ABAS Imamku

ABAS Imamku
santai di pondok



hari ini tidak banyak aktivitas yang di lakukan abas dan zin. karena abas sudah menyelesaikan urusan di kantor. Sedang zin masih belom mengajar sebelum resepsi pernikahan usai dia tidak boleh kemana mana. alhasil dia saat ini menemani sang suami tersayang jalan jalan di kebun buah rambutan dan mangga. kebetulan kali ini rambutan sedang. berbuah banyak.


abas nampak berbeda dengan baju takwa lengan pendek dan bawahan sarung yang di siap kan umi kanzha. Dia tanpa mengenakan peci jadi nampak rambutnya terombang ambing menari ter tertiup angin. sangat keren dan maskulin. sedari tadi abas tidak sadar bahwa zin selalu memperhatikan nya. penampilan yang sangat berbeda dari biasanya yang selalu tampil dengan jas kemeja dan celana bahan. kini abas terlihat sangat nyantri dan adem di mata zin.


keinginan zin dari awal tidak muluk muluk. ingin suami yang tidak jauh memiliki latar belakang seperti keluarganya. tapi ALLAH berkehendak lain. membodohkan diri nya dengan abas yang seorang eksekutif. tapi dia sedikit tenang saat ada sisi lain dari suaminya. jadi zin tidak begitu kecewa bahkan ikhlas menerima semuanya dengan bahagia.


sedari tadi abas enggan melepas genggaman tangan zin. walau zin merasa gugup dsn termor abas selalu mengaitkan tangan mereka dengan erat. walaupun banyak santri yang melihat keromantisan. itu abas tidak peduli. walaupun zin akan meronta dan protes dia tidak akan melepas. tapi ternyata zin tidak memberontak dia juga berusaha ingin segera sembuh dari sakit. Hingga dia tidak perlu ketergantungan dengan obat.


abas mulai tertarik melihat buah rambutan yang ramum dan masak. Dia tidak sabar untuk bisa menikmati nya.


"dek.... buah rambutan abi banyak ya... buahnya" abas melepas genggaman tangan nya dan memetik rambutan yang buahnya mudah di raih.


"iya... mas kali ini bagus karena tidak banyak hujan" komentar zin sambil melihat kesana kemari banyak rambutan. dan mangga yang masih muda.


"memang pengaruh?" tanya abas sambil mengupas rambutan langsung yang baru dia petik


"kalau sering hujan biasanya buahnya banyak ulat nya mas" zin menguraikan fakta. faktor yang buat rambutan lebih cepat di makan ulat


"metik nyuk.... " ajak abas mulai menikmati rasa rambutan dia jadi ketagihan.


"masih pagi mas mau makan rambutan?" zin mengingatkan.


"emang kenapa,?" abas dengan cueknya masih mengambil rambutan dan memakan langsung tidak peduli sang istri yang nampak khawatir


"kan asam. ... ntar mules" ujar zin meningkatkan.


"buah kan bagus buat tubuh... Kalau asam lihat adek juga jadi manis" rayu abas sambil masih asik memetik rambutan yang tidak terlalu tinggi.


"ih ngombal. ..." zin mencibir


"ih. .... benaran" kata abas sambil mengupas.


"nih adek coba lihat mas... pasti jadi manis" abas menyuap kan rambutan di mulut istrinya setelah menyibak cadar


"nggak!" tolak zin


"ayo... Makan." bujuk abas yang masih berusaha menyuap kan rambutan


"udah... ah ... malu di lihat orang" zin terpaksa makan rambutan yang di suap kan sang suami.


"siapa yang mau protes?" tanya abas dengan tatapan teduhnya.


" ih mas fian lama lama nyebelin" protes zin gemas dengan tingkah suaminya itu.


"ha..ha...ha... tapi suka kan? " abas tertawa. zin pun ikut tertawa menyantaikan pikiran nya.


mereka saling bercanda dan tertawa. tidak peduli di lihat banyak orang mereka asik dengan dunia nya sendiri. abas tidak sungkan menyingkirkan sikap dingin nya karena itu memang di kenal di dunia kerja saja. abas tidak sedingin papa make yang posesif.


tapi nampak untuk kali ini keputusan abi faz untuk menikah kan sang putri sudah menjadi keputusan yang pas untuk zin. harapan mereka sang putri bisa segera sembuh dan bisa mengabdi menjadi seorang istri yang baik.


abi faz melihat sang istri duduk sendiri. menangis dalam diam nya hingga pria paruh baya itu penasaran. apa gerangan yang mengguncang batin sang istri saat ini. abi ikut duduk di bangku lain. menatap sang istri yang akhirnya tersenyum pada nya. abi faz jadi bingung melihat . sang istri tersebut.


"ada apa umi? kenapa tiba tiba menagis?" tanya abi faz duduk di sebelah sang istri


"tidak bi... hanya haru melihat mereka" umi menghapus air matanya memberi isyarat pada abi tentang keberadaan sang putri dan menantu mereka.


"oh... lihat zin dan abas" abi senyum melihat canda tawa mereka.


"akhirnya zin bisa kembali tertawa" ucap umi bahagia melihat pemandangan yang menyejukkan itu.


"alhamdulillah.... . jadi apa yang abi lakukan tidak sia sia dan salah kan mi?" abi faz senang.


"iya. .. bi.. afwan sempat menolak ide abi dan jaddun al... umi hanya khawatir" umi kanzha sempat menolah pernikahan sang putri yang terlalu cepat apa lagi keadaan zin yang umi rasa belum saatnya menikah. takut zin tersakiti karena dipaksa.


"tapi kini umi sudah percaya kan dengan abas... dia tidak mungkin akan menyakiti zin. Kalau pun dia mau sudah 5 tahun lalu dia ambil kesempatan untuk merusak putri kita" kata abi mengingatkan semua peristiwa saat itu.


"abi benar. ... " umi kanzha bernafas lega.


"tapi dia nyatanya malah menyelamatkan zin dari orang orang biadab itu... Selama hampir seminggu abas mencari keluarga zin. sampai mengesampingkan sendiri urusannya tapi sayang zin tidak mengingat semua pengorbanan itu" cerita abi panjang lebar.


"semoga abas memang yang paling tepat untuk putri kita ya abi...." hara umi.


"amin....." abi mengamini


"lihat zin bi.... tertawa selepas itu...." umi tersenyum bahagia bisa melihat sang putri bisa kembali ceria.


"semoga dia segera sembuh... dan bisa mengabdi menjadi istri pasangan yang baik" lanjut harapan dari abi faz.


"iya.. bi... umi juga berharap begitu" umi meng iyakan.


abas benar benar memetik rambutan banyak. dari tadi dia asik makan sendiri karena zin selalu menolak. zin baru tau kalau abas makan nasi sangat sedikit tapi kalau soal buah jangan di tanya. Dia bisa makan sangat banyak.


akhirnya mereka kembali ke dalem dengan membawa rambutan. dan di makan bersama yang lain di beranda tempat abi dan umi duduk setelah zaki dan zoya ikut gabung dengan mereka sambil duduk di sebuah gazebo yang ada di samping rumah abi. jadi pagi ini teras sangat hangat.


.


.


.


..