
Episode 4
“mungkin Arizona berpikir, kalau dia berada di Palembang, dia tidak akan bisa melupakan hinaan yang dilontarkan oleh ibumu, sehingga dia tak akan bisa merasa tenang, sebaliknya jika dia di Jakarta setidaknya dia akan bisa melupakan hinaan yang dilontarkan oleh ibumu dengan cara memicu semangat untuk berkarya dan terus berkarya untuk menghasilkan karya-karya yang baik. Sehingga dia akan bisa menjadi orang yang sukses, agar kelak dia bisa menunjukkan pada ibumu, juga pada orang lain bahwa dia bisa menjadi orang yang sukses yang tak pantas untuk dihina apalagi direndahkan.” Ucap sella sembari mengelus kepala temannya itu.
Ia sangat kasihan dan iba atas apa yang menimpa temannya itu.
.
.
“tapi kenapa dia tidak mau menemuiku terlebih dalu? Kenapa dia pergi begitu saja tanpa memberitahu aku?” ucap alesha yang masih sesegukan menangis
“dia tak berpesan apa-apa?” Tanya sella
“dia hanya menitipkan surat untukku pada kakaknya.” Jawab alesha
“bagaimana kamu tahu kalau dia menitipkan surat untukmu pada kakaknya?” Tanya sella
“aku kerumahnya.” Ucap alesha
“Oh…” sella manggut-manggut. “bagaimana tanggapan kakaknya Arizona terhadapmu saat itu le?” Tanya sella lagi
“mereka baik. Mereka pun sepertinya merestui hubunganku dengan Arizona.” Jawab alesha
“ya sudah… kamu jangan terlalu sedih. Sabar dan berdo’alah, kiranya sifat ibumu berubah dan Arizona senantiasa diberi kekuatan dan jalan yang baik untuk meraih cita-citanya. Aku
yakin, kalau Arizona sudah berhasil, dia pasti akan kembali padamu karena sepertinya
cintanya padamu begitu dalam alesha….” Ucap sella menyemangati temannya itu
Alesha hanya diam merenung. Ya, dia pun mengakui kebenaran dugaan yang dikatakan oleh temannya. Cinta Arizona kepadanya begitu dalam, tulus dan suci. Itu sebabnya meski banyak kesempatan untuk berbuat yang tidak-tidak. Arizona tidak melakukannya, padahal kalau lelaki lain jangankan diberi kesempatan, tidak diberi pun akan meminta
yang tidak-tidak.
Alesha masih ingat benar, ketika dia pasrah pada Arizona dan merelakan lelaki itu untuk merenggut kesuciannya, apa kata Arizona “Tidak, alesha… cintaku padamu tulus dan suci, dan aku tidak mau menodai kesucian cinta dengan berbuat hal yang belum
selayaknya kita perbuat. Kalau sudah saatnya nanti, dimana kamu sah menjadi istriku, barulah aku akan memintanya.” Ucapan Arizona waktu mereka masih bersama.
Lalu katanya lagi “Ingat, alesha. Jangan karena kamu mencintaiku. Lalu kamu begitu saja menyerahkan kesucianmu padaku. Ya, kalau benar aku yang akan menjadi suamimu.
Kalau ternyata tidak, karena mungkin kau dan aku tidak berjodoh, bagaimana? Apa
jadinya suamimu nanti, jika di malam pertama pengantin, dia mendapatkan dirimu
tidak suci lagi?”
“maafkan aku, Arizona. Aku khilaf….. namun ini semua karena aku terlalu sangat mencintaimu….” Ucap alesha saat itu sembari di rangkul oleh Arizona dalam dekapan pelukan hangat nya
“Ya, aku tahu. Begitu juga denganku, alesha. Aku sangat dalam mencintaimu, dan rasanya aku tak akan mungkin bisa menggantikan dirimu di hatiku.” Ucap Arizona yang masih terngiang-ngiang di telinga alesha
Benarkah apa yang pernah Arizona katakan itu? Kalau dia tak akan bisa menggantikan diriku dengan wanita lain?
Alesha menghela napas panjang.
“ada apa alesha?” Tanya sella
“tidak…… tidak apa-apa” ucap alesha
“kamu mengingat sesuatu?” terka sella melihat wajah alesha salah tingkah, dan alesha pun mengangguk.
