ALESHA

ALESHA
Episode 8



Episode 8


Tidak! Itu tidak mungkin. Kalau pun benar di Jakarta Arizona sudah punya pengganti. Tidak semestinya Arizona tidak mengabari keluarganya. Dia memang orang lain, yang tidak punya hak apa-apa pada Arizona. Tetapi keluarganya? Kalau di Jakarta Arizona sudah kenapa-kenapa, pastilah keluarganya akan diberitahu. Lalu kenaoa Arizona tidak memberitahu keluarganya? Alesha tidak tahu.


.


.


Ketidak ada kabar berita mengenai Arizona membuat ibu alesha semakin merasa punya alasan untuk meyakinkan putrinya kalau Arizona bukanlah lelaki baik dan bertanggung jawab.


“coba kamu pikir jika ia memang benar-benar mencintaimu, kenapa sampai setahun lebih dia tak memberi kabar?” kata ibunya dengan nada sinis, “dia toh masih terus berkarya, kan? Jangan-jangan di Jakarta sana dia sudah punya gadis lain sehingga dia tak lagi memperdulikanmu!” tambah ibunya“ini semua karena ibu!” kecam alesha


“Lho…. Kok jadi aku yang di salahkan” celetuk ibu alesha


“lalu siapa lagi? Arizona tentunya kecewa dan marah atas penghinaan yang ibu berikan kepadanya.” Jawab alesha judes ke ibunya


“ah sudahlah, sebaiknyakamu tidak perlu lagi memikirkannya, sebab dia sendiri sepertinya tidak lagi perduli padamu,” sergah ibunya tak mau disalahkan dan tetap merasa kalau dirinya yang benar.


Alesha hanya dia, dia pikir percuma saja dia berdebat dengan ibunya, karena tentunya ibunya tidak akan mau disalahkan. Lebih baik dia diam, dari pada buang-buang energi saja. Jangankan dirinya, ayahnya saja tidak bisa menang jika berdebat adu argumentasi dengan ibunya.


Begitulah hari-hari dijalani alesha dengan kesepian dan kesendirian. Cuma ada satu hiburan yang sedikit mengobati kesepian dan kesedihan hatinya, yaitu gitar yang diberikan Arizona saat ia ulang tahun yang ke 18 tahun, karena dengan adanya gitar alesha bisa bernyanyi dan mengenang lagu-lagu yang sering ia nyanyikan dulu waktu bersama Arizona, seakan dia tengah bertemu dengan lelaki yang dicintainya itu. Terlebih di setiap alesha memulai memetik senar gitar nya seakan Arizona ikut memperhatikan yang dilakukan gadis itu. Arizona senantiasa berkata pesan sebelum ia bernyanyi untuk alesha…


“sabar adalah senjata untuk membuat hati kita tenang. Kupersembahkan lagu ini untuk seseorang yang senantiasa mengisi hatiku dan senantiasa menjadi inspirasi bagi setiap lirik-lirik lagu karyaku. Seseorang yang jauh disana namun berada dekat di hatik.”


Arizona memang tidak menyebutkan nama seseorang yang di maksud, tetapi alesha merasa yakin, kalau seseorang itu adalah dirinya. Karena itu pula, sampai kini alesha tetap bertahan. Bahkan dia sudah mematri di dalam hatinya bahwa tak akan pernah ada lelaki lain yang bisa menggantikan kedudukan Arizona di hatinya. Tal akan pernah ada lagu cinta lain yang menggurat di dalam hatinya selain lagu cintanya Arizona.


Sempat suatu hari, seperti biasanya alesha menghabiskan waktunya di dalam kamar, bermain dengan gitarnya, menyanyikan lagu-lagu galau tentang dirinya, ketika ibunya mengetuk pintu kamarnya.


“alesha….. aleshaaa….” Teriak ibunya dari ruang tamu


“ya, bu.. ada apa?” sahut alesha dari dalam kamar


“tiap hari kok di kamar terus? Sesekali keluar sana, biar dapat udara segar. Jika di dalam kamar terus nanti bisa-bisa kamu sakit, Ayoo.. keluar dan tolong belikan ibu keperluan dapur.” Pinta ibunya alesha yang tengah menghampiri alesha ke depan pintu kamarnya yang ternyata tertutup


“malas,bu..” celetuk alesha enggan berbicara tanpa membuka pintu


“apa? Malas? Ayo keluar….. mau jadi apa sih kamu? Arizona saja tidak peduli lagi padamu, kok kamu jadi memikirkan dia terus? Huh, dasar goblok! Cepat keluar atau ibu terpaksa mendobrak pintu kamarmu dan menyeretmu keluar!” ancam sang ibu dengan suara keras, menunjukkan kesungguhan akan ancamannya.


Mau tidak mau akhirnya alesha pun terbangun dari ranjangnya. Dengan agak malas, dia turun dan melangkah ke pintu, kemudian membukakkan pintu kamarnya, menemui sang ibu yang masih berdiri di depan pintu menunggu.


