ALESHA

ALESHA
ALESHA : 18



Alesha kembali masuk ke dalam Kafe, dirinya masih bercucuran air mata, tetapi Alesha terus melangkahkan kakinya ke dalam Kafe menuju bangku yang kosong.


Di luar Kafe, Gean masih kesal dan mengeluarkan amarahnya dengan memukul helm nya untuk beberapa kali, sehingga membuat tangannya berubah menjadi kemerahan.


Alesha juga Gean saling menangisi semua itu, mereka terpisah seakan sudah tak ada jalan untuk kembali memulai semuanya. Gean sangat ingin untuk mengejar gadisnya itu, tetapi egonya lebih besar, Gean mengambil helm nya dan segera pergi dari Kafe itu, meninggalkan Alesha sendirian.


Alesha pun mencoba berhenti dari tangisnya itu, dia berusaha kuat. Ini adalah hal yang ia pilih, walau sakit ini adalah pilihan yang terbaik. Dirinya menahan keinginannya untuk berlari keluar Kafe dan memeluk lelaki yang mulai Alesha cintai itu. Namun, bagi Alesha ini adalah yang terbaik untuknya juga Gean.


Gean berhak untuk mendapatkan wanita yang lebih baik darinya, Alesha tak mau Gean harus menanggung sebuah kesalahan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Gean. Bagaimana mungkin Gean bisa menanggung semua itu, padahal ini semua kesalahannya dengan Alvin.


Semoga, ini adalah jalan terbaik untuk mereka. Ketika Alesha tengah terdiam memikirkan Gean yang sudah pergi meninggalkannya, bukan, tetapi dirinya lah yang meninggalkan Gean.


Alesha tidak sadar jika pada saat itu seseorang tengah berdiri di sampingnya. Itu adalah Alvin, Alvin tersenyum lebar ketika melihat Alesha yang sudah duduk menunggunya. Sudah lama sejak dirinya dan Alesha bisa bertemu seperti ini.


Alvin sama sekali tak berpikiran aneh, mengapa tiba tiba Alesha mengajaknya bertemu. Alesha masih belum sadar akan kehadiran Alvin, dirinya kemudian mengusap pelan pipinya yang masih basah, lalu ia menoleh ke sampingnya dan terkejut mendapati Alvin yang sudah berdiri dengan senyuman lebar.


"Hai," sapa Alvin saat melihat Alesha yang sadar akan kehadirannya.


Namun disitu Alvin juga baru sadar jika Alesha tengah menangis. Dirinya langsung berjongkok di hadapan Alesha, menatap wajah bengkak Alesha yang sudah menangis.


Alvin mengubah raut wajah senangnya menjadi sedikit khawatir, ia menatap wajah Alesha yang tak bisa Alvin jelaskan.


"Kamu kenapa Sha?" Tanya Alvin, namun Alesha tak berniat membalasnya.


"Siapa yang buat kamu nangis gini?" Tanya Alvin lagi.


Alesha hanya diam menatap Alvin dengan tatapan tajam, Alesha masih tidak bisa melupakan tentang apa yang sudah Alvin lakukan kepadanya. Bagaimana bisa ia melupakan pengkhianatan itu, Alvin juga Naya.


Alesha menghela nafasnya pelan, ia mencoba tersenyum, walau terpaksa bagaimanapun Alesha harus bisa menerima kembali Alvin.


"Kami gakpapa kan Sha?" Tanya Alvin lagi untuk kesekian kalinya.


Alvin kini mencoba membawa tangannya untuk meraih wajah Alesha, namun belum juga tangannya menyentuh permukaan wajah Alesha, Alesha sudah lebih dulu menepis tangan Alvin.


"Gue gakpapa." Balas Alesha singkat setelah menepis tangan Alvin.


Alvin hanya bisa terdiam, ia tersenyum kikuk. Dirinya tahu jika Alesha masih tidak bisa memaafkannya, memang Alvin sadar akan apa yang sudah ia lakukan memanglah hal yang keterlaluan, ia tahu itu sangatlah menyakiti perasaan Alesha. Namun, mau bagaimana lagi, Alvin hanya bisa menyesalinya sekarang.


"Bangun." Ucap Alesha menyuruh Alvin untuk bangkit dari posisi jongkoknya. Alvin pun segera bangkit dan berpindah ke bangku yang berada di hadapan Alesha.


Alvin pun kembali tersenyum ketika sudah duduk di hadapan Alesha. Sudah sangat lama bisa kembali merasakan hal seperti ini baginya juga Alesha.


"Jadi, kenapa kamu suruh aku kesini Sha?" Tanya Alvin.


Alesha pun menatap wajah Alvin dengan serius.


"Gue mau omongin sesuatu sama Lo," balas Alesha.


"Apa?" Tanya Alvin, sedikit penasaran dengan apa yang akan Alesha bicarakan dengannya.