“mengenai Arizona?” Tanya sella tanpa basa-basi lagi, dan kembali alesha mengangguk.
“boleh aku tahu?” ucap sella yang ingin tahu
“dia pernah mengatakan kalau dia tak akan bisa menggantikan diriku dihatinya dengan gadis lain, sella…..” ucap alesha
“ya, kurasa begitu.” Desah sella
“bagaimana kau yakin?” Tanya alesha
“karena aku pernah mengujinya,” jawab sella mengakui
Kening alesha mengerut. Matanya lekat memandang ke wajah temannya itu, seakan berusaha meminta penjelasan dari sella mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh temannya itu.
“maafkan aku, alesha.” Ucap sella
“menguji bagaimana maksudmu?” Tanya alesha
“aku pernah menguji kesetiaan cintanya padamu.” Ucap sella
“apa yang kau lakukan?” Tanya alesha, matanya mulai melotot
“malam itu, ketika aku pulang dari plaju, di jalan aku bertemu dengan Arizona. Karena sudah malam dan aku takut pulang sendiri, akhirnya aku pun meminta Arizona agar mau mengantarku.” Ucap sella
“Lalu….?” Tanya alesha yang sudah tidak sabar ingin mengetahui
“karena dia mengenalku sebagai temanmu dia pun mau mengantarku pulang.” Ucap sella
“Lalu………?” ucap alesha dengan cepatnya menyambar omongan sella
“ya, akhirnya Arizona mengantarku sampai dirumah, akibatnya dia pun jadi kemalaman sehingga tak ada lagi angkutan umum.” Ucap sella
“setelah itu?” Tanya alesha
“oleh kedua orang tuaku, akhirnya Arizona disarankan untuk menginap.” Ucap sella pelan
“dia menerima?” Tanya alesha
“mulanya dia menolak. Namun setelah kedua orang tuaku menjelaskan bahwa jam segini sudah tak ada angkutan, ditambah lagi kedua orang tuaku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Arizona, akhirnya Arizona pun menerima tawaran kami. Hari itu
malam minggu, karenanya akhirnya keputusan untuk menemani Arizona ngobrol, aku dan Arizona pun ngobrol sampai malam. Bahkan sampai kedua orang tuaku tidur,
dan pada saat itulah, aku tiba-tiba punya pikiran kotor, aku ingin merayunya meski aku sadar kalau dia adalah pacarmu…..” ucap sella dengan pengakuannya yang membuat alesha tercengang
Benar saja alesha tercengang mendengar penuturan temannya. Kedua matanya yang membuka lebar menatap lekat tak berkedip ke wajah sella
“A……. apa yang kemudian terjadi?” Tanya alesha dengan suara terbata
“mulanya kami duduk berseberangan, namun kemudian aku bangun dari kursiku, lalu pindah duduk di sampingnya. Setelah itu…..” ucap sella
“setelah itu apa?” Tanya alesha penasaran
“aku merayunya, bahkan aku nekad memeluknya.” Ucap sella sembari menundukkan kepalanya tak berani
menatap wajah alesha yang telah terlihat sedih ditambah ia cerita seperti ini tambah terlihat sedih dan murung lah wajah alesha
“Apaaaa…. Gila….! Lalu …… apa yang terjadi ?” teriak alesha
“A… ajakan apa?” Tanya alesha
“bercinta.” Ucap sella
“Kau……..?!” teriak alesha semakin membelalak kedua mata alesha dan semakin lekat kedua matanya menatap ke wajah sella.
“kau tahu apa yang kemudian terjadi?” ucap sella
“A…. apa?” Tanya alesha yang sesungguh nya ia tidak kuat jika mengetahui hal yang tidak-tidak terjadi
“dengan bibir masih tersenyum dia berkata….” Ucap sella, sella termenung, mengingat kembali kejadian di malam minggu saat dia berusaha merayu Arizona dan mengajak lelaki itu bercinta.
