ALESHA

ALESHA
ALESHA : 15



Keesokan harinya Alesha berangkat sekolah diantar Ayahnya yang akan berangkat kerja. Alesha sudah berbicara kepada Gean untuk tidak menjemputnya hari itu. Gean pun sedikit sedih karena tidak bisa berangkat bersama Alesha, tapi ini adalah Ayahnya Alesha bagaimana bisa Gean melarangnya.


Akhirnya Alesha pun sampai di sekolah dengan Ayahnya.


"Udah sampe, Alesha berangkat sekolah dulu yah Ayah, makasih udah anterin Alesha." Ucap Alesha berpamitan pada Ayahnya sembari mencium tangan Ayahnya.


"Siap Puteriku yang cantik, apa sih yang engga buat anak Ayah, kamu belajar yang bener yah, semangat sekolahnya." Balas Ayah Alesha sembari mendaratkan kecupan kecil di kening Alesha.


Alesha pun turun dari mobil dan dengan segera melambaikan tangannya ketika melihat mobil Ayahnya yang melaju.


Alesha mengedarkan pandangannya, masih belum terlalu banyak siswa siswi yang datang. Bahkan Alesha tidak menemukan motor Gean di parkiran yang artinya Gean belum datang.


Alesha pun berjalan masuk ke dalam sekolah, ia menghirup udara segar di pagi hari. Alesha tak sadar jika sedari tadi seseorang tengah berjalan mengikutinya di belakang.


Alesha terus saja berjalan ke arah kelasnya, tak menyangka jika Gean sudah sedari tadi mengikutinya. Ketika sampai di depan kelas Alesha langsung saja duduk di bangkunya dan ketika dirinya berbalik untuk duduk, Alesha membelakak terkejut melihat Gean yang tengah tersenyum ria di hadapannya.


"GEAN!" ucap Alesha.


"Pagi tuan puteriku, kaget yah..." Gean ikut duduk di samping Alesha. Kebetulan memang Alesha tidak memiliki teman sebangku, maka Gean bisa dengan seenaknya duduk di samping Alesha.


"Ish, Lo demen banget yah ngagetin gue!" ketus Alesha, Gean yang mendengarnya terkekeh kecil.


"Iyalah, demen banget gue liat muka kaget Lo, gemesin bikin gue makin sayang aja." Balas Gean yang sembari menggoda Alesha.


Alesha yang mendengar jawaban Gean tak bisa menahan raut wajah merona nya. Ia pun langsung saja menoleh ke arah lain takut takut jika Gean melihat wajahnya yang sudah semerah tomat.


"Udah sih, kalo baper gak usah berpaling kaya gitu. Suka kan Lo gue baperin..." ucap Gean lagi.


Alesha mendengus kesal ketika mendengar kepercayaan diri Gean yang sangat sangat besar.


"Lo ke PD an banget yah, siapa juga yang suka Lo baperin, juga mana ada gue baper! Hah?" elak Alesha, namun jawabannya itu membuat Gean kembali terkekeh geli.


"Cie yang malu, udah sih tau gue Lo tuh suka banget gue baperin, gue kan udah ganteng, baik, perhatian, bikin Lo nyaman, ngangenin juga, kurang apa coba gue?"


Alesha tak percaya dengan ucapan Gean yang begitu percaya dirinya memuji dirinya sendiri. Alesha pun tak tahan menahan tawanya.


"PD banget sih Lo Ge, Ya Allah..."


"Lah orang ganteng mah PD lah. Lagian yang gue bilang emang fakta kan, beruntung banget sih Lo ketemu gue, gue deketin." Ucap Gean lagi terus memuji dirinya sendiri.


Alesha pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.


Gean yang melihat hal itu serasa tenang, melihat Alesha yang kembali ceria. Gean tahu Alesha sedang banyak pikiran kini, namun misi Gean sekarang adalah membuat Alesha terus ceria dan melupakan masalahnya.


Gean tahu jika seseorang yang sedang mengandung itu tidak boleh banyak pikiran, Gean tahu dari internet, dia semalaman membaca semua hal tentang ibu hamil.


Sebegitu perhatiannya Gean kepada Alesha dan rasa ingin menjaganya. Maka dari itu Gean semalaman begadang untuk membaca hal hal tentang bumil yang sama sekali belum Gean baca sebelumnya.


Banyak hal yang Gean ketahui kini tentang ibu hamil, salah satunya membuat bumil untuk tidak banyak pikiran. Maka kini misi Gean adalah membuat Alesha untuk selalu ceria melupakan pikiran pikiran beratnya.


Tak berselang lama para siswa pun mulai berdatangan, Gean yang masih duduk di samping Alesha yang artinya masih berada di dalam kelas Alesha tak berniat untuk segera pergi ke kelasnya.


