ABAS Imamku

ABAS Imamku
menginap di hotel



setelah resepsi abas membawa zin ke hotel untuk menginap 3 hari. sebelum acara resepsi besar yang akan di adakan di salah satu hotel ternama milik Alfian corporade


"mas fian kita mau kemana?" tanya zin penasaran


"nanti adek juga tau. ...." jawab abas singkat


"kenapa mas minta adek Panggil fian bukan abas seperti biasa?" zin penasaran


"nama fian di abas Alfian putra maikek itu ide dari jaddun alwi dan pernikahan kita juga keinginan beliau apa itu boleh jadi alasan" urai abas panjang lebar


"hormat dan tawadzuk. ..


boleh mas" jawab zin membenarkan


"hanya mau buat della marah saja.... karena selama ini zoya lah yang Panggil fian." canda abas


"tidak khusus doang. ." protes zin.


"adek boleh pangil yang lain. .." izin abas.


"habibiku..... kita mau kemanakah?" zin mulai mengakrabkan.


"jamilahku... kita menginap di sini 3hari ini" saut aba menimpali.


"di sini..." tanya zin binggung


"ayo. ... kita sampai" ajak abas.


dua orang petugas masing masing membuka pintu mobil. abas keluar dulu lalu menghampiri sang istri. abas meraih tangan zin membimbing turun mobil.


"ayo zaujah. ..." ajak abas sopan mengulurkan tangan


"iya. ..." zin menerima tangan suaminya.


abas mengengam tangan zin kuat. mereka masuk kedalaman lobi hotel yang sangat mewah itu. Semua pegawai stenbay menyambut memberi hormat dan memberi salam.


"selamat pak abas atas pernikahan anda" ucap para staf hotelnya.


"terimakasih. ... kalian semua akan di undang di resepsi besok" janji abas membuat mereka merasa senang.


"trima kasih pak...." jawab mereka semangat.


"selamat datang nyonya abas suatu kehormatan kami bisa melayani anda" ucap seorang pegawai wanita berjilbab sambil menyodorkan rangkaian buket bunga


"nyonya" zin binggung


"iya.. anda adalah nyonya besar kami... semat bergabung di keluarga besar Afian corporade " utai ali manajer hotel


"iya... terimakasih. ..." ucap zin sungkan.


"jangan kikuk sayang. kamu harus terbiasa antar kami ke kamar" pinta abas. .


"baik pak....."


zin menurut saja saat abas menariknya ke life. sang menejer masih mengantar sampai pintu kamar. dia masih binggung dengan sambutan ini.


"mas kenapa mereka menyebutku nyonya" tanta zin menatap sang suami yang berdiri tinggi di samping nya.


"he..m...." abas memberi kode pada menejer untuk menjelaskan.


"karena anda istri bos besar kami tuan Abas Alfian putra jadi nyonya kami hotel ini milik naungan alfian corporade " ali mengatakan semua


"jadi alfian corporade itu milik mas,?"tanya zin ingin di yakin kan


"hemm...." jawab abas datar


"apa semua nya tau?" selidik abas.


"ya...." jawab singkat abas


"jadi hanya aku yang baru tau?" protes zin.


"zaujah tidak tanya...." abas nrginggatkan.


"ah.... hidupku akan berubah jadi apa?" desah zin.


"jadi bermakna untuk ku" jujur abas


"habibiku. .... jangan merayu masih ada pak manajer" protes zin.


"jangan hiraukan saya nyonya!" ali senyum malu melihat kelakuan bos besarnya.


merek sudah sampai di depan kamar presiden swite yang jarang di pakai orang. itu kamar yang dipakai abas bila menjamu relasi besar tapi jarang di pakai.


manajer pergi setelah membuka pintu. zin menaruh bungan yang di hadiahkan pegawai hotel di meja. abas segera ke kamar mandi untuk mandi. sedang zin melepas semua hiasan di kepala dengan susah payah. sampai saat abas keluar selesai mandi dia belum berhasil membuka hijap modern nya.


