ALESHA

ALESHA
ALESHA : 26



Sudah seminggu sejak Gean diam di rumah utama Keluarga Pratama, di sana Gean tidak bisa kemana-mana, bak Rapunzel yang tengah di kurung di dalam kastilnya.


"Maaf, Tuan muda di panggil Tuan ke ruang kerjanya," ujar salah satu pelayan kepada Gean yang tengah duduk bersandar di sofa ruang keluarga.


"Oke, makasih." Balas Gean.


Dirinya langsung saja bangkit dan berjalan menuju ruang kerja Papahnya itu. Di sana, Gean melihat Papahnya yang sudah duduk di kursi meja kerjanya.


Gean langsung saja duduk di sofa dan menatap Papahnya itu yang terlihat masih mengotak-atik lembaran kertas.


"Langsung ke intinya saja, Papah sudah tahu wanita itu hamil bukan karena kamu." Ujar Robi, masih dengan mata tertuju pada lembaran kertas di mejanya.


Sontak, Gean yang tadinya santai dengan raut wajah cuek, kini berubah membelalakkan matanya terkejut mendengar penuturan Papahnya.


"Ma-maksud Papah?" Gean tergagap, terpojok dengan fakta yang sudah di ketahui Papahnya.


Robi menyeringai, tersenyum melihat anaknya yang terbata-bata, ia menyimpan bolpoin nya, mengangkat wajahnya menatap wajah anaknya itu.


"Kenapa? Benarkan apa yang Papah katakan?" Robi seakan mengolok-olok putranya itu sembari terkekeh.


"Kamu pikir Papah bisa kamu bohongi, Gean, Gean, kamu itu bodoh atau bego!" Tatapan yang awalnya terlihat mengolok kini berubah tajam, ia mengerutkan keningnya menggambarkan rasa kesal di wajahnya itu.


"Bisa-bisanya kamu jadi bodoh gara-gara wanita! Kamu mau hancurin hidup kamu hanya karena wanita jal*Ng itu?" Robi menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang sudah di pikirkan putranya itu.


Gean bangkit, mata dengan sorot elang itu tertuju kepada Papahnya, "jal*Ng? Siapa yang Papah sebut jal*Ng!" Tanya Gean dengan gemeretuk gigi, tangannya juga mengepal menahan amarah yang tengah membara.


Robi yang melihat itu terkekeh, "ha, haha, siapa? Tentu saja wanita yang kamu cintai itu, bukankah tidak ada bedanya dia dengan jal*Ng? Memberikan keperawanannya kepada lelaki lain?"


"Alesha bukan wanita seperti itu!" Sangkal Gean, mencoba membela Alesha.


"Hahaha, bukan wanita seperti itu? Gean, buka matamu, jangan sampai kamu jadi bodoh hanya karena cinta, wanita yang kamu cintai itu, sudah di pakai oleh lelaki lain, jadi apa bedanya dia dengan wanita murahan?"


Gean semakin mengepal kuat tangannya, merasa tak terima dengan semua yang di ucapkan Papahnya itu.


"Sudah! Papah tidak mau berdebat lagi dengan kamu, kalo kamu masih mau bermain dengan wanita murahan mu itu, silahkan, tapi, setelah kamu menikahinya nanti, ceraikan dia."


Mata Gean melotot, semakin tak percaya dengan semua yang Papahnya ucapkan, serendah itukah Alesha di mata Papahnya.


"Papah akan jaga rahasia ini, tapi, sampai kapanpun, Papah tidak akan terima dia sebagai menantu, sebagai penerus keluarga Pratama ini, kamu tetap harus menikahi wanita yang sebanding denganmu."


"Terserah Papah, Gean gak akan pernah tinggalin Alesha!" Tukas Gean.


"Sampai kapanpun!" Lanjutnya.


Robi menyeringai, tertawa, menertawakan kegigihan putranya, ia mengusap air mata yang membasahi pinggir-pinggir matanya di karenakan tawanya.


"Kita lihat saja nanti," ucap Robi.


"Kamu tahu, betapa susahnya Papah menutupi semua kelakuan bodohmu ini! Kalo sampai Nenek tua itu tahu kamu terlibat dalam masalah kotor ini, kamu mungkin sudah di cabut dari kartu keluarga Pratama!" Cecar Robi, tetapi Gean tetaplah Gean, yang bodoh amat terhadap hal seperti itu.