Ia masih sangat ingin bersama dengan Alesha, namun Alesha tak tinggal diam. Melihat banyak siswa yang berdatangan Alesha mulai memberikan kode pada Gean untuk segera kembali ke kelasnya.


"Ge udah banyak orang, balik gih ke kelas." Alesha mencoba menyuruh Gean kembali ke kelasnya.


Gean malah menggeleng kecil sembari tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


"Gak ah males, gak ada Lo di sana, mendingan disini ada Lo, gak bisa yah gue pindah kelas aja?" Gean malah menolak untuk kembali ke kelasnya.


Alesha yang melihat itu mulai menghela nafasnya kesal. Bak anak kecil yang di suruh Ibunya untuk berhenti bermain. Begitulah Gean kini yang enggan untuk kembali ke kelasnya walau sudah berapa kali Alesha suruh.


"Ge, udah mau masuk ih. Balik sana, nanti keburu ada Guru Gean!" ucap Alesha lagi meminta Gean untuk segera kembali ke kelasnya.


"Ya udah gue balik kelas, tapi ada syaratnya." Balas Gean dengan mencebikkan bibirnya.


"Apaan sih, pake syarat syarat segala?"


"Mau gue balik ke kelas kaga?" tanya Gean membuat Alesha memutarkan kedua bola matanya jengah.


"Ya udah apaan sih Ge? Apa syaratnya?" tanya Alesha.


Gean yang melihat Alesha menyetujui persyaratannya mulai bergerak memajukan badannya agar sedikit lebih dekat dengan Alesha.


Dirinya memajukan wajahnya sampai di Samping telinga Alesha, membuat Alesha sedikit membelakak melihat Gean yang mendekat.


"Bilang I love you Gean dulu dong..." Bisik Gean tepat di samping telinga Alesha.


Alesha yang mendengar bisikian Gean, membulatkan matanya lalu mendorong tubuh Gean agar menjauh darinya. Alesha menatap tajam Gean yang kini tengah terkekeh geli.


"Apaan sih Lo!" kesal Alesha.


"Dih, mau gue balik ke kelas kaga? Kalo gak mau ya udah gue stay disini aja sampe Guru dateng, bodo amat mau di marahin juga." Ucap Gean dengan membawa kedua tangannya di dadanya.


Alesha tak mengerti lagi dengan sikap Gean yang begitu menjengkelkan namun, sedikit membuatnya merona. Yah, tak bisa mengelak juga jika perbuatan Gean selalu membuat Alesha merona akhirnya.


"Buruan, mau gue ke kelas kaga?" ucap Gean lagi.


Alesha yang jengah dengan sikap Gean akhirnya menarik baju seragam Gean dan membuat wajah Alesha kini berada tepat di samping telinga Gean.


Sebelum hendak mengatakan apa yang di suruh Gean, Alesha menghela nafasnya sejenak.


"I, I love you Ge." bisik Alesha dengan ragu dan sangat pelan, namun masih bisa terdengar jelas oleh telinga Gean.


Sontak hal itu membuat Gean tak bisa menahan senyumannya. Berlainan dengan Alesha yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Malu, itu yang Alesha rasakan kini. Wajahnya bahkan lebih merah dibandingkan tadi. Gean yang melihat itu pun tersenyum geli. Dirinya terlihat begitu senang.


"Love you too tuan puteriku..." balas Gean sebelum hendak pergi meninggalkan Alesha dan kembali ke kelasnya.


Hal itu membuat Alesha semakin memejamkan matanya, dirinya merasakan hal yang amat sangat luar biasa aneh. Dirinya begitu malu, senang tapi, juga ada rasa aneh ketika mendengar Gean mengatakan hal seperti itu padanya.


Alesha segera menepuk nepuk kedua pipinya yang sudah sangat merah. Alesha melihat bahwa Gean sudah pergi, dirinya sedikit lega dengan hal itu. Alesha harus segera sadar, bukankah dirinya itu harus menjauhi Gean. Jika terus seperti ini akan semakin sulit bagi Alesha untuk melepaskan Gean nantinya.


"Sha, Lo harus sadar Sha! Bangun! Bangun!" gumam Alesha sembari terus menepuk nepuk kedua pipinya.


Disaat jam pelajaran tengah berlangsung, Alesha merasa sangat mual. Kepalanya sedikit pusing, dirinya merasa ingin memuntahkan segala isi yang ada di perutnya. Hal itu seakan seperti hal yang pernah ia alami di waktu awal awal tak tahu bahwa dirinya hamil.


Namun, mengapa kini rasa mual itu terasa kembali. Alesha pun mencoba menahan dan kembali fokus kepada Guru yang tengah menjelaskan pelajaran di depan.


