ABAS Imamku

ABAS Imamku
Bulan madu



kini sepasang pengantin sedang ada di dalam pesawat. Mereka akan berbulan madu di uniamiart arab. alasannya adalah tempat kelahiran abas yang lahir saat sang papa dan mama tinggal di sana untuk mengembangkan bisnis. baru saat usia abas 5 tahun mereka kembali ke Indonesia. alasan yang lain adalah tempat abas pertama kali berjumpa dengan wanita pujaan nya. mereka juga berniat beribadah umroh.


mungkin khozin akan bosan karena baru kembali dari negeri itu beberapa bulan lalu. tapi bagi zin perjalanan nya kali ini sungguh berbeda. selain ke arab mereka juga akan bersafari ke negeri lain selama 20 hari.


nikmati waktu kalian !!!


kini mereka baru sampai di airpote dan dengan taxi komersial mereka pergi menuju hotel untuk menhinap malam ini karena. Mereka akan berkeliling ke beberapa tempat.


bisa mengajak khozin liburan adalah hal yang menyenangkan bagi abas karena dengan begitu dia bisa lebih mengakrabkan diri dalam cinta. zin sudah mulai terbiasa dengan kehadiran abas di sisinya. seakan dia mendapat peganggan dan sandaran dalam suka dan duka. cuma karena sakitnya saja yang belum bisa hilang sama sekali.


"mas fian... mandi duluan ya..!. biar adek beberes" tawar zin dia sibuk membongkar koper dan membereskan pakannya dan sang suami ke dalam lemari.


"iya...." jawab abas santai dia berjalan mendekati sang istri dan mencondongkan kepalanya mendaratkan sebuah kecupan di pipi gembul zin yang tidak tertutup cadar.


cuuup. ...


"mas fian...." triak zin kaget dan menoleh menatap abas dengan smiknya. zin gemas sekali dengan suaminya yang tampan itu.


"ha...ha ..ha .. cuma cium doang" kelakar abas tanpa rasa bersalah sama sekali.


"kaget tau. ..." dada zin masih tak karuan setiap sang suami berbuat begitu padanya. tapi tremornya tidak ada hanya rasa yang menggetarkan dada.


"biar terbiasa" abas mengkerling main mata pada zin.


"astagfirullahalazim. .. dasar. ...mas mesum." gerutu zin kesal. Kalau begini zin tidak akan bisa mengatur napasnya dengan baik.


"kalau protes. .. mau lagi. ..." canda abas semakin menjadi.


"tidak....." tolak zin menutup mukanya dengan kedua tangan agar abas tidak bisa mencium pipi gembul nya. tapi abas tidak menyerah dia malah mendarat kan kecupan hangat di ubun ubun sang istri.


cuuup....


"mas fian...." lagi lagi zin ptotes. bukannya dia tidak suka dengan perlakuan manis sang suami tapi jika abas melakukan dengan tiba tiba zin akan bereaksi dengan sakitnya.


"orang mau cium.... dahi bukan pipi" abas santai saja dia memang sengaja melakukan ingin melihat sampai kemana kemajuan kesembuhan sang istri jika di samping nya.


"ih.... genit" cibir zin memonyongkan bibir nya hingga terlihat seksi. ingin sekali abas menerkam bibir istrinya yang menggoda. pernah abas mencoba mencium bibir istrinya tapi berakir tamparan di pipi.


"cuma padamu sayang" goda abas zin semakin kesal dengan hal itu.


"awas saja berani genit di luar sana. .." ancam zin dengan tatapan elang mengancam siap menerkam .


