
abas mengerti dengan kegelisahan sang istri. dia berusaha untuk menghibur nya. membiarkan zin tenang untuk bisa menyesuaikan dengan dirinya. saat abas ingin mendekat saja tubuh zin merespon dengan tremor yang luar biasa. jantung yang berdetak sangat luar biasa. rasa takut akan tersakit memenuhi sanubari zin. walaupun dia berusaha menjaga perasaan aneh itu dan bisa hilang tapi zin belom bisa berpenampilan terbuka di depan pria . Kalau buka cadar zin bisa di depan muhrim.
Setelah zin di rasa tenang abas keluar dari kamar .dia pergi cukup lama karena mencari pakaian untuk sang istri. della kali ini memang sedikit keterlaluan. abas akan sangat marah pada satu satunya adek kesayangan. karena ulahnya itu zin sepanjang siang menggunakan mukena selama ada di dalam kamar.
"assalamualaikum" salam abas setelah masuk kedalam kamar dan menaruh papar bag di samaping sang istri.
"waalaikum salam.... mas dari mana kok lama?" tanya zin menatap barang barang yang di taruh sang suami si sisi nya. zin mantap bingung melihat semua pepper bag di bawa abas tadi.
"ini... mas beli baju buat adek di mal..samping sana... cepetan ganti" abas mengambil sebuah gamis dari salah satu tas belanja itu. lalu menyerahkannya pada zin.
"syukron ya.. mas...." zin tersenyum seng menerima baju itu. dia tidak harus mengenakan mukena untuk menutup tubuhnya.
"mas adek ganti dulu ya di kamar mandi!" zin pamit segera pergi ke kamar mandi.
"iya...." abas mengizinkan zin pergi.
"awas della. ... tunggu kemarahan abang mu. ini....." gerutu abas kesal setelah tau adiknya sudah berbuat usil secara sengaja.
sambil menunggu zin selesai ganti baju, abas duduk di kursi balkon menikmati sore dengan menyeruput secangkir kopi. sepertinya sang istri sudah memesannya tadi karena abas suka kopi yang sudah mulai dingin.
"sudah dingin mas?... mas sih perginya kelamaan afwan ya.....!" zin berdiri di belakang abas yang duduk di kursi santai sambil menyeruput kopi nya lagi dan lagi.
"tidak apa apa mas suka kok kopi yang mulai dingin.... jadi adek mesti ingat ya" ucap abas santai sambil mendongak melihat zin. mereka yang saling bertemu tatap tapi zin yang tidak tahan dengan tatapan tajam sang suami yang memiliki sepasang mata elang yang siap menerjang mangsanya.
"iya mas...." zin setuju menjawab sambil tersenyum manis
"sini duduk...." pinta abas sambil meraih tangan sang istri dengan halus supaya zin tidak ada respons yang mengecewakan. tapi abas merasakan tangan zin terasa bergetar dan kaku.
"mas kita di sini sampai kapan?" tanya zin berusaha menenangkan diri setelah duduk di kursi yang sama dengan abas. kursi sofa santai yang sangat nyaman dan bisa untuk tiduran berdua .
"sampai kita bisa saling mengenal satu sama lainnya" kata abas seius sambil menatap raut wajah sang istri.
"lama dong mas....?" beo zin berusaha menanduk kan kepalaa karena tiba tiba zin mulia bereaksi lagi.
"ha....ha.. ha... tinggal di sini juga tidak apa apa kan?" balas abas sambil tertawa melihat mimik zin yang cemberut lucu. "ya jangan lama lama dong!" lanjut abas mengodo sang istri.
"ih... mas fian bercanda nya ....? " zin melanjutkan mengerutu sambil berusaha berpaling dari tatapan suaminya. yang dari tadi intets selalu menatap nya. tiba tiba jantung zin memompa dengan cepat sekali.
"ih... lucunya. .. ning zin kalo marah. pipi nya merah hidungnya kembang kempis. .." abas berlanjut menggoda sambil menyelipkan lengannya kirinya di pinggang sang istri. sedang tangan kanan nya menarik hidung zin yang mancung.
"nggak lucu...." zin masih mengerutu sendiri. sambil mengibaskan tangan abas menjauh dari pinggangnya.
