
setelah zin sampai dan turun di gang belakang pesantren mobil itu melaju lagi menuju tujuan.
saat mengambil minum di dasbone mibil raka batu sadar kalo hanpone zin tertingal di mobil abas.
"abas... lihat!" raka menyodorkan hanpone milik zin.
abas menoleh dengan malas. dia sibuk dengan pikiran nya sendiri sedari tadi.
"punya siapa?" abas mulai tertarik.
"uhti khozin" jawah raka.
"kok bisa ... tertinggal di situ?" abas mulai tertarik
" tadi dia minta cas... sepertinya di lupa minta kembali." jawab raka tanpa melihat abas.
"oh...."
"lalu bagaimana ini?" taka binggung.
"kalo dia ingin hp nya kembali pasti dia menelpon.. bawa kemari" pinta abas. raka menyodorkan hanpone itu.
"ini...."
abas menekan tombol Power di hap zin. hape bermerek dengan warna Pink ciri khas cewek denga kesing sebuah kaligrafi mana indah zin.
"umi khozinatul umah...nama yang indah" puji abas yang melihat tulisan di belakang hape.
" itu nama lengkapnya?" raka menoleh.
"iya... ini..." abas menunjuk bagian belakang hape.
setelah hape menyala. terpapang wajah ayu seorang gadis. dengan Mata berbinar bulat. senyum kulum yang manis dari bibir tipis pink merona. dengan wajah polos tanpa make ap sedikit pun. sesaat abas terbelalak
"Masha allah..... sungguh indah karunia dari ciptaanMU Ya ALLAH ini pasti wajah di balik cadar itu" ucap abas dalam hati.
sampai kekaguman itu menarik senyum indah dibibirnya. seduatu yang jarang dia lakukan karena sikap dingin dan kukunya .segera dia simpang hp itu di saku dalam jas nyu.
untung raka tidak sadar karena di sedang konsentrasi untuk parkir. karena mereka sudah sampai tujuan.
di sebuah ruang tamu.... di dalem kyai
sekarang terjadi obrolan hanggat di ruangan itu. antara kyai dan tamunya. sahabat karib saat kuliah di italia dulu. mereka juga rekan bisnis yang akrap.
"mana putramu mas kok belom sampai aku sudah kangen lho sama dia?" tanya kyai faz. kini beliau mengganti kan sang abi mengasuh pondok al azhar.
"sabar yi.... aku sudah telepon dia masih di jalan. katanya ada sedikit masalah" jawab make. dia kenal kyai saat masih jadi gus dan kuliah di Italia.
"dia seperti apa sekarang. .. pasti gagah dan tampan" puji kyai.
"ya iya... persis seperti aku" make narsis.
"kalo kayak sampean ya bandel.... kalo ganteng itu nurun ibunya.... yang.... cantik.. iya tho bu maria?" kyai menoleh maria yang duduk di samping suaminya.
"ya terserah sampean saja lah kyai" make menyerah. kalo debat dia pasti kalah.
"ha....ha...ha... tapi bener ya... putramu sudah setuju.... aku dak mau sampe sini lihat putriku dia terus kabur" tanya kyai faz.
"ya ndak mungkin tho kyai.... mana mingkin dia berani nolak kalo yang minta kyai sendiri" tegas make.
"ya semoga saja ....." harap kyai.
sedang abas singgah di masjit pesantren untuk solat isah. dan menenagkan diri sebentar di ikuti raka yangjadi makmum di belakangnya
sebelah selesai mereka jalan menuju dhalem. pemandangan dua pemuda mengenakan jas dengan tubuh tinggi tegap menarik perhatian pata santri yang berlalu lalang baru selesai mengaji kitap. Seorang pemuda tampan lari mengejar mereka.
"abas. ...." pangil seseorang. abas segera berbalik dan tau siapa yàng memangil.
"gus assalamualaikum. ..." abas menghambur memeluk
"waalaokum salam...
ana sampai pangling lihat antum.... " sangus membalas sambil mencium pipi sahabatnya.
"ana baik.... ana balik ke tanah air 3 bulan lalu... bareng calon antum" jawab sang gus.
"calon....?" raka kepo.
"iya... itni siapa?" tanya sang gus.
"perkenalkan gus ini teman saya..." jawab abas.
"raka...." kata raka sambil mengulurkan tangan..m
"zaki..." jawab zaki
"beliau putra sulung kyai faaz rak" tambah abas.
"oh..... lalu calon kamu?".raka melirik abas.
"adik say... ayo... abi dan ayahmu sudah nunggu dari tadi" jawab zaki
"mari"
3pemuda itu ber jalan ber iringan menuju dhalem. dari ruang tamu terdengar gelak tawa yang riuh. taea terhenti saat 3 pemuda itu sampai di depan pintu.
"assalamualaikum. ..." salam ke 3 cowok itu.
"waalaikum salam. .... mari mari nak" pint kyai . sang papa senyum lega putranya sudah datang.begitu juga mama maria.
abas segera menghabur salim oenuh takdzim mencium tangan kyai nya lama dan menghirup srona cendana dari tadbih yang di pegang kyai faz. sang kyai pun memeluk hangat menepuk punggung abas. setelah selesai di pandangnya santri nya itu lekat kekat wajah pemuda dulu dia kenak kini berubah sangat tamapan dan dewasa.
"kenapa lama kamu tidak pernah kunjungi gurumu ini?" tanya kyai.
"afwan kyai" abas menunduk takdzim tidak berani menatap kyainya.
"apa kamu masih marah sama saya?" tanya kyai.
"abas tidak berani kyai" jawab abas tegas.
"oh... abas abas......ini siapa?" pandangan kuai beralih ke raka.
"saya raka kyai.... teman abas" raka mendekat
raka ikut salim dan mencium tangan kyai dengan tahdzim. lalu mereka di persilakan duduk. umi kanzah dan mama maria keluar ikut gabung para tamu di ruana keluraga yang lesehan.
setelah mereka datang para santri membawa makanan datang keluar.raka yang dari tadi menahan lapar sangat senang ada jajn dan kue di hadapannya. karena dari tadi abas di ajak makan malah menolak.
"ini boleh di makan kyai?" tanya raka tak sabar.
"raka malu maluin?" abas melotot menatap raka.
"aku lapar bas... dari tadi kamu tidak ngajakin makan" raka tidak peduli tidak. bisa tahan lapar lagi.
"ya nak boleh di makan masak mau di buat pajangan ha..ha..ha..." canda kyai.
"trina kasih kyai" raka mencicipi martabat lalu beralih ke kue.
"kamu lapar apa doyan raka,?" tanya zaki.
"laper gus calon adik ipar gus tega dari siang di ajak makan tak mau" gerutu raka kesal karena lapar.
"raka...!" abas lagi lagi marah.
"ha...ha...ha..."
?
?
?
?