
abas dan zaki kembali madukke rumah. semua sedang menunggu sang ning datang. abi minta abas duduk di sisinya.
"tadi siapa yang telepon?" slidik abi
"abi ingin abas jujur apa bohong?" tanya abas serius.
"ya tentu... calon mantuku harus jujur" jawab abi penuh harap.
"abas. ... tidak sopan" potong papa make.
"tunggu mas biar dia bicara?" pinta abi menyakinkan.
"tadi yang telpon seorang wanita yang minta pertangung jawaban untuk di nikahi" jawab abas santai. kelewat santai bahkan.
"apa?" triak semua yang di ruang itu.
"abas apa yang kamu lakukan.... kamu mau menggagalkan perojodohan ini?" papa sudah naik pitam.
"tunggu abi... om... jangan marah... biar abas cerita dulu" cegah zaki sebelom ada korban.
gara gara ucapan abas papanya hampir mendaratkan pukulan di wajah putranya. wajah papa sudah memerah dan kyai juga nampak terpancing kalo zaki tidak menahan busa babak belur pemuda itu.
"ayo bas aku tau kamu bukan pria hidung belang.... lanjut!... kenapa ada yang minta kamu bertanggung jawab" tanya raka penasaran
"ayo nak lanjut kan cerita mu" pinta mama.
"iya nak. .. kami percaya padamu" tambah umi mendukung
"kalo kamu buat para malu di depan kyai biar papa sendirig yang menguliti kamu" pap masih menahan emisi. mama mengelus tangan nya agar sang suami tenang.
"om.... make sadis. ..sama anak sendiri main ancam...." raka mengidik melihat bis besarnya itu marah.
"ayo....lanjutkan" pint abi.
"umi boleh saya bertemu denga ning sekarang... ini menyangkut beliau" pinta abas memohon.
"iya mi Panggil dia kesini!" dukung zaki.
"bi....?" umi melirik abi minta persetujuan
"pangil mi....!" printah abi.
"syukron bi..."abas tenang sambil senyum yang jarang dia untai di bibitnya.
"kamu harus jelaskan semuanya.... jangan buat putriku sakit hati.... abi tak akan melepas kanmu " printah. abi.
"i..ya bi" abas setuju.
"syukurin kamu bas...." ledek zaki.
"he...gus... sepertinya gus dan abas ada rahasia nih... cerita dong...!" raka penasaran.
"nantin kamu tau... ikutin saja permainan teman karibmu itu!" printah zaki.
"ah... apa dia mau nolak adik gus... wah anak itu.." tebak raka.
"dia berani tak potek lehernya" acaman zaki tak kalah sadis.
"ih... sadis" mendengar iti raka merasa ngilu di lehernya. dipegang lehernya. sambil berdoa semoga tidak terjadi apa apa.
umi datang dengan seorang gadis cantik. bercadar dai memakai baju gamis merah muda dan hijap batik bunga. di ikuti sang adik di sisi lain .umi mendudukkan di samping mama maria.
"ibu maria ini putrikami....." umi mengenalkan putrinya.
"mata binar yang indah.... kamu pasti cantik." puji mama sambil memegang wajah gadis bercadar itu.
"terima kasih bu...." sang nig senyum di balik cadar nya.
"ini adikya zoya" sang gadis yang di perkenalkan tersenyum lebar. menyipotkan matanya..
"ini nih... yang sering main ketempat kholah" mama menarima salim zoya.
"assalamualaikum khalah" salam zoya.
"waalaikum salam cantik" jawab mama.
"hai ammun ganteng" sapa zoya aktab pada make.
"hai cantik... " jawab papa.
"zoya...." umi zha gemas lihat putri kecilnya.
"kak....faian. sama della mana?" tanya zoya.
zoya berbalik melambai pada abas yang
duduk di samping abi raka dan zaki.
