ABAS Imamku

ABAS Imamku
perjodohan abas.



abas juga sampai rumah dengan selamat. selama perjalanan dia memikir kan zin yang sangat berbeda dari biasanya kebanyakan gadis jakarta. saat belanja pun dia nampak enggan dan malas. beda dengan wanita umumnya yang gila belanja.


bahkan zin ciderung tomboy dengan kemampuan bela dirinya. abas tak menyangka di balik penampilan tertutup itu sembunyi seorang kesatria wanita.


saat sampai di dapati sang adik duduk di ruang tengah sedang belajar. sedang papa dan mama duduk di ruang tv menikmati kopi dan camilan.


abas datang membawa ayam bakar kegemaran mereka. di ikuti mang damang membawa belanjaan abas yang super banyak.


"assalamualaikum semua" salam abas


"wa alaikum Salam "jawab semuanya.


"sudah pulang nak?" tanya mama maria pada sang putra sulung.


"iya maa.... pa.... della mana nih abas bawa makanan" abas mencari sodok sang adik kesayangan.


"bawa apa bang?" della lari menghampiri dengan semangat.


"bawa ayam bakar...." abas menunjukkan tentengan nya.


"wah enak.... sayang kita sudah makan tadi biar mama simpan buat sarapan besok ? kamu sudah makan nak?" sang mana menanyakan


"sudah ma.. sama ning tadi" juju abas.


"hu..hu.... pulang pacaran niye..." goda della.


"anak.... kecil tau apa kamu...?" abas melotot pada sang adik sebal.


"ih.... ngaku... kemarin saja nolak menikah sama kakak zoya?" ledek della lagi sambik menjulurkan lidah.


"della jangan goda abang mu!" mama gemas melihat tingkah kakak beradik itu . sementara sang papa asik sendiri dan sesekali senyum melihat anak anaknya.


"iya ma..." della menurut.


"kamu sudah kasih zin kan perhiasanya?" tanya mama.


"sudah ma... ini barang barang yang mama minta. . kalo.kurang mama cari sendiri ya" abas menunjuk semua barang.


"iya... sana mandi dulu!" printah mama.


"iya. .. abang bau" ptotes della


"enak saja... nih wangi" abas mendekap adik kesayangannya dan della meronta karenanya.


"abang...." triak della setelah abangnya kabur lari ke lantai atas ke kamarnya.


"abas..."


papa make hanya geleng geleng.


dia ingat beberapa hari lalu betapa marah sang putra saat di minta nenikah. bahkan dia tidak pulang beberapa hari karena permintaan itu.


saat itu sedang makan malam. keluarga ini tidak pernah melewatkan saat bersama seperti ini. tiba tiba malam ini papa jadi sangat serius.


"abas....." pangil papa


"iya pa..." saut sang putra.


"berapa usiamu sekarang?"tanya papa seperti wawancara


"25....kenapa?" abas penasaran


"kapan kamu nikah?" abas kaget mendengar pertanyaan dari sang papa.


"kenapa papa tiba tiba tanya kapan nikah?" abas binggung menata sang papa yang menatap tajam padanya.


"calon istri ya nak bukan pacar" mama ikut memastikan.


"pa.. ma... abas belum berfikir untuk menikah. ... pacar saja tidak punya ini papa mama malah tanya kapan nikah?" elak abas selama ini tidak ada yang menarik perhatian ya. hanya gadis ayu yang dia tolong dari usaha pemerkosaan.


"kamu mau apa lagi.... semua usahamu maju pesat untuk siapa semua itu?" tuntut papa pada abas.


"bas.. papa mama sudah tua... pingin kamu ada yang jaga..." ucap mama sambil mengelus bahu sang putra.


"dalam 2 minggu kalo kamu tidak bisa bawa calon kedepan kami dengan kriteria yang kami inginkan papa akan menjodohkan kamu" acam papa serius.


"di jodohnkan?" triak abas kaget.


"iya... dalam. 2 minggu.... ma sebut kriteria nya" papa menegaskan.


"satu tidak berpakaian terbuka... berhijab mau sar i atau pun moderen tidak masalah..... sopan tidak matre hormat sama papa mama sayang sayang adik kamu. mengerti kesibukan kamu dan yang pasti cantik...." mama menyebut semua keinginannya


"ma sarat nya kok banyak banget.... itu sarat cari pasangan apa cari asisten" canda abas


"pokoknya itu... nanti kalo.sudah dapat akan di bandingkan dengan pilihan kami" tambah rumit lagi bukan sama saja abas harus setuju di jodoh kan.


"ah... tau ah.... pusing dengar papa mama... abas mau pergi assalamualaikum" abas pergi.


"wa alaikum salam"


abas pergi dengan kemarahan. entah pergi kamana tanpa tujuan pasti sampai mobil nya sampai disebuah pesantren tempat dulu dia pernah yantri walo sebentar.


di sana dia bertemu abi dan di tawari menikah dengan sang ning. tapi saat itu sang ning belum kembali dari stadinya di madinah.


"bagaimana kalo kamu nenikah saja dengan putri ku!" pinta kyai faaz


"putri kyai?" abas kaget.


"iya... tapi satu keinginannya dia gadis bercadar dan ingin menikah tanpa dilihat dulu wajahnya" kyai menyebut sarat.


"itu sulit sekali kyai. ..." abas binggung mendengar sarat kyai


"sulit mana dengan kriteria orang tuamu.... dalam 2 minggu memang bisa" tanya kyai


"saya pikir dulu kyai...." pinta abas


"kuberi waktu 3 hari. .. Selama itu tinggal lah di sini!" kyai faaz setuju


"iya kyai"


abas butuh berfikir. dia menginap di pondok 3 hari dan ngantor dari sana. yang membuat abas berfikir lagi adalah permintaan abi untuk tidak melihat wajah sang ning.


sampai dia setuju dengan persyaratan dari sang kyai untuk menikahi sang ning. abas sudah pasrah apa lagi itu permintaan kyai. Dia mana berani menolak. walo dia di suruh nyelem ke kolam ya akan di turuti karena taat pada guru.


setelah setuju abas pulang dengan kabar baik untuk orang tuanya. keluarga make sangat senang dengan kabar baik itu. sebuah impian besar bisa menjalin kekerabatan dengan keluarga yang terkenal kesolehan.


.


.


.


.


.


..


.