
Kini Gean tengah duduk di samping Alesha yang masih tak sadarkan diri setelah pemeriksaan tadi.
Dokter mengatakan bahwa terjadi benturan yang sedikit keras sehingga membuat Alesha mengalami pendarahan, namun, syukurlah hal itu tidak terlalu parah, sehingga janin yang ada di dalam perut Alesha masih bisa terselamatkan.
Gean akhirnya bisa bernafas dengan lega, ia kini terus menatap wajah Alesha yang terlihat begitu kelelahan. Satu tangannya ia bawa untuk membelai lembut pipi Alesha.
Karin yang juga berada dalam satu ruangan yang sama dengan Gean dan Alesha, kini merasa bingung harus berbuat apa. Ia kini bak penonton yang tengah menonton drama Korea.
Setelah beberapa saat, Alesha mengejapkan matanya, ia mulai tersadar.
"Ge-gean," ucapnya untuk yang pertama kali.
Sontak Gean sedikit terkejut mendengar suara Alesha, ia menatap wajah Alesha dengan seksama.
"Iya sha, gue disini, gue disini." Jawab Gean.
Karin juga ikut menghampiri Alesha, ia melihat Alesha yang kini sudah sadarkan diri. Tentu hal itu membuat Gean dan Karin semakin merasa tenang.
"Syukurlah kalo Lo udah bangun." Ujar Karin mengucap syukur.
Namun, terlihat jelas raut wajah Gean yang masih khawatir. Ia terus menatap wajah Alesha, dengan kerutan di keningnya menandakan rasa cemas.
"Ada yang sakit? Bilang ke gue, perutnya masih sakit? Atau kepala? Atau apa? Bilang aja, apa yang sakit!" Seru Gean, seakan takut jika Alesha masih merasa kesakitan.
Sebuah senyuman ter ulas di bibir tipis Alesha, ia menggeleng kecil. "Gue gakpapa," balasnya dengan suara lirih nya yang terdengar lemas.
"Beneran? Ya udah Lo tiduran aja, gak usah banyak gerak, oke!" Ujar Gean.
Alesha yang baru ingat akan kejadian yang telah menimpanya, ia langsung membawa tangannya memegang bagian perut.
"Ge, bayi gue?" Tanya Alesha dengan nada khawatir.
Ia menatap Gean dengan wajah takut, Alesha takut jika saja dirinya itu sudah keguguran. Namun, Gean dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Dia baik-baik aja," jawab Gean.
Dengan satu jawaban itu, akhirnya Alesha bisa merasa lega. Tak terasa sebuah tetesan air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya.
"Makasih, udah selamatin gue, kalo gak ada Lo, mungkin dia udah gak ada." Ujar Alesha sembari menatap naas ke arah perutnya.
Alesha juga menoleh, melihat Karin yang juga berdiri di sampingnya. "Makasih juga, makasih udah temenin gue, dan selamatin gue." Ucap Alesha yang ia tujukan kepada Karin.
Karin mengangguk, "yang penting, lo selamat, gue kaget waktu liat lo tiba-tiba jatuh sampe berdarah-darah gitu, untung Gean cepet dateng." Jelas Karin.
"Tapi, sekarang gimana? Satu sekolah udah tau kalo lo hamil, gue yakin pihak sekolah gak akan tinggal diem." Lanjut Karin, ia merasa akan sangat sulit untuk Alesha bisa kembali ke sekolahnya itu.
"Biar itu jadi urusan gue! Lo gak usah mikir macem-macem, pokonya sekarang Lo tinggal istirahat." Ujar Gean, seakan itu bukanlah suatu hal yang besar.
"Gue bakalan tanggung jawab, sekali pun Lo di keluarin dari sekolah, gue akan selalu ada buat Lo." Lanjutnya dengan tatapan mata serius yang ia tujukan kepada Alesha.
Alesha yang mendapati tatapan itu seolah-olah merasa tenang, tapi ia sadar, Gean tidak bisa ikut campur lebih jauh.
"Gak! Udah cukup Lo bantu gue sampe sini ge! Gue gak mau buat Lo terus masuk ke dalam permasalahan gue." Balas Alesha, menolak Gean untuk kembali masuk dalam permasalahannya.
