
Episode 5
“kamu memalukan” ucap ibunya, membuat alesha tercengang, harusnya yang memalukan itu adalah ibunya bukan alesha. Alesha tak menghiraukan perkataan ibunya, lalu ia pergi menuju ke kamarnya meninggalkan ibunya seorang diri di ruang tamu. Alesha memecahkan tangisan nya di kamarnya, lalu tanpa sadar ia pun tertidur dalam tangisnya.
.
.
Hari ini alesha mulai bekerja di sebuah mall, alesha bekerja diajak oleh temannya sella, sekaligus sella ingin alesha melupakan apa yang terjadi menimpa beberapa bulan ini.
Alesha masih agak terhibur karena di tempat kerja nya tu ada temannya dimana tempat dia curhat dan juga mau mengerti akan keadaan dirinya. Tetapi bila sudah berada di rumah, alesha pun kembali murung dan tak bergairah. Apalagi jika ingat kalau apa yang kini dialaminya, dimana Arizona yang dicintainya pergi karena ulah ibunya semakin membuat alesha kian bertambah sedih. Sebenarnya ia merasa kecewa pada sikap ibunya. Dan sebenarnya ia tidak betah berada dirumah. Namun karena ia tak tahu harus kemana dan harus bagaimana, membuatnya berusaha untuk bertahan berada dirumah.
Bila berada dirumah, maka yang dilakukan oleh alesha adalah mengurung diri di dalam kamarnya. Dan jika sudah berada di dalam kamar, maka alesha pun tak akan keluar-keluar dari dalam kamarnya. Bahkan sampai malam pun, kalau ayahnya belum pulang dari kerja, alesha tidak akan keluar dari dalam kamar. Hal itu membuat sang ibu jadi jengkel. Ibu alesha yang tahu penyebab perubahan sikap anaknya, semakin bertambah kesal saja atas sikap yang ditunjukkan oleh alesha.
“alesha”…….! teriak ibunya
Alesha tak menyahut. Dia tetap duduk termenung di tepi ranjang, merenungi perjalanan cintanya. Memikirkan Arizona yang sampai kini beum juga memberi kabar berita. Padahal, Arizona tak perlu menyuratinya melalui alamat rumah. Arizona toh bisa mengirim surat untuknya lewat mbak sofia. Tapi, kenapa Arizona tidak melakukannya? Benarkah cinta Arizona masih untuknya? Atau jangan-jangan, karena sakit hati pada ibunya, Arizona kemudian tak mau lagi berhubungan dengannya?.
Arizona tidakkah engkau merasakan bagaimana jiwaku tersiksa? Kalau benar engkau mencintaiku dengan sepenuh hati, berilah aku kabar. Sungguh aku sangat merindukamu. Sungguh aku ingin sekali tahu bagaimana kabarmu, ri. Andai saja aku tahu dimana engkau kini berada, ingin rasanya aku pergi menyusulmu. Aku benar-benar tak bisa hidup tanpa dirimu, ri. Kumohon, ingatlah aku, berilah aku kabar, agar hatiku bisa sedikit tenang, desah alesha dalam hati sedih dan pilu. Sementara dari kedua sudut matanya, tampak mengalir dua butir air bening yang jatuh membasahi pipinya.
Ingatan alesha pun kembali melayang mengingat masa-masa indah dan bahagianya bersama dengan Arizona. Dan selama ini, semenjak Arizona pergi, alesha pun sering mendatangi tempat-tempat dimana dulu dia dan Arizona bersama seorang diri. Lalu di tempat itu, dia akan duduk seorang diri sambil membayangkan saat bersama Arizona.
Semua kejadian yang dialaminya bersama Arizona, memang tak akan pernah hilang dari kerinduannya pada Arizona begitu mengharu biru. Namun ada satu kejadian yang sangat berkesan sekali baginya, yaitu ketika pertama kali Arizona menciumnya. Itu terjadi di dalam gedung bioskop saat mereka nonton film.
