ABAS Imamku

ABAS Imamku
cincin



selama di mal banyak mata yang tertarik menatap mereka kagum. tepatnya menatap abas. aplagi gaya dan postur tubuhnya. walo zin tidak kecil banget tapi dai cuma se pundak abas.


para pengunjung semua menatap kagum terpesona dengan 2 pria tampan. apa lagi zin yang jalan dia tengah merasa memiliki badigard tampan.


lama lama melihat kerumunan orang orang bergosip itu zin merasa jengah. abas sadar melihat mimik wajah zin berubah kesal dia cuma senyum tipis. tapi pemandangan itu malah makin menarik perhatian mereka.


"ukhti... mulai sekarang harus mulai jaga mata dan hati abas biar tidak berpaling" raka mengingatkan.


"maksut akhi...." zin penasaran.


"ning tak lihat pandangan mereka?" raka menunjukkan pandangan orang orang.


"itu tergantung akhi abas. ... " zin melirik abas


"aku bukan gampangan" jawah abas lempeng


"kalo tidak kenapa langsung setuju menikah?" ledek raka.


"iya akhi...." tanya zin.


"itu pertama aku berbakti pada mama. kedua tidak menyakiti hati guru ku... dan ketiga..."jawab abas ngantung.


"apa akhi. ....?" zin penasaran.


"iya ..bos... apa yang ketiga jagan gantung begitu?" desak raka.


"kita sudah sampai di toko perhiasan." canda abas.


"abas...." gerutu raka.


keduanya bengong menunggu jawaban malah di kerjai abas.


mereka masuk toko perhiasan. Para pengunjung yang rata rata wanita merasa kagum melihat sosok tampan di hadapan mereka. mereka jadi tidak konsen melihat lihat.


"bas kita menarik perhatian mereka" grutu raka.


"biasa" jawab abas cuek.


"cepat pilih... bisa bisa bapak bapak mukul kita kalo begini" raka mulai jengah dengar tatapan para wanita.


"uhti pilih yang uhti suka. ... saya dan raka nunggu di sana" printah abas.


"tapi...." zin ragu.


"apa pun yang ukhti pilih saya setuju" jawab abas.


abas pergi duduk di sofa tanpa mendengar sanggahan zin sama sekali. zin binggung mau pilih seperti apa. dia tadi juga di beri kebebasan memilih gaun dsn kini milih cicin zin binggung.


tapi dia coba mencari yang membuat tertarik sebuah cicin emas sederhana dengan batu permata kecil.


tiba tiba ada wanita yang juga tertarik dengan pilihan zin. dan mulai adegan rebutan manja tapi zin lebih elegan. zin senang melihat dengan senang.tiba tiba dia di ganggu dengan kedatangan sepasang suami istri.


"mas ini bagus ..." kata wanita itu.


"iya ini bagus...." sang suami meng iyakan.


"maaf mbak ini pilihan saya." kata zin mengingatkan.


"iya mbak saya ambil ini karena pilihan. mbak ini...."kata pegawai toko.


"tapi saya mau ini...." wanita itu memaksa.


"istri saya sudah suka ini bungkus" dukung sang suami.


piinta pria itu. dia selalu nenuruti kemauan istrinya. abas madih sibuk dongan leptopnya sedang kan raka yang dari tadi mengawasi mulai jengah melihat zin di dholimi.


"bos itu kayanya lidia dan sandi" raka menunjuk orang yang mengganggu zin.


"mana?"respon abas.


"kamu urus dulu. .. aku selesaikan sebentar!" kata abas milai geram melihat wanita jahat itu mencoba menganaggu.


"baik boos... assiap. ..." raka semangat untuk bertindak.


raka meng hampiri zin yang hanya bisa diam melihat kelakuan maksa pasangan suami istri ini.


"kalian jangan begitu. .. apa maksud kalian begitu datang malah merabut." zin mengingatkan.


"ini pilihan nyonya ini." sang pegawai toko ikut bicara.


"tapi aku mau yang ini mas... kamu wanita biasa mana bisa beli seperti ini?" ledek lidia. memandang sebelah mata zin yang tampil sederhana.


"apa yang terjadi?....." kedatangan raka mengagetkan lidia dan sandi


"eh... mas raka.... ini wanita ini malah mau ambil cincin yang saya pilih" kata lidia membalik kan fakta.


zin santai melihat tingkah lidia. sebenarnya di tidak masalah kalo lidia minta baik baik dia akan cari yang lain.


"oh ya... bukan kebalik ya... sandi jaga istri kamu jangan sampai membangunkan singa tidur!" raka mengingatkan


"kalo mbak minta baik baik aku akan cari lain....." tegas zin.


"berarti kalian yang mulai hati hatilah" ancam raka.


" maksut mas rak" sandi binggung.


"dari tadi saya lihat kalian menghina wanita ini kalian belom tau siapa dia..." jelas raka.


"akhi... sudah saya biar cari yang lain" zin mengalah dari pada ribut.


"tapi uhti...." raka tak terima.


"tidak apa apa akhi" zin senyum tulus.


abas tiba tiba datang menyodorkan sepasang cincin dan menyerah kan pada zin. san 2 buah kotak lain yang tertutup.


"ini coba... tadi saya sudah coba yang cowok" printah abas.


"kenapa tidak dari tadi saja" zin gemas.


"saya memberi kesempatan uhti" lirik abas sambil senyum kulum tipis.


"untuk di hina" zin kesal.


"afwan..." abas menyesal.


"tidak masalah jangan di pikir" zin senyum menggoda.


"bagai mana?" tanya abas


"pas....." jawab zin


"syukur lah... ini raka urus saya akan ke tempat lain. mari... calon istri ku" ajak abas sambil menunjukkan kepemilikan nya. sambil menyodorkan perhiasan yang belom sempat di lihat zin.


"terima kasih calon suamiku" balas zin.


semua orang jadi kicap melihat adegan itu. raka hanya bisa tertaawa melihat sisi lain bos nya. apa lahi lidia dan sandi. Wanita itu jadi kesal kerena tidak bisa mendapatkan abas dan terdampar dengan sandi.


dia tambah tercegah melihat harga cincin yang di pilih abas untuk calon istrinya.yang di bayar kan raka dengan kartu pribadinya.


.


.


.