"afwan... hanya ingin tau reaksi adek saja... kalo di goda .... ternyata masih ya...." abas tersenyum getir mendapati perlakuan dari sang istri yang seperti tadi.
"afwan... ya mas.... jangan mengagetkan begitu" zin merasa bersalah menatap abas
"tidak masalah. ..yang penting adek harus berusaha nyaman di sisi mas. yakinlah mas akan selalu menjadi pelindung mu!mas... akan sabar sampai adek... bisa. sekarang boleh memelukmu!" abas menatap zin yang malah menunduk malu pipinya berubah merah pelan pelan menganggukkan kepalanya.
"iya.. mas..." abas tersenyum miring mendapati jawaban pelan dari sang istri.
kini zin menyamakan diri di dekapan abas. zin sediri binggung saat abi dan zaki yang memeluknya saja tubuh zin akan merespon tremor yang berlebih. tapi kenapa zin merasakan kenyamanan di dalam dekapan sang suami.
"mas ngantuk... tidur yuk...!" abas menguraikan pelukan dan membaringkan diri di sofa sambil memberi isyarat agar zin ikut berbaring.
"iya... disini nyaman" jawab abas sambil menarik pelan lengan zin dan di baring kan kepala sang istri di lengannya.
" mas fian... ih... jam segini kan tidak boleh tidur!." protes zin mendapati abas yang memang nampak ngantuk berat karena lembur bekerja sebelom akat nikah.
"sudah.... tidur saja mas ngantuk baget.... sebentar saja sampai adek bisa nyaman dan tidak grogi lagi bila dekat dekat mas" abas mendekat erat zin .
"ya... sudah. tapi jangan kebiasaan ya mas!" zin berputar miring membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"hefemmmm" suara nafas halus dan teratur abas yang sudah mulai tetbuai dalam alam mimpinya.
"ah... sudah tidur" zin hanya bisa menyaman kan diri.
sedari tadi zin merasa ada yang aneh dalam dirinya. kebiasaan buruk akibat luka tromatis kenapa bisa hilang saat ada di dekapan abas yang notabennya pria yang baru dia kenal dalam hitungan hari. sedang saat bersama pria lain zin akan tiba tiba panik dan gelisah. sedang saat bersama abi faz dan aak zaki walau nyaman tapi tremor itu masih ada.
pikiran zin belom bisa menemukan jawabannya. tapi dia mulai tenang paling yidak kehidupan rumah tangganya dengan abas kelak akan baik baik saja dan bisa berjalan dengan lancar.
sore itu sepasang pengantin baru itu benar benar menciptakan momen yang berharga . abas yang tidur dengan lelap di temani zin yang mulai nyaman ada di dekapan sang suami. Hingga azan magrib membangunkan abas dari tidur lelahnya.
zin yang sedari tadi menatap wajah tampan sang suami mulai terkaget saat abas mulai membuka matanya dan tersenyum melihat wajah zin yang kaget dan gugup.
"apa mas sangat tampan hingga adek menatap begitu intens dari tadi?" beo abas tiba tiba sesaat setelah membuka mata.
"ih.... ayo mas bangun sudah magrib" gerutu zin . dia segera mengangkat tubuhnya bangun dari tempat itu tiduran 1 jam dalam dekapan abas membuat tubuh nya pegal pegal.
"iya...." jawab abas sambil duduk
"dia mulai sewot...."gerutu abas gemas dengan tingkah zin. " hei jamilah tunggu mas" Panggil abas.
"adik nau wuzhu...." zin masuk kamar mandi.
"yah... di tinggal" gerutu abas sambil menyilakan rambutnya.
melihat respon sang istri abas sudah mulai tenang. paling tidak zin bisa nyaman berada di sisinya. Selama ini hal itulah yang dia takutkan. zin tidak bisa sembuh dari luka tromatis yang dia alami beberapa tahun lalu akibat pelecehan.
tapi kalaupun zin belom bisa menerima kehadiran diri nya. abas akan terus berusaha dan sabar sampai jamilah nya bisa kembali seperti sedia kala. wanita yang ceria, kuat , pintar dan bijaksana.
itulah zin.....
.
.
.
.
.
.