
Sudah seminggu sejak kejadian di cafe, Alesha sudah menetapkan hatinya untuk tak terlihat rendah di hadapan Alvin yang telah menolak mentah mentah permintaanya, untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.
Hari demi hari, Alesha merasa tak tenang berpikir tentang masa depan yang sudah hancur dan bagaimana caranya untuk memberitahu kedua orang tuanya tentang keadaanya dirinya kini.
Alesha masih belum siap, dirinya takut. Alesha sadar jika ia sudah melakukan sebuah kesalahan besar, apakah kedua orang tuanya masih mau menerimanya. Itulah yang setiap hari Alesha pikirkan. Hatinya tak tenang, merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Ketika dirinya tengah melamun, sebuah ketukan pintu terdengar di telinganya. Alesha tersadar lalu dengan cepat mengusap butir butir air mata yang berada di pelupuk matanya. Ia dengan cepat berjalan ke depan pintu kamarnya membuka siapa gerangan orang yang mengetuk pintu kamarnya itu.
"Ibu," ucap Alesha ketika melihat Ibunya yang tengah tersenyum manis kepadanya.
"Ada teman kamu di bawah, dia cari kamu katanya." Jawab Ibu Alesha dengan nada yang sangat lembut.
Alesha tersenyum kembali lalu berpikir jika Gean datang untuk menjenguknya. Alesha pun segera turun ke bawah bersama Ibunya untuk melihat siapa teman yang Ibunya maksud.
Tetapi semua tebakan Alesha ternyata salah, bukan wajah Gean yang mata Alesha tangkap, melainkan lelaki brengsek yang sama sekali tak ingin Alesha temui lagi seumur hidupnya.
"Hai, Sha." Sapa Alvin kepada Alesha.
Alesha enggan untuk membalas sapaan itu, ia mengepalkan tangannya, merasa ingin memukul wajah Alvin yang tepat berada di hadapannya ini. Namun, tak mungkin ia memukul Alvin di hadapan Ibunya.
"Mau ngapain Lo kesini?" Tanya Alesha dengan nada yang sama sekali tak bersahabat.
"Aku mau ngomong sesuatu Sha," balas Alvin.
"Ngomong apa?" Tanya Alesha lagi, tak ingin memperpanjang pembicaraan dengan Alvin.
"Tante boleh Alvin ajak Alesha keluar sebentar?" Tanya Alvin kepada Ibu nya Alesha, Alesha yang mendengar hal itu mengerutkan keningnya sembari menatap Alvin tajam.
"Disini aja ngomongnya, gak bisa?" Ucap Alesha sinis.
Namun, Alesha mendapati sebuah rengkuhan di pundaknya, Ibu Alesha seperti tahu jika Alesha tidak suka dengan kehadiran Alvin. Ibunya pun mengelus pelan pundak Alesha mencoba menurunkan amarahnya.
"Kamu ikut dulu nak Alvin yah, siapa tahu ada yang mau di omongin penting." Ucap Ibu Alesha.
Alesha pun menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Enggan untuk mengikuti apa yang Ibunya sarankan.
"Tapi Bu," balas Alesha dengan raut wajah yang enggan menuruti perkataan Ibunya.
"Sebentar aja kan Nak Alvin?" Tanya Ibu kepada Alvin, Alvin pun dengan cepat mengangguk.
"Iya Tante, sebentar aja, bolehkan? Alvin gak akan lama ko Tan," balas Alvin meyakinkan Ibu Alesha.
"Sebentar aja sayang, kamu ikut dulu yah, kasian tuh Alvin, siapa tahu penting." Bujuk Ibu lagi.
Alesha pun hanya bisa mengangguk pasrah lalu bersiap secepat mungkin dan mengikuti Alvin yang mengajaknya entah kemana. Untungnya Alvin membawa mobil sehingga membuat Alesha bernafas lega, karena dengan itu Alesha tak harus terlalu berdekatan dengan pria brengsek itu.
"Jadi Lo mau ngomong apa, bisa kan ngomong disini aja." Ucap Alesha dengan ketus.
Alvin yang tengah menjalankan mobilnya tersenyum lesu mendengar ucapan Alesha yang sama sekali tak mau berlama lama dengannya.
Alvin merasa Alesha sudah sangat berbeda dengan Alesha yang dulu ia kenal, Alesha yang dulu selalu bersifat manja kepadanya juga yang bertutur kata manis sudah hilang. Alvin tak lagi menemukan sosok itu dalam Alesha yang kini berada di sampingnya.
"Maafin aku Sha," ucap Alvin.
