
abas sudah siap dengan pakaian pengantin nya. Sebuah jubah putih dan turban di kepalanya. sangat tampan dengan hiasan bunga di turban kepala yang menjuntai. baju khusus untuk akat di siapkan sendiri oleh keluarga pesantren.
abas duduk di sebuah ruangan aula yang sudah di siapkan untuk acara ini.
abas dari tadi diam untuk menutupi. kegugupan kegelisahan dan kepanikan. abas duduk di depan meja akat keluarga dan kolega abas duduk di bagian belakang nya. semua penampilan mereka rapi dengan stelan jas sedang di seberang mereka duduk para habaib dan kyai tamu undangan dari kyai alwi da kyai faz.
di antar mereka para jajaran kyai menatap tidak suka dengan kehadiran tamu abas yang penampilan mereka yang terlalu rapi . penampilan ala kaum genset yang loyalitas hanya untuk. kerja. Mereka pun menanyakan asal muasal abas. Bagaimana bisa kyai faz menikahkan putrinya dengan pria yang tidak berlatar belakang pesantren.
sedang pandangan mereka . menilai rang orang dari dunia kerja sebagai orang yang hanya mementingkan urusan dunia harta dan kekuasan.
adu argumen mengenai ketidak cocok an abas dan zin mulai mereka kemukakan.
kyai alwi melihat calon cucunya yang diam tidak pedulikan ocehan dan omongan orang yang hadir membuat keputusan yang mengejutkan.
"bagai mana kyai faz akan berbesan dengan keluarga. dari kalangan bisnis?" ucap seorang kyai muda ragu
"orang orang dari dunia mereka tidak pernah mengerti agama. tidak tau aturan islam yang kaffah" dukung kyai sepuh
"benar sangat di sayangkan kalo ning zin akan menikah dengan orang seperti itu" saut yang lain
"untuk apa kalo tampan kaya tidak tau agama" sang kyai muda mengebu gebu.
"sungguh di sayang kan" mereka ragu
"kalo kalian belom tau apa jangan menilai buruk dulu" abi faz yang baru datang dan duduk menimpali
"aku memilihnya tentun dengan perhitungan ku sendiri..... tidak asal menjodohkan yang kalian ributkan itu tidak ada gunanya sama sekali" lanjut beliau abi alwi sambil duduk di kursi dan lain duduk di lantai.
"tapi kyai.... pemuda itu tidak sebanding dengan ning khozin" protes mereka
"lalu siapa?" tanya zaki
"ya putraku" bangga kyai tua.
"putramu yang mana lagi kyai. ... mereka sudah antum nikahkan semua" kyai alwi mengingatkan.
"ya paling tidak pria yang sekubu dengan kyai" pria itu pernah datang melamar tapi di tolak saat zaki bilang tabiat pemuda itu kurang bagus.
" dia sekubu.... sama sama islam" jawab zaki ngasal.
"maksutku yang juga putra kyai" kyai tua meralat ucapannya.
"dia memang lahir dan besar di dunia bisnis tapi bukan berarti tidak tau agama" crita abi faz
"ah.... masak. kalo cuma tau soal agama saja semua juga bisa" masih tidak terima.
"trus maksut kyai ini apa?" zaki mulai gemas
"apa calon yang kyai pilih bisa baca kitap layaknya santri" beo kyai muda
"oh.... kyai mau ngetes.... sebenarnya kyai ragu sama calon pengantin atau ragu sama ana.?" tandas abi alwi
"ya sama calon pengantin. ... lah. kok sama kyai. .. siapa yang tidak tau kemashuran kyai alwi dan kyai faz" meralat ucapan
"ya sudah... zaki siapkan sebuah kitab. ambil yang mana saja bawa kemari!" perintah jaddun
"baik jaddun"
"fazha... bilang sama calon mantumu... sebelum akat akan ada pengsjian kitap. .. biar dia yang baca" ganti perintah pada sang putra
"baik abi..."
"kyai yahkin......"
"iya lah.... kalo kalian melakukan ini bererti kalian ragu sama ana"
"kita buktiin saja anak itu bisa apa?"
"saya akan merberi hadiah besar pada nya"
" hadiah apa? dia punya segalanya hanya dia restu kyai yang dia butuh kan... benar ya.... jangan mengelak"
abi faz nendekati abas. mengatakan ide sang jaddun abas menganguk tanda setuju dan beliau meminta maaf pada para tamu atas keributan ini.dan keluarga abas mengerti walo ada beberapa orang yang merasa tidak nyaman tapi saat melihat abas setuju tidak ada yang bisa protes.
zaki sudah menyiapkan meja lain dan sebuah kitap. zaki mengumumkan di pengeras sebelum akat akan ada sedikit kajian kitap kuning yang akan di baca oleh sang calon mempelai laki laki.
keributan yang tadi hanya di aula kini sampai keseluruhan pondok menjadi ramai.
apa lagi zin yang masih di kamar setelah usai di rias . mendengar itu nampak khawatir campur amaran.
"umi jaddah kenapa bisa terjadi. ...?" zin bibggung.
"ini ide jaddun mu nak" jawab jaddah nafik.
"ini namanya dholim " zin khawatir
"semua para kyai dan habaib mempertanyakan keintregritas abi dan jaddun mu. kenapa tidak memilih putra kyai untuk putri mereka malah memilih calon dari kaum henset" cerita umi zha.
"tapi peduli apa mereka. ... zin yang akan menjalani.... mereka detang karena di undang tapi malah membuat keributan. kalo akhi abas gagal bukan berarti mempermalukan keluarga" zin emosi.
"tenang lah nak.... nanti kau akan tau tentang calon suamimu" pinya jaddah
"tapi. ..."
"duduk lah... itu abas susah milai membaca"
terdengar suara bariton abas mengucapkan salam. di awal suaranya sedikit bergetar menandakan kegugupan. tapi selanjutnya lancar dan trampil.
zaki menyiapkan kitap muhtarul hadis. abas membaca makna gandul dengan bahasa jawa tuken semua yang mendengar jadi kagum. semua isi rincian kitap abas terangkan sebaik baiknya. di lengkapi dengan keterangan dari kitap nahwu sorof dan iklal.
saat ada sangkutan dengan dalil abas membaca beberapa ayat. semua tercengang mendengar suara indah kan kagum dengan otak pemuda itu.
semua keluarga terkagum bangga tidak menyangka walo tidak besar di kalangan santri abas tumbuh arif dan bijaksana.
sedang para kyai yang dari tadi mengkritik jadi diam membatu. mereka malu sudah menyepelekan.
"bagaimana bisa kyai... bahkan dia menerangkan semua. ... jangan jangan kyai bohong kalo dia bukan anak kyai" tanya kyai tua penasaran
"saya bukan kyai.... saya cuma seorang ayah yang ingin putra saya menjadi orang" sauat papa make.
"maaf ya besan... atas keributan ini" abi faz menunduk malu pada sang besan.
"tidak masalah syukurlah kalo keraguan para tamu semua sudah hilang" kara papa make ramah.
"tapi. ..."
"sudah.... kita bahas lagi nanti penghulu sudah datang faz... siap siap mari nak make" pinta jaddun alwi.
"iya kyai"
sekarang akat akan segera di mulai. karena ngaji abas tadi akat nikah di tunda 30 menit.
.
.
.
.
.