
Angin berhembus, menerpa wajah Alesha yang kini tengah menutup matanya, mencoba merasakan angin yang kian membelai wajahnya.
Di sore itu, Alesha hanya duduk terdiam di tepi kolam, di taman belakang rumahnya.
Bosan terus berdiam diri di kamar, Alesha akhirnya pergi untuk mencari angin dan di sinilah kini ia berada.
"Huh..." Ia menghembuskan nafasnya, terdengar sedikit nada kekecewaan di dalamnya.
"Padahal gue udah kirimin Lo surat, tapi sampe sekarang, Lo masih gak kesini juga!" Gumam Alesha merasa kesal.
"Dasar curut nyebelin! Awas aja sampe Lo kesini, Gue bakalan jadiin Lo curut geprek!"
Alesha membawa tangannya, membuat gerakan seperti tengah mengulek-ngulek wajah Gean yang akan segera menjadi Gean geprek.
"Wih, jangan dong. Nanti kalo gue di geprek gak ganteng lagi." Timpal seseorang yang kini membuat Alesha seketika terperanjat memegangi dadanya.
Alesha juga langsung menoleh ke belakang, melihat Gean yang kini berdiri menyandarkan tangannya ke pintu.
"Gean!" Pekik Alesha.
Gean pun tersenyum lebar, lalu berlari kecil ke arah Alesha. Alesha bingung, melihat Gean yang kini berada di hadapannya. Apa yang harus ia lakukan, senang, sedih, atau kesal.
"Dasar curut sialan! Lo ngeselin banget sih!" Serunya, sembari mencubit kecil pinggang Gean membuatnya mengaduh kesakitan.
"Aw, aw, aw..."
"Rasain! Nyebelin sih!" Alesha kini membuang wajahnya kesal, ia juga mencebikkan wajahnya cemberut.
"Uhh... cayang, cup, cup, cup, jangan ngambek dong, sebagai permintaan maaf, gue ajak jalan-jalan, gimana?" Bujuk Gean.
Namun, Alesha masih terdiam merajuk. Membuat Gean gemas melihatnya, tak berlama-lama ia lancarkan tangannya mencubit pipi tembam Alesha.
Alesha membulatkan matanya, terkejut saat tangan Gean yang kini mencubit pipinya gemas. "Gean!" Pekiknya kesal.
Gean hanya menyengir cengengesan, "udah, udah jangan ngambek terus, gemes kan jadinya."
"Yuk jalan aja, mau gak?" Ajak Gean kepada Alesha.
Alesha tentu saja mau, tapi Gean pasti berbohong, lagipula Alesha itu tidak di perbolehkan keluar oleh kedua orang tuanya. Maka dari itu, pasti Gean berbohong, pikir Alesha.
"Mau gak nih? Mau kemana? Belanja? Makan? Main? Atau... mau ke kamar?" Tanya Gean, sembari sedikit menggoda Alesha di ujung kalimatnya.
Alesha yang mendengar hal itu tentu kini membulatkan matanya terkejut dengan penuturan Gean di akhir, langsung saja ia luncurkan sebuah getokan tepat di kepala Gean.
"Aw..." Gean meringis, mengusap-usap kepalanya yang terasa panas.
"Makannya, jangan asal ngomong! Emang yah pikiran Lo tuh kotor! Dasar curut!" Gerutu Alesha.
"Yaelah, becanda doang. Ya udah, makannya jawab kali, mau kemana tuan putri?" Gean masih mengusap-usap puncak kepalanya sendiri.
"Males deh, Lo pasti ngerjain gue kan, mana bisa Lo bawa gue keluar dari sini! Pake tanya mau kemana segala, nyebelin banget." Ketus Alesha sembari menghempaskan pantatnya ke atas kursi.
Dengan raut wajah muram, Alesha hanya bisa duduk terdiam mengalihkan pandangannya dari wajah Gean.
Ada sedikit rasa sedih, mengingat ajakan dari Gean hanyalah sebuah bualan semata. Padahal Alesha sangat ingin pergi keluar, sudah lama baginya menghirup udara di luar.
Ia hanya di perbolehkan keluar di saat akan memeriksakan kandungannya ke dokter bersama orang tuanya.
"Dih, ngapain gue bohong, serius sayang, serius," ucap Gean.
Gean juga ikut duduk di samping Alesha, ia bahkan membawa tangannya merangkul pundak Alesha, membawanya mendekat.
"Gue serius, duarius malah, gak bohong bener deh, suer." Ucap Gean meyakinkan Alesha.
Alesha menoleh, menatap wajah Gean. Ia mencari raut kebohongan di wajahnya, tetapi yang Alesha dapatkan kini hanyalah tatapan serius tanpa ada sirat kebohongan di matanya.
"Lo, beneran?" Tanya Alesha, lalu Gean hanya mengangguk membalas pertanyaannya.
"Iya, gue serius, Ibu sama Ayah Lo udah bolehin ko, tenang aja, udah ada ijin." Seru Gean.
"Makannya sekarang Lo siap-siap sana, yang cantik, kita jalan-jalan sepuasnya." Lanjut Gean membuat Alesha seketika sumringah.
"Beneran Ge? Beneran kan! Jangan bohong!" Serunya terlihat begitu senang.
Gean mengangguk, "iya Alesha cantik, yuk, mau kemana sih? Makannya cepet siap-siap sana." Balas Gean lagi meyakinkan Alesha.
