pada ibumu, juga pada orang lain bahwa
dia bisa menjadi orang yang sukses yang tak pantas untuk dihina apalagi
direndahkan.” Ucap sella sembari mengelus kepala temannya itu. Ia sangat
kasihan dan iba atas apa yang menimpa temannya itu.
*bersambung*
>>>next 😊