Alesha memutarkan kedua bola matanya, jadi apakah hanya permintaan maaf yang akan Alvin ucapkan sampai harus membuat Alesha terpaksa mengikutinya.
"Kalo Lo cuman mau bilang maaf, gue udah cape dengernya, Lo udah bilang itu berkali kali dan sampai kapan pun gue gak akan berubah, kata maaf Lo basi Vin." Balas Alesha yang tak sama sekali berniat melirik Alvin.
"Aku bener bener minta maaf Sha, aku emang brengsek, tapi Sha, aku sama sekali gak ada niat untuk ninggalin kamu Sha, aku," ucap Alvin panjang lebar dengan nada yang terdengar pasrah.
"Aku apa? Hah? Gak niat ninggalin gue? Bercanda Lo? Bisa bilang gak niat buat ninggalin gue seudah apa yang Lo lakuin ke gue?" Alesha membalas Alvin dengan sedikit emosi yang tak tertahan, sampai terlihat buliran buliran air mata yang sebentar lagi akan terjatuh.
"Sha, a, aku bener bener gak berniat buat ninggalin kamu Sha, semuanya, semuanya terjadi gitu aja, aku gak bisa apa apa Sha," jelas Alvin lagi yang semakin membuat Alesha tak mengerti apa maksud Alvin.
"Aku sama Naya, gak berniat untuk ngelakuin hal itu sama kamu Sha, kita berdua terpaksa," jelasnya lagi. Alesha terdiam mencoba mendengarkan penjelasan Alvin yang sama sekali tak ia mengerti.
"Aku, aku terpaksa nerima pertunangan yang di ajuin sama Mamamhnya Naya yang sekarang lagi sakit Sha,"
"Semuanya terjadi gitu aja, waktu itu aku anter Naya ke Rumah Sakit karena dia dapet telpon bahwa Mamahnya kambuh, jadi aku anter dia dan aku gak nyangka kalo Mamahnya bakalan minta sesuatu hal yang gak pernah aku bayangin,"
"Aku sama Naya bener bener kaget dan gak tau harus jawab apa, tapi karena liat kondisi Mamahnya yang udah lemes banget, akhirnya Naya mohon mohon buat aku nerima semua permintaan Mamahnya,"
Alesha yang tengah mendengarkan semua itu tersenyum sembari mengelap pipinya yang basah karena air matanya.
"Sha, aku sayang banget sama kamu Sha, aku gak bisa kehilangan kamu, aku mohon, aku mohon jangan tinggalin aku Sha," mohon Alvin kepada Alesha, Alvin sudah memberhentikan mobilnya sedari tadi di pinggir taman komplek rumah Alesha.
Alvin pun mencoba membawa tangannya untuk meraih tangan Alesha, namun Alesha menepis tangannya.
"Gue gak ngerti Vin, gue bodo amat sama cerita Lo sama Naya, yang gue tanya sekarang apa Lo sanggup tanggung jawab sama anak yang ada di perut gue?" Tanya Alesha.
Alvin menatap wajah Alesha yang sangat serius menatapnya, Alvin menundukkan kepalanya dirinya tak tahu harus berkata apa.
"Sha, denger kita masih anak SMA, aku bukannya gak mau tanggung jawab, tapi kita, kita gak bisa Sha, kita masih muda, a, aku belum siap, juga kamu pasti belum siap kan Sha," balas Alvin terbata bata, Alesha yang mendengar hal itu menggeleng gelengkan kepalanya.
"Emang brengsek lo Vin!" Ucap Alesha, Alesha pun berniat turun dari mobil Alvin
Namun Alvin mencegahnya, ia langsung mengunci pintu mobilnya lalu mencoba meraih pundak Alesha dan membawanya untuk menghadapnya.
"Sha, dengerin aku, Ki, kita bisa mulai lagi dari awal, aku gak mau kehilangan kamu Sha, Ki, kita coba cari cara gugurin bayi itu yah,aku bakalan cari cara supaya kamu bisa hidup normal lagi dan kita bisa bareng bareng lagi kaya dulu, yah sayang." Bujuk Alvin.
Alesha semakin brutal mencoba melepaskan diri dari pegangan Alvin dan menampar Alvin debgan sangat keras.
"Gean bener, Lo sama sekali gak pantes jadi ayah dari anak yang ada di perut gue!"
Alvin memutarkan bola matanya, ia juga mengepalkan tangannya, merasa kesal akan ucapan yang Alesha lontarkan.
"Gean lagi Gean lagi! Kenapa sih harus bawa bawa dia, aku gak suka yah kamu deket deket sama dia, dia bawa pengaruh gak baik buat kamu Sha!" Ucap Alvin dengan nada marah.