"Lo masih inget, perbuatan apa yang udah Lo lakuin ke gue?" Ucap Alesha seakan bertanya kepada Alvin akan perbuatan yang sudah ia lakukan sebelum putus dengan Alesha.


Alvin tidak langsung menjawab, ia sedikit terdiam memikirkan pertanyaan Alesha.


"Aku, selingkuh," jawab Alvin pelan dengan wajah yang sedikit menunduk.


Alesha terkekeh kecil ketika mendengar jawaban Alvin, padahal bukan jawaban itu yang Alesha harapkan, tapi hal itu malah membuatnya terkekeh.


"Bukan, perbuatan bejat Lo yang lain?" Tanya Alesha lagi. Alvin kembali terdiam memikirkan apa jawaban yang Alesha inginkan.


Kesalahan apa yang Alvin lakukan selain berselingkuh di belakangnya dengan Naya.


"Lo inget pernah ngasih gue obat?" Tanya Alesha, seakan mengingatkan kembali kejadian itu, Alvin langsung membelakak.


Ia menelan ludahnya yang seakan begitu kering. Alvin menatap wajah Alesha yang terlihat sangat serius dengan raut wajah yang menahan amarah.


"Maaf," ucap Alvin meminta maaf, ia sadar akan apa yang sudah ia lakukan kepada Alesha itu perbuatan yang sangatlah bejat. Tetapi, dulu dirinya tengah di pengaruhi minuman beralkohol.


Iya, dulu hal yang menyebabkan Alesha bisa jatuh ke dalam ranjang bersama Alvin dikarenakan Alvin yang meminum minuman beralkohol, sehingga mengakibatkan Alvin tak bisa berpikiran jernih.


Sebenarnya Alvin adalah lelaki yang baik, tak pernah meminum minuman haram itu, tapi pada hari itu ia terpaksa karena di undang ke pesta ulang tahun temannya yang sudah sangat lama tak bertemu.


Alvin mengajak Alesha untuk datang bersamanya ke pesta itu. Tetapi ternyata teman Alvin itu malah membuat Alvin terpaksa meminum minuman haram itu, karena hampir semua orang di sana mengejek Alvin yang awalnya menolak untuk ikut minum.


Akhirnya karena menjadi bahan tertawaan dan cemoohan teman temannya yang lain, Alvin pun memberanikan diri untuk mencoba meminumnya.


Alvin yang saat itu baru saja mencoba hal itu, sedikit saja sudah sangat berpengaruh kepada kesadarannya. Alvin yang sudah hilang separuh kesadarannya di hasut oleh beberapa temannya untuk menjebak Alesha agar tidur bersamanya.


Alvin yang tidak sedang berpikiran sehat akhirnya mengiyakan ide tersebut dan menjebak Alesha seperti kata temannya, ia memberi Alesha minuman yang sudah di campur obat tidur, sehingga Alesha yang sudah meminum air tersebut langsung jatuh pingsan, Alvin pun membawanya ke kamar yang sudah di sediakan temannya.


Alesha yang terbangun di pagi hari sudah tak berbusana dan menemukan Alvin di sampingnya, ia langsung saja menangis dan memarahi Alvin. Namun, Alvin yang juga bangun langsung terkejut dengan apa yang ia lihat. Alvin hampir tak mengingat apa yang sudah terjadi semalam.


Alvin pun meminta maaf saat itu dan berjanji akan bertanggung jawab apapun yang terjadi pada Alesha, ia berjanji akan selalu berada disampingnya.


Alesha pun bisa tenang dan kembali berhubungan dengan Alvin seperti biasanya. Walau ada rasa sesal dalam dirinya karena tak bisa menjaga apa yang harusnya ia jaga.


Tapi, apa yang Alvin lakukan tak lama sesudah kejadian itu, ialah pengkhianatan yang membekas di hati Alesha. Begitulah, bagaimana bisa Alesha hamil dan berpisah dengan Alvin kini.


"Bukan kata maaf yang gue mau." Ucap Alesha.


Alvin pun menatap Alesha dengan raut wajah bingung.


"Gue hamil." Lanjut Alesha, kata kata itu mampu membuat Alvin terdiam seketika, matanya membulat. Seakan tak percaya dengan apa yang sudah Alesha ucapkan.


"Gue mau Lo tanggung jawab sesuai janji Lo." Alesha mencoba menagih janji Alvin yang mau menanggung semua perbuatannya.


Alvin malah menggelengkan kepalanya, ia tertawa kikuk. Seakan tak percaya dengan semua ini.


"Kami bercanda kan Sha?" Tanya Alvin, Alesha yang mendengar hal itu hanya bisa terkekeh.


"Lo pikir gue ada waktu buat bercandaan hal kaya gini sama Lo?" Balas Alesha dengan nada sinis nya.


