ALESHA

ALESHA
ALESHA : 21



"Hai, salam kenal, gue Karin." Ujar Karin sembari mengulurkan tangannya ke arah Alesha.


Alesha pun membalas uluran tangannya itu, ia juga tak lupa mengulas sebuah senyuman manis.


"Pantes aja Gean suka, Lo manis sih." Ucap Karin, yang membuat Alesha membelalakkan matanya sedikit tersipu dengan pujian yang di lontarkan Karin.


"Tapi Lo beneran ceweknya Gean?" Tanyanya dengan raut wajah yang kini terlihat sedikit serius.


Alesha dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan! Gue bukan ceweknya Gean." Balas Alesha dengan secepat kilat, sembari mensilangkan tangannya.


Karin pun mengerutkan keningnya, seakan tak mengerti. "Gimana, gimana?"


"Tadi, Gean bilang Lo ceweknya! Tapi sekarang Lo bilang bukan?" Lanjutnya dengan wajah kebingungan.


Alesha menghembuskan nafasnya dengan sedikit berat. "Hmm, gue bukan ceweknya Gean, cuman kita emang Deket, ta-tapi gue bukan ceweknya!" Jelasnya, dengan sedikit ragu.


Karin pun mengangguk dengan ragu juga, seakan mengerti tak mengerti.


"Oh, jadi masih PDKT - an gitu?" Tanyanya.


Lagi lagi Alesha menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan! Gue, gue gak PDKT - an, Ki-kita cuman temen aja." Balasnya lagi, yang semakin membuat Karin kebingungan.


"Lah, jadi? Temen aja?" Ucapnya.


Alesha kini mengangguk dengan sedikit semangat. "I-iya! Kita cuman temen aja." Setujunya.


Karin mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ia menatap Alesha dengan tatapan menelisik.


"Tapi, gak mungkin sih kalo kalian temenan aja, dan Gean sampe titipin Lo ke gengnya." Ujar Karin.


Alesha kini mengernyitkan dahinya. "Geng?" Tanyanya seperti tak mengerti.


"Iya, geng nya, Lo liat tiga cowok tadi kan." Balas Karin.


"Iya, emangnya mereka siapa?" Tanya balik Alesha.


"Mereka tuh bisa di bilang satu geng, dulu di sekolah lama gue, mereka tuh empat orang yang famous banget di sekolah. Pokoknya gak ada yang berani lawan mereka," jelas Karin, dengan nada bak seorang pendongeng.


"Dan Lo tau siapa ketuanya?" Ucap Karin bertanya kepada Alesha, yang langsung di jawab dengan sebuah gelengan kepala oleh Alesha.


"Gean, dia ketua geng nya." Balas Karin yang membuat Alesha menganga tak percaya.


"Lo tau, Gean tuh cowok paling serem di sekolah, sampe pihak guru pun gak ada yang sanggup buat tanganin dia." Jelas Karin.


"Tapi, walaupun serem, banyak cewe suka sama dia. Yah kaya cowok-cowok badboy di novel lah. Makannya banyak banget tuh cewek-cewek yang klepek klepek sama si Gean."


Alesha pun kini serius mendengarkan Karin yang tengah bercerita.


"Dulu, Gean tuh cowok yang anti banget sama cewe, setiap di kasih hadiah sama cewe, pasti dia tolak mentah mentah."


"Sampe akhirnya, ada anak baru-" ucapnya namun Karin tiba-tiba menghentikan ucapannya itu.


Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan takut ada yang mendengarnya. "Gue kayanya gak bisa ceritain lebih lanjut deh," ucap Karin.


Membuat Alesha yang kini menatap kebingungan. "Kenapa?" Tanyanya.


"Karena, dia yang bikin Gean hancur. Kalo sampe Gean tau gue bahas ini ke Lo, gue yakin besok gue bakalan mati." Lanjut Karin, membuat Alesha semakin penasaran.


"Gak ada Gean, Lo bisa ceritain. Lagian Gean kan gak sekelas sama kita, gue juga gak akan cerita ke Gean kalo Lo ceritain ini ke gue." Ucap Alesha seakan membujuk Karin untuk terus menceritakan kelanjutannya.


