
Gean membuka pintu Apartemennya, ia baru saja kembali dari luar. Gean pergi keluar karna harus membeli beberapa keperluan yang ia butuhkan dan beberapa hal yang kini Alesha perlukan.
Gean membawa tubuhnya berjalan menuju meja di dapurnya, ia membereskan barang-barang yang baru ia beli itu.
Sayuran, buah-buahan, es krim, cemilan-cemilan, Gean membeli banyak barang, dan akhirnya barang yang terakhir keluar dari kereseknya ialah sebuah kotak yang aneh jika orang melihat Gean membeli kotak itu.
Sekotak susu, untuk Ibu hamil. Gean membelinya, karena Alesha membutuhkannya kini. Maka dari itu, Gean membeli beberapa keperluan untuk kesehatan Alesha.
Gean menetapkan pada dirinya, bahwa kini Alesha adalah tanggung jawabnya, dan Gean akan berusaha untuk selalu menjaga Alesha dan makhluk kecil di perut Alesha itu.
Gean, pasti akan menjaganya.
Setelah beberapa saat, Gean kemudian berjalan ke arah kamarnya, ia membuka pintu dan berhasil menangkap pemandangan seorang Alesha yang kini tengah terlelap.
Gean tersenyum kecil, Alesha terlihat begitu manis. Walau dengan mata sembabnya, semua itu tak membuat kecantikkan wajah Alesha menghilang. Gean mendekat dan mendudukan pantatnya di samping ranjang.
Gean membawa lengannya ke arah wajah Alesha, mengusap lembut dengan perlahan. Alesha yang baru saja terlelap, merasakan gerakan halus dari lengan Gean, ia pun akhirnya membuka matanya dan langsung menangkap wajah tampan Gean.
Gean tersenyum ke arah Alesha, senyuman kecil yang dengan cepat berkembang menjadi cengiran ala Gean.
"Hai Kebo..." Goda Gean, membuat Alesha mengerutkan keningnya.
"Apaan sih!" kesal Alesha, Gean tertawa kecil.
"Makannya bangun, daritadi diem di kamar gue mulu. Gak bosen apa?, yuk bangun, lo emang kagak laper apa?" ajak Gean,
Alesha pun akhirnya mencoba bangun dari tidurnya, ia menatap Gean yang kini masih setia memperhatikannya di samping ranjang.
"Apa lo liat-liat!" ketus Alesha,
Gean yang mendadak mendapat ucapan ketus Alesha lagi, kini tak bisa menahan tawanya.
"Udah jutek, cuek bebek lagi aja lu!" ucap Gean dengan kekehannya.
Alesha yang mendengar balasan Gean kini hanya memutarkan matanya jengah.
Gean bersyukur, akhirnya Alesha bisa seperti biasa lagi. Alesha sudah terlihat lebih baik daripada tadi, Gean beberapa kali mengucap kata 'Alhamdulillah' dalam hatinya.
Merasa tenang akan Alesha yang kini sudah sedikit membaik.
"Yaudah ayu! kok malah bengong sih Ge," ujar Alesha yang membangunkan Gean dari lamunannya. Gean yang tersadar langsung saja menampilkan cengirannya.
Gean akhirnya bangun ikut berjalan mengikuti Alesha yang memimpin di depan.
"Woy, gue yang punya rumah kali. Kok jadi kaya lu yang punya rumah sih." Ujar Gean, disaat Alesha yang terus berjalan di depannya ke arah dapur dan langsung membuka kulkas milik Gean.
Alesha membalikkan badannya dan menampilkan sebuah senyuman manis yang terlihat dibuat-buatnya.
"Laperrr...." ucap Alesha yang kini dengan nada sedikit manjanya.
Gean yang mendengar hal itu tentu saja langsung terdiam di tempatnya, ia terpaku dengan wajah manis Alesha yang kini berada di hadapannya.
Gean mencoba menelan ludahnya, lalu mengalihkan pandangannya dari wajah manis Alesha. Ia membawa telapak tangannya mendorong pelan wajah Alesha yang kini terlihat mencebik.
"Ishhhh!" kesal Alesha, karena didorong Gean.
"Minggir lah, katanya laper." Balas Gean seadanya dan mencoba mengutak-atik kulkasnya tanpa tau apa yang akan ia ambil, karena Gean masih tetap mengingat wajah manis itu.
Setelah beberapa menit akhirnya Gean selesai membuat dua porsi nasi goreng yang kini siap dihidangkan. Alesha terlihat begitu semangat ketika Gean mengangkat nasi goreng yang sudah matang dan tercium harum itu.
