ABAS Imamku

ABAS Imamku
Perkembangan kesembuhan Zin.



sertelah mengianap 3 hari tiga malam tanpa hasil yang memuaskan. pasangan pengantin kembali pulang ke pesantren. karenan lusa pesta resepsi. mereka akan pindah ke kediaman maikel setelah pesta resepsi.


keluarga sudah menunggu di depan rumah. sudah tidak sabar menyambut kedatangan pengantin baru. akan muncul banyak pertanyaan yang akan mereka tanya kan. perihal paska pernikahan.


akhirnya yang di tunggu muncul mobil abas datang dan parkir di depan rumah. zaki dengan sigap membuat pintu untuk sang adik tercinta.


"assalamualaikum" salam zin dan abas.


"waalaikum salam...." jawab abi dan zaki di ambang pintu.


"ayo... masuk. .. kita sarapan" ajak abi faz merangkul menantunya dengan hangat


"baik abi...." jawab abas.


mereka sarapan bersama karena abas dan zin sengaja pulang pagi biar bisa sarapan bersama keluarga. setelah sarapan zin keb kamar di ikuti umi kanzha. sedang abas ngobrol di ruang keluarga bersama abi dan zaki


"aduh berserinya pengantin baru" goda zaki pada ipar nya.


"makanya antum yusul gus!" balas abas menarik tawa abi faz melihat keakraban itu beliau senang.


"itu ... ya itu...canda an yang anfaidah" protes zaki mendengar balasan abas.


"gus... yang mulai. .." lanjut abas


"kalian ini....." abi jadi gemas melihat tingkah putra sulung nya dengan sang mantu


"abi...." Panggil zaki.


"bagaimana bas?" tanya abi.


"seperti yang abi pernah bilang. .. troma masa lalu membuat ning zin mudah gelisah" jawab abas serius


"kamu sudah bilang soal itu?" tanya zaki perihal rahasia abas.


"belom kak" jujur abas


"jadi selama 3 hari tidak ada kemajuan?" abi penasaran.


"ya pelan pelan dia mau ku pegang peluk" ucap abas hati hati.


"sudah mau di peluk... dia tidak respon gugup?" zaki penasaran


"awalnya iya. .. tapi saya meyakinkan dia untuk tenang " jawab abas


"dia tidak memberontak?" abi juga mulai penasaran pasalnya sikap zin memang beda.


"awalnya iya... bahkan tangan saya di lempar saat memegang pinggang nya" cerita abas.


"semoga cepat sembuh" doa abi.


"tapi kalau mau kamu peluk itu perkembangan bagus abas" kata zaki senang.


"apa ning mengikuti pengobatan rutin?" tanya abas penasaran.


"saat di madinah" jawab zaki yang tau perihal terapi sang adik.


"tapi selama di sini dia sudah tidak minum obat lagi" lanjut zaki.


"sabar ya nak... karena itu kamu makanya abi percayakan zin dalam perlindungan mu" ucap abi bijak.


"iya abi...."


sedang di kamarnya zin juga di tanyai umi kanzha tentang perkembangan kesembuhan dan sikap zin pada abas. sang putri tidak bisa menutupi semuanya dari sang umi. umi tau kalau sang putri masih memiliki lusa . sedang zin ingin sembuh dan bisa menyerahkan dirinyan secara utuh pada zaujie nya. dan bisa menjalankan kehidupan berumah tangga secara normal abas.


tapi teroma itu masih membekas dalam sanubari zin. tapi beberapa hari bersama abas zin menemukan kedamaian dan ketenangan. rasa grogi berubah menjadi kedekatan.


zin berharap segera sembuh dan bahagia mengarungi bahtera rumah tangga bersama abas.


"bagaimana nak?" selidik umi.


"tidak bisa umi" desah zin menyesal


"kamu harus menguatkan tekat mu" pinta umi.


"tapi mau sampai kapan?" umi penasaran


"zin juga tidak tahu umi... zin takut tidak bisa sembuh" zin mulai gelisah dan was was.


"jangan menyerah nak" dukung umi.


"umi.. zin ingin hidup normal tidak mengecewakan kebaikan mas fian" urai zin penuh harapan


"berdoa lah nak... dan berpasrah lah pada ALLAH semoga kesembuhan kamu dapatkan untuk meraih kebahagiaan" perintah umi


"amiiin....."


"tapi mi... ada beberapa saat zin merasa sangat nyaman berada di samping mas fian" zin seperti ingat sesuatu


"saat apa?" umi tidak sabar


"saat dia memperlakukan zin dengan lembut..... menyentuh zin dengan hati hati" cerita zin


"kau merespon dengan baik?" umi tak sabar ingin melihat putrinya bisa normal.


"iya... paling tidak zin merasa tidak khawatir dan terancam sedikit pun saat bersama dengan mas fian umi" akui zin mengenai perasaan.


"bagus nak" umi lega.


setelah mengutarakan semaunya pada umi nya zin merasa sedikit tenang. umi kanzha juga bahagia akhirnya zin bisa menemukan abas yang bisa jadi penjaga.


saat masih asyik ngobrol abas datang kekamar zaujahnya. dia datang untuk mandi dan ganti baju.


"assalamualaikum"salam abas


"waalaikum salam. ..." jawab umi dan zin.


"sudah selesai ngobrol sama abi nya mas?" tanya zin


"sudah dek" jawab abas ramah.


"ya sudah.... suamimu sudah datang umi keluar dulu" pamit umi.


"iya umi" jawab zin.


umi pergi meninggal kan kamar sang putri. membiarkan khozin bersama abas di dalam kamar.


Setelah di dalam abas segera masuk kamar mandi dan akan ke kantor untuk mengecek beberapa pekerjaan. walau raka sudah menghendel semuanya tapi abas tetap tidak bisa berdiam diri.


Setelah keluar zin sudah menyiapkan semuanya. pakaian sampi sepatu abas. bahkan tas kerja dan hanpoane sudah siap di atas meja belajar zin.


"mas lamam nanti di kantor?" tanya zin yang melihat suaminya siap siap.


"tidak cuma tanda tangan berkas saja" jawab abas sambil memakai dasi.


"kenapa mas raka tidak kesini saja" tanya zin penasaran. Biasanya raka selalu muncul di samping abas.


"kasian dia... sudah di repotkan sejak pernikahan kita... adek mau ikut?" tanya abas


"ngapain.... katanya cuma sebentar mas" zin malu menundukkan kepala.


"siapa tau kamu mau ngintilin mas kemana saja ... takut kangen" canda abas.


"ih.... pedenya" zin mencibir


"ha... ha.. ha... pede ya harus itu" abas tertawa


zin menghantar abas sampai pintu. rasanya ada sesuatu yang beda di rasa zin .saat suaminya pergi


.


.


.


..