“sella, kau memang cantik dan menarik. Dengan kecantikan yang kau miliki, siapa pun lelakinya pasti akan tertarik kepadamu. Sayang, tidak seharusnya kau rusak kecantikan dan keanggunan yang kau miliki dengan cara-cara seperti in.” ucap Arizona pada malam itu dirumah sella
“apakah kau tidak tertarik padaku, Arizona?” Tanya sella kepada Arizona
“siapa bilang? Hanya lelaki buta atau bodoh saja yang tak akan tertarik pada gadis secantik dirimu,” jawab Arizona
“lalu, kenapa kau menolak ajakanku.?” Ucap sella
“ada dua hal yang menjadi alasanku menolak ajakanmu yang sesungguhnya menggiurkan, sella.” Ucap Arizona
“apa?” Tanya sella
“pertama, karena aku menghargaimu, kau adalah gadis baik, dan kau adalah teman karib alesha. Dan yang kedua, karena aku tak mungkin bisa pindah ke lain hati. Cinta suciku hanya untuk temanmu seorang. Alesha, hanya dialah yang selalu ada dalam hati dan
pikiranku, tidak wanita lain…..” ucap Arizona yang seolah olah menampar muka sella pada malam itu
“tapi alesha tidak akan tahu, ri.” Ucap sella masih optimis akan niatnya
“benar, dia tidak akan tahu, tapi aku tak akan mengkhianati cinta dan kepercayaan yang dia berikan kepadaku. Selain itu, aku juga tidak ingin menodai cinta suciku kepadanya dengan hal-hal yang bisa menyakiti perasaannya. Maafkan aku dan sebaiknya kau tidur, Karena sudah malam…” ucap Arizona lalu menidurkan kepala nya di ujung sofa tempat ia duduk dan sesegera mungkin sella beranjak bangkit dari duduknya disebelah Arizona sedari tadi.
Sella berjalan masuk kedalam kamarnya, dia masih tidak percaya akan kata-kata dari Arizona, lalu tibalah sella di atas kasur kamarnya merebahkan tubuhnya diatas kasur.
sella menghela napas panjang setelah mengingat kembali kejadian malam minggu itu. Dari situ sella tahu, betapa cinta Arizona pada alesha begitu dalam, tulus, dan suci. Kalau tidak, mungkin Arizona akan mau menuruti ajakannya. Karena, sebagai lelaki normal, siapa sih yang tidak akan mau diajak bercinta oleh gadis secantik sella?
“itukah yang membuatmu tak mau menemuinya?” Tanya alesha
“Ya, sejak malam itu, aku jadi malu pada diriku sendiri.” Desah sella lirih
“kau mencintainya?” Tanya alesha
“begitulah, tapi aku sadar, bahwa cintanya hanya untukmu. Jadi buat apa aku memaksakan kehendakku? Dan pula, aku tidak ingin merusak pertemanan kita, alesha. Aku harus menerima kenyataan, kalau aku tak mungkin mengharapkan cintanya yang sudah dia kunci hanya untukmu, maafkan aku alesha….” Ucap sella
“Lupakanlah…..” ucap alesha sembari tersenyum ketemannya itu
“kini percayalah, kalau cintanya padamu begitu dalam. Aku yakin, cintanya padamu tak akan pernah berubah untuk selamanya…..” ucap sella memberi semangat ke alesha
“ya, ku harap juga begitu. Dan aku pun akan tetap menunggunya. Tak akan pernah ada lelaki lain dalam hidupku selain dia.” Ucap alesha
“bagus..!” seru sella. Bersamaan dengan itu, terdengar suara adu mulut dari tetangga sebelah.
“ada apa, ayo kita lihat” ucap alesha ke sella
Setibanya mereka berdua di sebelah rumah sella terlihat ibu alesha sedang beradu mulut dengan tetangga, ibu alesha melemparkan sayur sayuran yang dibelinya sedari pasar tadi dilemparnya tepat di wajah ibu ibu separoh baya juga kisaran umurnya sama
seperti umur ibu alesha, alesha mendengar pembicaraan mereka itu terdengar
menyebut nama Arizona dan pak maskot. Alesha melebarkan telinganya dan
mendekati ibunya.