Alesha tertawa lucu mendengarkan ocehan Alvin yang menurutnya sangat sangat menggelitik.
"Gean? Bawa pengaruh gak baik buat gue? Hhh... Saat gue sendirian, saat gue butuh orang di samping gue! Lo ada? GAK ADA VIN! yang selalu ada buat gue, dari awal Lo tinggalin gue! Lo hancurin gue! Cuman Gean! Sekarang Lo bilang Lo gak suka gue Deket deket dia karena di bawa pengaruh gak baik buat gue?"
"Lo gak malu Vin ngomong gitu? Lo gak berhak ngomong kaya gitu ke Gean! Disaat gue hancur se hancur hancurnya, gue gak tau mau gimana lagi dengan anak Lo di perut gue! Cuman Gean Vin! Cuman Gean yang tenangin gue dan bikin gue bisa terima semua ini!" Balas Alesha yang sama sekali tak terima dengan ucapan Alvin yang tak suka dengan Gean.
Padahal jika saja Alesha tak bertemu Gean saat itu, mungkin Alesha sudah memilih untuk mengakhiri hidupnya, tapi Gean yang selalu membuat Alesha kuat dan siap menjalani semua ini demi dirinya juga anak yang Alesha kandung.
"Sha, dengerin aku, Gean gak baik buat kamu, aku tau aku salah tinggalin kamu, buat kamu ngerasa sendirian, tapi Sha, Gean gak selalu bener, nyatanya dia buat kamu harus nanggung semua ini padahal kita bisa hidup normal kaya dulu."
"Sha, aku Ayah dari anak yang kamu kandung, tolong dengerin aku, kita gugurin yah, ini satu satunya pilihan terbaik kita saat ini," jelas Alvin lagi, Alesha melepaskan pegangan tangan Alvin yang memegang kedua pundaknya.
"Gue gak habis pikir sama jalan pikiran Lo Vin! Gean aja bisa lebih milih buat selamatin anak yang gue kandung padahal dia bukan siapa siapa tapi Lo! Brengsek Lo Vin!"
"Makanya itu Sha, Gean bukan siapa siapa jadi dia mikirin hal yang bakalan bikin hidup kamu hancur Sha! Coba kamu pikir emang hidup kamu bakalan baik baik aja kalo kamu terus pertahanin kandungan itu? Apa kamu bisa terus lanjut sekolah?"
"Gimana nanti kamu bisa Kuliah Sha? Gimana orang tua kamu? Apa mereka udah tau? Apa mereka bisa nerima?" Alvin terus memegang kedua pundak Alesha dengan kuat, merasa dirinya benar.
"Aku yang hamilin kamu Sha aku yang lebih berhak mutusin harus pilih lanjut atau akhirin semua ini! Dan aku rasa pilihan aku udah yang paling bener, kamu gak perlu hidup susah mikirin ini itu dan kita juga bisa mulai lagi semuanya dari awal,"
"Apa kamu mau terus dengerin omongan si Gean Gean itu? kamu mau pertahanin kandungan ini dan hidup sama laki laki itu?"
"Boleh aku tanya? emangnya Gean mau tanggung jawab sama kandungan kamu? emangnya keluarga Gean bisa nerima kamu yang sama sekali gak ada hubungannya sama Gean? emang keluarga Gean bakalan biarin dia buat bertanggung jawab atas apa yang gak dia lakuin?" Alesha terdiam mendengar semua pertanyaan itu.
"Gak bisa kan Sha! kamu gak bisa biarin dia nanggung semua kesalahan yang gak dia lakuin Sha!"
"Apa kamu mau hancurin hidup dia yang sama sekali gak lakuin satu kesalahan apa pun? hidupnya bisa hancur Sha! cuman karena kamu!"
"Aku mohon Sha, stay with me, tolong dengerin aku kali ini yah." Mohon Alvin, namun Alesha tidak mungkin mengikuti permintaan itu.
Jelas jelas pikiran Alesha masih lebih bisa berpikir dengan jernih dibandingkan Alvin kini. Alesha langsung saja mendorong Alvin lalu mencoba membuka pintu mobil, akhirnya Alesha berhasil, dia pun keluar dari mobil dan berjalan pergi meninggalkan Alvin yang berteriak berterima memanggil namanya.
"Sha! ALESHA!"
Alesha terus berjalan enggan mendengar panggilan panggilan yang Alvin serukan, air matanya mengalir deras, bagaimana bisa Alvin begitu kejam, memikirkan hal yang benar benar bejat. Alesha tak habis pikir, mulai hari ini tak akan lagi Alesha mendengarkan omongan omongan busuk Alvin.