Gean yang melihat Alesha tengah duduk sembari memegang sendok di tangan kanan dan garpu ditangan kirinya tak bisa menahan sebuah senyuman kecil. Gean menggeleng kecil, Alesha terlihat bak anak kecil yang tengah menunggu di beri makan oleh Ibunya.
"Berdoa dulu," ingat Gean, ketika Alesha bersiap menyendokkan nasi goreng itu. Alesha menyengir layaknya anak kecil yang begitu kelaparan sampai lupa untuk berdoa sejenak.
Alesha dengan cepat mematuhi perintah Gean, setelah itu ia langsung saja menyuapkan satu sendok nasi goreng buatan Gean.
Gean menatap Alesha, menunggu sebuah ucapan dari mulutnya. Alesha yang merasa di perhatikan mengangkat wajahnya menatap Gean, ia menaikkan satu alisnya.
"Kenapa?" tanya Alesha, melihat Gean yang masih menatapnya tak berniat memakan nasi gorengnya.
"Suka aja gue liatin lo makan," balas Gean, Alesha yang mendengar jawaban Gean langsung saja menampakan sedikit semburat merah di pipinya.
"Apaan sih lo!" ucap Alesha, ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Gean.
Gean yang melihat tingkah Alesha kini menampakkan senyum tipis nya. Gean lalu beranjak berjalan ke arah lemari, ia membuat segelas susu untuk Alesha.
Gean menghampiri Alesha yang tengah menyendok nasi gorengnya.
Alesha yang melihat Gean berdiri di hadapannya mulai menoleh dan mendapati tubuh Gean yang tinggi, Alesha juga menatap pada segelas susu yang Gean pegang.
"Apaan?" tanya Alesha pada Gean, Gean menaikkan satu alisnya dan menyerahkan susu itu ke atas meja di hadapan Alesha.
"Minum." Ucap Gean singkat, padat dan jelas tentunya.
"Gue minum susu?" tanya Alesha merasa aneh, pasalnya ia tak terlalu suka dengan susu.
Gean kembali duduk di kursinya dan menatap Alesha yang kini masih memandangi segelas susu di hadapannya.
"Minum Sha," ucap Gean lagi.
"Tapi, gue gak suka..." balas Alesha dengan wajah merajuknya. Gean yang melihat hal itu menghela nafas kecil.
"Minum sayang," ucap Gean kembali dengan lembut.
Alesha kini hanya bisa menatap Gean dengan mata berbinarnya, berharap bisa lolos dari susu putih di hadapannya itu.
"Lo harus minum, seengganya kalo gak suka lo paksain, itu juga bukan buat lo aja." Ucap Gean terasa menceramahi Alesha, Alesha yang mendengarnya mulai mengernyit.
'Bukan hanya untuk dirinya?' batin Alesha.
"Itu susu Ibu hamil, lo sekarang gak sendirian. Lo harus kasih makan bayi yang ada di perut lo, gue gak mau lo sama bayi itu kenapa-kenapa, jadi minun yah." Bujuk Gean, Alesha yang mendengar hal itu mulai terdiam.
Gean, Alesha merasa sangat terharu dengan perlakuannya kini, padahal anak yang di kandungnya bukan anak Gean, tapi Gean bisa sepeduli ini dengan dirinya dan, anaknya.
"Hey, jangan bengong..." ujar Gean membuat Alesha tersadar.
Alesha menatap Gean, lalu ia tersenyum, senyuman yang begitu manis.
"Makasih," ucap Alesha tulus.
Gean yang mendapati hal tersebut terkejut dengan senyuman indah yang kini Alesha tujukan padanya.
Gean menoleh ke arah lain, ia mengalihkan pandangannya, jantungnya berdebar sangat kencang kini. Gean tak tahu mengapa bisa jadi seperti ini, ia mendadak merasa kerongkongannya begitu kering, Gean mencoba meraih segelas air di meja.
menimumnya dengan sedikit tergesa, masih salah tingkah atas perlakuan Alesha tadi.
Alesha yang melihat hal itu, kini terkekeh kecil, merasa lucu dengan tingkah Gean.
"Cowo bisa merona juga yah." Ucap Alesha sembari membawa segelas susu ke mulutnya, membuat Gean semakin memerah disana.
"Apaan sih lu!" elak Gean, dan Alesha kini tertawa kecil disambut tawa Gean yang juga keluar, karena merasa lucu akan dirinya yang salah tingkah ini, hanya karena senyuman manis seorang, Alesha.