
acara makan berdua sudah selesai. mereka juga sudah solat magrib di mushola restoran sebelum pulang membawa makanan yang dipesan zaki.
mobil abas sudah kembali meluncur pasisi duduk masih sama saat raka menata belanja an yang memenuhi mobil. barang belanjaan hampir menenuhi seluruh dalam mobil. zin saja binggung apa saja yang sudah di beli calon suaminya itu. seingat zin hanya masuk 3 toko. butik baju pengantin galeri perhiasan dan toko kosmetik. tapi dalam 3 1/2jam abas bisa memenuhi mobil.
dan gaya belanja abas buat orang geleng geleng. zin belom begitu mengenal calon suaminya dia takut suatu saat perbedaan prinsip akan menyulitkan mereka.
"kenapa ning?" tanya abas kepo melihat zin
"ini semua apa akhi" zin binggung melihat semua barang.
"oh.... hanya kebutuhan ning sehari hari" jawab abas santai.
"kenapa sebanyak itu?" zin mengerut ksn dahi
"kalo harus kuberikan seluruh mol itu belum ada apa apa nya.... afwan memang terkesan berlebihan tapi melihat waktu kita tinggal beberapa hari lagi..... dan mulai besok kita di pinggit ini lebih baik dari pada ning kelelahan" urai abas
"lalau swmua ini habis berapa?"zin pening memikirnya.
"tidak masalah" abas santai
"jangan terlalau boros" cibir zin
"aku bekerja selama ini untuk bisa memenuhi kebutuhan keluargaku kelak tidak akan jadi sia sia.... dan ning zi jangan merasa sungkan. ini belom apa apa kalo di banding kebahagiaan saya untuk bisa bersama dengan ning khozin." abas optimis
zin tercengang mendengar semua uraian panjang lebar abas. padahal dari siang tadi dia melihat sikap dingin datar dan penuh wibawa. tapi saat bersama zin keluar sikap hangat perhatian dan rasa peduli.
zin merasa sangat terharu mendengar semuanya. dia hanya bisa menerima semua anugerah ini dengan penuh suka cita..
"oh ya ning boleh saya tanya sesuatu?" tanya abas.
"boleh masalah apa akhi....?" zin setuju
"masalah pertanggung jawaban yang ning minta? kenapa tiba tiba ning minta di nikahi saat di telpon" selidik abas penasaran sebelom mereka di pingit abas ingin tahu.
"ah.... afwan ya saya terkesan murahan" zin tertawa kecil
"bukan begitu kalo alasan ning sangat logis hal itu di perbolehkan wanita meminta di nikahi oleh pria yang sholeh" abas menerangkan.
"alasannya ya seperti waktu itu karena akhi sudah melihat wajah saya melalui henpone" zin jujur.
"lalu alasan ning memberi sarat rumit itu?" abas penasaran.
"karena sedikit teroma.... tapi afwan untuk saat ini saya belom bisa cerita" zin berubah expresi.
"tidak masalah... kalo itu hal yang menyakitkan lupakan saja" abas mengerti.
"terimakasih.... lalau alasan ke 3 akhi menuruti perobohan ini?" ganti zin mulai kepo
"itu karena ning.... wanita itu ning khozin" jujur abas. semua karena zin. Saat dia tau itu zin abas setuju.
"maksudnya?" zin masih penasaran.
"karena pinta abi... taat berbakti pada mama dan karena ning zin saya bertekat untuk bisa membahagiakan mu" zin terharu walo belom begitu mengerti.
"kalo bukan aku?" zin memancing.
"alasan 2 itu cukup....lalu andai pemuda yang di jodohkan ning bukan saya apa ning akan tetap menuntut tanggung jawab dan meninggalkan pria itu?" abas balik bertanya.
"mungkin iya" jujur zin.
"apa ning tidak merasa kualat sama saya dan ALLAH menunjukkan jalan lain agar saya bisa lihat wajah ning" abas merasa dia sudah menang.
"mungkin iya akhi.... saya kualat" zin malu.
"kalo begini siapa yang betuntung?" tanya abas sambil melirik dari kaca sepion mobil.
"akhi.... dan saya tidak harus menyakiti orang lain jadi saya juga beruntung juga rugi karena akhi yang menang walo sedikit" zin tersenyum getir.
mobil abas ahirnya sampai di pondok. abi yang baru dari masjid isaan senang melihat mobil menantunya datañg.
abas membukakan pintu untuk zin. abi senang melihat keharmonisan itu. dia tidak salah pilih pasangan untuk sang putri. zaki yang barudatang ikut recokin sang adik
"waalaikumsalam....."jawab abi menepuk bahu abas.
"tidak masalah yang penting kamu kembalikan zin dengan selamat" saut zaki nyrocos.
"kalian tidak lupa pesananku kan?" tanya zaki
"tidak ada...." cuit zin gemas.
"ketus nya. ....." protes zaki.
"jangan kawatir kak.... tapi ana butuh bantuan bawa barang barang ini" abas menengahi dan mita bantuan.
"oke....." zaki setuju.
"sebanyak ini bas....." saat membuka pintu matanya melotot.
"ini semua apa?"tanya abi ikut kepo.
"tau tu akhi... semua di beli" desis zin melirik abas.
"ha..ha..ha.. bas bas...." zaki geleng geleng.
zaki meminta bantuan beberapa santri untuk membawa belanjaan masuk rumah. siapa yang lihat akan geleng kepala jadinya.
"bas...bas. .. mentang mentang mol milik sendiri" ucap zaki blak blakan.
"mol milik sendiri,?" zin tidak percaya.
"la.. kamu tak tau dek ... kalo calon suamimu itu seorang triliuder?" zaki menatap adik nya horor.
zin geleng kepala dan menatap penuh tanda tanya pada abas. pemuda itu mengaruk tengkuk yang tak gatal.
"ini... ning simpan" abas menyodorkan kotak perhiasan.
"iya.... akhi" zin menerima.
"abi... abas pamit dulu sudah jam segini" abas mekihat jam dan memutuskan. pamit
"hati hati ya nak.... salam buat papa mama mu!" pesan abi sambil menyambut tangan abas.
"iya bi... salam juga buat umi.... maaf tidak bisa nunggu" pinta abas
"iya... umi masih ngajar...." jawab abi
"hati hati bas.. kutunggu janjimu!" pesan zaki kekeh
"sipp...." jawab abad sambil mengacungkan jempol.
"kak zaki.....hati hati akhi....." grutu zin sebal dengan tingkah kakaknya.
"syukron.... sampai.jumpa assalamualaikum" salam abas.
"jumpa di pelaminan" goda zaki.
"waalaikumsalam" jawab semua.
mobil abas segera pergi. dia sudah sangat lelah. dia baru tau zin tidak suka repot belanja. gadis yang kelewat sederhana.
abas segera pulang kerumah karna keluraganya sudah menunggu.
.
.
.
.
.