“ada apa sih, bu?” ucap alesha tanpa menoleh ke ibunya


“ada apa…… ada apa? Maumu apa sih? Sudah setengah tahun kamu mengurung diri di dalam kamar, jika tidak sedang bekerja, apa tidak jenuh? Lagi pula, jika kamu terus menerus seperti begitu, bisa-bisa kamu sakit. Keluar kek sana cari udara segar. Atau main kerumah temanmu sana, cari kegiatan yang berguna di waktu off mu kayak gini, gimana sih kamu ini, dibilangi makin ngelawan saja, eh, kamu malah seperti tidak punya semangat hidup. Memangnya, kalau terjadi apa-apa padamu, apa Arizona yang repot? Ibu juga yang bakal repot….! Dia……?! Huh…. Mana peduli dia padamu lagi? Mungkin di Jakarta sana, dia malah sedang enak-enakan dengan


gadis lain….” Ucap ibunya panjang lebar mengomel, memberi nasihat pada putri tunggalnya itu.


“ibu jangan berpikir jelek kepadanya!” bantah alesha


“berpikir jelek, bagaimana? Kenyataannya sekarang dia memang sudah tidak perduli padamu, kan?” ucap sang ibu


“itu karena ibu!” tegas alesha “tapi Arizona bukanlah seorang lelaki pendendam, Arizona bukanlah orang picik!” balas alesha melawan ibunya


“apa! Kamu tuduh ibu picik?” teriak ibunya


“kalau memang ibu tidak merasa picik, tak seharusnya ibu menilai semuanya hanya dari segi materi!” kecam alesha


“sudah… sudah…. Ibu tidak mau mendengar lagi omonganmu, apalagi tentang lelaki itu! Sekarang kamu mandi dang anti pakaianmu, lalu pergi ke supermarket untuk belanja.” Suruh ibunya


“kenapa tidak ibu saja.” Ucap alesha


“apa?! Kamu mau membantah, eh?” hardik sang ibu.


Meski hatinua kesal dan dongkol jika ingat akan sikap ibunya terhadap Arizona yang mengakibatkan cowok itu memutuskan pergi ke Jakarta, alesha pun akhirnya menurut, setelah mandi dan berganti pakaian, dia pun pergi keluar dari rumah untuk belanja di supermarket membeli kebutuhan dapur sebagaimana yang di perintahakan oleh ibunya.


Begitu sampai di supermarket, alesha pun berusaha mencari barang-barang yang hendak di belinya.


Mungkin karena sambil mencari-cari barang belanjaan alesha melamun, sehingga sampai-sampai dia tidak menyadari dari arah yang berlawanan ada seorang pemuda yang juga tengah mencari sesuatu di rak menuju ke arah nya, dan ketika mereka sama-sama dekat maka tabrakan pun tak dapat terelakkan lagi. Alesha tersurut ke belakang keranjang belanjaannya jatuh ke lantai, dan barang-barang belanjaan nya pun tumpah berserakan di lantai.


“maaf….” Kata lelaki muda itu


Alesha tidak menyahut.  Segera dia jongkok untuk memunguti barang-barang belanjaannya yang berserakan di lantai. Tanpa diduganya , lelaki muda itu pun turut jongkok membantu memunguti satu demi satu barang-barang belanjaan gadis itu yang berserakan di lantai, kemudian memasukkannya kembali ke keranjang.


“sekali lagi maafkan aku,” kata lelaki muda itu


“tidak apa, aku juga meleng…” sahut alesha


“namuku Kevin,” kata lelaki muda itu memperkenalkan diri dan menjulurkan tangannya ke arah alesha


“alesha,” jawab alesha tanpa menyalami tangannya


“kamu sakit?” Tanya Kevin ke alesha


“oh, eh, tidak…” ucap alesha menundukkan kepalanya


“tidak apa-apa. Mungkin Cuma letih,” jawab alesha.


Lelaki yang mengaku Kevin itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


“sudah menikah?” Tanya Kevin ke alesha


Alesha terbelalak mendengar pertanyaan lelaki itu. Dengan lekat ditatapnya wajah lelaki muda yang cukup tampan itu.


“ada apa? Tanya lelaki muda itu tidak mengerti karena ditatap sebegitu rupa oleh alesha.


“kenapa anda bertanya seperti itu?” Tanya alesha


“maaf….. biasanya kalau seorang wanita tampak letih dan pucat seperti anda, wanita itu tengah mengandung. Itu sebabnya saya tanyakan apakah anda sudah menikah?” ucap lelaki itu ke alesha


“enak saja ngomong!” sungut alesha.


“sekali lagi maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda.” Ucap Kevin dengan wajah menunjukkan rasa menyesal


“sudahlah…. Permisi….” Ucap alesha sembari


Alesha bergegas bangun, kemudian dengan agak buru-buru di meneruskan langkahnya bermaksud ke kasir untuk membayar belanjaannya tadi, namun baru beberapa langkah dia berjalan, Kevin telah memanggilnya.