Mulanya, baik Arizona maupun alesha biasa saja, duduk berdampingan. Namun ketika adegan di film menggambarkan sepasang kekasih tengah bedua di tepi pantai berdiri saling berhadapan satu sama lain, perlahan namun pasti baik alesha maupun Arizona
sama-sama menengokkan kepada mereka. Sehingga akhirnya keduanya pun saling
pandang satu sama lain. Dan ketika di film tampak tangan si lelaki menggenggam
jari-jemari tangan si wanita, Arizona pun perlahan menyentuhkkan tangannya ke
tangan alesha yang membiarkannya, bahkan menunggu reaksi Arizona selanjutnya.
Dan ketika jari-jemari tangan Arizona menggenggam jari-jemarinya alesha pun
membalasnya. Begitu juga saat jari-jemari Arizona *** jemarinya, alesha pun
membalas. Lalu keduanya sama-sama tersenyum. Setelah itu, perlahan sama-sama
tersenyum. Setelah itu, perlahan namun pasti alesha merebahkan kepalanya di
pundak Arizona.
Dan manakala di film menggambarkan adegan ciuman, perlahan Arizona berbisik ditelinga alesha,
“alesha” ucap Arizona lirih
“Ya…” jawab alesha
“Bolehkah aku menciummu?” ucap Arizona membuat alesha tersentak terkejut lalu alesha tersenyum
“kenapa kamu tersenyum?” ucap Arizona sambil mengerutkan dahinya
“kamu lucu ri.” Jawab alesha
“apanya yang lucu?” Tanya Arizona kebingungan
“kamu kok jadi ikut-ikut an film sih ri?” ucap alesha
“maksudmu?” Tanya Arizona
“kamu kan penyanyi solo, ri.” Ucap alesha
“Hmmmmm… lalu?” Tanya Arizona yang masih bingung dengan celetuk an alesha
“biasanya, penyanyi solo kan pintar ngerayu dengan lagu-lagu galaunya itu loh,ri” ucap alesha sembari terkekeh kecil
“nyatanya, apa aku bisa merayu?” jawab Arizona cemberut kecil
“Iya….” Ucap alesha
“mana buktinya?” Tanya Arizona
“aku buktinya……” ucap alesha
“aku tidak merayumu, kok” ucap Arizona
“ri, kamu memang merayuku tidak dengan kata-kata, tetapi dengan sikap baik dan lembut yang kamu tunjukkan, telah membuatku simpatik dan tertarik. Sehingga akhirnya aku jatuh cinta sama kamu, ri….” Ucap alesha tersenyum sambil merangkul tangan Arizona dan Arizona pun membalas senyum manis wanitanya itu.
“jadi?” Tanya alesha
“tadi….” Ucap alesha
“tadi apa” balas Arizona bingung
“huhhhh……!” sungut alesha sembari mencubit pinggang Arizona pelan.
“Ohhhhhh itu?” ucap Arizona terkekeh kecil, dan alesha merengut
“kamu mengijinkan?” Tanya Arizona
Perlahan namun pasti, dengan bibir tersenyum alesha menggunakan kepala sebagai tanda kalau dia mengijinkannya Arizona menciumnya. Lalu perlahan alesha memejamkan kedua matanya diikuti dengan merekahkan bibirnya.
Alesha menunggu.
Namun apa yang terjadi? Ternyata Arizona bukan mencium bibirnya melainkan mencium kedua pipinya. Hal itu membuat alesha terperangah dan memandang lekat ke wajah Arizona.
“kenapa?” Tanya Arizona
“Kokkk…” ucap alesha sembari kesal
“Ah… tidak, aku kira kamu mau mencium bibirku.” Ucap alesha merengutkan bibirnya
“belum saatnya itu kulakukan, nanti setelah kau menjadi istriku, maka bersiap-siaplah bibirmu akan habis kucium…” ucap Arizona tersenyum
“iiihhhh….. !” ucap alesha sebal dan Arizona pun terkekeh kecil
Begitulah Arizona meski diberi kesempatan dan bahkan alesha sendiri rela serta pasrah, tetapi Arizona tak akan mau melakukan tindakan yang berlebihan. Arizona akan senantiasa mengatakan “belum saatnya.” Bahkan ketika suatu hari alesha pasrah, hendak menyerahkan ksuciannya pada Arizona, lelaki itu tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala. Untuk kemudian dengan halus dan lembut Arizona membujuk agar alesha kembali mengenakan pakaiannya.
