
Abas masih setia mendengar semua cerita khozin dengan sesama. ada getir rasa sakit dan seketika ada tombak tajam yang tidak kasap mata menghujam dadanya. terasa sakit membayangkan apa yang di alami wanita tercinta nya di masa lalu. seakan Abas sendiri juga ada di sana. membayangkan betapa kepayahan dan tidak ada yang menolong. Kalau terlambat sedikit saja apa yang akan terjadi. mengalami kejadian buruk seperti itu membuat khozin mengalami troma yang mendalam bahkan hingga kini belum juga hilang. walau kini sudah berangsur angsur sembuh.
"malang sekali sekali nasipmu jamilah" Abas membelai pipi merah sang istri penuh kasih.
"makanya saat abi bilang ada yang mau menikahi ku dengan sarat yang anehnya yang aku minta dan masa lalu yang rumit aku setuju dengan harapan bisa segera pulih" zin menatap sendu dan menikmati sentuhan dari sang suami. sedikit masih ada tremor itu tapi zin berusaha menahannya.
"dan aku beruntung itu adalah kamu habib..." lanjut zin haru.
"aku yang beruntung .... akhirnya sudah menemuak mu lagi jamilah" ungkap abas jujur membuat zin tersentak kaget.
"menemukan ku?" tanya zin bingung sambil menatap abas intens tanpa berpaling atau berkedip sekalipun. menatap menuntut mendapatkan jawaban yang bisa membuat nya mengerti.
" iya. .. afwan sudah meninggalkan mu sendirian di rumah sakit..... afwan tidak segera mencarimu..... afwan aku tidak bisa berbuat apa apa. .. afwan zaujah afwan" abas mengatakan penuh dengan rasa penyesalan yang mendalam.
"maksud mas fian....." zin masih belum mengerti apa yang di sampaikan sang suami.
"andai aku datang lebih cepat" ungkap abas jujur.
"mas... mas....." zin ingin mengatakan sesuatu tapi seakan tertahan di tenggorokan antara ingin mengatakan dan penasaran rasa ingin taunya. tangan nya menutup mulut seakan tak percaya dengan semua angan nya.
"kamu tidak perlu mengalami rasa sakit yang disebabkan kejadian itu" abas semakin menjelaskan semuanya. mengecup kening zin dengan lembut agar zin tenang karena abas sudah melihat ada bulir bening mulai muncul di ujung mata sang istri tercinta.
zin masih bingung dan bertanya tanya seakan belum menemukan jawaban dari pertanyaan nya. sedang Abas sedari tadi selalu minta maaf dan minta maaf. airmata tidak mau memungkiri keberadaan nya kalau si pemilik sudah benar benar terharu.
"pria itu kamu mas" akhirnya zin faham dan bisa mencerna semuanya.
"iya....." jawab abas sambil mengangguk.
"syukron mas......" zin menghamburkan diri ke dekapan abas dan mencari kenyamanan.
"afwan aku tidak bisa menjaga diri dengan baik" ucap zin penuh penyesalan.
"itu bukan salah mu jamilah. ... itu karena kamu berusaha menjadi wanita muslimah yang sesungguhnya" hibur abas sambil menepuk punggung zin yang mulai terisak di dada nya. baju abas basah air mata.
"aku tidak bisa menjaga kesucian ku... aku wanita yang b0d0h...." umpat zin pada dirinya sendiri.
"kamu masih suci.... zaujah mereka belum sempat menodaimu" ucap abas dia tahu karena setelah di periksa visum belum ada tanda tanda pencabulan. hanya penganiayaan yang membuat zin pingsan dan tubuh nya hampir ter ekspos.
"semua karena mas... mas sudah datang sebagai penyelamat ku.... tapi kejadian itu membuat ku troma" ujar zin merasa jijik jika mengingat semuanya.
"ku mahon jangan menangis lagi jamilah" abas membalas pelukan zin mendekap dengan hangat mengelus punggung sang istri supaya tenang.
"ini bukan kesedihan mas... tapi kelegaan akhirnya aku bisa bertemu penyelamat ku" ucap zin masih nyaman di pelukan abas. sang suami tersenyum kalem.
"ah.... istriku yang kuharap kan.... aku selalu mencari tau tentang mu dari gus zaki.... Bagaimana keadaanmu bagaimana kabarmu.... penyesalan ku kenapa aku datang terlambat untuk menolongmu. ... andai aku beberapa menit lebih cepat...." abas mengucapkan penyesalan nya.
"benarkah mas...." zin mengurangi pelukan menatap abas dengan tatapan sayu.
"mas minta maaf jamilah. .... sudah membuka luka mu!" abas menepis pipi zin yang basah karena air mata.
"hanya terima kasih jamilah" tuntut abas tersenyum miring.
cup..... cup.... cup.....
Beberapa kecupan mendarat di wajah tampan abas. walau sedikit kaget abas berusaha menikmati ciuman dari zin. baru kali ini. Wanita itu ber inisiatif mau bertindak lebih dulu. sampai kecupan itu sampai di bibir dan ter jadilah ciuman panas di antara ke duanya.
"berani sekali" beo abas sambil menatap sang istri dengan intens.
"mas yang minta ....." jawab zin malu dengan sedikit menundukkan kepala.
"sudah makin pintar ya?" abas merangkul kan ke dua tangan nya di leher zin dan menyatukan dahi mereka.
" demi mas...." jawab zin malu malu.
"jadi boleh kita coba malam ini. ...." abas memohon dengan sangat dan hati hati.
"lihat saja nanti. ..." janji zin.
zin turun dan berlari ke kamar mandi. abas hanya tersenyum melihat tingkah sang istri. sampai di dalam zin mengisi penuh betab dengan air lalu merendam dirinya ke dalam air yang penuh.
"SYUKUR ALHAMDULILLAH. ... YA ALLAH DIA SUDAH TAHU. ... SEMOGA ISTRI HAMBA SEGERA MENDAPATKAN KESEMBUHAN. ..."
"mas. .. mas fian?" Panggil zin berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan pakaian yang basah kuyup.
"hm....." saut abas santai
"tolong.... ambilkan handuk. ..." mohon zin lagi dia sudah kedinginan.
"kamu sedang apa" abas menatap bingung melihat sang istri yang basah kuyup.
"mandi. ..." jawab zin cuek.
abas hanya bisa menatap bingung pada khozin yang sudah selesai mandi dan keluar dengan mengurangi rambut nya yang basah kuyup.
♡
♥
♥
♡
♥
♥
.