
Gean kini tengah duduk di sofa ruang tengahnya. Gean tinggal di Apartemen, maka dari itu dirinya hanya hidup sendiri di kota Bandung ini. Kedua orang tuanya tinggal di Jakarta, hanya Gean yang pindah ke Bandung saat masuk ke SMA Guna Dharma.
Gery, Kakak Gean juga tinggal di Bandung di karenakan bekerja di salah satu Rumah sakit yang ada disini. Tetapi, hal itu tak membuat Gean memilih untuk tinggal bersamanya, dirinya lebih memilih untuk tinggal sendiri, untuknya ini lebih nyaman.
Hari ini adalah hari Minggu, Gean tengah menatap layar televisi, terlihat Gean sedang menonton film Spongebob, dirinya tertawa untuk beberapa saat, ketika melihat hal lucu yang dilakukan Spongebob. Usianya memang sudah hampir 18 tahun, tapi hal itu tak membuat Gean menghilangkan hal yang disukainya, yaitu Spongebob.
Setelah selesai menonton televisi, Gean memilih berbaring di atas Sofanya, ia menatap ke arah atap atap apartemennya kemudian menghela nafasnya merasa bosan. Kemudian beberapa detik Gean pun tersenyum lebar ketika mendapatkan sebuah ide yang sangat sangat cemerlang.
Ia pun bergegas masuk ke kamarnya dan membawa handuk untuk pergi mandi. Setelah beberapa menit Gean pun keluar dengan rambut basahnya juga handuk yang melingkar di pinggangnya. Memang, sudah tak bisa di pungkiri lagi jika Gean itu tampan, ditambah tubuhnya yang juga tak kalah tampan dengan wajahnya.
Sudah tak bisa di ragukan lagi bahwa Gean memang seseorang yang memiliki daya ikat yang kuat untuk para gadis. Itu terbukti dengan adanya banyak siswi di SMA Guna Dharma, yang terpesona akan ketampanannya. Bahkan, Alesha pun kini sedikit demi sedikit terpikat oleh daya tariknya.
Akhirnya Gean sudah sangat siap, dirinya sudah mengenakan pakaian juga sudah mengeringkan rambutnya, Gean pun mengambil jaket lalu meraih kunci motornya yang berada di atas nakas.
Lalu dengan cepat pergi keluar Apartemen, di perjalanan menuju parkiran Gean sudah tersenyum beberapa kali, ia sudah memikirkan ide cemerlangnya itu yang entah apa.
Memang apa yang akan Gean lakukan?.
Tentu saja mengunjungi kekasihnya yang manis itu, Alesha. Ya, Gean berniat untuk pergi ke rumah Alesha kini, dirinya merasa sangat bosan untuk tetap berdiam di Apartemennya, maka dari itu mengunjungi Alesha adalah ide yang sangat cemerlang.
Setelah beberapa menit Gean pun akhirnya sampai di rumah Alesha, dirinya langsung saja memarkirkan motornya di halaman rumahnya. Gean menuruni motor lalu melepas helm nya.
Lalu Gean pun segera berjalan menuju pintu rumah Alesha. Dirinya sudah sangat bersemangat, Akhirnya dia pun tak berlama lama lagi, Gean mengetuk pintu rumah Alesha.
Satu, dua sampai tiga ketukan sudah Gean lakukan dan pintu pun terlihat terbuka. Gean sudah menyiapkan wajah sumringahnya, dirinya tersenyum lebar di depan pintu.
Namun, bukan Alesha yang Gean dapati, melainkan Ibu Alesha. Senyuman lebar itu pun sedikit demi sedikit menghilang, terganti dengan senyuman kikuknya.
"Eh, Nak Gean," ucap Ibu Alesha.
Gean pun dengan cepat menyalami calon mertuanya itu. (Hiyaa, calon mertua, belum tau aja mau author pisahin yah)
"Eh, Tante, Assalamu'alaikum Tan," ucap Gean dengan cepat menyalami Ibunda Alesha.
"Mau ketemu Alesha yah," tebak Ibunya, Gean pun langsung tersenyum lebar mengiyakan tebakan Ibunya Alesha itu.
"Iya Tante, Alesha nya ada?" tanya Gean.
Ibu Alesha pun tersenyum manis pada Gean, sekarang Gean tahu darimana senyuman manis Alesha itu berasal.
"Gimana dong, Alesha baru aja keluar, katanya mau ketemu Alvin." Jawabnya, yang seketika membuat Gean mengerutkan keningnya.
