ABAS Imamku

ABAS Imamku
tantingan dalam pingitan.



dalam sujut nya seorang gadis menangis. menagisi kelalaian keburukan dosa dosa yang dia perbuat. hati siapa yang tidak nelangsa menginggat betapa sakitnya masa lalunya sunghuh sangat suram.


saat sang abi menawar8i perjodohan dia di minta istikharah mencari petunjuk dan jawaban atas gambaran masa depannya. waktu waktu baru yang akan dia lalaui dengan penuh harapan kebahagiaan.


tadinya dia ragu menginggat masa lalu yang membuat dia takut. takut mengambil komitmen untuk hidup dengan orang lain apa lagi lain jenis. sungguh dia bisa menutupi segalanya. hingga nampak sangat baik baik saja.


sang putri oin menurut sebelum kembali melakukan istikharah. ini sudak kesekian kali rangkaian mimpi yang tadinya apsrut kininsemakin jelas. tapi gambaran itu nyata tampak terlihat jelas dalam mimpinya. terpapang jodoh yang di saran kan abi nya. gadis itupun akhirnya setuju dengan beberapa sarat.


Dalam niat yang ikhlas akhirnya pemuda itu setuju. semua di luar ekspektasi gadis itu yang tadinya mengulur waktu karena belum bisa lepas dari kenangan akhir nya hanya bisa pesrah. ikut saran sang ayah menikah dengan pilihan kakeknya.


serang pemuda yang dulu pernah nyantri di pondok abinya. mengaji pada kakeknya. pemuda yang di percaya dapat menjaga sang putri dari segala marabahaya. dengan harapan menjaga dan bersama sampai kesurga.


"zin...." panggil abi


"abi... jadun asa pa?" tanya zin sambil membuka pintu.


"kami mau bicara. ... kami boleh masuk?" abi minta ijin Sama sang putri.


"naam... silah kan!" zin membuka lebar pintu kamarnya. mempersilakan abi dan jàddun


abi faz dan jaddun al masuk kamar zin. duduk di soga kamar itu menatap sang pitri yang masih mengenakan mukena. jadun al mengisaratkan agar zin duduk di antara keduanya. zin menurut dan duduk di antara abi dan jaddun.


zi merasakan ada rasa penasaran di wajah mereka. keduanya menatap zin lekat lekat.


"katanya mau bicara sama zin kenapa malah menatap aneh begitu. .. apa di wajah zin ada sesuatu" zin mematap abi lalu berpindah ke jaddun kesayangan nya.


"ah... tidak nduk.. wajah mu. baik baik saja" ucap jaddun grogi.dz


''kamu habis menagis....?" tanya abi memastikan.


"ah... seperti yang abi lihat" jujur zin mengusap wajahnya.


"apa yang kami lakukan menyakiti dirimu nak?" jaddun khawatir


"maksuk jaddun?" zin penasaran.


"perjodohan mu?" jaddun menegaskan


"oh....." zin hanya meng ho saja.


"kalo kamu belom bisa melupakan semua kita tunda saja... pernikahan nya" ide abi.


"tunda...?" zin tersentak kaget.


"kamu memberi sarat yang begitu rumit. mungkin untuk mas kawin akan mudah utuknya tapi sarat yang kamu ajukan apa itu bisa di bilang wajar nduk?" jaddun menerangkan.


"tapi akhi abas sudah setuju... kalau memang beliau menolak zin tidak masalah. tapi kalo tiba tiba batal bagai mana angapan keluarga mereka mengeni zin jaddun abi?" zin mengingatkan. kini taruhannya adalah nama baik keluarga.


"banar abi.. apa kata orang ning khozin putri ustahd fazha menggagalkan pernikahan sehari sebelumnya sunghuh ironi, " abi faz menjelaskan seterang terangnya.


"kan. ini usul abi sendiri?" abi faz menginginkan abi al.


"tak ku kira mereka setuju juga" jaddun menghela nafas.


"siapa yang bisa menolak pemerintah jaddun dan abi" canda zin garing menetralkan suasana.


"jadi.... kamu mau kan dan tidak menyesal?" abi faz mencari kepastian. persetujuan sang putri.


"tidak abi... zin baik baik saja" jujur zin.dia sudah ikhlas menuruti semua pinta keluarganya.


"lalu kenapa kamu menangis?" tanya jaddun membelai kepala cucunya.


"ini airmata ketenangan... dengan begini dia tidak akan ganggu zin lagi" zin lega sekarang.


"tapi kamu juga harus tau perasaan calon suamimu... dia pria yang agak rumit. " jaddun berpikir.


"rumit?" tanya zin


"pria yang menjadikan pekerjaan sebagai prioritasnya... kelak kamu harus sabar" abi mengingatkan


"sepertinya iya.... tapi ada kalanya dia berubah... bahkan mas raka sampai binggung melihat perubahan itu... tiba tiba beliau meninggalkan pejerjaan untuk ku"cerita zin. ada semburat senyum indah. di bibir zin.


"benarkah" jaddun hampir tidak percaya sams sekali


"semoga saja benar" abi setuju.


"ya sudah... kami hanya mau memastikan itu." pamit abi.


"semoga ini yang terbaik" jaddun mencium kening cucunya.


"semoga dia bisa mencintaimu selamanya" abi faz mendekap sang putri penuh masiqul.


"amin...."


abi dan jaddun keluar kamar. kini zin tinggal sendiri. melepas mukena membereskan peralatan bahkan tadi zin sempat tertidur karena lelah.


zin bermimpi menerima uluran tangan seseorang. pria itu tersemyum indah. pria yang berdiri di antara abi, zaki dan jaddun. Lalu merengkuh tubuh zin memeluk penuh haru. karena mimpi itulah zin kini yakin.


.


.


.


.


.