Alesha tidak bisa, dirinya benar benar harus pergi sekarang, rasanya tak bisa jika Alesha harus menahannya lebih lama lagi. Alesha pun bangkit dan mencoba ijin kepada Gurunya untuk pergi ke belakang.


"Pak," panggil Alesha kepada Pak Asep yang tengah menjelaskan di depan kelas.


Sontak Pak Asep pun menoleh dan menatap Alesha yang kini berdiri di bangkunya.


"Iya, ada apa Alesha?" tanya Pak Asep.


Alesha pun dengan cepat berjalan keluar kelas dan berlari kecil menuju toilet wanita. Alesha pun akhirnya sampai di toilet wanita. Dirinya langsung saja masuk ke salah satu bilik yang kosong.


"Oekkk... oekkk... oekk..." Alesha memuntahkan hampir semua sarapan yang telah ia makan pagi tadi.


Beberapa kali Alesha memuntahkannya, membuat perut Alesha sedikit linu. Dirinya terduduk lemas untuk beberapa saat di dalam bilik toilet itu.


"Gean," ucap Alesha memanggil nama Gean.


Entah mengapa, tapi yang saat ini ia pikirkan hanya Gean. Ketika dirinya lemah tak berdaya, hanya Gean yang mampu membuatnya merasa lebih baik.


Setelah beberapa saat terduduk lemas, Alesha mulai mencoba bangkit. Ia berjalan keluar bilik. Dirinya berdiri di depan wastafel. Menatap wajahnya yang sudah sangat pucat. Tak sadar jika seseorang sedari tadi memperhatikannya setelah keluar dari bilik di sebelah Alesha.


"Sah, Lo gakpapa?" tanya Naya yang kini berjalan mendekat ke arah Alesha.


Alesha yang mendengar pertanyaan itu menoleh dan mendapati Naya yang melihatnya dengan raut wajah khawatir.


"Cih," Alesha mendengus ketika melihat sahabatnya, oh tidak mungkin kini mantan sahabatnya.


"Bukan urusan Lo." Ucap Alesha singkat, tak ingin menjawab lebih pada pertanyaan yang Naya lontarkan.


"Lo pucet banget, mau gue anter ke UKS?" tanya Naya lagi.


Alesha kembali menoleh ke arah Naya dengan tatapan tajamnya.


"Gak usah so perhatian sama gue! Nyatanya semua yang lo lakuin ke gue palsu kan!" sahut Alesha sinis.


Alesha pun dengan cepat membasuh mulutnya dan berjalan keluar toilet. Meninggalkan Naya yang masih terdiam di dalam toilet. Alesha terlihat berjalan dengan sedikit kesusahan karena kakinya yang mulai melemah juga kepalanya yang semakin pusing.


tiga, empat langkah membuat Alesha terhenti. Dirinya tak sanggup lagi dengan kepala yang semakin berdenyut. Kesadarannya mulai hilang perlahan, namun dirinya melihat seseorang berlari ke arahnya dan memeluknya ketika Alesha limbung dan akan terjatuh.


"Sha!" teriak lelaki itu.


"Sha bangun Sha! Lo kenapa!" panik lelaki itu ketika melihat Alesha yang jatuh pingsan.


Naya yang mendengar teriakan itu segera keluar melihat Alesha yang kini berada di dalam pelukan Alvin. Sedikit rasa sakit terlintas di benaknya, melihat Alvin yang begitu peduli kepada Alesha. Dirinya sedikit takut untuk kehilangan Alvin, Naya takut jika saja Alvin akan meninggalkannya dan kembali kepada Alesha.


Alvin yang melihat Naya berada tak jauh di depannya mulai memanggil manggil nama Naya untuk segera membantunya. Naya pun sadar dan berlari kecil ke arah Alesha dan Alvin.


"Alesha kenapa?" tanya Naya.


"Gak tahu, aku liat dia tadi mau jatuh makannya," balas Alvin dengan sedikit panik.


Terlihat raut wajah cemas Alvin yang begitu ketakutan akan terjadi sesuatu kepada Alesha. Hal itu membuat Naya sedikit cemburu.


"Ya udah bawa ke UKS aja." Ucap Naya, Alvin pun mengangguk pasti.


Dirinya menggendong Alesha ala bridal style dan berjalan sedikit cepat ke arah UKS. Naya pun mengikutinya dari belakang.


Namun ketika Alvin tengah berjalan menuju UKS bersama Naya. Seseorang di depan tengah melihat Alvin yang menggendong Alesha. Seseorang itu menyipitkan matanya, melihat jelas siapa orang yang Alvin gendong.


Benar saja dugaannya, Alesha!.


Gean langsung saja berlari dengan kencang ke arah Alvin, dirinya membuat Alvin yang tengah akan membawa Alesha ke UKS berhenti.