"Gue mau Lo tanggung jawab Vin!" Ulang Alesha dengan nada yang seakan menahan amarah.


"Ka, kamu gak bohong kan Sha, gak bercanda kan?" Pertanyaan itu kembali Alvin lontarkan, membuat Alesha jengah.


"Lo pikir gue bisa bercandaan hal gini! Gue gak tau harus gimana lagi Vin, gue hancur gara gara Lo! Bisa gak sih Lo serius dikit, mana ada gue becandain hal kaya gini!" Ucap Alesha dengan gemeretuk di giginya, ia menahan seluruh amarah ya yang sudah sangat ingin ia lepaskan.


Tapi Alesha sadar akan keberadaannya kini yang berada di sekitar orang orang. Dirinya pun mencoba sekuat mungkin menahan amarahnya.


"Gak, gak, itu gak mungkin Sha," tolak Alvin, ia menolak akan semua perkataan Alesha yang sulit Alvin terima.


Alesha membulatkan matanya, bagaimana bisa. Dirinya harus tak di percayai oleh orang yang sudah membuatnya seperti ini.


"Sadar Vin! Lo sadar gak sih apa yang udah Lo lakuin ke gue!"


"Gak mungkin Sha, gue gak siap, gue gak bisa nikah sekarang, gak mungkin gue punya anak," ucap Alvin terus menerus menolak fakta yang ada.


Alesha hanya bisa terdiam di tempatnya, ia tak bisa berkutik apa apa lagi, lelaki yang sudah membuatnya seperti ini malah menolak semuanya, seakan dirinya sama sekali tak bersalah.


Alesha mengepal kuat tangannya, ia seakan ingin melayangkan sebuah tinjuan di wajah Alvin.


Dan seketika datang seorang wanita yang tiba tiba berada di samping Alvin. Naya, iya wanita itu adalah Naya, ternyata sedari tadi Naya telah mengikuti Gean yang bergegas datang ke Kafe. Naya yang penasaran apa yang telah terjadi dengan cepat mengikuti Gean dan menemuka fakta bahwa Alesha tengah mengandung anak Alvin.


Hatinya hancur ketika mendengar hal itu, benar benar hancur. Bagaimana bisa Alvin dan Alesha melakukan hal itu. Walau dirinya tahu harus melepaskan Alvin untuk kembali kepada Alesha, melihat Alvin yang terus menolak bayi Alesha, Naya pun menguatkan hatinya, dirinya tak mau melepaskan Alvin begitu saja.


Akhirnya dirinya memberanikan diri untuk keluar dan berjalan menuju ke bangku Alesha dan Alvin.


Alvin juga Alesha terkejut ketika melihat Naya yang berdiri di hadapan mereka.


"Naya," ucap Alesha.


"Ayo pulang!" Ajak Naya kepada Alvin. Alesha yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya kepada Alvin.


Bagaimana bisa mereka berdua.


Alvin terlihat terdiam di tempatnya, Alesha mengepalkan tangannya dengan begitu kuat. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat kini.


Naya menarik lengan Alvin, Alvin pun kemudian berdiri mencoba pergi meninggalkan Alesha.


"Sha, ma, maaf" ucap Alvin.


Alesha menahan tangisnya yang akan pecah, ia menahan semua itu. Melihat lelaki yang seharusnya berada di sampingnya dan bertanggung jawab atasnya malah berniat kabur bersama wanita lain.


Tiba tiba Alesha merasakan rengkuhan di pundaknya yang membawanya untuk bangkit. Alesha menoleh ke sampingnya dan ia terkejut ketika mendapati Gean yang kini tengah merengkuhnya juga tersenyum menang kepadanya.


"Gue bilang apa, gak ada gunanya kan Lo ngomong sama cowok brengsek." Ucap Gean, Alesha yang mendengar hal itu malah tak sanggup menahan air matanya.


Beberapa air matanya keluar begitu saja dari matanya, bagaimana bisa Alesha melihat lelaki yang sudah ia tinggalkan tadi. Seharusnya lelaki yang kini berada di sampingnya ialah Alvin, lelaki yang harus bertanggung jawab atas semuanya, namun yang Alesha lihat kini bukanlah Alvin, melainkan Gean.


"Yok pulang, gue gak mau Lo sama bayi gue stress cuman gara gara setan setan gak jelas, oke." Ajak Gean, Alesha pun hanya bisa mengangguk kecil, dirinya harus merasa bersyukur atau menyesal membuat Gean kembali masuk ke dalam permasalahannya.


Yang pasti, dirinya merasa lega, bahwa dia masih memiliki Gean disini, bukan lelaki brengsek seperti Alvin yang kini terdiam melihat Gean dan Alesha yang berjalan menjauh darinya.


Bagaimana kedepannya Alesha serahkan semuanya pada Tuhan, semoga itulah yang terbaik untuknya.


...Adyul...