"Alvin?" tanya Gean, mencoba memperjelas apakah benar ia tak salah dengar.
"Iya, Nak Alvin. Nak Gean tau kan, itu temennya Alesha, mereka emang udah temenan dari dulu bertiga sama Naya." Jelas Ibu Alesha.
Gean pun membalas penjelasan itu dengan senyuman hambar. Tak menunggu lama Gean pun segera berpamitan untuk menyusul Alesha.
Awalnya Ibu Alesha menolak Gean pergi dan menyuruhnya menunggu di rumah saja, tetapi Gean kukuh untuk pergi menyusul Alesha dan menolak dengan halus.
Gean pun akhirnya bisa pergi dari rumah Alesha, dirinya mengendarai motor dengan kecepatan yang sedikit kencang. Beberapa kali Gean menelepon Alesha, namun sama sekali tak ada jawaban darinya. Gean menggenggam erat stang motornya.
Dirinya begitu kesal, bagaimana Alesha bisa pergi menemui lelaki brengsek itu di belakangnya. Gean benar benar tak habis pikir, ia sangat takut terjadi sesuatu kepada Alesha, apalagi kini Alesha tengah berbadan dua.
Walau lelaki yang Alesha temui adalah Ayah dari bayi yang dikandungnya, tetapi Gean seakan tak percaya dan khawatir Alvin akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan Alesha juga janinnya.
Gean semakin mengencangkan motornya, ia terus mencoba menelepon Alesha dan hasilnya tetap nihil. Gean pun ingat, dirinya mempunyai nomor Naya, akhirnya Gean pun mencoba menghubungi Naya.
Teleponnya pun diangkat, Gean pun bertanya dimana biasanya Alesha dan Alvin bertemu. Awalnya Naya tak mau menjawabnya, namun setelah mendengar suara Gean yang tak bisa lagi berkompromi, akhirnya Naya pun memberitahunya.
"GUE TANYA LO, DIMANA MEREKA BIASA KETEMU!" teriak Gean.
Naya pun terkejut dengan suara Gean yang terdengar sangat marah.
"Di, Kafe Taman," balas Naya yang belum selesai.
Namun, Gean langsung saja menutup teleponnya dan memajukan kembali motornya menuju nama Kafe yang tadi Naya sebutkan.
Gean pun akhirnya sampai di Kafe Taman yang Naya maksud. Dirinya langsung saja masuk ke dalam Kafe dan mencari gadis yang sudah membuatnya gelisah sedari tadi. .
Gean melihat ke kiri dan ke kanan, dia beberapa kali menarik seseorang yang salah. Ia pun meminta maaf atas kecerobohannya itu, tapi Gean terus mencari keberadaan Alesha di sana.
Sampai akhirnya,
"Gean," ucap seseorang yang Gean tau suara siapa itu.
Gean pun langsung membalikkan badannya, menghadap Alesha yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Gean menatap wajah Alesha dengan raut wajah yang awalnya tegang menjadi lega. Ia menghela nafasnya sebentar, lalu meraih tubuh Alesha, membawanya ke dalam pelukan hangat.
"Ge," ucap Alesha lagi, yang terkejut dengan tindakan Gean yang tiba tiba memeluknya.
"Lo mikir apa sih Sha! Ngapain Lo kesini! Ngapain Lo mau ketemu cowok brengsek itu!" pertanyaan pertanyaan yang Gean lontarkan tapi lebih seperti kata kata amarah yang Gean utarakan untuk Alesha.
Alesha pun hanya bisa terdiam di dalam pelukan Gean, dirinya tak bisa menjawab semuanya. Alesha juga bingung mengapa Gean bisa tahu dirinya ada disini.
Gean pun melepaskan pelukannya, lalu dengan cepat meraih tangan Alesha.
"Ayo pulang!" ucap Gean dengan tegas.
Alesha yang mendengar hal itu menggelengkan kepalanya pelan, tetapi Gean enggan untuk mendengar ataupun menerima penolakan darinya.
Gean langsung saja menarik Alesha menuju parkiran.
"Ge, lepas Ge, gue gak bisa pergi." ucap Alesha menolak ajakan Gean untuk pulang.
Ketika berada di dekat motor, Gean pun melepaskan tangan Alesha. Ia menatap tajam ke dua mata Alesha.
"Gue tanya Lo mau ngapain kesini?" tanya Gean, tapi bukannya menjawab Alesha malah memilih untuk menundukkan wajahnya takut dengan tatapan tajam Gean.