“nona alesha, tunggu…!” teriak Kevin


Alesha pun mau tak mau menghentikan langkan\=hnya. Kemudian menengok ke arah Kevin yang tampak sudah bangun dan kini malah melangkah menghampirinya.


“dompet anda ketinggalan, bagaimana anda akan membayar belanjaan, jika anda tidak punya uang?” ucap Kevin sembari menyodorkan dompet ke gadis itu.


“terimakasih” ucap alesha sambil sedikit menyunggingkan senyumnya


“hanya itu?” ucap lelaki itu


“lalu, mau anda apa?” ucap alesha yang sedikit agak risih


“saya telah bergegas menemukan dompet anda, coba bayangkan jika dompet anda hilang, kemudian oleh petugas supermarket anda akan dituduh bermaksud mencuri. Bukankah anda akan malu? Nah, karena saya telah berjasa pada anda, apakah Cuma ucapan terimakasih sebagai balasan jasa yang telah saya berikan pada anda” ucap Kevin panjang lebar


“lalu… mau anda apa?” Tanya alesha menekankan pembicaraannya


“boleh saya mengantar anda pulang?” ucap Kevin


“maaf, saya masih kuat berjalan, lagi pula rumah saya tidak jauh dari sini.” Ucap alesha yang enggan untuk berbasa-basi


“tapi anda tampak kurang sehat. Bolehkah saya antar?” pinta Kevin ke alesha


“terserah…” akhirnya alesha menyerah.


“terimakasih, mari kita sama-sama ke kasir untuk membayar barang-barang yang telah kita beli.” Ajak Kevin sembari mensejajari langkah alesha menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.


Begitu sampai di kasir semula alesha bermaksud membayar barang-barang yang dibelinya. Namun ternyata Kevin telah mendahului membayari semua barang belanjaannya.


“apa sih mau anda?” sungut alesha tak suka dengan cara yang dilakukan oleh Kevin. “saya punya uang, tidak perlu anda bayari.” Ucap alesha kesal


“saya tahu, tetapi sebagai ungkapan rasa terimakasih saya karena diijinkan mengantar anda, maka biarlah sekali ini saya mentraktir anda. Dan saya rasa uang anda bisa anda gunakan untuk yang lain, bukan?” ucap Kevin dengan tersenyum di bibirnya.


Lagi-lagi alesha tak bisa menolak. Dia pun membiarkan Kevin membayari semua barang belanjaannya yang jumlahnya lumayan besar. Lebih dari empat ratus ribu rupiah. Bahkan alesha tak bisa menolak, ketika Kevin langsung menjinjing tas berisi barang belanjaan itu. Mau tidak mau akhirnya alesha mengikuti langkah Kevin keluar dari supermarket.


Alesha terpaksa harus terus mengikuti Kevin yang membawakan belanjaannya karena tak mungkin dia pulang sendiri tanpa membawa barang-barang belanjaannya. Memang, barang-barang itu Kevin yang membayar, sehingga secara jujur barang-barang itu adalah milik Kevin. Alesha bisa saja melepaskannya dan belanja kembali. Tapi rasanya lucu dan tak enak, kalau dia harus kembali masuk ke dalam supermarket dan belanja kembali.


Kevin pun sampai di depan sebuah mobil CRV baru warna biru tua metalik. Setelah menurunkan jinjingan dari kedua tangannya, Kevin lalu mengeluarkan remot control, kemudian membuka kunci pintu mobil dengan remot kontrolnya.


Alesha semakin terperangah, begitu tahu kalau lelaki muda itu ternyata bukan pemuda sembarangan. Dengan melihat mobilnya yang masih baru itu menunjukkan kalau Kevin adalah orang kaya. Dan jika ibunya yang matrealistis tahu kalau Kevin yang kaya itu menyukainya. Alesha tak bisa membayangkan bagaimana sikap ibunya nanti pastilah ibunya akan menyuruhnya menerima cinta Kevin. Padahal alesha sudah berjanji dalam hati bahwa tidak aka nada lelaki lain yang akan mengisi hatinya kecuali Arizona.


“ayo…. Kok bengong.” Tegur Kevin


“Ph, eh.. mending saya jalan kaki saja deh, maaf.” Ucap alesha


“Lho.. kenapa? Ayolah biar saya antar.” Ucap Kevin sembari memohon agar alesha mau diantar olehnya.


“tidak usah vin” ucap alesha


“enggak apa-apa. Aku Cuma mau ngantar saja kok. Tidak ada maksud apa-apa. Ayolah…” desak Kevin sembari membukakan pintu depan sebelah kiri mobilnya untuk alesha. Sehingga membuat gadis itu akhirnya menurut masuk dengan perasaan tak menentu. Kemudian setelah alesha duduk, Kevin pun menutup kembali pintu mobilnya. Lalu dia melangkah mengitari mobil menuju ke pintu depan sebelah kanan. Setelah itu dia membukanya, masuk dan duduk di kemudi. Dihidupkannya mesin mobil, dan tidak lama kemudian mobil crv baru itu pun bergerak keluar dari pelataran parker supermarket.


*bersambung*


.


.


>>>next 😊