"Lepasin Alesha!" ucap Gean.


Dirinya terlihat cemas melihat Alesha yang pingsan dalam gendongan Alvin.


"Minggir Lo!" teriak Alvin, namun bukan Gean namanya jika menuruti kemauan Alvin.


"GUE BILANG LEPASIN!" ucap Gean dengan penekanan di setiap katanya tak lupa tatapan tajam Gean yang mampu membuat Naya yang melihatnya bergidik ngeri.


"Vin, kasihin Alesha ke dia," ucap Naya yang sontak mendapatkan tatapan tajam Alvin.


"Gue mau bawa Alesha ke UKS, Lo minggir!" Alvin tak mau melepaskan Alesha begitu saja, ia tetap bersikukuh menggendong Alesha dan akan membawanya ke UKS.


"ANJ**G LO! LEPASIN CEWE GUE!" sentak Gean.


Hal itu membuat Alesha yang tengah berada di dalam gendongan Alvin mulai tersadar, matanya mengerjap beberapa kali.


"Ge, Gean.." lirih Alesha lemah.


Gean yang mendengar hal itu langsung saja mengalihkan pandangannya dari Alvin, ia melihat Alesha yang memanggilnya dengan nada yang sangat lemah.


Alvin pun terkejut dengan Alesha yang sadar dan mengucapkan sesuatu. Tangganya sedikit mengepal mengetahui nama Gean yang Alesha ucapkan.


"Gue disini Sha, kenapa?" ucap Gean sembari mencoba mengambil alih Alesha dari tangan Alvin.


Alvin awalnya enggan memberikan Alesha, kedua nya saling meloloskan tatapan tajam satu sama lain.


Namun, tangan Alesha memegang seragam Gean, dirinya ingin Gean. Hal itu membuat Gean tersenyum menang kepada Alvin. Gean menatap Alvin dengan tatapan kemenangannya.


"Liat kan, Alesha gak mau Lo. Dia butuh gue bukan Lo!" ucap Gean, sembari membawa Alesha ke dalam gendongannya.


Gean pun tanpa berlama lama lagi membawa Alesha ke parkiran. Ya, parkiran bukan UKS. Gean meletakkan Alesha di kursi mobilnya. Hari ini Gean tak membawa sepeda motornya, ia membawa mobil karena tahu bahwa ini lebih aman bagi Alesha dibandingkan membawa Alesha dengan motor.


Jadi pagi tadi, Gean membawa mobilnya. Untung saja, jadi kini dirinya bisa dengan nyaman membawa Alesha yang lemas ke Rumah sakit dengan aman.


Gean yang menurunkan Alesha di kursi mobilnya, mengusap pelan wajah Alesha, raut cemasnya tak bisa Gean sembunyikan.


"Tahan sebentar yah, gue bakalan bawa Lo ke Rumah sakit, Lo gak papa kan." Ucap Gean lembut.


Alesha yang masih sedikit sadar, mengangguk kecil dengan senyuman lemahnya.


Disisi lain Naya dan Alvin melihat Gean yang membawa Alesha masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja membuat Alvin mengepalkan kedua tangannya. Alvin langsung saja melepaskan amarahnya dengan menendang tong sampah yang ada di sampingnya.


"Sialan! Brengsek banget tuh cowo! Gue gak akan lepasin Alesha semudah itu! Liat aja!" gumam Alvin kesal.


Naya yang mendengar hal itu merasakan sakit yang amat mendalam. Benar kan Alvin belum sepenuhnya melupakan Alesha, jadi apa arti Naya bagi Alvin. Mengapa Alvin melakukan ini kepadanya, ia bahkan merelakan sahabatnya demi Alvin tapi, mengapa Alvin seakan tak melihatnya kini.


Naya langsung saja pergi meninggalkan Alvin yang masih kesal. Naya pergi dengan luka di hatinya, air mata jatuh begitu saja. Ia berjalan menuju kelasnya dengan air mata yang terus berjatuhan.


"Alesha lagi, Alesha lagi. Apa Lo gak anggep gue Vin?"


"Gue rela lepasin Alesha sahabat gue sendiri demi Lo, tapi kenapa harus Alesha terus buat Lo? kenapa Vin, kenapa!" Lirih Naya, dirinya merasa benar benar tak dianggap oleh Alvin.


Padahal sejauh ini, apa yang Naya lakukan semuanya demi Alvin, tapi mengapa Alvin malah memperlakukannya seperti ini.


Kurang apa Naya untuk Alvin, mengapa selalu Alesha yang akhirnya mendapat perhatian Alvin, mengapa Alvin tak bisa benar benar melepaskan Alesha. Padahal kini ada Naya yang mampu menemaninya bukan Alesha.


@@@


Ad.Yul