"Lo mau jelasin ke cowok brengsek itu kalo Lo hamil anak dia? Iya?" lanjut Gean.
Alesha yang mendengar hal itu mulai meneteskan air matanya. Ia sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan pertanyaan Gean. Seakan sulit untuk bersuara.
"Sha liat gue!" Gean mencoba meraih kedua pundak Alesha, menyuruhnya untuk menatapnya.
"Liat gue Sha,"
"Gue mohon," Suara Gean yang awalnya terdengar penuh amarah mulai berubah parau.
Alesha pun sedikit demi sedikit membawa wajahnya menatap wajah Gean yang kini sudah penuh dengan air mata.
"Gue gak mau kehilangan Lo Sha, gue sayang sama Lo." ucap Gean, sama halnya Gean, Alesha juga tak bisa menahan air matanya.
"Gak bisa gue aja yang tanggung jawab?"
"Gue siap tanggung semuanya Sha,"
"Gue rela lakuin apa aja buat Lo, asal jangan tinggalin gue, Sha," parau Gean memohon kepada Alesha.
Alesha tak menjawab apapun, ia hanya bisa menahan tangisnya sembari menggeleng kecil.
"Gue mohon Sha,"
"Gue bakalan terima Lo apa adanya, gue gak permasalahan apa pun Sha, gue janji bakalan jaga Lo juga bayi yang ada di perut Lo Sha,"
"Gue janji gue, gue janji Sha," Gean tak habis habis memohon kepada Alesha untuk tak meninggalkannya.
"Maaf Ge," akhirnya Alesha mengucapkan beberapa kata, tapi hal itu malah membuat tangan Gean yang ada di pundak Alesha terlepas lemas.
Gean membalikkan badannya memunggungi Alesha. Ia mengacak rambutnya frustasi, Gean menendang pot kecil yang ada di depannya.
"ARGHHH!" kesal Gean, terlihat wajah frustasi Gean yang sama sekali tak menerima jawaban Alesha.
Bagaimana bisa Alesha berbuat seperti ini kepadanya, padahal Gean berjanji akan menjaganya, akan menyayanginya, walau bayi yang Alesha kandung bukanlah anaknya, Gean berjanji akan menyayanginya.
Tapi, kenapa?
"Kenapa Sha? kenapa?" teriak Gean masih membelakangi Alesha.
"Gue gak pantes buat Lo Ge, ini bukan salah Lo." Jawab Alesha.
Gean yang awalnya membelakangi Alesha berbalik menghadap Alesha, ia kembali memegang kedua pundak Alesha, membawa wajahnya sejajar dengan wajah Alesha. Menatap dalam ke dua bola mata hitam Alesha.
"Gue gakpapa Sha, bagi gue Lo terbaik buat gue, gue bakalan tanggung apapun Sha, gue yakin, gue gak akan nyesel, asal Lo gak ninggalin gue, gue gakpapa," ucap Gean, Alesha kembali menggelengkan kepalanya lagi.
"Ngga Ge, gue gak bisa. Masih banyak di luar sana cewe yang lebih baik. Gue gak mau, gue harus tanggung jawab ini salah gue, gue gak mau bawa bawa Lo yang sama sekali gak ada hubungannya sama masalah gue ini,"
"Gue mohon, Lo ngertiin gue,"
Gean terdiam di tempatnya masih menatap kedua mata Alesha, namun Alesha langsung saja melepaskan pegangan tangan Gean di pundaknya.
Ia tersenyum kecil ke arah Gean, masih dengan air mata yang terjatuh.
"Makasih Ge, but this the end."
"I'm sorry," lanjut Alesha, sembari berjalan menjauh dari pandangan Gean.
Gean terpaku di tempatnya, tak bisa berkata kata. Ia mencoba membawa tangannya mengusap air mata yang masih saja keluar.
Gean berbalik ke arah motornya, kakinya ingin mengejar gadis yang dicintainya itu, tapi egonya begitu besar, Alesha meninggalkannya.
Gean memukul mukul helmnya untuk beberapa kali, sehingga membuat tangannya berwarna kemerahan. Gean benar benar tak menyangka akhirnya akan seperti ini, Alesha meninggalkannya hal itu tentu mengingatkan Gean dengan kejadian 1 tahun yang lalu, ketika dia pergi meninggalkan Gean seperti Alesha kini.
Gean hanya bisa tersenyum kecil dengan luka di hatinya kini.
...Adyul...