"Akhhhh! Makasih Gean, ya udah Lo tunggu yah, gue siap-siap dulu. Jangan kemana-mana loh! Tungguin gue yah!" Pekik Alesha, ia juga berjalan sembari terus menatap ke arah Gean, memastikan Gean diam menunggunya.
"Iya, iya gue tungguin, awas hati-hati, jangan lari-lari! Alesha!" Teriak Gean saat melihat Alesha yang kini berlari kecil menuju kamarnya.
Gean pun kini hanya bisa menggeleng kecil, melihat punggung Alesha yang menghilang di balik tembok.
"Dasar CIMIL! Bocil Bumil, bisa-bisanya bocil kek begitu hamil." Seru Gean sembari terkekeh.
Tak memakan waktu lama, akhirnya Alesha sudah siap. Ia langsung melangkahkan kakinya ke bawah, menjemput Gean yang sudah menunggunya.
Lalu, mereka pun berpamitan kepada Ayah juga Ibu Alesha, yang benar saja mengijinkan Alesha untuk pergi ke luar rumah.
Di sepanjang jalan, Alesha yang awalnya begitu ceria, tersenyum lebar juga bahkan menyanyi bak anak kecil. Tak berapa lama kini sudah tertidur pulas menyandarkan kepalanya di pintu mobil.
Gean hanya bisa menggeleng melihat Alesha yang begitu luar biasa aneh tidak bisa di tebak. Suasana di dalam mobil yang awalnya begitu berisik karena suaranya kini tiba-tiba hening.
Tentu hal itu membuat Gean hanya bisa terkekeh, semakin gemas dengan tingkah Alesha yang tak terkira.
"Apa bumil semuanya pada begitu yah? Ada aja kelakuannya yang gak abis pikir?" Gean menggaruk tengkuknya yang tak gatal merasa aneh.
Ia pun lanjut fokus menyetir, menuju tempat yang Alesha inginkan. Sampai akhirnya, beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan.
Gean yang sudah memarkirkan mobilnya kini berniat untuk membangunkan Alesha. Namun, wajah Alesha yang tengah tertidur terlihat begitu manis, Gean menjadi tak tega untuk mengganggu tidurnya itu.
Selama beberapa menit, Gean terus mengarahkan tatapannya ke arah wajah Alesha, dengan sebuah senyuman lebar di wajahnya.
Sampai akhirnya, kedua mata itu mengerjap, menetralisir cahaya yang perlahan masuk ke dalam matanya.
"Gean?" Ucapnya, melihat wajah Gean yang masih setia menatapnya dengan senyuman lebarnya.
"Kita udah sampe?" Tanyanya, sembari menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.
"Udah, kita udah sampe dari... 35 menit yang lalu." Ujar Gean sembari melihat jam tangannya.
Tentu Alesha terkejut mendengar penuturan Gean, apa Gean menunggu Alesha bangun selama itu?.
"Terus Lo ngapain kaga bangunin gue curut!" Pekik Alesha yang tak habis pikir.
"Yah, Lo cantik sih waktu tidur, makannya, gue gak tega kalo harus bangunin Lo." Balas Gean dengan santai, merasa tak bersalah.
Berbeda dengan Alesha yang kini menatapnya dengan tatapan tak percayanya. "Gila lo yah Ge!" Cerca Alesha takjub dengan tingkah Gean yang di luar pikirannya itu.
Tak lagi berlama-lama, mereka langsung turun dan masuk ke dalam tempat perbelanjaan itu.
Tempat pertama yang Alesha ingin kunjungi adalah Mall. Ia ingin menghirup udara barang-barang baru yang sudah lama tak ia hirup.
Baru memasuki pintu utama, Alesha langsung merasa segar, menghirup udara yang sudah lama tak ia rasakan.
Mereka pun akhirnya berjalan mengelilingi Mall, mencari barang yang entah apa itu. Karena sudah beberapa toko yang Alesha masuki, tetapi tak ada juga barang yang akhirnya ia beli.
Bahkan, sekarang ia tengah memasuki toko ke lima belas, bayangkan, ke lima belas! Gean benar-benar tak habis pikir.
"Sha, Lo mau beli apaan sih, Lo harus inget, Lo tuh lagi hamil, jangan kecapean." Seru Gean, menasehati Alesha yang kini fokus melihat lihat barang yang terpanjang rapih di toko tersebut.
"Iya, iya Ge, gue tau, tenang aja, gue belum cape ko." Balas Alesha tanpa menghiraukan Gean.
"Gila, belum cape Lo bilang. Jadi yang hamil itu gue apa lu, kaki gue aja rasanya udah mau copot, Lo bilang belum cape? Amazing banget lu Sha, Sha..." Ucap Gean takjub dengan balasan Alesha.
“Gean!” teriak seseorang memanggil nama Gean.
Sontak Alesha juga Gean menoleh ke arah suara tersebut. Gean tercengang, tubuhnya seketika menegang, melihat wanita yang kini melambaikan tangannya ke arah dirinya.
"Celine!" Batin Gean.
Ia lalu menatap Alesha yang kini sudah menatapnya dengan tatapan tajam yang siap membunuhnya.
"Siapa?" satu pertanyaan itu mampu membuat Gean kini merasakan sesak di dadanya.
"Mati gue!" Gumam Gean, mencoba menelan ludahnya dengan susah payah.