“berhenti bu, berhentiiiii….!” Teriak alesha
“minggir kamu” ucap ibu alesha sembari mendorong tubuh alesha yang langsung di papah oleh sella
“dasar… kamu tidak tau diri, maskot itu keluarga baik saya, dia orang baik, sholeh walau hidup dia miskin tapi dia tidak miskin hati seperti kamu, kalau kamu berani hina hina maskot seperti tadi di pasar, saya tidak akan segan-segan melaporkan dan menuntut kamu atas pencemaran nama baik, paham kamu !” ucap ibu donna yang beradu mulut dengan ibu alesha
Mendengar perkataan dari ibu donna membuat hati alesha sangat sakit, perilaku buruk ibunya bahkan tak hanya diberikannya pada Arizona justru juga di berlakukan nya pada ayahnya Arizona yang sejujurnya pak maskot tidak mengetahui semua ini. Air mata alesha semakin deras membasahi pipinya membayangkan apa yang terjadi di pasar, apa yang dihina kan nya terhadap pak maskot, sungguh tega ibunya berperilaku seperti itu.
“ibu keterlaluan !” teriak alesha
Ibunya melotot melebarkan matanya melihat kea rah alesha yang tengah menangis, menarik tangan alesha sekuat-kuatnya hingga membuat alesha tak berdaya.
“kamu.. dasar anak tidak tau di untung ! kamu sedang ku perjuangkan supaya kamu bisa dapat lelaki kaya heh, tapi sayangnya kamu terlalu bodoh untuk menerima apa yang ku lakukan saat ini alesha, cukup aku yang menderita alesha, dan yang ku mau, kamu jangan menderita hidup miskin sepertiku dengan menikah dengan orang miskin seperti
ayahmu itu alesha.” Ucap ibunya membuat alesha makin lunglai tak berdaya, tubuhnya yang di papah oleh sella sedari tadi membuat sella mengeluarkan air mata juga. Alesha tidak bisa berkata apapun lagi melihat ibunya yang makin hari makin menjadi.
“bu… jika kamu membenci kehidupan yang miskin, setidaknya kau peduli akan perasaan anakmu sendiri.” Seru sella ditengah tengah bertentang nya mulut ibu alesha dan ibu donna. Ibu alesha tidak menghiraukan perkataan sella sedikitpun, dia mengacuhkan omongan dari alesha dan sella.
“tolong antar aku pulang sel” desah alesha
“iya le” ucap sella
“lihat.. anak kamu saja muak akan sikap diirmu yang menjijikkan itu haha…. Sungguh wanita gila harta, lihat saja karma pasti berlaku untuk dirimu sendiri” teriak ibu donna yang merasa dirinya menang karena alesha membela nya
“kamu bukan tuhan! Dan saya tidak takut akan ucapanmu wanita sampah !” ucap ibu alesha meninggalkan ibu donna, tapi masih terdengar suara ibu donna membalas omongan ibu alesha.
“kamu wanita sampah ! jangan lupa akan status kelam mu euy” teriak ibu donna sekencang-kencang nya sampai membuat ibu alesha menoleh walau sudah jauh, tapi ibu alesha di pegangi warga sehingga ia tidak bisa melawan warga untuk balik menghardik ibu donna.
Sampai dirumah, sella mendudukkan tubuh alesha di atas sofa, dan pergi kedapur mengambil air putih untuk alesha yang sudah terkulai lemas tak berdaya.
Di pijat-pijatnya kepala alesha, sella sungguh merasa kasihan atas apa yang menimpa temannya itu, masalah yang datang ke alesha serasa bertubu-tubi dimulai dari sifat angkuh,
sombong ibunya sampai membuat nya jadi seperti ini. Dari luar terdengar langkah
kaki banyak orang, eh ternyata ibunya alesha yang di tuntun warga untuk pulang,
setelah itu warga pun pergi ketika ibu alesha masuk ke dalam rumah, ia melihat kearah
alesha sambil menyunggingkan senyum miringnya. Lalu menatap ke arah sella.
“kamu boleh pergi sekarang” ucap ibu alesha ke sella
Tanpa permisi atau pamit, sella langsung bejalan menuju pintu lalu ia menutup pintu dan keluar rumah.
“alesha benci ibu, sungguh” desah alesha
“kamu memalukan” ucap ibunya, membuat alesha tercengang, harusnya yang memalukan itu adalah ibunya bukan alesha. Alesha tak menghiraukan perkataan ibunya, lalu ia pergi menuju ke kamarnya meninggalkan ibunya seorang diri di ruang tamu. Alesha memecahkan tangisan nya di kamarnya, lalu tanpa sadar ia pun tertidur dalam tangisnya.
*bersambung*
>>>next 😊