"mbak tau ngak sih... calon mbak itu ganteng banget lho... andai zoya lebih besar sedikit.... zoya mau sama mas fian." bisaik zoya mengoda mbak nya.
sang kakak tidak merespon ocehan sang adik. abi minta abas melanjutkan ceritanya yang gantung.
"zin.... khozin hadap sini biar calon suami mu bisa melihatmu" printah abi.
"ayo nduk putar duduk mu" tambah umi
zin mengeser duduknya mwng hadap arah lain. mata gadis itu tersentak melihat 2 orang pemuda yang sore tadi menolongnya. abas dan raka. abs sudah tau siapa calon istrinya sedang raka masih bingung.
"ayo nak... lanjut..." pinta abi.
"apa boleh lajutnya nanti saja bi.... biar abas menyampaikan niat dulu baru lanjut... pasti semua orang akan dapat jawaban nanti" abas memohon.
"bagai mana zaki" abi minta persetujuan.
"iya bi biar. .. abas biar menyampaikan niat dulu pada zin..." zaki setuju.
"zin...." ucap raka bingung.
"baiklah.. silakan nak... tapi kalo ucapan mu menyakiti putriku aku hukum berat kamu" kata acaman abi.
"iya bi..... assalamualaikum ning zin. .. atau saya mesti pangil uhti khozin" abas menatap gadis yang duduk di samping mamanya.
"waalaikum salam akhi... pangil saja seperti biasa uhti...." pinta zin.
"baik lah...karena itu pilihan uhti....uhti tadi telpon minta saya tanggung jawab. .. tapi uhti belom bilang mau tidak jadi yang ke 2 dan saat ini saya sedang menghitbah calon istri saya yaitu ning zin yang sudah setuju seminggu lagi menjadi istri saya.... dan tiba tiba uhti minta tanggung jawab... karena alasan yang tidak logis menurut saya.... lalu saya harus bagaimana?" urai abas panjang lebar. sacara tidak langsung memberi jawaban atas rasa penasaran mereka kalo yang minta tanggung jawab adalah sang ning karrna abas melihat wajahnya melalui hanpone.
"ha..ha.. afwan akhi... ini jadi lelucon" zin jadi merasa bersalah.
"hei saya serius. .. saya sudah setuju dengan sarat calon istri saya. .. tiba tiba uhti menuntut... jadi hanya saya bisa menawarkan itu mau tidak jadi yang ka 2."canda abas
"maksud kamu apa sih bas?" tanya raka mad8h binggung.
"hus... diam dulu..." printah zaki.
"saya menunggu jawaban nih...!" tagih abas
"kalo mesti memilih... saya milih yang pretama dan tidak boleh ada yang ke 2..." jawab zin lancar.
"alhamdulillah. ..." ucap semua orang.
"jadi tetap mau jadi ning zin... bukan ukhti kahozin kan?"goda abas.
"iya. .." jawab zin malu.
"dan pinagan saya."tanya abas.
"bismillahirohmannirrohim saya terima...kerena akhi sudah setuju dengan saratnya." jawab zin
"dan. tidak menuntut saya tanggung jawab kan" abas menyah kinkan.
"itu nanti" jawan zin.
"jadi kalian sudah setuju nenikah minggu depan," tanya abi.
"iya.. bi..."jawab abas dan zin bareng
"oh kompak...." olok zaki.
sekarang semua pindah ke ruang makan. yang paling antusias adalah raka. dia benar kalaf.
zin meladeni calon suaminya dan..calon mertua mengambil makanan. saat mengambilkan abas dia memenuhi piring dengan lauk penuh.
"m2aka bas kamu dari siang belom makan" pinta zaki.
"habiskan ya calon yang ngambilin... hargai" ledek. raka dia tau abas tak makan sebanyak itu.
"Ya Alloh... ampuni hambamu ini" gerutu abas kesal.
sekarang semua sudah tau maksud dari cerita abas tadi. raka jadi tidak menyangka akan ada cerita lucu di pertunangan bosnya.
.
.
.