"Sorry, tapi gue gak bisa. Gue beneran bisa mati, lagian gue tau kalo Gean itu kayanya suka sama Lo, lambat laun Lo bakalan tau semuanya." Karin menatap penuh arti ke arah Alesha, membuat Alesha semakin kebingungan.


Karin, yang baru saja masuk sebagai murid baru kini duduk bersama dengan Alesha. Setelah Alesha kehilangan sahabatnya, kini datang Karin yang sedikit mengisi kekosongan di dirinya.


Mungkin, sifat dinginnya bisa menghilang dengan perlahan. Traumanya akan persahabatan semoga bisa terobati dengan hadirnya Karin. Alesha berhak untuk hidup normal selayaknya dulu, kini tinggal dirinya sendiri yang mencoba berdamai keadaan.


Semua, ada di tangan Alesha.


•••


Setelah dua jam pelajaran di mulai, kini waktunya istirahat. Alesha dan Karin bergegas menuju kantin untuk mengisi bahan bakar perut mereka.


Selama perjalanan ke kantin, Alesha dan Karin bak sudah berteman lama, mereka terus mengobrol sembari bercanda ria.


Tanpa sadar seseorang mengamati mereka dari jauh, ia mengepal lengannya dengan sedikit keras. Seakan tak suka melihat Alesha yang terlihat dekat dengan Karin.


"Siapa sih dia! gue gak akan biarin Alesha Deket sama cewe kaya dia. Alesha itu sahabat gue! cuman gue yang berhak jadi temen dia!" Ucapnya, masih terus mengepal lengannya dengan kuat.


Sesampainya di kantin, Alesha dan Karin pun langsung duduk di meja yang kosong, mereka memesan semangkuk bakso juga jus jeruk untuk masing-masing.


Selama menunggu pesanan datang, keduanya kembali berbincang, tentang berbagai macam hal, seakan tak ada habis-habisnya.


Sampai akhirnya sebuah suara mengejutkan Alesha juga Karin.


"Asik yah ngobrolnya."


Alesha dan Karin pun menoleh kepada si pemilik suara. "Gean," ucap Alesha ketika melihat Gean yang kini berdiri di sampingnya.


Gean tersenyum lebar, melihat Alesha yang terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya. "Gue senang sha," ujar Gean.


Alesha mengernyitkan dahinya. "Seneng kenapa?" Tanyanya tak mengerti.


"Seneng bisa liat Lo lebih happy daripada sebelumnya." Balas Gean, masih menatap Alesha dengan senyuman manisnya.


Hal itu membuat Karin menganga terkejut, seorang Gean, bisa-bisanya tersenyum seperti itu.


"Fiks! Gean suka sama Alesha!" Batin Karin, seakan tahu betul apa yang Gean rasakan.


Tak lama datang lagi tiga orang yang kini duduk di samping Karin, mereka adalah Andi, Naufal dan Reyhan. Teman satu geng Gean, yang juga berperan penting, tak kalah tampan dari Gean, mereka bertiga sama sama menjadi pria famous, yang di incar para siswi di sekolah lamanya.


Tak aneh jika kini, Gean juga ketiga temannya itu kembali menjadi incaran para siswi SMA Guna Dharma.


"Hai cantik, bolehkan kita ikut nimbrung." Ucap Andi, dengan nada mendayu-dayu, bak wanita jadi-jadian.


"Dih apaan sih Di, jijik tau!" Seru Karin.


Bukannya diam, kini Andi menoleh ke arah Karin, ia mengulurkan tangannya mencolek kecil pipi Karin dengan gaya melehoy.


"Ih, apaan sih zizik zeyeng." Balasnya kembali, seperti wanita jadi-jadian.


"ANDI!" Teriak Karin yang semakin jijik.


Namun, hal itu membuat Alesha, Gean juga yang lainnya tertawa puas, melihat Karin juga Andi.


Gean yang melihat Alesha tertawa, kini sedikit merasa tenang. Semoga kehadiran teman-temannya kini dapat membuat perubahan di diri Alesha.


"Gue suka liat Lo ketawa kaya gitu sha, dan gue janji, selama gue ada di sisi Lo, gue bakalan selalu buat Lo happy." Batin Gean, dirinya terus menatap dalam wajah Alesha.


Tanpa ia sadar, kini Andi, Naufal dan Reyhan saling melempar tatap, melihat Gean yang bersikap layaknya bukan seperti Gean yang mereka kenal.