
zin keluar masuk lagi membuka dan menutup pintu kamar mandi dengan ragu rasanya tubuhnya membatu kaku. tak pernah dia memkai pakaian serba terbuka seperti ini. dia sendiri merasa sangat jijik melihat penampakan dirinya di cermin. mungkin menurut sebagian orang yang di paksi zin kali ini sangat sexi. tapi bagi zin ini sangat memalukan mempertontonkan aurat di depan lawan jenis sangat tidak di anjurkan agama . lagi zin yang memiliki teroma tidak bisa berpenampilan seperti itu.
"dek... kamu mandi atau pingsan kok lama?" teriak abas dari depan pintu kamar mandi sambil mengedar pintu dengan kencang.
"mas ada baju lain tidak? adik kedinginan" jawab zin berdiri di balik pintu.
"tidak ada ... kalo dingin keluar" minta abas pada istrinya dan zin benar benar kedinginan.
"malu mas. ... mas cariin baju lain ya.... adik tak biasa pakai seperti ini" mendengar ucapan zin abas hanya tersenyum
"ya sudah. .. keluar ganti di sini!" bujuk abas sambil menggoda.
"mas. .." tolak zin
"ha... ha...ha...." tawa abas membuat zin makin merinding di tengah rasa dingin di kamar mandi.
"mas. .. mau balas dendam ya.... baru menikah kok gini amat jadi istri mas" zin mulai marah pada suaminya karena sudah memberikan baju tidur yang tipis dan terbuka.
"apa coba maksud nya. ... ayo mau keluar atau mas dobrak pintu nya" ancaman abas membuat zin mengidik.
"jangan.... nanti rusak pintunya. mas berbalik. .. tutup mata" zin melarang. satu pintu rusak tidak akan membuat abas rugi.
"iya.... keluar ya jangan di dalam terus nanti kamu sakit" bujuk abas.
abas menuju ruang lain untuk solat zin keluar dengan cepat saat tau sang suami pergi zin segera membuka lemari benar tidak ada baju lain yang terlihat sopan dan tertutup semua baju sama dengan yang dia kenakan. untung ada mukena di sana zin menutup dirinya dengan mukena.
lalu mengikuti sang suami sholat di ruangan lain. Mereka berjamah zhuhur bersama.
"afwan ya dek... bukannya nyuruh kamu pakai itu tapi kayaknya della kumat jailnya" ucap abas usai mereka jemaah.
"adik ngerti kok sudah lihat lemari tak ada. apa apa... afwan juga ya mas... sudah berpikiran buruk tentang mas" zin menyesal dengan kata katanya yang kasar.
"ya sudah.... ayo makan...." ajak abas pada sang istri,
"adek.... boleh kan tetap pakai mukena" tanya zin ragu
"senyamannya kamu saja" abas setuju
mereka makan berdua. ternyata saat. zin masih di kamar mandi abas sudah memesan layanan kamar untuk mereka. sehabis makan zin tadatus tanpa muskhaf dari pada tidak apa apa sedang abas mengecek leptopnya yang baru di kirim sang asisten.
saat selesai memeriksa abas baru sadar saat sang istri sudah terlelap tidur dia menatap sambil senyum mendapati sang istri sudah tidur siang tanpa dirinya.
"em.... lupa deh kalo ada kamu... maaf ya jamilahku" sesal abas sambil membelai wajah sang istri.
"emmm.... mas adek ketiduran ya?" ta
nya zin dan bangun dari tidur siang yang nyaman.
"nggak apa apa apa kok.... adek lelah banget ya?" abas melihat kelelahan di wajah sang istri.
"iya mas. ..." jawab zin sambil menguap. zin malu saat sang suami menatap nya sambil tersenyum
"apa nyaman tidur dengan mukena. nanti najis tidak bisa di pakai untuk sholat lagi" tanya abas yang duduk di samping zin bersandar di sandaran ranjang.
"tapi malu mas" zin masih ragu dan mulai gelisah. ini lah yang dia takut kan saat sang suami menuntut haknya.
"malu sama siapa,?" abas penasaran
"sama mas..." jujur zin
"jadi... mas tak boleh buka nih.... sampai kapan lagi mas mesti nunggu adek bisa?" canda abas sambil menggoda.
"maaf ya mas....." zin merasa bersalah.
tiba tiba zin menangis. tidak maksud nya ingin menolak sang suami rapi rasa takut dan teroma sudah memenuhi rasa sakit nya. abas jadi merasa bersalah dengan keadaan sang istri .
"tidak apa apa. mas tidak akan memaksa adek. ... kita menikah karena ALLAH.... bukan karena nafsu atau status. ... mas menerima adek iklas dengan semua kelebihan dan kekurangan adik.... mas akan sabar sampai adek bisa. .. umi sudah mengatakan segala nya" cerita abas berharap sang istri tidak ketakutan dan bersedih.
"mas fian... Maafkan zin" zin sungguh menyesal.
"aku mencintaimu karena ALLAH dek.... bukan hal lain.mas setuju dengan sarat anehmu karena wanita itu kamu" jujur abas tiba tiba
zin makin terharu mendengar semua ungkap hati sang suami. zin yang dari tadi gemetar dan gelisah tiba tiba tenang karena ucapan sang suami.
.
......