"belum selesai?" tanya abad


"susah.... sini mas bantu. ...."tawar abas melihat zin kepayahan


"mas tapi aku bawa baju ganti. ...." zin baru ingat.


"sudah siap di lemari "


"siapa yang siapin mas....,?"tanya zin


"bunda....."


abas membantu zin mencabuti jarum dari kepala zin. sedang zin membersihkan makeap dengan cairan pembersih yang ternyata sudah siap semua di kamar mewah itu.


dari cemin zin melihat wajah suaminya yang serius kini nampak santai dengan rambut basah turun menutupi dahi. zin baru tau potongan rambut abas sangat keren ala artis ke-pop. sangat beda dari biasanya yang selalu di sisir rapi kebelakang dengan stailis gel. sangat tampan dan alami lebih fres dan tampil muda.


"ah... nggak kok" zin berpaling karena malu. tiba tiba dia merasa gugup.


"mas tau mas ini sangat tampan jangan dilihat terus semua ini milikmu" abad pede over


" iseeehhh.... sudah selesai belom mas fian?" cibir zin sambil majukan bibirnya


"sudah. ...."


"a syukron.... adek ke kamar mandi dulu" pamin zin.


"mau di bantu buka baju tidak?" goda abas


"nggak....."


"ha... ha .. ha..."


abas malah tertawa melihat tingkah sang istri yang wajahnya berubah merah karena malu. zin segera masuk sampai di kamar mandi dia baru sadar tidak bisa melepas gaun sendiri dia berinisiatif meminta tolong sang suami


"mas fian. .."


"heemmm"


"tolong...."


"apa jamilahku"


"bantu buka gaungnya"


"tadi tak mau. ..."


"afwan...."


"sini...!"


zin keluar lagi. rambut panjangnya sudah terurai indah dia berdiri membelakangi abas . abas membantu melepas kancing gaun yang sangat banyak. Sebelum itu abas merengkuh pinggang ramping istrinya menghirup aroma wangi rambut zin tiba tiba dia mabuk kepayang.


"sayang boleh mas cium" mohon abas


"mas bantu dulu buka bajunya lalu baru boleh cium"


"Bener ya...."


"iya...."


abas membuka satu demi satu kancing itu. baju itu di rancang seakan akan sang suami mesti membantu sang istri melepas pakaian. Setelah selesai zin langsung lari terbirit birit meninggal kan abas.


"hei.... mana ciuman mas" abas gemas.


"nanti. .. adek mandi dulu. ... gerah" triak zin dari kamar mandi.


"ah... curang."


abas ganti baju sambil menunggu zin selesai. dan akan siap memberikan perhitungan yang besar untuk sang istri yang sudah mempermainkan nya.


"mas. .. ambilin baju ganti" minta zin setelah beberapa saat


"iya...." abas senyum licik sambil mengambil sebush gaun tidur warna hitam leengkap untuk sang istri.


"ini sayang jamilahku" abas memanggil


"Makasih" abas menaruh di lengan zin yang terulur keluar dia triak saat lihat apa yang si berikan sang suami.


"mas... ini serius" zin kaget


"iya..."


"adek nggak mau pake...." telah zin. keras


"ya sudah tidur saja di kamar mandi" ucap abas sarkasme


"mas... ini...." zin mendesah


"bagus kan.... ayo kaluar mas mau lihat" bujuk abas.


"nggak..." tolak zin malu.


"ya susah mas mau tidur sudah leleh" abas pura menyerah.


"mas tega..." protes zin manja.


" adek yang mulai.... mas cuma minta cium adek kabur... sekarang mas minta lebih. .... kalo tidak mau .pake ya sudah..... " jujur abas sudah menawan sedari tadi saat membantu sang istri.


"ya.... adek keluar. .. "


zin memakai gaun tidur super tipis dan sexi itu. denga pelan dia mebuka pintu dengan pelan berharap sang suami sudah tidur


.


.


.


.


.


.


.