Bukan sekali dua kali Arizona mendapatkan kesempatan untuk merenggut kesucian alesha, namun tak sekali pun Arizona mau melakukannya. Dengan teguh Arizona selalu berhasil menguasai diri dan berhasil mengingatkan alesha. Padahal menurut cerita ketika masih duduk di bangku SMA, Arizona terkenal sebagai anak yang nakal, suka
berkelahi, dan berbuat nakal lainnya. Bahkan Arizona berani melawan anak pak lurah di pusri, sehingga anak pak lurah takluk dan tunduk padanya. Dan masih menurut berita yang alesha dengar dari salah seorang tetangganya yang seangkatan dengan Arizona, semasa masih duduk di bangku SMA. Arizona juga suka mabuk serta ugal-ugalan. Tetapi kini, alesha tak melihat hal seperti itu pada diri Arizona, Arizona yang sekarang dia kenal dan dia cinta, berada 180 derajat dari Arizona yang dulu. Mungkin benar apa yang dikatakan pujangga, kalau cinta
mampu mengubah segalanya. Tak ada sikap ganas dan kasar pada Arizona sebagaimana kabar mengenai Arizona semasa masih duduk dibangku SMA yang didengarnya.
Yang ada justru sebaliknya, sikap lemah lembut dan penuh cinta kasih, yang membuatnya semakin bertambah bagus. Cintanya pada Arizona pun kian bertambah
dalam.
“alesha….. !” dari luar kamarnya, kembali terdengar suara ibunya memanggil.
Diana tetap tak menyahutinya
Tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka dan masuk ibunya dengan wajah menggambarkan kejengkelan.
“ngapain sih kamu?!” Tanya ibunya dengan mata lekak melotot kearah alesha
Alesha tak menyahut, yang dilakukannya hanya menghela nafas panjang sembari menundukkan kepalanya, seakan sang ibu berusaha menyelidik dan mengetahui apa yang tengah dilakukannya.
“alesha…. Kamu tidak makan?” ucap ibunya
“belum lapar” jawab alesha acuh tak acuh
“apa maumu sih? Hanya karena lelaki miskin macam dia saja, kamu menyiksa diri. Memangnya kalau kamu sakit, apa dia perduli?!” dengus sang ibu.
“huhh! Kayak lelaki Cuma dia saja di dunia ini. Apa sih hebatnya dia? Cuma seorang pengamen jalanan yang masih miskin, dan anak seorang kuli panggul pasar …..!” ucap sang ibu dengan arogannya
Alesha tak menyahuti. Dia pikir, percuma saja beradu mulut dengan ibunya. Selain menurut agama tidak baik, bahkan tidak boleh seorang anak melawan ibunya. Alesha juga merasa
percuma saja, sebab ibunya tak bakal mau mengalah dan mau mengerti perasaannya.
Ibunya yang metrealistis tetap tak akan suka pada Arizona yang Cuma penyanyi solo di kafe-kafe biasa bahkan ibunya menganggap Arizona hanya pengamen dijalanan yang kluntang-klantung tak ada tujuan serta Arizona adalah anak kuli panggul pasar. Jadi buat apa adu argumentasi dengan ibunya? Hanya akan buang-buang energy.
“aleshaaa….” Teriak ibunya tepat di telinga alesha membuat alesha tersentak
“Ya…?” jawab alesha
“buruan makan. Jangan buat ibu kesal!” ucap ibunya yang marah
Dengan terlebih dulu menghela napas panjang, mau tidak mau akhirnya alesha pun menurut keluar dari kamarnya untuk makan dari pada ibunya akan terus berkotek seperti ayam betina yang mau bertelor.
*bersambung*
.
.
>>>Next 😊