"Gean sama sekali gak peduli kalo pun harus pergi dari rumah ini! Tapi, sampai kapan pun, Gean gak akan pernah tinggalin Alesha!" Balas Gean sembari menunjuk-nunjuk jarinya ke lantai.


"Jangan bodoh kamu! Mau hidup dimana kamu nanti? Kamu pikir hidup kamu yang enak seperti sekarang itu mudah!" Bentaknya, Robi seakan sudah murka berdebat dengan anak bungsunya ini.


"Keluar!" Perintah Robi, Gean pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


Namun, di depan pintu, Gean menghentikan langkahnya, "Asal Papah tahu, Gean, gak akan buat Alesha berujung kaya Mamah!" Ucapnya, dengan nada berat yang begitu dalam.


Tentu saja Robi paham apa maksud dari perkataan putranya itu.


Gean langsung saja pergi ke kamarnya, ia membawa jaket kulitnya, juga meraih kunci motornya. Bodoh amat dengan segala peraturan yang Papahnya berikan, Gean akan keluar dari rumah itu sekarang juga.


"Tuan muda, anda mau kemana?" Tanya seorang pelayan pria, dimana ia adalah ketua pelayan yang bertugas menjaga Gean.


"Gue mau balik ke apartemen." Balas Gean.


Tentu saja jawaban Gean membuat pelayan itu membelalakkan matanya, "Tu-tuan muda, Tuan kan menyuruh Tuan muda untuk istirahat di rumah ini, bagaimana jika Tuan tahu kalo Tuan muda pergi," protesnya, mencoba membujuk Gean untuk tetap tinggal.


"Bodo amat! Bukain pintu garasi, gue mau cabut!" Seru Gean dengan nada cuek.


"Tu-tuan muda, tolong jangan seperti ini, nanti Tuan bisa marah besar jika tahu Tuan muda pergi lagi." Serunya masih mencoba membujuk Tuan mudanya itu.


Tentu saja Gean mengabaikan ucapan pelayan itu, ia terus berjalan menuju pintu garasi di taman belakang, "bukain pintunya!" Perintah Gean.


Gean menyeringai,"Lo mau bukain pintunya? Apa mati di tangan gue sekarang juga?" Ancam Gean, masih dengan seringai nya.


Sontak pelayan itu langsung menunduk semakin ketakutan, mengapa?


Karena Gean yang di kenal di rumah besar itu, adalah Gean yang harus di hindari, jika sampai membuatnya marah, Gean tak segan membuang bahkan menghukum para pelayan dengan cara yang tak akan pernah kalian pikirkan.


"A-ampun Tu-tuan muda, tolong Tuan muda kembali ke dalam, kalo sampai Tuan tahu,"


Gean membawa tangannya mencekal baju sang pelayan, menariknya hingga ke atas, sampai si pelayan kesusahan untuk bernafas.


"Lo mau bukain pintunya? Apa mau mati di tangan gue hari ini? Pertanyaan gue cuman itu!" Ulang Gean, matanya yang menyiratkan tatapan singa yang hendak memangsa mangsanya.


"Uhuk, uhuk, ba-baik Tuan muda," pelayan itu terbatuk-batuk, lehernya yang sedikit tercekik akibat cekalan tangan Gean di bajunya, yang akhirnya membuat dirinya menyerah.


"Bagus, bukain!" Ucap Gean, lalu melepaskan cekalan tangannya.


Gean segera menaiki motornya, ia tersenyum menyeringai kepada pelayan tua itu. "Thank's" ucap Gean, sebelum melajukan motornya menuju gerbang utama.


Di gerbang utama Gean kembali di hentikan oleh beberapa penjaga gerbang, namun Gean bukanlah Gean jika harus sampai tertangkap. Di sana, Gean mulai meregangkan badannya yang sudah lama tak ia gunakan.


Hingga tak lama kemudian para penjaga sudah duduk manis di bawah kakinya. Gean kembali tersenyum menang, ia menaikkan sebelah alisnya menggoda para penjaga itu.