"kabur saja ah.... takut di tabok....." abas lari ke kamar mandi setelah puas menggoda istrinya sedang zin tersenyum mendapat perlakuan manis dari sang suami.


senang rasanya bisa menggoda istrinya begitu. walau abas mesti harus bersabar untuk menahan diri dan hasratnya pada kekasihnya. tapi dia cukup mengerti dengan keadaan yang dialami zin. Mereka sudah pernah mencoba untuk berhubung awalnya baik baik saja zin juga bisa menikmati permainan sang suami. tapi di tengah tengah permainan bayangan gelap dan mengerikan di masa lalu muncul lagi. hingga zin mendorong menjauh tubuh abas yang sudah siap menerkam zin pun berteriak dengan keras hingga keringat dingin membasahi tubuhnya. akhirnya abas harus menuntaskan hasratnya di bawah kucuran sower hal itu terjadi saat mereka menginap di hotel dan berakhir abas tidur di sofa sampai pagi.


maka perjalanan kali ini abas juga tidak ingin berharap banyak. Yang penting bisa tidur memeluk sang istri tercinta penuh hangat itu sudah cukup bagi abas.


seusai mandi abas dengan santai keluar hanya dengan mengenakan sepotong handuk rambut yang basah menutup wajahnya aliran air masih membasahi berapa bagian tubuhnya. melihat pemandangan indah seperti itu siapa yang tidak tergoda. tapi zin dari tadi berusaha memalingkan muka agar tidak hanyut dalam hasrat. demi apa jantung zin berdetak kencang.


"ini baju gantinya mas" zin menunjukkan baju di atas kasur.


"syukron jamilah" jawab abas manis sekali.


"adek mau mandi dulu..." pamit zin. tapi di tahan sang suami dengan permintaan nya


"bantu keringkan rambut sebentar!" perintah abas.


"jadi mulai besok kita sudah mulai rangkaian ibadah?" tanya abas


"iya...." jawab zin tenang mengatur napas nya.


"adek mau minta apa pada Allah?" selidik abas sambil menikmati usapan zin di kepalanya.


"semoga bisa segera sembuh dan bisa menjadi istri yang sempurna untuk mas" harapan zin sungguh besar untuk bisa segera menghilangkan troma nya.


"amin.... boleh sambil peluk kan?" abas mengaminkan dan dia mulai lagi kelancaran rayuan.


"ah. . dasar. .. boleh tapi pelan ya... jangan buat adek kaget kalau mas tidak mau kena tampar atau dorong" ujar zin sinis


"jamilah memang sadis. ..."gerutu abas meningkatkan tangan nya.


"kalau mas mau minta apa sama Allah? " ganti zin penasaran ingin tau harap sang suami di ibadah umroh pertama mereka.


"kau di sisiku selamanya hingga maut memisahkan" ucap abas puitis benar benar dari hati yang paling dalam.


"amin...." abas mengamini.


cup. ....


zin mendaratkan kecupan manis di kepala sang suami dengan inisiatif sendiri


"hem... mas bisa minta lebih... nanti" balas abas mendekap tubuh zin yang berdiri di depannya


"kita coba lagi setelah kembali ke tanah air" bisik zin memberikan harapan.


"janji?" abas mendongak menatap tajam sang istri.


"iya...." zin mengangguk dengan pipi yang memerah karena tidak tahan dengan tatapan tajam mata hasel abas.


"em....istriku yang cantik bau acem... cepet sana mandi!" abas mengalihkan perhatian karena sudah cukup membuat wajah istrinya merah padam karena malu.


"coba siapa tadi yang nahan nahan minta bantu keringin rambut" zin menguraikan pelukan abas.


"mas. ..." jawab abas tanpa rasa bersalah sama sekali.


"ya .. sudah lepas ! adek mau mandi dan nanti malam mau iktikaf di masjid mabawi" ucap zin semangat.


"mas temenin... sana mandi keburu sore" abas tawarkan diri ikut.


"iya...."


zin pergi ke kamar mandi membawa sekalian baju ganti. abas juga sudah rapi degan pakaian yang di siapkan sang istri. apa yang di siapkan zin selalu cocok dengan selera abas dari warna dan model pakaian. abas tidak punya kriteria khusus dalam berpakaian. semua suka asal cocok dengan suasana. Setelah zin usai bersih bersih mereka keluar bergabung dengan rombongan untuk melakukan ibadah solat dzuhur. Mereka memang sengaja pesan hotel dan kamar sendiri dengan tujuan tidak repot saling mencari dan ketua rombongan mengizinkan asal tidak melanggar aturan selama beribadah. Mereka sudah berjanji.


.


...


.


.


.