Karin yang mendengar hal itu semakin kebingungan, kenapa Alesha seakan akan menolak Gean untuk bertanggung jawab, bukankah anak yang Alesha kandung itu anaknya Gean, batin Karin.
"Tu-tunggu! Gue gak ngerti, kenapa Lo gak bolehin Gean buat tanggung jawab?" Ucap Karin yang kebingungan.
"Maaf yah, tapi, bukannya Gean yang hamilin Lo!" Terusnya bertanya memastikan.
Alesha menggeleng, namun Gean langsung berucap memotong Alesha yang akan mengucapkan sesuatu.
"Gue bakalan tanggung jawab! Apapun yang terjadi sama Alesha! Adalah urusan gue dan tanggung jawab gue!" Jelasnya, dengan sorot mata tajam.
Tentu hal itu membuat Karin menelan salivanya dengan susah payah. Melihat Gean yang ia kenal, sorot mata tajam bak singa yang siap menerkam mangsanya.
Karin pun segera mengenyahkan rasa penasarannya itu, ia lebih baik bungkam daripada harus terus membuat Gean semakin geram hanya untuk menjawab rasa penasarannya.
Alesha kini hanya bisa diam, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Tentu saja pihak sekolah akan segera bertindak, bahkan kedua orang tuanya pun cepat atau lambat akan segera tahu akan keadaannya ini.
Bagaimana Alesha bisa menghadapi semua itu?.
Di saat Alesha tengah melamun memikirkan bagaimana kelak kedepannya, Alesha merasakan sebuah tangan yang menggenggam lengannya.
Alesha menoleh kepada si pemilik tangan itu, terlihat jelas sebuah senyuman yang seakan menguatkan dirinya.
"Gue gak akan pernah tinggalin Lo sha, gue janji." Ucapnya.
Entah bagaimana, satu kalimat itu mampu membuat Alesha merasa lebih tenang. Ia seakan tahu bahwa ada seseorang yang akan selalu menemaninya. Walau kelak akan ada masalah yang menanti, ia tidak perlu takut, karena Gean ada di sisinya.
SMA GHUNA DHARMA.
Alvin kini tengah berjalan mondar-mandir di depan ruang kelasnya, seakan tengah dilanda rasa gundah. Sedangkan Naya kini duduk menatapi Alvin yang tidak bisa diam sedari tadi.
Naya mendengus kesal, ia terlihat kesal melihat Alvin yang begitu ketakutan dan khawatir dengan keadaan Alesha.
"Bisa diem gak sih Vin!" Seru Naya, dengan nada yang terdengar sedikit sinis.
Alvin yang mendengar hal itu pun akhirnya menghentikan langkahnya, ia menatap Naya dengan wajah yang sama kesalnya.
"Gimana aku bisa tenang! kamu gak liat tadi Alesha sampe berdarah-darah gitu! Terus sekarang satu sekolah tau kalo dia hamil! Gimana kalo sampe aku kebawa juga nay!"
Naya kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Itu semua salah Lo sendiri sha! Cuman gue yang berhak jadi temen Lo! Itu akibatnya karena lo udah milih orang yang salah! Harusnya Lo gak usah banyak tingkah!" Batin Naya, seakan merasa bahwa dirinya itu tidak melakukan sebuah kesalahan.
"Sekarang gimana! Gimana kalo sampe aku di keluarin dari sekolah! Gimana!" Ujar Alvin dengan raut wajah yang ketakutan.
Naya kini hanya bisa diam, tak mampu membalas ataupun menenangkan Alvin. Sebenarnya ia juga sama ketakutannya, takut jika saja Alesha akan kembali merebut Alvin darinya.
"Gue gak akan biarin Lo rebut Alvin dari gue! Lo hamil itu salah Lo sendiri yang gak bisa jaga diri! Pokonya Alvin itu milik gue!" Batinnya lagi.
Bagaimana pun, Naya akan melakukan sesuatu agar dirinya tak kehilangan Alvin. Sosok Naya yang dulu baik dan pengertian sebagai sahabat Alesha, kini berubah menjadi sosok yang serakah.
Menurutnya, Alvin adalah miliknya, dan kehamilan Alesha itu bukanlah kesalahan Alvin. Alesha lah yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik, maka dari itu, Alvin tak salah sama sekali bagi Naya.