"Kayaknya keluarga Pratama harus cari penjaga baru, makasih loh berkat kalian, gue bisa pemanasan lagi, udah lama gak ada yang cari masalah sama gue. Bye!" Ujarnya sembari menaiki motornya kembali, kemudian melaju tanpa halangan apapun.


Semudah itu bagi Gean untuk pergi dari banyaknya penjaga di rumah itu. Gean pun kini tersenyum menang, merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya, tentu Gean sekarang akan pergi menemui Alesha.


Di sisi lain, "Tu-tuan ma-maafkan saya, Tuan muda berhasil kabur," tuturnya dengan suara yang terbata-bata.


Tak berbeda dengan putranya, Robi tersenyum menyeringai, "Iya," balasnya singkat.


Pelayan itu di buat bingung dengan jawaban majikannya itu, padahal dia sudah menyiapkan diri jika harus sampai di caci maki karena tidak becus menjalankan tugasnya. Namun, apa ini? Hanya jawaban singkat yang majikannya itu berikan.


"A-apa tidak apa-apa Tuan?" Tanyanya memastikan.


Robi kini menoleh, menatap tajam pada pelayan tua itu. "Keluar!" Suruhnya dengan nada sedikit tinggi, yang tentu mengejutkan pelayan tua itu.


Ia langsung saja menundukkan tubuhnya, "ba-baik Tuan," pelayan itu langsung pergi meninggalkan majikannya itu.


Tak lama datanglah Anita, istri dari Robi Pratama. Ia berjalan mendekat ke arah suaminya itu.


"Ya Tuhan, anak itu kabur lagi, apa aku bilang, anak itu tuh dari kecil udah kaya berandalan aja, sampe besar pun gak akan bisa berubah!" Sembur Anita.


Robi menoleh, menatap wajah cantik istrinya itu. "Lalu? Biarkan saja, nanti juga dia akan berubah seiring waktu." Balas Robi kembali membawa tatapannya ke atas lembaran kertas yang ada di mejanya.


"Ya ampun sayang, sampai kapan kita harus biarkan dia seperti itu, lagipula apa bisa Gean jadi penerus utama perusahaan Pratama ini?" Gerutunya lagi, seakan mencoba menghasut suaminya itu.


"Gean itu kan anak kita, aku juga sangat menyayanginya, tapi kalo sifatnya terus seperti itu, aku pikir akan kacau jika dia yang akan menjadi penerus utama di keluarga ini," lanjutnya.


Robi mulai mengangkat wajahnya, ia tahu ke arah mana wanita itu akan membawa pembicaraannya.


Kini Anita semakin mendekatkan tubuhnya dengan Robi, ia memundurkan kursi yang di dudukki Robi, kemudian membawa bokongnya untuk duduk di pangkuannya.


"Mas tahu kan, Gerry juga selama ini sudah bersusah payah belajar dan berjuang sampai sekarang bisa menjadi dokter terbaik di rumah sakit Pratama, tentu saja jika Gean terus bersikap seperti itu, mas juga harus melirik Gerry, dia juga kan anak kita mas." Tukas Anita, kedua tangannya ia lingkarkan di leher suaminya itu.


"Kamu tahu, pilihanku sudah tetap, dan kamu juga seharusnya tahu, jika aku sudah memilih, maka tak ada yang bisa membuatnya terganti." Balas Robi dengan santai.


"Sekarang keluarlah, aku butuh ruang untuk mengerjakan semua tumpukan kertas ini." Ujar Robi, ia membawa tubuh istrinya itu untuk bangkit dan menjauh.


Robi mulai fokus kembali pada tumpukan kertasnya, sedang Anita kini menatap suaminya itu dengan kesal.


Hentakan demi hentakan sepatu tingginya itu pun terdengar, menandakan rasa kesal yang teramat pada suaminya itu. Namun, Robi seakan bodoh amat dan tak memikirkan hal itu.


Setelah Anita keluar, Robi menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar.


"Huh!" Desahnya.


"Dasar anak bodoh, mau sampai kapan kamu bertindak seperti ini Gean? Papah yakin, suatu saat, kamu akan datang sendiri ke rumah ini, memohon-mohon kepadaku! Biarkan sekarang kamu bersenang-senang." Ucapnya, sembari membawa tangannya kepada segelas kopi yang sudah tersaji di meja kerjanya.


...Ad.Yul...